Mengapa Maulid?

 

 gambar : PIXABAY/matponjot


Meskipun dulu, tidak terlalu banyak kontroversi, namun akhir-akhir ini peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw banyak dipersoalkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Alasannya antara lain Nabi Muhammad Saw tidak pernah melaksanakan maulid, para sahabat juga demikian, maulid adalah perbuatan bid'ah dimana semua bid'ah adalah dholalah, dan seterusnya. Sementara kelompok-kelompok yang sudah mentradisikan maulid juga memiliki dasar pemikiran yang semakin menguatkan mengapa mereka melaksanakan maulid.

Mauulid Nabi Muhammad Saw adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad Saw, yang dilaksankan setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Menurut sejarah, Nabi Muhammad Saw dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal pada tahun yang terkenal dengan "tahun gajah" karena pada saat itu terjadi penyerangan ke kota Mekkah oleh tentara bergajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah yang tujuannya menghancurkan Ka'bah. Namun Allah Swt menurunkan burung "ababil" yang menyerang tentara Raja Abrahah sehingga tentara bergajah itu hancur lebur seperti daun di makan ulat.

Maulid Nabi Muhammad Saw, dilaksananakan dengan banyak tujuan. Pertama, mengingatkan umat Islam akan perjuangan Nabi Muhammad Saw sehingga timbul mahabbah kepada beliau. Meskipun namanya maulid, tujuannya bukan hanya mengingat hari kelahirannya saja. Tetapi sosok beliau, kemuliaan beliau, sirah beliau, dan seterusnya sehingga timbul mahabbah kepada beliau.

Maulid sangat diperlukan sekarang ini. Arus informasi yang mengalir deras di kalangangan masyarakat dan umat Islam, seringkali melupakan umat pada nabinya. Generasi muda lebih hafal nama-nama pemain sepak bola, bahkan sejarah hidupnya. Tapi apakah mereka masih mengingat sejarah hidup dan perjuangan Nabi Muhamad Saw. Anak-anak lebih suka melihat cerita-cerita di film kartun, daripada mendengar kisah perjalanan dan perjuangan menyebarkan agama Islam oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Bukankah hal ini menjadi keprihatinan kita semua?

Kedua, maulid adalaha wahana. Wahana untuk beribadah. Bersedekah, bersilaturahim, membaca sholawat, mengaji, dan sebagainya. Semua tampak pantas dan pas dilakukan pada saat merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. Dengan tujuan memperingati Maulid Nabi Muhamad Saw orang-orang kaya mengeluarkan sedekahnya, untuk memberi makan kepada tetangga dan saudaranya. Si kaya si miskin bersatu dalam suatu forum yang tujuannya untu memuliakan Nabi Muhammad Saw.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw juga wahana yang tepat sekali, untuk membaca sholawat. Bukankah sholawat sangat dianjurkan dalam Islam? Bukankah membaca sholawat juga akan mendatangkan kebaikan bagi umat Islam? Bukankah dengan sholawat kita dapat menunjukkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad Saw?

Di forum-forum maulid, kita melihat para ulama mengaji, para kiai menyampaikan pesan-pesan kebaikan, so what? Apalagi yang harus dipersoalkan? Apakah maulid dapat dianggap menciptakan ibadah baru yang tidak pernah dilaksanakan oleh oleh nabi? Tentu tidak, karena maulid hanya wasilah, wahana dan momentum untuk memperbarui dan meningkatkan kecintaan kita kepada Nabi Muhamamd Saw.

Ketiga, maulid adalah berkisah, yaitu momentum yang tepat untuk menceritakan kisah sejarah dan kemuliaaan Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah uswatun hasanah, tapi bagaimana cara mencotoh beliau? Apa saja yang harus dicontoh dari beliau? Pada peringatan maulid itulah, salah satu momentum yang tepat, untuk menceritakan kemuliaan akhlak yang dapat dicontoh oleh kita semua. Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw tahun 1442 H, semoga kita dapat meneladani akhlak mulia beliau sehingga kita dapat terverifikasi sebagai Umat Muhammad Saw. Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad! 

Bersabar dan Bersyukur

gambar : suaraislam.id


Allah Swt menciptkan keindahan di semua hal. Hanya saja, kadang kita tidak bisa melihatnya secara jernih. Mengapa? Mungkin karena hati kita telah banyak dikotori penyakit hati, atau ruhani kita telah dipenuhi oleh persoalan-persoalan hidup yang tampak rumit meskipun sesungguhnya tidak. Siapa saja, kapan saja, dimana saja, dapat melihat keindahan dan mensyukurinya, ketika ia ridlo dengan apa yang telah ditetapkan Allah Swt kepada-Nya.

Pada ketetapkan Allah Swt, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menerimanya. Allah Swt melakukan apa saja yang Allah Swt mau, dan meninggalkan apa yang ingin ditinggalkan-Nya. Tidak ada aturan yang mengikatnya, tidak ada sesuatu yang dapat mencegah apa yang dimaui-Nya, tidak dapat mempengaruhi apapun terhadap keputusanNya. Kalau Allah Swt menghendaki sesuatu terjadi, maka jadilah ia, demikian pula sebaliknya.

Manusia adalah makhluk lemah, maka ia harus menyadari kelemahannya. Kalau saja manusia memiliki suatu kekuatan, bukan berarti ia kuat dari dalam dirinya. Tetapi, ia kuat, ia mampu, ia pandai, ia hebat, karena diberikan kekuatan, kemampuan, kepandaian, dan kehebatan dari Allah Swt. Orang-orang beriman harus meyakini itu, agar ia tidak menyombongkan kelebihan yang dimilikinya. Sebab, justru kesombongan itulah yang akan menghinakanNya.

