Bersabar dan Bersyukur

gambar : suaraislam.id


Allah Swt menciptkan keindahan di semua hal. Hanya saja, kadang kita tidak bisa melihatnya secara jernih. Mengapa? Mungkin karena hati kita telah banyak dikotori penyakit hati, atau ruhani kita telah dipenuhi oleh persoalan-persoalan hidup yang tampak rumit meskipun sesungguhnya tidak. Siapa saja, kapan saja, dimana saja, dapat melihat keindahan dan mensyukurinya, ketika ia ridlo dengan apa yang telah ditetapkan Allah Swt kepada-Nya.

Pada ketetapkan Allah Swt, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menerimanya. Allah Swt melakukan apa saja yang Allah Swt mau, dan meninggalkan apa yang ingin ditinggalkan-Nya. Tidak ada aturan yang mengikatnya, tidak ada sesuatu yang dapat mencegah apa yang dimaui-Nya, tidak dapat mempengaruhi apapun terhadap keputusanNya. Kalau Allah Swt menghendaki sesuatu terjadi, maka jadilah ia, demikian pula sebaliknya.

Manusia adalah makhluk lemah, maka ia harus menyadari kelemahannya. Kalau saja manusia memiliki suatu kekuatan, bukan berarti ia kuat dari dalam dirinya. Tetapi, ia kuat, ia mampu, ia pandai, ia hebat, karena diberikan kekuatan, kemampuan, kepandaian, dan kehebatan dari Allah Swt. Orang-orang beriman harus meyakini itu, agar ia tidak menyombongkan kelebihan yang dimilikinya. Sebab, justru kesombongan itulah yang akan menghinakanNya.

Tidak selalu kemiskinan membuat orang terhina. Bisa jadi, karena kemiskinannya justru seseorang dimuliakan orang lain, bahkan dimuliakan oleh Allah Swt. Mengapa? Orang mukmin miskin dan sabar, akan mendapatkan penghargaan dari Allah Swt karena kesabarannya. Apalagi, jika ia tetap dapat menjaga ibadahnya dalam kemiskinan seperti tetap mengerjakan sholat, puasa, bahkan zakat tetap ia bayarkan, walaupun ia harus bekerja keras untuk itu. Kita banyak mendengar cerita dan berita, bahwa kebanyakan penolong orang miskin, adalah sesamanya yang juga miskin. Sedangkan si kaya, karena ia hidup dalam sekat sosial yang kuat, justru tidak tahu, atau tidak mau tahu pada si miskin yang membutuhkan pertolongannya. 

Pada saat yang sama, kita seringkali dapat melihat rona bahagia, justru pada wajah-wajah orang miskin yang mukmin. Sebungkus nasi, segelas air, atau secuil daging kurban, dapat menyalakan lentera kebahagiaan di dalam hatinya. Dan, hal-hal yang kita pandang sangat remeh dan kecil, justru membuat si miskin merasa wow bahagianya. Sementara, betapa kita melihat di sekeliling kita, banyaknya elemen yang dibutuhkan oleh orang kaya untuk membuatnya bahagia. 

Mungkin saja, baju baru seharga lima puluh ribu, atau bahkan dua puluh lima ribu, bisa membuat orang miskin bahagia. Tetapi bagi orang kaya, tidak saja harga yang mahal yang dibutuhkan, warna yang sesuai, desain yang pas, kesesuaian dengan tema, kesesuaian dengan accessories lainnya, bahkan tidak jarang harus membutuhkan yang limited edition atau custom untuk mempersiapkan seorang kaya ke sebuah pesta. Ribet!

Namun demikian si kaya, tetap saja mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Swt. Jika kemuliaannya di hadapan manusia dapat dengan mudah dapat ia peroleh dengan kekayaannya, demikian juga kemuliaan di hadapan Allah Swt dapat juga ia peroleh, dengan cara mensyukuri karuniaNya. Tentu, mensyukuri tidak cukup dengan lisan, tapi juga dengan keyakinan dan tindakan. Ya, keyakinan bahwa semua yang ia dapatkan adalah karunia Allah Swt, bukan semata-mata kecanggihan upaya dan usahanya. Dan, bersyukur dengan tindakan adalah dengan membagi sebagian harta kepada orang-orang yang memang berhak menerimanya, serta membelanjakan hartanya fi sabilillah. Si Miskin bersabar, si Kaya Bersyukur. Klop!




Membuat Video Pembelajaran yang "Keren"

 


Video pembelajaran menjadi sangat trend di masa pandemi ini. Hampir semua guru didorong membuat video pembelajaran sebagai salah satu bentuk upaya "menghadirkan" para guru di rumah-rumah siswa. Melalui video pembelajaran yang menyertakan gambar para guru di dalamnya, para siswa seolah-olah berkesempatan bertemu dengan para gurunya hari itu.

Kehadiran para guru, meskipun secara visual, merupakan salah satu hal penting yang harus menjadi salah satu perhatian para guru. Mengapa? Meskipun hanya gambar, para siswa tetap akan merasa terkoneksi dengan para guru. Kesan bahwa mereka sedang liburan akan hilang dengan hadirnya visual para guru yang menjelaskan berbagai tema dan materi pembelajaran. Sehingga, anggapan bahwa mereka berlibur di masa pandemi ini akan terkikis dengan sendirinya.

Diakui atau tidak, kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) tidak serta merta menggantikan kegiatan pembelajaran itu sendiri. Efetifitas pembelajaran daring tetap tidak bisa menggantikan pembelajaran tatap muka. Apalagi dengan banyaknya kendala teknis, seperti kepemilikan smartphone yang memadai serta transmisi gambar dan ketersediaan paket data yang seringkali masih menjadi kendala. Belum lagi, kemampuan para guru dalam membuat video pembelajaran yang menampilkan visualisasi guru yang belum bagus karena kemampuan videografi yang masih lemah.

Penguatan Kompetensi Teknis

Hal utama yang harus dikuatkan adalah kemampuan teknis videografi dan desain presentasi yang dimiliki guru. Sebenarnya, bagi guru-guru yang sudah akrab dengan aplikasi presentasi seperti Microsoft Powerpoint, Prezi, Slides, Slidedog, dan lain-lain dapat digunakan guru untuk membuat presentasi yang keren. Namun hal itu belum cukup, karena para guru juga harus menguasi aplikasi pembuatan video baik yang berbasis smarphone maupun PC seperti Kinemaster, Viva Video,Video Show, Filmora, Adobe Pemiere, dan lain-lain. Oleh karena itu, kepala sekolah/madrasah sudah saatnya menjadwalkan pelatihan videografi sehingga para guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Beberapa tips untuk membuat video pembelajaran yang keren, sebagaimana di lansir dalam primaindisoft.com adalah sebagai berikut.

1. Membuat Konsep Video dengan Matang

Sebelum memutuskan untuk membuat video pembelajaran yang akan membuat Anda semakin antusias dalam belajar, ada baiknya untuk membuat konsep. Konsep yang matang ini akan menentukan keberhasilan dari video yang akan dibuat. Kalau video dibuat asal-asalan, materi tidak akan tersampaikan dengan baik.

2. Belajar Mengedit Video

Konten pembelajaran dengan video memang tidak mudah dibuat dan dibutuhkan dedikasi yang tinggi kalau Anda ingin membuatnya. Beberapa aplikasi edit video bisa digunakan seperti Adobe Premiere CS6.

3. Mengevaluasi Video yang Telah Dibuat

Setelah membuat video yang dibutuhkan untuk pembelajaran, jangan langsung gunakan. Anda bisa melakukan evaluasi terlebih dahulu. Evaluasi apa saja yang masih kurang dan harus ditambahkan. Setelah melalui evaluasi dan edit beberapa kali barulah media bisa digunakan.

4. Mencari Bahan Video

Anda bisa membuat media dengan menggabungkan beberapa video yang sudah ada. Misal percobaan yang ada di Youtube. Kalau ingin video orisinal, Anda bisa membuatnya sendiri dan mencari bahan yang dibutuhkan. Asal memiliki konsep yang baik, video akan mudah dibuat.

Membuat video pembelajaran tidak saja memerlukan kemampuan guru untuk mengajar, tetapi juga membutuhkan kemampuan guru untuk mengguakan teknologi yang tepat, seni videografi yang keren, serta pembuatan presentasi yang komunikatif. Oleh karena itu, para guru harus siap bekerja keras untuk meraih prestasi di masa pandemi.

Mengajarkan Kejujuran

 


Salah satu karakter penting yang harus kita tanamkan kepada anak didik adalah kejujuran. Jujur merupakan modal utama yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kuatnya kejujuran yang kita miliki, akan membuat orang menaruh kepercayaan kepada kita. Dengan kepercayaan itu, kita dapat mengambil peran dominan dalam kehidupan sehari-sehari, mempengaruhi masyarakat dan mengajarkan kebaikan, dan membuat perubahan-perubahan baik di lingkungan tempat tinggal. Sebaliknya, orang-orang yang khianat akan dijauhi masyarakat dan kata-katanya tidak akan diindahkan.

Dahulu kala ada seorang pengembala yang suka berbohong. Ia seringkali berlebihan dalam bercanda yaitu dengan berteriak minta tolong seolah-olah ada srigala yang akan memangsa ternak gembalaannya. Pada saat orang-orang berdatangan untuk menolong, pengembala itu tertawa dan mengatakan pada orang-orang bahwa sebenarnya dia sedang mengerjai orang-orang itu. Demikian ia melakukan beberapa kali, sehingga orang-orang merasa kesal karenanya.

Pada suatu saat, gembala itu sedang bekerja mengembala ternak. Tiba-tiba segerombalan srigala benar-benar datang dan akan memangsa ternaknya. Ia pun minta tolong kepada penduduk untuk dibantu menyelematkan ternaknya. Tapi, orang-orang sudah terlanjur tidak percaya pada gembala itu, sehingga tidak bereaksi terhadap teriakkan sang gembala. Akhirnya ternak sang gembala benar-benar dimangsa srigala dan ia merasa menyesal karena selama ini telah sering berbohong.

Ilustrasi di atas menunjukkan betapa pentingnya berkata jujur. Sebaliknya, sangat berbahaya ketika kita sering berbohong. Apalagi kita tahu, bahwa suatu kebohongan hanya dapat ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Dengan begitu, kebohonangan kita akan menumpuk dan berkelanjutan. Oleh karena itu, para guru seharusnya merencanakan dengan matang pendidikan karakter khususnya karakter jujur ini. 

Menghargai Kejujuran

Penghargaan terhadap suatu prestasi memotivasi seseorang untuk meningkatkan prestasinya. Demikian juga penghargaan terhadap karakter baik seseorang. Selama ini siswa dihargai karena nilainya yang baik, prestasinya yang tinggi, hasil ujiannya yang mendapatkan nilai sempurna, atau ia mendapatkan suatu juara dari sebuah perlombaan. Sehingga para siswa akan termotivasi untuk belajar, berlatih, dan meningkatkan kompetensinya dalam bidang tertentu.

Tapi, sudahkah kita menghargai kejujuran? Misalnya dengan memberikan penghargaan bagi siswa yang paling jujur di kelas selama bulan tertentu, atau selama mengikuti ujian tertentu? Mungkin kalau di liga sepakbola ada team yang paling fair play, mungkin saatnya kita mengadakan penilaian dan kemudian memberikan penghargaan kepada siswa yang paling jujur di kelas atau sekolah kita. Sebaliknya, kita juga harus memberikan punishment terhadap anak-anak yang tidak jujur. Sehingga, kejujuran menjadi sesuatu yang diperhatikan dan dipentingkan anak-anak.

Selama ini, kejujuran jutru diletakkan di nomor ke sekian. Orang tua lebih menghargai anak yang mendapatkan nilai tinggi meskipun tidak jujur, daripada anak yang nilainya rendah tetapi jujur. Oleh karena itu anak-anak juga melakukan hal yang sama, yang penting nilainyanya bagus, meskipun harus mencontek.

Program Penguatan Kejujuran

Sekolah, sebagai salah satu penanggung jawab pendidikan karakter, harus merencanakan program yang baik untuk meningkatkan kejujuran siswa. Kegiatan-kegiatan seperti kantin kejujuran, pemberian penghargaan terhadap siswa yang jujur, dan penekanan pada siswa akan pentingnya kejujuran. Berbagai jenis penilaian hasil belajar juga harus benar-benar menekankan kejujuran sehingga para siswa harus dipastikan mengerjakan ujian dengan jujur. Para guru harus menekankan betapa nilai yang dicapai siswa bukan ukuran utama dalam menentukan nilai akhir, tetapi justru kejujuran siswa merupakan komponen penting dalam penilaian yang menyeluruh. Para guru juga harus memberikan punishmen yang sesuai pada anak-anak yang ketahuan mencontek, sehingga dapat menimbulkan efek jera.

Rasululullah Muhammad Saw adalah sosok teladan dalam kejujuran. Sangat tidak pantas jika umat Islam khususnya para santri dan pelajar Islam mengabaikan kejujuran. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Saw tidak lepas dari konsistensi beliau menjaga kejujuran. Beliau mendapatkan julukan al amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya, juga karena kejujuran beliau sejak kecil. Sebagai nabi dan rosul beliau juga dibekali sifat wajib siddiq, yang maknanya juga jujur. Kejujuran membawa keberkahan, sebaliknya kebohongan akan menjauhkan kita dari keberkahan itu sendiri.


Ketika Harus Memilih

Semakin meningkatnya kualitas hubungan sosial seseorang di masyarakat, berakibat meningkatnya jumlah komunitas, pertemanan, relasi sosial, dan lain-lain. Sementara itu dalam setiap komunitas kita akan memiliki agenda yang berbeda-beda. Sehingga pada suatu waktu yang sama, ada beberapa agenda yang harus kita ikuti. Dilema pun muncul, mau menghadiri acara pertama, kedua, atau bahkan sekalian tidak menghadirnya sama sekali.

Biasanya, kepentingan dinas dan pekerjaan tetap menjadi nomer satu. Kecuali ada agenda keluarga yang memang sudah menjadi rencana matang yang sudah tidak dapat ditinggalkan lagi. Agenda lainnya harus dikalahkan oleh acara dinas dan pekerjaan.

Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana memilih agenda yang sama-sama bersifat "sunnah"?