Tidak selalu kemiskinan membuat orang terhina. Bisa jadi, karena kemiskinannya justru seseorang dimuliakan orang lain, bahkan dimuliakan oleh Allah Swt. Mengapa? Orang mukmin miskin dan sabar, akan mendapatkan penghargaan dari Allah Swt karena kesabarannya. Apalagi, jika ia tetap dapat menjaga ibadahnya dalam kemiskinan seperti tetap mengerjakan sholat, puasa, bahkan zakat tetap ia bayarkan, walaupun ia harus bekerja keras untuk itu. Kita banyak mendengar cerita dan berita, bahwa kebanyakan penolong orang miskin, adalah sesamanya yang juga miskin. Sedangkan si kaya, karena ia hidup dalam sekat sosial yang kuat, justru tidak tahu, atau tidak mau tahu pada si miskin yang membutuhkan pertolongannya. 

Pada saat yang sama, kita seringkali dapat melihat rona bahagia, justru pada wajah-wajah orang miskin yang mukmin. Sebungkus nasi, segelas air, atau secuil daging kurban, dapat menyalakan lentera kebahagiaan di dalam hatinya. Dan, hal-hal yang kita pandang sangat remeh dan kecil, justru membuat si miskin merasa wow bahagianya. Sementara, betapa kita melihat di sekeliling kita, banyaknya elemen yang dibutuhkan oleh orang kaya untuk membuatnya bahagia. 

Mungkin saja, baju baru seharga lima puluh ribu, atau bahkan dua puluh lima ribu, bisa membuat orang miskin bahagia. Tetapi bagi orang kaya, tidak saja harga yang mahal yang dibutuhkan, warna yang sesuai, desain yang pas, kesesuaian dengan tema, kesesuaian dengan accessories lainnya, bahkan tidak jarang harus membutuhkan yang limited edition atau custom untuk mempersiapkan seorang kaya ke sebuah pesta. Ribet!

Namun demikian si kaya, tetap saja mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Swt. Jika kemuliaannya di hadapan manusia dapat dengan mudah dapat ia peroleh dengan kekayaannya, demikian juga kemuliaan di hadapan Allah Swt dapat juga ia peroleh, dengan cara mensyukuri karuniaNya. Tentu, mensyukuri tidak cukup dengan lisan, tapi juga dengan keyakinan dan tindakan. Ya, keyakinan bahwa semua yang ia dapatkan adalah karunia Allah Swt, bukan semata-mata kecanggihan upaya dan usahanya. Dan, bersyukur dengan tindakan adalah dengan membagi sebagian harta kepada orang-orang yang memang berhak menerimanya, serta membelanjakan hartanya fi sabilillah. Si Miskin bersabar, si Kaya Bersyukur. Klop!




Membuat Video Pembelajaran yang "Keren"

 


Video pembelajaran menjadi sangat trend di masa pandemi ini. Hampir semua guru didorong membuat video pembelajaran sebagai salah satu bentuk upaya "menghadirkan" para guru di rumah-rumah siswa. Melalui video pembelajaran yang menyertakan gambar para guru di dalamnya, para siswa seolah-olah berkesempatan bertemu dengan para gurunya hari itu.

Kehadiran para guru, meskipun secara visual, merupakan salah satu hal penting yang harus menjadi salah satu perhatian para guru. Mengapa? Meskipun hanya gambar, para siswa tetap akan merasa terkoneksi dengan para guru. Kesan bahwa mereka sedang liburan akan hilang dengan hadirnya visual para guru yang menjelaskan berbagai tema dan materi pembelajaran. Sehingga, anggapan bahwa mereka berlibur di masa pandemi ini akan terkikis dengan sendirinya.

Diakui atau tidak, kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) tidak serta merta menggantikan kegiatan pembelajaran itu sendiri. Efetifitas pembelajaran daring tetap tidak bisa menggantikan pembelajaran tatap muka. Apalagi dengan banyaknya kendala teknis, seperti kepemilikan smartphone yang memadai serta transmisi gambar dan ketersediaan paket data yang seringkali masih menjadi kendala. Belum lagi, kemampuan para guru dalam membuat video pembelajaran yang menampilkan visualisasi guru yang belum bagus karena kemampuan videografi yang masih lemah.

Penguatan Kompetensi Teknis

Hal utama yang harus dikuatkan adalah kemampuan teknis videografi dan desain presentasi yang dimiliki guru. Sebenarnya, bagi guru-guru yang sudah akrab dengan aplikasi presentasi seperti Microsoft Powerpoint, Prezi, Slides, Slidedog, dan lain-lain dapat digunakan guru untuk membuat presentasi yang keren. Namun hal itu belum cukup, karena para guru juga harus menguasi aplikasi pembuatan video baik yang berbasis smarphone maupun PC seperti Kinemaster, Viva Video,Video Show, Filmora, Adobe Pemiere, dan lain-lain. Oleh karena itu, kepala sekolah/madrasah sudah saatnya menjadwalkan pelatihan videografi sehingga para guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Beberapa tips untuk membuat video pembelajaran yang keren, sebagaimana di lansir dalam primaindisoft.com adalah sebagai berikut.

1. Membuat Konsep Video dengan Matang

Sebelum memutuskan untuk membuat video pembelajaran yang akan membuat Anda semakin antusias dalam belajar, ada baiknya untuk membuat konsep. Konsep yang matang ini akan menentukan keberhasilan dari video yang akan dibuat. Kalau video dibuat asal-asalan, materi tidak akan tersampaikan dengan baik.