Ada beberapa saran yang dapat dipertimbangkan, antara lain:
Pertama, perencanaan kegiatan yang lebih dulu harus menjadi prioritas. Agenda-agenda rutin dan besar, yang melibatkan banya orang atau anggota, tetap harus menjadi yang utama. Agenda dadakan harus mengalah karena memang ia yang datang belakangan.

Kedua, pertimbangan kemanfaatan yang lebih besar juga harus menjadi prioritas. Agenda rapat yang berimplikasi terhadap jalannya organisasi atau komunitas harus diprioritaskan daripada sekedar kongkow-kongkow tanpa agenda tertentu yang ditetapkan.

Ketiga, pertimbangan peran dan fungsi. Pada agenda dimana posisi kita sangat menentukan dan dominan, tetap harus diutamakan. Apalagi jika kehadiran kita sangat menentukan dalam pengambilan keputusan atau jalannya acara. Sementara kehadiran sebagai partisipan yang tidak sangat penting dapat dinomorduakan.

Bagaimanapun, ketika harus memilih, kita selayaknya berusaha memilih dengan pertimbangan yang bijaksana. Hal-hal "wajib" tetap harus didahulukan dibandingkan hal-hal yang sunnah. Jangan sampai yang sunnah apalagi makruh justru mengalahkan yang wajib. Ibarat kata, sehebat apapun kemulian shalat tahajud tetap tidak bisa mengalahkan keagungan shalat subuh. (ans)

SUDUT PANDANG




Segala sesuatu harus dipandang secara proporsional. Sudut pandang seseorang terhadap sesuatu sangat menentukan penilaiannya terhadap sesuatu itu. Orang-orang yang bijak, harus dapat memandang segala sesuatu dengan cakrawala pandang yang luas sehingga dapat melihat suatu objek dari satu sudut yang terbaik. Agar kita dapat melihat sesuatu itu dari sisi kelebihan, bukan kekurangan.

Mengapa? Melihat kelebihan menimbulakn syukur. Melihat kekurangan menghasilkan kekecewaan. Padahal pada segala sesuatu, pastilah ada kelebihan dan kekurangannya. Termasuk, ketika para guru melihat siswa-siswanya. Misalnya, apakah siswa ini yang terbaik? Bisa jadi YA, dalam satu sisi. Tapi, apakah ia juga terbaik dalam hal yang lainnya? Belum tentu.

Demikian juga melihat kekurangan siswa. Siswa ini sangat sulit diajari, tidak konsentrasi, dan pasif di dalam kelas. Nilai-nilainya jelek semua. Dalam setiap ujian, ia selalu mendapatkan nilai terendah dari semua siswa di kelas. Lantas, apakah kita dapat menjustifikasi sebagai siswa terburuk di kelas? Inilah pentingnya meletakkan sudut pandang yang tepat, dan penilaian yang holistik terhadap sesuatu.

Melihat dari Ranah yang Berbeda

Di pinggi sawah yang hijau ranau dengan hamparan padi yang luas dan subur, berdiri beberapa orang dengan latar belakang yang berbeda. Mereka adalah petani, seniman, pedagang, dan kontraktor. Petani mengatakan, "Alhamdulillah...senangnya hatiku melihat padi yang tumbuh subur ini, bagaimana yang merawatnya, apa pupuknya, berapa lama masa panennya, berapa hasil produksi per hektarnya, berapa pekerja yang dibutuhkannya?" tanya si Petani dalam hati.

Sementara si seniman berkata lain dalam hatinya, "Indah banget sawah ini ya? Luas, teratur, sejuk, dengan background gunung. Wah, aku harus melihat semuanya, nanti akan kuabadikan dengan kuas dan canvas, agar semua orang bisa menikmatinya".

Si pedagang tentu akan berpikir lain. Ia akan mulai menghitung berapa biaya operasional pemanennya, berapa harga gabah basah atau keringnya, berapa ton yang dihasilkan dari sawah se luas itu, bagaimana trasportasi pengiriman dari sini ke pasar, berapa untung yang akan diperoleh, dan seterusnya.

Adapun sang kontraktor ternyata juga memiliki pemikiran lain. Ia akan berpikir di lahan seluas itu ia akan membangun perumahan. Ia sudah mulai mendesain di mana jalan masuknya, letak taman, jumlah unit, ukuran per unit dari setiap unitnya, berapa jenis unitnya, berapa harga per unitnya, apa konsep pembangunan kawasannya, dan seterusnya.

Dari satu obyek yang sama, kita dapat melihat betapa begitu banyak sudut pandang yang bisa diambil. Semuanya berdasarkan ranah berpikir dan latar belakang yang berbeda. Sudut pandang yang berbeda-beda itu perlu mendapatkan jembatan komunikasi yang tepat sehingga tidak terjadi konflik.

Sudut Pandang Guru

Para guru harus memiliki sudut pandang yang menyeluruh. Dari semua contoh di atas, para guru harus melihat dari sudut yang paling atas. Para guru harus dapat memahami alasan petani, seniman, pedagang, dan kontraktor. Sehingga, ia dapat bersikap arif dan bijaksana.

Setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan. Bisa jadi si Fulan lemah dalam matematika, tetapi mungkin ia baik dalam bahasa. Si Fulanah lemah dalam hafalan, tetapi baik dalam pengertian. Si Badu lemah dalam bidang akademis, namun bisa jadi ia hebat dalam bidang non akademis.

Dengan begitu, para guru dapat memberikan penilaian yang holistik untuk para siswa. Yang akhirnya, semua potensi dihargai, semua prestasi diapresiasi.

Antara Guru, Siswa, dan "Mbah Google"

 



Istilah mbah google muncul sejak mesin pencari google menjadi andalan banyak orang untuk mencari informasi tentang banyak hal. Google mengusai market share sampai 92,5% sedangkan bing hanya memperoleh 2,83% dan yahoo sebesar 1,65%, Sisanya dibagi mesin pencari lain yang juga banyak bertebaran di dunia maya.

Mbah google merepresentasikan sebutan "kakek segala tahu" sehingga semua infomasi dapat dengan mudah di dapatkan di mesin pencari tersebut. Oleh karena itu, google menjadi sangat penting perannya bagi semua orang karena informasi lama maupun baru dapat diperoleh dengan mengetikan beberapa buah kata kunci di google. Google lalu memunculkan berbagai alternatif terdekat berdasarkan kata kunci yang kita ketikkan.

Pada masa Pandemi Covid 19, peran google di kalangan siswa menjadi semakin dominan. Pembelajaran daring memaksa anak-anak belajar sendiri di rumah, tanpa guru yang mendampingi. Para guru biasanya hanya memberikan tugas yang diiringi dengan ringkasan materi atau medai pembelajaran berbasis video kepada siswa. Selebihnya para siswa harus berusaha memahami sendiri materi yang dipelajari, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru, dan menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan.

Oleh karena itu, fokus pun berganti. Jika di kelas para siswa bertanya pada guru tentang apa yang tidak dipahami, dengan pembelajaran daring para siswa lebih banyak bertanya pada google untuk mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya. Alhasil, selama enam bulan terakhir para siswa akrab dengan "si embah" daripada pada para gurunya. Realitas ini, tentunya menyisakan beberapa persoalan. 

Pertama, ketergantungan siswa pada google untuk mencari jawaban dari semua persoalannya adalah hal yang harus kita ceramati. Kita tahu, google hanya menunjukkan tempat dimana informasi itu ada. Menghubungkan dengan situs yang memuat materi yang ditanyakan siswa. Tetapi, tidak ada jaminan apakah jawaban dan pemahaman itu benar atau tidak. Sementara tidak semua siswa mengetahui situs-situs sumber belajar yang verified sesuai dengan yang diprogramkan oleh kementrian pendidikan.

Kedua, siswa lebih suka mendapatkan jawaban daripada mempelajari dan memahami materi dari awal. Sehingga mereka lebih hanya mengetahui jawaban tanpa mengetahui darimana jawaban itu berasal, bagaimana konsep berpikirnya, atau dari sumber mana jawaban itu berasal. Intinya, semua didapatkan siswa secara instant.

Ketiga, ketergantungan siswa akan smartphone akan semakin meningkat. Telepon pintar itu tidak lagi menjadi barang komplementer tatapi suatu saat akan menjadi kebutuhan primer para siswa. Realitasnya, hal ini juga dialami para orang dewasa dimana handphone merupakan salah satu barang wajib yang harus dibawa kemana saja mereka pergi. Ketinggalan handphone atau handphone yang low bat pada masa sekarang ini telah menjadi suatu persoalan besar bagi banyak orang dewasa.

Namun demikian, dibalik ancaman yang cukup serius itu, para orang tua dan guru memiliki secercah harapan menghadapi situasi ini. Para siswa memastikan diri bahwa mereka sudah tidak gagap dengan teknologi informasi. Artinya, pada era dimana peran teknologi informasi sangat dominan, para siswa telah memiliki kesiapan kompetensi teknis dalam bidang teknologi informasi. Hanya saja, ke depan para siswa harus dimotivasi untuk tidak puas menempatkan diri sebagai pengguna, tetapi juga trampil menjadi provider atau producer aplikasi yang mereka butuhkan sendiri. 

Dalam artian, posisi awal ini dapat digunakan untuk mencuri start memanfaatkan bonus demografi di sekitaran tahun 2045, yang mana mensyaratkan kepemilikian kompetensi di bidang IT bagi siapa saja yang ingin mengambil peran penting dalam percaturan dunia, disamping penguasaan cross cultural understanding dan international language mastery agar mereka dapat mengikuti pergaulan dunia dengan sebaik-baiknya. (ans)




Pembelajaran Kewirausahaan di Sekolah

 


Pandemi Covid 19 hampir melumpuhkan semua ranah kehidupan kita. Pendidikan, sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan, benar-benar menghadapi masalah serius. Berbagai program untuk mengatasi keadaan telah dilakukan pemerintah. Tujuannya, agar negeri kita tidak runtuh ke dalam resesi. 

Dalam bidang ekonomi, tidak hanya rakyat kecil, bahkan para pengusaha menengah ke atas pun merasakan beratnya menghadapi persoalan ekonomi. Produksi dengan melibatkan banyak karyawan tidak lagi bisa dilaksanakan. Permintaan pun melemah. Banyak produk yang terpaksa dikembalikan oleh pusat-pusat perbelanjaan. UMKM khususnya di bidang makanan kecil harus menanggung banyaknya barang expired karena tidak terjual habis di pusat oleh-oleh. Semakin sulitnya lapangan kerja telah mengurangi pendapatan masyarakat yang semakin melemah dan melemah.

Namun, ternyata ada beberapa kelompok orang yang justru mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Beberapa pengusaha UMKM mendapatkan permintaan yang luar biasa sehingga mereka harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan pembeli. Lagi-lagi, disini sense of enterpreunership berperan besar. Peluang sebesar lubang jarum pun bisa menjadi harapan besar bagi para pengusaha cerdas dan dapat berpikir cepat. Siapa saja mereka?

Memang tidak semua, tetapai banyak teman yang memiliki basis usaha di bidang konveksi, dapat memanfaatkan momentum, setidaknya untuk tidak gulung tikar. Pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) Medis cukup menjanjikan. Dengan kemampuan desain dan langkah cepat untuk "mengambil contoh" APD standar, beberapa pengusaha konveksi berhasil melampui titik kritis dari usaha ini. Demikian juga dengan pembuatan masker. Permintaan masker yang meningkat tajam terutama setelah pemerintah pusat, daerah, dan desa gemar mensosialisasikan dan membagi masker kepada warga masyarakat, UMKM konveksi yang tentu saja tidak akan merasa kesulitan untuk membuat masker, berhasil mempertahankan diri dari gulung tikar.

Para pengusaha di bidang IT, khususnya di bidang penjualan handphone, pulsa, paket internet, bahkan jasa sharing wifi merupakan pihak-pihak yang juga mendapatkan berkah dari Pandemi ini. Pembelajaran daring yang mengharuskan siswa memiliki handphone sekaligus paket internetnya, meningkatkan demand, sementara ketersediaan paket internet dan pulsa tentu unlimited. Oleh karena itu, dengan sedikit sosialisasi dan "memurahkan" paketan internet, banyak counter yang juga mendapatkan untung dari kondisi ini.

Cerdas Mengambil Peluang

Salah satu hal yang dapat dipelajari dari keberhasilan beberapa wirausahawan dibidang konveksi dan teknologi informasi adalah kemampuan melihat dan mengambil peluang dengan cepat. Kesempatan tidak akan datang dua kali, oleh karena itu ketika ada kesempatan yang datang, seorang pengusaha harus dapat mengambil peluag sebaik-baiknya. Tentu saja tetap dengan mempertimbangkan segala resiko dan analisis pasar yang matang.

Melatih siswa untuk wirausaha yang tangguh, dimulai dari mengajari anak-anak kita dengan kemampuan membaca peluang. Sekolah, tentu memiliki moment-moment khusus di luar kegiatan pembelajaran yang bisa menjadi peluang berwirausaha. Kegiatan seperti akhirussanah, PHBI dan PHBN, dan lain-lain, bagi seorang wirausahawan merupakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan menjual produk dan jasa yang sesuai dengan moment itu. Maka mengajarkan anak untuk berjualan, memproduksi makanan kecil dan minuman kemasan, merupakan cara sederhana mengajarkan anak-anak membaca peluang. 

Kebun, kolam, kantin, dan koperasi sekolah merupakan tempat-tempat yang dapat digunakan untuk mengajarkan kewirausahaan. Di kebun sekolah kita tidak harus menanam bunga, tetapi juga bisa menanam sayur mayur segala rupa. Kolam ikan sekolah juga dapat digunakan untuk menghasilkan ikan yang dapat dijual. Sementara kantin dan koperasi sekolah merupakan pasar yang dapat digunakan untuk mengajarkan anak transaksi keuangan.

Sejak dini, para guru seharusnya mengajarkan anak-anak tentang kewirausahaan. Apalagi pada saat ini, kepala sekolah dan madrasah dituntut untuk memiliki kompetensi wirausaha sehingga sangat pas jika sekolah/madrasah membuat program pengenalan kewirausahaan. Bahkan di Sekolah Dasar pengenalan kewirausahaan sudah dapat dilakukan dengan memilih cara yang sederhana dan mudah dilakukan oleh peserta didik di sekolah dasar.


Harlah Ke 91 LP Ma'arif, What's Next?