2. Belajar Mengedit Video

Konten pembelajaran dengan video memang tidak mudah dibuat dan dibutuhkan dedikasi yang tinggi kalau Anda ingin membuatnya. Beberapa aplikasi edit video bisa digunakan seperti Adobe Premiere CS6.

3. Mengevaluasi Video yang Telah Dibuat

Setelah membuat video yang dibutuhkan untuk pembelajaran, jangan langsung gunakan. Anda bisa melakukan evaluasi terlebih dahulu. Evaluasi apa saja yang masih kurang dan harus ditambahkan. Setelah melalui evaluasi dan edit beberapa kali barulah media bisa digunakan.

4. Mencari Bahan Video

Anda bisa membuat media dengan menggabungkan beberapa video yang sudah ada. Misal percobaan yang ada di Youtube. Kalau ingin video orisinal, Anda bisa membuatnya sendiri dan mencari bahan yang dibutuhkan. Asal memiliki konsep yang baik, video akan mudah dibuat.

Membuat video pembelajaran tidak saja memerlukan kemampuan guru untuk mengajar, tetapi juga membutuhkan kemampuan guru untuk mengguakan teknologi yang tepat, seni videografi yang keren, serta pembuatan presentasi yang komunikatif. Oleh karena itu, para guru harus siap bekerja keras untuk meraih prestasi di masa pandemi.

Mengajarkan Kejujuran

 


Salah satu karakter penting yang harus kita tanamkan kepada anak didik adalah kejujuran. Jujur merupakan modal utama yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kuatnya kejujuran yang kita miliki, akan membuat orang menaruh kepercayaan kepada kita. Dengan kepercayaan itu, kita dapat mengambil peran dominan dalam kehidupan sehari-sehari, mempengaruhi masyarakat dan mengajarkan kebaikan, dan membuat perubahan-perubahan baik di lingkungan tempat tinggal. Sebaliknya, orang-orang yang khianat akan dijauhi masyarakat dan kata-katanya tidak akan diindahkan.

Dahulu kala ada seorang pengembala yang suka berbohong. Ia seringkali berlebihan dalam bercanda yaitu dengan berteriak minta tolong seolah-olah ada srigala yang akan memangsa ternak gembalaannya. Pada saat orang-orang berdatangan untuk menolong, pengembala itu tertawa dan mengatakan pada orang-orang bahwa sebenarnya dia sedang mengerjai orang-orang itu. Demikian ia melakukan beberapa kali, sehingga orang-orang merasa kesal karenanya.

Pada suatu saat, gembala itu sedang bekerja mengembala ternak. Tiba-tiba segerombalan srigala benar-benar datang dan akan memangsa ternaknya. Ia pun minta tolong kepada penduduk untuk dibantu menyelematkan ternaknya. Tapi, orang-orang sudah terlanjur tidak percaya pada gembala itu, sehingga tidak bereaksi terhadap teriakkan sang gembala. Akhirnya ternak sang gembala benar-benar dimangsa srigala dan ia merasa menyesal karena selama ini telah sering berbohong.

Ilustrasi di atas menunjukkan betapa pentingnya berkata jujur. Sebaliknya, sangat berbahaya ketika kita sering berbohong. Apalagi kita tahu, bahwa suatu kebohongan hanya dapat ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Dengan begitu, kebohonangan kita akan menumpuk dan berkelanjutan. Oleh karena itu, para guru seharusnya merencanakan dengan matang pendidikan karakter khususnya karakter jujur ini. 

Menghargai Kejujuran

Penghargaan terhadap suatu prestasi memotivasi seseorang untuk meningkatkan prestasinya. Demikian juga penghargaan terhadap karakter baik seseorang. Selama ini siswa dihargai karena nilainya yang baik, prestasinya yang tinggi, hasil ujiannya yang mendapatkan nilai sempurna, atau ia mendapatkan suatu juara dari sebuah perlombaan. Sehingga para siswa akan termotivasi untuk belajar, berlatih, dan meningkatkan kompetensinya dalam bidang tertentu.

Tapi, sudahkah kita menghargai kejujuran? Misalnya dengan memberikan penghargaan bagi siswa yang paling jujur di kelas selama bulan tertentu, atau selama mengikuti ujian tertentu? Mungkin kalau di liga sepakbola ada team yang paling fair play, mungkin saatnya kita mengadakan penilaian dan kemudian memberikan penghargaan kepada siswa yang paling jujur di kelas atau sekolah kita. Sebaliknya, kita juga harus memberikan punishment terhadap anak-anak yang tidak jujur. Sehingga, kejujuran menjadi sesuatu yang diperhatikan dan dipentingkan anak-anak.

Selama ini, kejujuran jutru diletakkan di nomor ke sekian. Orang tua lebih menghargai anak yang mendapatkan nilai tinggi meskipun tidak jujur, daripada anak yang nilainya rendah tetapi jujur. Oleh karena itu anak-anak juga melakukan hal yang sama, yang penting nilainyanya bagus, meskipun harus mencontek.

Program Penguatan Kejujuran

Sekolah, sebagai salah satu penanggung jawab pendidikan karakter, harus merencanakan program yang baik untuk meningkatkan kejujuran siswa. Kegiatan-kegiatan seperti kantin kejujuran, pemberian penghargaan terhadap siswa yang jujur, dan penekanan pada siswa akan pentingnya kejujuran. Berbagai jenis penilaian hasil belajar juga harus benar-benar menekankan kejujuran sehingga para siswa harus dipastikan mengerjakan ujian dengan jujur. Para guru harus menekankan betapa nilai yang dicapai siswa bukan ukuran utama dalam menentukan nilai akhir, tetapi justru kejujuran siswa merupakan komponen penting dalam penilaian yang menyeluruh. Para guru juga harus memberikan punishmen yang sesuai pada anak-anak yang ketahuan mencontek, sehingga dapat menimbulkan efek jera.