Tiga hari lagi, tepatnya tanggal 19 September 2020, LP Ma'arif NU berulang tahun ke 91. Bagi seorang manusia, usia 91tahun adalah usia lanjut. Namun bagi sebuah organisasi kelas nasional, tentu masih merupakan masa-masa penuh dengan upaya untuk meningkatkan kualitas dari berbagai sisinya; profesionalisme, visi ke depan, dan orientasi manfaat yang harus mengemuka. Medan perjuangan LP Ma'arif sangatlah luas, dibarengi dengan tantangan, hambatan, rintangan, gangguan, dan berbagai macam persoalan internal dan eksternal lainnya yang tentu akan bertambah. Tapi itulah perjuangan, selama jajaran pengurus dan anggatonya bisa bersinergi, maka akan memberikan manfaat untuk meraih barokah dari Allah Swt.

Tagline bersinergi, manfaat, dan mbarokahi yang dipilih oleh LP Ma'arif Tulungagung, merupakan salah satu tagline unik yang berkesinambungan. Tagline ini sebenarnya bernuansa sederhana, namun penuh makna. Mungkin, itulah cerminan LP Ma'arif saat ini. Dalam berbagai keterbatasan dan kesederhanaan, LP Ma'arif berusaha memberikan manfaat yang sebesar-besarnya baik untuk warga NU atau masyarakata secara umum. Niat dan tujuannya hanyalah satu, yaitu mencari ridlo Allah Swt untuk meraih barokah dalam kehidupan.

Di Tulungagung, peran sekolah-sekolah dibawah naungan LP Ma'arif sudah tidak bisa diremehkan lagi. Sekolah dan madrasah unggul muncul diberbagai tempat, dengan corak utama ke-NU-annya. Langkah ini disambut baik oleh masyarakat, khsusunya masyarakat muslim yang menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh tetapi tidak ketinggalan dalam sain dan teknologi. Sekolah dan madrasah Ma'arif telah membuktikan bahwa harapan itu dapat diraih dengan belajar di sekolah LP Ma'arif. Realitasnya, sekolah dan madrasah LP Ma'arif di tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtida'iyah mendapatkan masukkan siswa yang melebihi sekolah-sekolah dasar negeri di wilayahnya masing-masing.

LP Ma'arif dan Teknologi Informasi

Menghadapi pembelajaran daring, LP Ma'arif telah bersiap diri. Pembelajaran daring baik melalui e-learning maupuan platform lainnya, sudah dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah-sekolah LP Ma'arif. Berbagai kegiatan yang melibatkan guru dan kepala sekolah/madrasah, sudah tidak lagi berbasis tatap muka. Pertemuan-pertemuan dengan virtual meeting baik melalui zoom, google teams, dan lain-lain, semua dapat dilaksanakan di lingkungan LP Ma'arif dengan baik. Bahkan, sampai saat ini, pelatihan virtual untuk kepala sekolah/madrasah tingkat nasional juga dilaksanakan oleh LP Ma'arif PBNU lebih dari 5 angkatan.

LP Ma'arif sama sekali tidak boleh jauh-jauh dari teknologi informasi. Era revolusi industri 4.0 yang sedang kita lakoni sekarang ini akan semakin canggih dan menuntut kita untuk mengikutinya. LP Ma'arif tidak boleh mundur walau sejengkal, tetap meningkatkan kompetensi baik secara organisasi maupun individu anggota, dalam bidang teknologi informasi. Berhenti saja satu langkah, maka kita akan ketinggalan perkembangan langkah teknologi informasi sekian puluh langkah di belakang. Digitalisasi sistem pembelajaran, keorganisasian, manajemen lembaga, dan lain-lain sangat diperlukan agar LP Ma'arif secara organisatoris tidak ditinggalkan oleh lembaga-lembaga dibawahnya yang juga berkembang dengan pesat.

Menjaga Tradisi

Meskipun harus berlari mengikuti perkembangan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi, LP Ma'arif tetap tidak boleh lepat dari tradisi ke-NU-annya. Islam yang ramah, santun dan bersahaja, tetap harus dikuatkan, baik ke dalam maupun ke luar. Islam ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah yang mengedepankan kemanusian tetap harus menjadi koridor yang diikuti. Ajaran pera wali dan ulama untuk menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan mauidzoh hasanah tanpa mencela dan menyakiti tetap harus menjadi cara yang dipilih agar tidak terjadi pergesekan di masyarakat.

Sekolah dan madrasah LP Ma'arif merupakan wahana yang sangat tepat untuk melaksanakan misi ke-Islam-an wasathiyah yang suka mengambil jalan tengah dengan tidak meninggalkan akidah dan mengabaikan syariah. Islam wasathiyah merupakan materi pokok yang harus disampaikan kepada para santri agar tidak menjadi radikal dalam menghadapi perbedaan. Kita memahami bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan lakum dinukum waliyadin terhadap agama lain, dan lana a'maluna walakum a'amalakum kepada sesama muslim. Dengan begitu, santri-santri LP Ma'arif tidak asing dengan perbedaan di sekitarnya dan tidak mudah mengkafirkan orang lain karena cara ibadahnya yang agak berbeda.

Tradisi ulama'-ulama' NU tetap harus menjadi materi yang "diuri-uri" oleh sekolah dan madrasah LP Ma'arif, karena hal itu merupakan peninggalan yang sangat berarti. Tahlilah, istighotsah, mauludan, sholawatan, dan lain-lain adalah amaliyah ulama yang harus dilestarikan di sekolah dan madrasah LP Ma'arif. 

Meningkatkan Profesionalisme Pelayanan

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang "menjual" jasa kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelayanan yang terbaik akan menjadi daya tarik terhebat bagi masyarakat. Untuk meningkatkan pelayanan itu, profesionalisme lembaga dan organisasi harus menjadi perhatian penting bagi para pengurus dan pimpinan lembaga. 

Profesionalisme mengaju pada kemudahan, kepraktisan, waktu yang cepat, dan tepat. Orang-orang yang profesional menjalankan pekerjaannya secara disiplin dan konsekuen. Tepat waktu dan tepat guna merupakan salah satu unsur yang penting dalam menjalankan pelayanan yang profesionalisme. Lembaga yang profesional dengan biaya yang sedikit lebih mahal akan jauh lebih menarik daripada lembaga-lembaga berbudget murah tapi amburadul.

Untuk itu, pengurus LP Ma'arif secara konsisten harus mengadakan observasi terhadap profesionalisme lembaga-lembaga dibawahnya. Paling tidak, ada pemantauan-pemantauan khusus yang berfokus pada profesionalisme lembaga, dan ditindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan. Sudah waktunya lembaga-lembaga pendidikan dibawah LP Ma'arif mengikuti pelatihan manajemen secara berkala, setelah lebih duluh para pengurus LP Ma'arif mengadakan supervisi terhadap manajemen lembaga. Dengan begitu, lembaga-lembaga di bawah LP Ma'arif dapat meningkatkan kualitas manajemen dengan sebaik-baiknya.

Selamat Harlah LP Ma'arif ke 91, Bersinergi, Manfaati, dan Mbarokahi! 


Belajar Apa pada Ayah?



Tentang orang tua, seringkali kita lebih banyak terfokus pada ibu. Kasih sayang yang besar, berlaku unlimited dan unconditionally, selalu ada untuk kita, dan do'anya yang dikabulkan Allah Swt. Ibu mengasihi, menyayangi, mendidik, dan membimbing anak-anaknya sejak ia masih di dalam kandungan. Sebelum ibu meninggalkan dunia, beliau tidak akan melepaskan semuanya dari anak terkasihnya.

Tapi, kita tidak boleh lupa, ibu bukan satu-satunya orang tua kita. Ayah kita adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan kehidupan kita. Beliaulah yang menjadi garda terdepan dan benteng terakhir untuk mengatasi persoalan-pesoalan yang muncul dari ulah kita. Ayahlah yang bertanggung jawab akan nafkah seluruh keluarga, termasuk terhadap ibu kita. Meskipun, karena tugas dan pekerjaan, kita jarang berada dalam satu waktu dan tempat yang sama dengan ayah kita. Tetap saja, apa yang beliau lakukan di luar sana adalah langkah-langkah perjuangan untuk keluarga.

Melihat Sifat Ayah

Seringkali ayah tidak memiliki sifat yang lembut. Ayah adalah sosok yang kasar, tegas, disiplin, dan bisa saja berbuat agar "tega" kepada anak-anaknya. Beberapa ayah bahkan tega menghukum anaknya secara fisik karena kenakalannya. Namun, tetap saja apa yang dilakukan ayah adalah karena kasih sayangnya kepada anak.

Ayah bersifat keras, karena itulah kehidupan yang dialaminya. Ia juga ingin mengajari kepada anak-anaknya bahwa di luar sana, tida selalu kita menemukan kelembutan dan kasih sayang. Kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki sifat yang jauh dari itu. Orang-orang yang hidup dalam dunia keras dan kasar, yang mana kita juga harus bisa menghadapinya.

Ayah bersifat tegas dan disiplin, karena ayah tidak ingin anaknya menjadi pemalas dan tidak menghargai aturan. Ayah ingin kita taat pada aturan Allah Swt dan rasulullah, aturan pemerintah, norma-norma di masyarakat, dan seterusnya. Aturan itu untuk dijalankan, bukan dilanggar. Tanpa ketegasan dan kedisiplinan kita akan menjadi manusia yang "sak enak e dhewe". Ayah tidak ingin kita menjadi orang-orang yang tak karuan apalagi tak beraturan (irregular). Ayah mau kita menjadi sosok yang tertib pada aturan sehingga kehidupan dapat berjalan dengan baik dan benar.

Ayah adalah orang yang bertanggung jawab. Ayah harus bertanggung jawab pada semua kenakalan kita. Sehingga, ketika ada orang yang merasa dirugikan oleh ulah kita, tetap saja ayah yang harus bertanggung jawab, meskipun beliau tidak melakukannya. Ayah bertanggung jawab akan terpenuhinya nafkah keluarga, sehingga apapun dilakukan untuk memenuhi kewajibannya itu. Ayah bisa menjelma menjadi kuli, menjadi buruh, dan semua pekerjaan berat lainnya, hanya untuk melakukan tanggung jawabnya itu.

Belajar Apa dari Ayah?

Dari caranya memperlakukan kita, seringkali ayah dan ibu melakukan hal yang berbeda. Ibu mendekap kita di dadanya, ayah mamanggul kita di pundaknya. Ibu ingin menunjukkan kasih sayangnya, ayah ingin mengajari anak-anaknya untuk melihat dunia. 

Ketika jatuh, ibu akan berlari, mendekap anak kecilnya, mengobati luka, dan menentramkan hatinya agar ia tidak risau akan rasa sakit yang dialaminya. Ayah lain lain. Beliau tidak serta merta merengkuh kita, tetapi justru menyuruh kita bangkit sendiri, dan belari lagi. Ayah ingin menunjukkan pada kita, bahwa dunia tidak bisa diratapi. Jatuh bangun adalah hal yang biasa. Kalau jatuh, ya bangkit lagi. Tetap semangat untuk melihat masa depan.

Ayah mengajari kita kuat, semangat, bertanggung jawab, disiplin, dan tegas dalam menghadapi persoalan hidup. Hal itu adalah hal-hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena kehidupan kita memerlukannya. Bagi ayah yang masih bersama kita, semoga ayah kita tetap diberikan kesehatan dan panjang umur. Namun, bagi ayah yang sudah menghadap Allah Swt, semoga Allah memberikan maghfirah dan ampunannya. Aaamin.

#kangenbapak


Mengembangkan Kurikulum untuk Santri Masa Depan





Kurikulum adalah seperangkat perencanaan pembelajaran yang sistematis yang meliputi semua hal tentang pelaksanaan pembelajaran di sebuah satuan pendidikan. Kurikulum merupakan pedoman utama bagi satuan pendidikan untuk melaksanakan peran dan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Di dalamnya terdapat banyak hal mulai dari rasionalisasi pendidikan, landasan hukum, visi dan misi serta tujuan sekolah, kompetensi dasar dan evaluasi pembelajaran, dan lain-lain. Bahkan di dalamnya juga terdapat uraian mengenai pengembangan potensi, layanan khusus yang diberikan, dan penguatan literasi.

Kurikulum seharusnya berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Kurikulum yang cocok pada awal tahun 2000 an tentu sudah tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi zaman sekarang. Apalagi, kurikulum yang dipakai di awal tahun 90 an, tentu tidak pas lagi dengan perkembangan dunia pendidikan dan tuntutan zaman saat ini. Oleh karena itu, setiap tahun satuan pendidikan harus menyiapkan kurikulum, yang telah mendapatkan penyesuaian-penyesuaian.

Apa yang perlu dikembangkan?
Pada umumnya, satuan pendidikan mengikuti kurikulum nasional. Kurikulum nasional ini berlaku secara nasional dan harus diikuti oleh semua satuan pendidikan. Namun demikian, ibarat makanan, kurikulum nasional adalah makanan pokok. Sebagai makanan pokok, seperti beras dan jagung, kurikulum nasional hanya menghasilkan "energi dan rasa kenyang". Oleh karena itu, peserta didik tidak cukup dengan makanan pokok itu saja. Ia perlu nutrisi untuk tumbuh dan berkembang, perlu vitamin agar tetap bugar dan imun, dan lain sebagainya.

Satuan pendidikan dapat menambahkan "nutrisi tambahan" pada peserta didik dengan mengembangkan muatan lain di luar kurikulum nasional. Muatan yang berkaitan dengan kecakapan hidup, pendidikan karakter, perkembangan sain dan teknologi, kehidupan global, budaya, dan lain-lain dapat ditambahkan sebagai makanan pelengkap yang dapat mengakselerasi kompetensi peserta didik dalam menghadapi fase kehidupan pada saat mereka dewasa. 

Tim pengembang kurikulum perlu memahami bahwa peserta didik yang pada saat ini sedang belajar di satuan pendidikan, akan hidup dan mengambil peran di masa mendatang. Oleh karena itu, mereka harus memili visi jauh ke depan, dan dapat memprediksi kebutuhan para peserta didik untuk dapat mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupannya di masyarakat kelak.

Sebagai contoh, mungkin saat ini, kemampuan di bidang teknologi informasi dan bahasa internasional belum sangat diperlukan oleh peserta didik di sekolah dasar. Namun demikian, lima atau sepuluh tahun lagi, mereka akan sangat memerlukan keduanya. Apalagi kelak ketika mereka dewasa, dimana sekat negara hampir "tidak ada" karena globalisasi, mereka akan sangat memerlukannya. Oleh karena itu, tim pengembang kurikulum harus dapat memprediksi kebutuhan masa depan dan menyiapkannya di masa sekarang.