Rasululullah Muhammad Saw adalah sosok teladan dalam kejujuran. Sangat tidak pantas jika umat Islam khususnya para santri dan pelajar Islam mengabaikan kejujuran. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Saw tidak lepas dari konsistensi beliau menjaga kejujuran. Beliau mendapatkan julukan al amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya, juga karena kejujuran beliau sejak kecil. Sebagai nabi dan rosul beliau juga dibekali sifat wajib siddiq, yang maknanya juga jujur. Kejujuran membawa keberkahan, sebaliknya kebohongan akan menjauhkan kita dari keberkahan itu sendiri.


Ketika Harus Memilih

Semakin meningkatnya kualitas hubungan sosial seseorang di masyarakat, berakibat meningkatnya jumlah komunitas, pertemanan, relasi sosial, dan lain-lain. Sementara itu dalam setiap komunitas kita akan memiliki agenda yang berbeda-beda. Sehingga pada suatu waktu yang sama, ada beberapa agenda yang harus kita ikuti. Dilema pun muncul, mau menghadiri acara pertama, kedua, atau bahkan sekalian tidak menghadirnya sama sekali.

Biasanya, kepentingan dinas dan pekerjaan tetap menjadi nomer satu. Kecuali ada agenda keluarga yang memang sudah menjadi rencana matang yang sudah tidak dapat ditinggalkan lagi. Agenda lainnya harus dikalahkan oleh acara dinas dan pekerjaan.

Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana memilih agenda yang sama-sama bersifat "sunnah"?

Ada beberapa saran yang dapat dipertimbangkan, antara lain:
Pertama, perencanaan kegiatan yang lebih dulu harus menjadi prioritas. Agenda-agenda rutin dan besar, yang melibatkan banya orang atau anggota, tetap harus menjadi yang utama. Agenda dadakan harus mengalah karena memang ia yang datang belakangan.

Kedua, pertimbangan kemanfaatan yang lebih besar juga harus menjadi prioritas. Agenda rapat yang berimplikasi terhadap jalannya organisasi atau komunitas harus diprioritaskan daripada sekedar kongkow-kongkow tanpa agenda tertentu yang ditetapkan.

Ketiga, pertimbangan peran dan fungsi. Pada agenda dimana posisi kita sangat menentukan dan dominan, tetap harus diutamakan. Apalagi jika kehadiran kita sangat menentukan dalam pengambilan keputusan atau jalannya acara. Sementara kehadiran sebagai partisipan yang tidak sangat penting dapat dinomorduakan.

Bagaimanapun, ketika harus memilih, kita selayaknya berusaha memilih dengan pertimbangan yang bijaksana. Hal-hal "wajib" tetap harus didahulukan dibandingkan hal-hal yang sunnah. Jangan sampai yang sunnah apalagi makruh justru mengalahkan yang wajib. Ibarat kata, sehebat apapun kemulian shalat tahajud tetap tidak bisa mengalahkan keagungan shalat subuh. (ans)

SUDUT PANDANG




Segala sesuatu harus dipandang secara proporsional. Sudut pandang seseorang terhadap sesuatu sangat menentukan penilaiannya terhadap sesuatu itu. Orang-orang yang bijak, harus dapat memandang segala sesuatu dengan cakrawala pandang yang luas sehingga dapat melihat suatu objek dari satu sudut yang terbaik. Agar kita dapat melihat sesuatu itu dari sisi kelebihan, bukan kekurangan.

Mengapa? Melihat kelebihan menimbulakn syukur. Melihat kekurangan menghasilkan kekecewaan. Padahal pada segala sesuatu, pastilah ada kelebihan dan kekurangannya. Termasuk, ketika para guru melihat siswa-siswanya. Misalnya, apakah siswa ini yang terbaik? Bisa jadi YA, dalam satu sisi. Tapi, apakah ia juga terbaik dalam hal yang lainnya? Belum tentu.

Demikian juga melihat kekurangan siswa. Siswa ini sangat sulit diajari, tidak konsentrasi, dan pasif di dalam kelas. Nilai-nilainya jelek semua. Dalam setiap ujian, ia selalu mendapatkan nilai terendah dari semua siswa di kelas. Lantas, apakah kita dapat menjustifikasi sebagai siswa terburuk di kelas? Inilah pentingnya meletakkan sudut pandang yang tepat, dan penilaian yang holistik terhadap sesuatu.

Melihat dari Ranah yang Berbeda

Di pinggi sawah yang hijau ranau dengan hamparan padi yang luas dan subur, berdiri beberapa orang dengan latar belakang yang berbeda. Mereka adalah petani, seniman, pedagang, dan kontraktor. Petani mengatakan, "Alhamdulillah...senangnya hatiku melihat padi yang tumbuh subur ini, bagaimana yang merawatnya, apa pupuknya, berapa lama masa panennya, berapa hasil produksi per hektarnya, berapa pekerja yang dibutuhkannya?" tanya si Petani dalam hati.

Sementara si seniman berkata lain dalam hatinya, "Indah banget sawah ini ya? Luas, teratur, sejuk, dengan background gunung. Wah, aku harus melihat semuanya, nanti akan kuabadikan dengan kuas dan canvas, agar semua orang bisa menikmatinya".

Si pedagang tentu akan berpikir lain. Ia akan mulai menghitung berapa biaya operasional pemanennya, berapa harga gabah basah atau keringnya, berapa ton yang dihasilkan dari sawah se luas itu, bagaimana trasportasi pengiriman dari sini ke pasar, berapa untung yang akan diperoleh, dan seterusnya.