Tidak Meninggalkan Karakter Utama
Pengembangan adalah tambahan, jangan sampai tambahan itu menghilangkan sesuatu yang inti. Sebagai tambahan ia memperkuat, bukan menghilangkan. Sebuah satuan pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, harus dapat mempertahankan ciri khas keIslamannya. Sehebat apapun pengembangan yang dilakukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tetap tidak boleh mengabaikan ciri khas sebuah satuan pendidikan.

Sekolah-sekolah Islam tetap harus mencirikan diri dengan keIslamannya. Meskipun ada banyak pengembangan kurikulum untuk menunjang performa sekolah, tetap saja akhlak mulia seperti ketawadu'an pada guru, sholat jama'ah, kebiasaan mengaji, menutup aurot, dan sebagainya, tetap harus dipegang dan dikuatkan untuk membuat ciri khas sekolah Islam. Sehebat apapun peserta didik kita dalam ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, tetapi mereka tetap harus menjadi santri-santri yang ta'dzim pada para asatidz-nya dan tetap memegangi akhlak dan kebiasaan sebagai santri. (ans)

Hobi Sekolah

 



Belajar tidak mengenal batas usia. Sejak kecil sampai dewasa bahkan hingga kita berusia lanjut, tetap saja diperintahkan untuk belajar. Belajar adalah "laku" mulia yang memang harus kita lakukan. Dengan belajar dan belajar, diharapkan kita menjadi lebih baik dalam menjalankan tugas kita sebagai manusia. 

Belajar tidak harus melalui bangku sekolah. Masjid, mushola, majelis taklim, bahkan disemua tempat dimana disitu ada kebaikan yang diajarkan, kita dapat mengikuti proses pembelajaran. Namun demikian, sebagaian orang, tetap memilih lembaga formal untuk belajar. Sehingga banyak orang yang memiliki gelar S1 lebih dari satu, gelar S2 lebih dari dua, dan seterusnya.

Dilansir pada tempo.co pada tanggal 17 Agustus 2019, beberapa orang Indonesia memiliki gelar yang luar biasa. Dosen tetap di Universitas Tarumanegara Jakarta, Yenita, tengah menjadi perbincangan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya gelar akademik yang dimiliki, dengan satu sarjana, 10 master, dan dua doctor. Namanya pun menjadi Dr. Dr. Yenita SE, MM, MBA, M.Si, MT, MH, MPD, MAK, ME, MIKOM, MMSI. 

Selain Yenita, masih ada beberapa lagi seperti Welin Kusuma dengan 13 gelar akademik dan 14 gelar profesi, sehingga namanya menjadi Welin Kusuma ST, SE, S.Sos, SH, S.Kom, SS, SAP, S.Stat, S.Akt, S.Ikom, MT, MSM, M.Kn, RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, Aff.WM, BKP, QWP, CPHR, ICPM, AEPP, CBA, CMA, CPMA, CIBA. Kemudian M. Achsin (Dosen Unibraw Malang) yang namanya menjadi Dr. Dr. Mochammad Achsin SE, SH, MM, M.Kn, M. Ec. Dev, M.Si, Ak, CA, CPA. Sementara Frans Astani, seorang notaris dan pejabat pembuat akta tanah di DKI Jakarta namanya menjadi Dr. Dr. Ir Franz Astani, SH, SpN, M.Kn, SE, MBA, MM, M.Si, CPM.

Sebegitu pentingkah gelar akademik bagi seseorang? Jawaban dari pertanyaan itu tentu sangat relatif.


Seseorang bisa saja menjawab iya, sangat penting. Gelar adalah bukti otentik dari keberhasilan seseorang menempuh jenjang pendidikan formal dan profesi tertentu. Memiliki gelar berarti ia telah berhasil mengikuti pembelajaran dengan beban, waktu, tantangan, ujian, dan tugas-tugas lain yang harus ia selesaikan selama mengikuti pendidikan. Apalagi, jika gelar itu diperoleh dari sebuah perguruan tinggi yang bonafit dimana kualitas pembelajaran disitu memang terakreditasi dengan baik, tentu merupakan kebanggan tersendiri. 

Perguruan-perguruan tinggi dengan nilai akreditasi A tentu memiliki keunggulan-keunggulan dibanding yang masih memiliki akrediatasi B atau bahkan C. Artinya, dari sisi kualitas pembelajaran, tugas, dan tantangan yang diberikan di perguruan tinggi tersebut memiliki standar yang lebih tinggi. Secara umum, kualitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut seharusnya juga lebih baik.

Sementara sebagian orang lainnya tidak menganggap gelar akademik sebagai sesuatu yang penting. Apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan dalam kehidupan nyata. Soft skill dan hard skill yang dimiliki seseorang jauh lebih penting daripada gelar akademiknya. Enterpreneur handal tanpa gelar akademiki seringkali lebih mampu menjadi manajer bagi perusahaannya daripada lulusan fakultas ekonomi jurusan manajemen bisnis. Beberapa pemimpin perusahaan besar, seperti pendiri perusahaan rokok PT Gudang Garam misalnya, bukanlah orang-orang yang dilahirkan dari bangku kuliah jurusan ekonomi, tetapi dari tempaan pengalaman kehidupan berwirausaha yang ulet dan handal. Berdasarkan realitas-realitas itu, kita tetap saja tidak dapat menjustifikasi mana yang lebih penting antara gelar atau keahlian. Semuanya penting dalam konteksnya masing-masing. 

Tetapi paling tidak, kita harus mengakui, minat belajar orang-orang dengan sederet gelar akademis merupakan contoh baik yang harus menunjukkan betapa belajar tidak mengenal batas usia. Siapa saja dan kapan saja, belajar tetap merupakan hal baik yang harus dirawat. Salah satu sabda Nabi Muhamamad Saw yaitu  : أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ, yang artinya: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”

Setiap orang memiliki kegemaran. Mungkin, orang-orang dengan gelar yang "seabrek" itu adalah orang-orang yang memang kegemarannya belajar. Jika orang lain memiliki hobi bermain sepak bola, menyanyi, bersepeda, memancing, dan lain-lain, maka bisa jadi kalau kita bertanya pada beliau-beliau itu, mereka akan menjawab, "Hobi saya sekolah"! (ans)


Belajar dari Pembolos

gambar : anoerkomputer.online




Setiap orang memilik karakteristik yang berbeda. Gaya bicara, belajar, bekerja, bergaul, berkomunikasi, bahkan gaya berjalan pada setiap orang tentu berbeda. Penyeragaman akan sesuatu seringkali juga bertabrakan dari sifat alamiah yang memang dibawa seorang manusia sejak ia lahir. Termasuk di dalamnya gaya dan cara belajar siswa, yang tentu juga berbeda-beda.

Anak yang memiliki gaya belajar visual akan mengalami kesulitan ketika harus belajar dengan cara auditif dan sebaliknya. Anak yang suka belajar dalam ketenangan akan mengalami kesulitan pada saat belajar kelompok. Anak mandiri akan merasa jengah pada saat guru les privatnya mengajar dengan cara yang detil karena hal itu akan berbenturan dengan karakternya yang mandiri. Sehingga, seorang anak mandiri tidak memerlukan guru privat yang harus mendampingi dirinya belajar secara pribadi.