Adapun sang kontraktor ternyata juga memiliki pemikiran lain. Ia akan berpikir di lahan seluas itu ia akan membangun perumahan. Ia sudah mulai mendesain di mana jalan masuknya, letak taman, jumlah unit, ukuran per unit dari setiap unitnya, berapa jenis unitnya, berapa harga per unitnya, apa konsep pembangunan kawasannya, dan seterusnya.

Dari satu obyek yang sama, kita dapat melihat betapa begitu banyak sudut pandang yang bisa diambil. Semuanya berdasarkan ranah berpikir dan latar belakang yang berbeda. Sudut pandang yang berbeda-beda itu perlu mendapatkan jembatan komunikasi yang tepat sehingga tidak terjadi konflik.

Sudut Pandang Guru

Para guru harus memiliki sudut pandang yang menyeluruh. Dari semua contoh di atas, para guru harus melihat dari sudut yang paling atas. Para guru harus dapat memahami alasan petani, seniman, pedagang, dan kontraktor. Sehingga, ia dapat bersikap arif dan bijaksana.

Setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan. Bisa jadi si Fulan lemah dalam matematika, tetapi mungkin ia baik dalam bahasa. Si Fulanah lemah dalam hafalan, tetapi baik dalam pengertian. Si Badu lemah dalam bidang akademis, namun bisa jadi ia hebat dalam bidang non akademis.

Dengan begitu, para guru dapat memberikan penilaian yang holistik untuk para siswa. Yang akhirnya, semua potensi dihargai, semua prestasi diapresiasi.

Antara Guru, Siswa, dan "Mbah Google"

 



Istilah mbah google muncul sejak mesin pencari google menjadi andalan banyak orang untuk mencari informasi tentang banyak hal. Google mengusai market share sampai 92,5% sedangkan bing hanya memperoleh 2,83% dan yahoo sebesar 1,65%, Sisanya dibagi mesin pencari lain yang juga banyak bertebaran di dunia maya.

Mbah google merepresentasikan sebutan "kakek segala tahu" sehingga semua infomasi dapat dengan mudah di dapatkan di mesin pencari tersebut. Oleh karena itu, google menjadi sangat penting perannya bagi semua orang karena informasi lama maupun baru dapat diperoleh dengan mengetikan beberapa buah kata kunci di google. Google lalu memunculkan berbagai alternatif terdekat berdasarkan kata kunci yang kita ketikkan.

Pada masa Pandemi Covid 19, peran google di kalangan siswa menjadi semakin dominan. Pembelajaran daring memaksa anak-anak belajar sendiri di rumah, tanpa guru yang mendampingi. Para guru biasanya hanya memberikan tugas yang diiringi dengan ringkasan materi atau medai pembelajaran berbasis video kepada siswa. Selebihnya para siswa harus berusaha memahami sendiri materi yang dipelajari, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru, dan menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan.

Oleh karena itu, fokus pun berganti. Jika di kelas para siswa bertanya pada guru tentang apa yang tidak dipahami, dengan pembelajaran daring para siswa lebih banyak bertanya pada google untuk mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya. Alhasil, selama enam bulan terakhir para siswa akrab dengan "si embah" daripada pada para gurunya. Realitas ini, tentunya menyisakan beberapa persoalan. 

Pertama, ketergantungan siswa pada google untuk mencari jawaban dari semua persoalannya adalah hal yang harus kita ceramati. Kita tahu, google hanya menunjukkan tempat dimana informasi itu ada. Menghubungkan dengan situs yang memuat materi yang ditanyakan siswa. Tetapi, tidak ada jaminan apakah jawaban dan pemahaman itu benar atau tidak. Sementara tidak semua siswa mengetahui situs-situs sumber belajar yang verified sesuai dengan yang diprogramkan oleh kementrian pendidikan.

Kedua, siswa lebih suka mendapatkan jawaban daripada mempelajari dan memahami materi dari awal. Sehingga mereka lebih hanya mengetahui jawaban tanpa mengetahui darimana jawaban itu berasal, bagaimana konsep berpikirnya, atau dari sumber mana jawaban itu berasal. Intinya, semua didapatkan siswa secara instant.

Ketiga, ketergantungan siswa akan smartphone akan semakin meningkat. Telepon pintar itu tidak lagi menjadi barang komplementer tatapi suatu saat akan menjadi kebutuhan primer para siswa. Realitasnya, hal ini juga dialami para orang dewasa dimana handphone merupakan salah satu barang wajib yang harus dibawa kemana saja mereka pergi. Ketinggalan handphone atau handphone yang low bat pada masa sekarang ini telah menjadi suatu persoalan besar bagi banyak orang dewasa.

Namun demikian, dibalik ancaman yang cukup serius itu, para orang tua dan guru memiliki secercah harapan menghadapi situasi ini. Para siswa memastikan diri bahwa mereka sudah tidak gagap dengan teknologi informasi. Artinya, pada era dimana peran teknologi informasi sangat dominan, para siswa telah memiliki kesiapan kompetensi teknis dalam bidang teknologi informasi. Hanya saja, ke depan para siswa harus dimotivasi untuk tidak puas menempatkan diri sebagai pengguna, tetapi juga trampil menjadi provider atau producer aplikasi yang mereka butuhkan sendiri. 

Dalam artian, posisi awal ini dapat digunakan untuk mencuri start memanfaatkan bonus demografi di sekitaran tahun 2045, yang mana mensyaratkan kepemilikian kompetensi di bidang IT bagi siapa saja yang ingin mengambil peran penting dalam percaturan dunia, disamping penguasaan cross cultural understanding dan international language mastery agar mereka dapat mengikuti pergaulan dunia dengan sebaik-baiknya. (ans)




Pembelajaran Kewirausahaan di Sekolah

 


Pandemi Covid 19 hampir melumpuhkan semua ranah kehidupan kita. Pendidikan, sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan, benar-benar menghadapi masalah serius. Berbagai program untuk mengatasi keadaan telah dilakukan pemerintah. Tujuannya, agar negeri kita tidak runtuh ke dalam resesi. 

Dalam bidang ekonomi, tidak hanya rakyat kecil, bahkan para pengusaha menengah ke atas pun merasakan beratnya menghadapi persoalan ekonomi. Produksi dengan melibatkan banyak karyawan tidak lagi bisa dilaksanakan. Permintaan pun melemah. Banyak produk yang terpaksa dikembalikan oleh pusat-pusat perbelanjaan. UMKM khususnya di bidang makanan kecil harus menanggung banyaknya barang expired karena tidak terjual habis di pusat oleh-oleh. Semakin sulitnya lapangan kerja telah mengurangi pendapatan masyarakat yang semakin melemah dan melemah.

Namun, ternyata ada beberapa kelompok orang yang justru mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Beberapa pengusaha UMKM mendapatkan permintaan yang luar biasa sehingga mereka harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan pembeli. Lagi-lagi, disini sense of enterpreunership berperan besar. Peluang sebesar lubang jarum pun bisa menjadi harapan besar bagi para pengusaha cerdas dan dapat berpikir cepat. Siapa saja mereka?

Memang tidak semua, tetapai banyak teman yang memiliki basis usaha di bidang konveksi, dapat memanfaatkan momentum, setidaknya untuk tidak gulung tikar. Pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) Medis cukup menjanjikan. Dengan kemampuan desain dan langkah cepat untuk "mengambil contoh" APD standar, beberapa pengusaha konveksi berhasil melampui titik kritis dari usaha ini. Demikian juga dengan pembuatan masker. Permintaan masker yang meningkat tajam terutama setelah pemerintah pusat, daerah, dan desa gemar mensosialisasikan dan membagi masker kepada warga masyarakat, UMKM konveksi yang tentu saja tidak akan merasa kesulitan untuk membuat masker, berhasil mempertahankan diri dari gulung tikar.

Para pengusaha di bidang IT, khususnya di bidang penjualan handphone, pulsa, paket internet, bahkan jasa sharing wifi merupakan pihak-pihak yang juga mendapatkan berkah dari Pandemi ini. Pembelajaran daring yang mengharuskan siswa memiliki handphone sekaligus paket internetnya, meningkatkan demand, sementara ketersediaan paket internet dan pulsa tentu unlimited. Oleh karena itu, dengan sedikit sosialisasi dan "memurahkan" paketan internet, banyak counter yang juga mendapatkan untung dari kondisi ini.

Cerdas Mengambil Peluang

Salah satu hal yang dapat dipelajari dari keberhasilan beberapa wirausahawan dibidang konveksi dan teknologi informasi adalah kemampuan melihat dan mengambil peluang dengan cepat. Kesempatan tidak akan datang dua kali, oleh karena itu ketika ada kesempatan yang datang, seorang pengusaha harus dapat mengambil peluag sebaik-baiknya. Tentu saja tetap dengan mempertimbangkan segala resiko dan analisis pasar yang matang.

Melatih siswa untuk wirausaha yang tangguh, dimulai dari mengajari anak-anak kita dengan kemampuan membaca peluang. Sekolah, tentu memiliki moment-moment khusus di luar kegiatan pembelajaran yang bisa menjadi peluang berwirausaha. Kegiatan seperti akhirussanah, PHBI dan PHBN, dan lain-lain, bagi seorang wirausahawan merupakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan menjual produk dan jasa yang sesuai dengan moment itu. Maka mengajarkan anak untuk berjualan, memproduksi makanan kecil dan minuman kemasan, merupakan cara sederhana mengajarkan anak-anak membaca peluang. 

Kebun, kolam, kantin, dan koperasi sekolah merupakan tempat-tempat yang dapat digunakan untuk mengajarkan kewirausahaan. Di kebun sekolah kita tidak harus menanam bunga, tetapi juga bisa menanam sayur mayur segala rupa. Kolam ikan sekolah juga dapat digunakan untuk menghasilkan ikan yang dapat dijual. Sementara kantin dan koperasi sekolah merupakan pasar yang dapat digunakan untuk mengajarkan anak transaksi keuangan.

Sejak dini, para guru seharusnya mengajarkan anak-anak tentang kewirausahaan. Apalagi pada saat ini, kepala sekolah dan madrasah dituntut untuk memiliki kompetensi wirausaha sehingga sangat pas jika sekolah/madrasah membuat program pengenalan kewirausahaan. Bahkan di Sekolah Dasar pengenalan kewirausahaan sudah dapat dilakukan dengan memilih cara yang sederhana dan mudah dilakukan oleh peserta didik di sekolah dasar.


Harlah Ke 91 LP Ma'arif, What's Next?



Tiga hari lagi, tepatnya tanggal 19 September 2020, LP Ma'arif NU berulang tahun ke 91. Bagi seorang manusia, usia 91tahun adalah usia lanjut. Namun bagi sebuah organisasi kelas nasional, tentu masih merupakan masa-masa penuh dengan upaya untuk meningkatkan kualitas dari berbagai sisinya; profesionalisme, visi ke depan, dan orientasi manfaat yang harus mengemuka. Medan perjuangan LP Ma'arif sangatlah luas, dibarengi dengan tantangan, hambatan, rintangan, gangguan, dan berbagai macam persoalan internal dan eksternal lainnya yang tentu akan bertambah. Tapi itulah perjuangan, selama jajaran pengurus dan anggatonya bisa bersinergi, maka akan memberikan manfaat untuk meraih barokah dari Allah Swt.