Seorang anak belajar dengan tekun, dalam waktu yang panjang dan teratur. Pantaslah anak itu pintar dalam bidang studi yang dipelajarinya. Ia menghabiskan waktu untuk membaca, menghafal, mengulang, dan mengerjakan latihan-latihan. Apalagi jika ditunjuang dengan fasilitas belajar yang memadai. Buku-buku yang lengkap, ruang belajar yang nyaman, tidak mempunyai tugas lain selain belajar, bahkan mendapatkan bantuan bimbingan dari guru privat. Hasilnya, tentu ia akan mendapatkan nilai-nilai bagus dalam setiap ulangannya.

Namun tidak semua anak berada pada kondisi ideal seperti itu. Tidak semua orang tua bisa menyediakan fasilitas yang penuh untuk anak-anaknya. Kadang-kadang seorang anak harus membantu orang tuanya, mengasuh adiknya, bahkan bekerja paruh waktu di luar jam belajarnya. Namun, anak-anak seperti ini belum tentu mendapatkan nilai buruk dalam ulangannya. Padahal, dari sisi kuantitas waktu belajar yang tersedia, mereka jauh lebih sedikit mendapatkannya.

Faktanya, setiap orang memiliki daya serap yang berbeda. Seseorang bisa hanya dengan sekali membaca, ia kemudian paham, bahkan hafal apa yang dia baca. Seorang anak lain dapat belajar meskipun sambil bekerja, sambil nonton TV, mendengarkan musik, bahkan sambil bermain pun mereka bisa belajar. Anak-anak seperti ini tidak membutuhkan waktu khusus untuk belajar. Sedikit waktu yang dimiliki, cukuplah untuk memahami materi pelajarannya.

Salah seorang teman saya bukan anak penurut. Sering membolos, dan tampak malas belajar. PR dan tugas-tugas pun tidak dikerjakan dengan baik. Asal-asalan saja. Paling tidak, asal tidak dimarahi guru. Namun, di setiap ujian, baik itu ujian tengah semester atau ujian akhir semester, nilai-nilainya selalu berada dideretan sepuluh besar di kelasnya. Padahal, hampir semua orang melihatnya hanya bermain dan bermain, bahkan sering kali tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan.

Anak pembolos ini ternyata memiliki cara belajar sendiri. Ia suka membuat rangkuman, skema materi (mind map), dan mempelajarinya di kala orang tidur. Pendeknya, disaat teman-temannya belajar, ia bermain. Tetapi, pada saat teman-temannya tidur, ia belajar. Itu pun dengan cara yang tidak lazim. Yaitu skematik atau sistem bagan. Sehingga materi yang begitu banyak dapat ia sederhanakan dan dengan mudah dipelajarinya. Anak pembolos itu ternyata memiliki caranya sendiri dalam belajar. Sehingga, tidak patutlah kita meremehkan orang lain, karena pada hakikatnya kita tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnya ia!

Mengkreasikan Pembelajaran Daring


gambar : kompasiana

Mohamad Ansori

Setelah lebih dari lima bulan pembelajaran daring dilaksanakan di sekolah, persoalan-persoalan mulai muncul, salah satunya adalah kebosanan. Siswa sudah merindukan pembelajaran tatap muka dimana mereka dapat berinteraksi, bersenda gurau, bermain, dan belajar bersama teman-teman. Bagaimanapun situasi dan kondisi pembelajaran tatap muka tetap saja tidak bisa digantikan seutuhnya oleh pembelajaran daring. Oleh karena itu, para guru harus memiliki kreativitas dan dapat membuat inovasi-inovasi pembelajaran daring.

Faktor utama penyebab kebosanan adalah banyaknya tugas yang dibebankan guru kepada siswa. Sejak awal siswa sudah belajar menggunakan lembar kerja siswa tercetak, sehingga guru tinggal memberikan instruksi untuk membaca halaman sekian dan mengerjakan tugas di halaman sekian. Demikian seterusnya, sehingga siswa harus mengerjakan sesuatu yang sebenarnya belum diajarkan oleh para guru. Sumber pengetahuan siswa adalah dari membaca buku siswa atau rangkuman materi dalam lember kerja siswa, dan setelahnya adalah mengerjakan soal-soal yang telah tersedia.

Sementara dalam pembelajaran tatap muka, mereka dapat mengklarifikasi hal-hal yang belum mereka pahami, berdiskusi dan bekerjasama dengan teman-temanya, serta bekerja kelompok sambil sesekali bersenda gurau. Di rumah, jika mereka tidak belajar sendiri, mereka harus belajar dengan para orang tua yang belum tentu semuanya guru, dan memahami ilmu mendidik. Para orang tua kebanyakan berorientasi pada hasil, yaitu anaknya bisa mengerjakan soal ini dan itu, sementara mereka juga tidak dapat menjelaskan secara detil seperti gurunya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dan manajemen sekolah diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan perbaikan kurikulum tingkat satuan pelajaran, dengan cara memilah dan memilih kompetensi dasar yang bisa diajarkan secara daring, dengan pendekatan urgensi, relevansi, kontinuitas, dan keterpakaian. Dengan kata lain, target capaian harus dikurangi, sebagai konsekuensi dari adanya masa darurat.
  2. Menggunakan mendia pembelajaran online sebagai alat pembelajaran, bukan semata-mata media penugasan. Guru harus bisa membuat video pembelajaran yang juga menampilkan "wajah guru" sehingga seolah-olah siswa sedang benar-benar berhadapan dengan gurunya.
  3. Mengubah penugasan berbasis soal dengan penugasan kreatif seperti membuat hasta karya, melakukan kegiatan, atau membuat mind map, kemudian siswa mengirimkan video kegiatannya kepada guru. Untuk memberikan penghargaan pada karya siswa itu, para guru dapat mengunggah videonya di website atau akun media sosial sekolah. Dengan demikian siswa akan merasa dihargai hasil karyanya. Ini merupakan salah satu reward yang diberikan pada siswa akan karya-karyanya.
  4. Jika memungkinkan secara teknis, seperti tersedianya jaringan internet yang bagus dan ketersediaan laptop atau smarphone yang mendukung, guru juga dapat memanfaatkan aplikasi video conference yang marak digunakan dimasa pandemi ini, seperti zoom cloud meeting, google teams, cisco webex, skype, dan lain-lain. Selain itu penggunaan google form untuk kuis dan diperkuat dengan penggunaan google classroom tentu akan membuat pembelajaran daring lebih menarik.
Namun demikian, persoalan baru akan muncul. Salah satunya adalah kompetensi guru di bidang teknologi informasi. Untuk menyajikan media pembelajaran yang menarik, seorang guru tidak hanya harus kreatif dalam merancang media pembelajaran, tetapi juga harus mahir dalam mewujudkan dalam bentuk video pembelajaran yang menarik. Jika tidak, media pembelajaran dalam bentuk video yang dibuat guru, kembali akan menjadi tampilan yang tidak menarik atau bahkan monoton.

Oleh karena itu, kepala sekolah juga harus terlibat dala upaya guru berkreasi dalam pembelajaran daring ini. Kepala sekolah