Tagline bersinergi, manfaat, dan mbarokahi yang dipilih oleh LP Ma'arif Tulungagung, merupakan salah satu tagline unik yang berkesinambungan. Tagline ini sebenarnya bernuansa sederhana, namun penuh makna. Mungkin, itulah cerminan LP Ma'arif saat ini. Dalam berbagai keterbatasan dan kesederhanaan, LP Ma'arif berusaha memberikan manfaat yang sebesar-besarnya baik untuk warga NU atau masyarakata secara umum. Niat dan tujuannya hanyalah satu, yaitu mencari ridlo Allah Swt untuk meraih barokah dalam kehidupan.

Di Tulungagung, peran sekolah-sekolah dibawah naungan LP Ma'arif sudah tidak bisa diremehkan lagi. Sekolah dan madrasah unggul muncul diberbagai tempat, dengan corak utama ke-NU-annya. Langkah ini disambut baik oleh masyarakat, khsusunya masyarakat muslim yang menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh tetapi tidak ketinggalan dalam sain dan teknologi. Sekolah dan madrasah Ma'arif telah membuktikan bahwa harapan itu dapat diraih dengan belajar di sekolah LP Ma'arif. Realitasnya, sekolah dan madrasah LP Ma'arif di tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtida'iyah mendapatkan masukkan siswa yang melebihi sekolah-sekolah dasar negeri di wilayahnya masing-masing.

LP Ma'arif dan Teknologi Informasi

Menghadapi pembelajaran daring, LP Ma'arif telah bersiap diri. Pembelajaran daring baik melalui e-learning maupuan platform lainnya, sudah dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah-sekolah LP Ma'arif. Berbagai kegiatan yang melibatkan guru dan kepala sekolah/madrasah, sudah tidak lagi berbasis tatap muka. Pertemuan-pertemuan dengan virtual meeting baik melalui zoom, google teams, dan lain-lain, semua dapat dilaksanakan di lingkungan LP Ma'arif dengan baik. Bahkan, sampai saat ini, pelatihan virtual untuk kepala sekolah/madrasah tingkat nasional juga dilaksanakan oleh LP Ma'arif PBNU lebih dari 5 angkatan.

LP Ma'arif sama sekali tidak boleh jauh-jauh dari teknologi informasi. Era revolusi industri 4.0 yang sedang kita lakoni sekarang ini akan semakin canggih dan menuntut kita untuk mengikutinya. LP Ma'arif tidak boleh mundur walau sejengkal, tetap meningkatkan kompetensi baik secara organisasi maupun individu anggota, dalam bidang teknologi informasi. Berhenti saja satu langkah, maka kita akan ketinggalan perkembangan langkah teknologi informasi sekian puluh langkah di belakang. Digitalisasi sistem pembelajaran, keorganisasian, manajemen lembaga, dan lain-lain sangat diperlukan agar LP Ma'arif secara organisatoris tidak ditinggalkan oleh lembaga-lembaga dibawahnya yang juga berkembang dengan pesat.

Menjaga Tradisi

Meskipun harus berlari mengikuti perkembangan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi, LP Ma'arif tetap tidak boleh lepat dari tradisi ke-NU-annya. Islam yang ramah, santun dan bersahaja, tetap harus dikuatkan, baik ke dalam maupun ke luar. Islam ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah yang mengedepankan kemanusian tetap harus menjadi koridor yang diikuti. Ajaran pera wali dan ulama untuk menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan mauidzoh hasanah tanpa mencela dan menyakiti tetap harus menjadi cara yang dipilih agar tidak terjadi pergesekan di masyarakat.

Sekolah dan madrasah LP Ma'arif merupakan wahana yang sangat tepat untuk melaksanakan misi ke-Islam-an wasathiyah yang suka mengambil jalan tengah dengan tidak meninggalkan akidah dan mengabaikan syariah. Islam wasathiyah merupakan materi pokok yang harus disampaikan kepada para santri agar tidak menjadi radikal dalam menghadapi perbedaan. Kita memahami bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan lakum dinukum waliyadin terhadap agama lain, dan lana a'maluna walakum a'amalakum kepada sesama muslim. Dengan begitu, santri-santri LP Ma'arif tidak asing dengan perbedaan di sekitarnya dan tidak mudah mengkafirkan orang lain karena cara ibadahnya yang agak berbeda.

Tradisi ulama'-ulama' NU tetap harus menjadi materi yang "diuri-uri" oleh sekolah dan madrasah LP Ma'arif, karena hal itu merupakan peninggalan yang sangat berarti. Tahlilah, istighotsah, mauludan, sholawatan, dan lain-lain adalah amaliyah ulama yang harus dilestarikan di sekolah dan madrasah LP Ma'arif. 

Meningkatkan Profesionalisme Pelayanan

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang "menjual" jasa kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelayanan yang terbaik akan menjadi daya tarik terhebat bagi masyarakat. Untuk meningkatkan pelayanan itu, profesionalisme lembaga dan organisasi harus menjadi perhatian penting bagi para pengurus dan pimpinan lembaga. 

Profesionalisme mengaju pada kemudahan, kepraktisan, waktu yang cepat, dan tepat. Orang-orang yang profesional menjalankan pekerjaannya secara disiplin dan konsekuen. Tepat waktu dan tepat guna merupakan salah satu unsur yang penting dalam menjalankan pelayanan yang profesionalisme. Lembaga yang profesional dengan biaya yang sedikit lebih mahal akan jauh lebih menarik daripada lembaga-lembaga berbudget murah tapi amburadul.

Untuk itu, pengurus LP Ma'arif secara konsisten harus mengadakan observasi terhadap profesionalisme lembaga-lembaga dibawahnya. Paling tidak, ada pemantauan-pemantauan khusus yang berfokus pada profesionalisme lembaga, dan ditindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan. Sudah waktunya lembaga-lembaga pendidikan dibawah LP Ma'arif mengikuti pelatihan manajemen secara berkala, setelah lebih duluh para pengurus LP Ma'arif mengadakan supervisi terhadap manajemen lembaga. Dengan begitu, lembaga-lembaga di bawah LP Ma'arif dapat meningkatkan kualitas manajemen dengan sebaik-baiknya.

Selamat Harlah LP Ma'arif ke 91, Bersinergi, Manfaati, dan Mbarokahi! 


Belajar Apa pada Ayah?



Tentang orang tua, seringkali kita lebih banyak terfokus pada ibu. Kasih sayang yang besar, berlaku unlimited dan unconditionally, selalu ada untuk kita, dan do'anya yang dikabulkan Allah Swt. Ibu mengasihi, menyayangi, mendidik, dan membimbing anak-anaknya sejak ia masih di dalam kandungan. Sebelum ibu meninggalkan dunia, beliau tidak akan melepaskan semuanya dari anak terkasihnya.

Tapi, kita tidak boleh lupa, ibu bukan satu-satunya orang tua kita. Ayah kita adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan kehidupan kita. Beliaulah yang menjadi garda terdepan dan benteng terakhir untuk mengatasi persoalan-pesoalan yang muncul dari ulah kita. Ayahlah yang bertanggung jawab akan nafkah seluruh keluarga, termasuk terhadap ibu kita. Meskipun, karena tugas dan pekerjaan, kita jarang berada dalam satu waktu dan tempat yang sama dengan ayah kita. Tetap saja, apa yang beliau lakukan di luar sana adalah langkah-langkah perjuangan untuk keluarga.

Melihat Sifat Ayah

Seringkali ayah tidak memiliki sifat yang lembut. Ayah adalah sosok yang kasar, tegas, disiplin, dan bisa saja berbuat agar "tega" kepada anak-anaknya. Beberapa ayah bahkan tega menghukum anaknya secara fisik karena kenakalannya. Namun, tetap saja apa yang dilakukan ayah adalah karena kasih sayangnya kepada anak.

Ayah bersifat keras, karena itulah kehidupan yang dialaminya. Ia juga ingin mengajari kepada anak-anaknya bahwa di luar sana, tida selalu kita menemukan kelembutan dan kasih sayang. Kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki sifat yang jauh dari itu. Orang-orang yang hidup dalam dunia keras dan kasar, yang mana kita juga harus bisa menghadapinya.

Ayah bersifat tegas dan disiplin, karena ayah tidak ingin anaknya menjadi pemalas dan tidak menghargai aturan. Ayah ingin kita taat pada aturan Allah Swt dan rasulullah, aturan pemerintah, norma-norma di masyarakat, dan seterusnya. Aturan itu untuk dijalankan, bukan dilanggar. Tanpa ketegasan dan kedisiplinan kita akan menjadi manusia yang "sak enak e dhewe". Ayah tidak ingin kita menjadi orang-orang yang tak karuan apalagi tak beraturan (irregular). Ayah mau kita menjadi sosok yang tertib pada aturan sehingga kehidupan dapat berjalan dengan baik dan benar.

Ayah adalah orang yang bertanggung jawab. Ayah harus bertanggung jawab pada semua kenakalan kita. Sehingga, ketika ada orang yang merasa dirugikan oleh ulah kita, tetap saja ayah yang harus bertanggung jawab, meskipun beliau tidak melakukannya. Ayah bertanggung jawab akan terpenuhinya nafkah keluarga, sehingga apapun dilakukan untuk memenuhi kewajibannya itu. Ayah bisa menjelma menjadi kuli, menjadi buruh, dan semua pekerjaan berat lainnya, hanya untuk melakukan tanggung jawabnya itu.

Belajar Apa dari Ayah?

Dari caranya memperlakukan kita, seringkali ayah dan ibu melakukan hal yang berbeda. Ibu mendekap kita di dadanya, ayah mamanggul kita di pundaknya. Ibu ingin menunjukkan kasih sayangnya, ayah ingin mengajari anak-anaknya untuk melihat dunia. 

Ketika jatuh, ibu akan berlari, mendekap anak kecilnya, mengobati luka, dan menentramkan hatinya agar ia tidak risau akan rasa sakit yang dialaminya. Ayah lain lain. Beliau tidak serta merta merengkuh kita, tetapi justru menyuruh kita bangkit sendiri, dan belari lagi. Ayah ingin menunjukkan pada kita, bahwa dunia tidak bisa diratapi. Jatuh bangun adalah hal yang biasa. Kalau jatuh, ya bangkit lagi. Tetap semangat untuk melihat masa depan.

Ayah mengajari kita kuat, semangat, bertanggung jawab, disiplin, dan tegas dalam menghadapi persoalan hidup. Hal itu adalah hal-hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena kehidupan kita memerlukannya. Bagi ayah yang masih bersama kita, semoga ayah kita tetap diberikan kesehatan dan panjang umur. Namun, bagi ayah yang sudah menghadap Allah Swt, semoga Allah memberikan maghfirah dan ampunannya. Aaamin.

#kangenbapak


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes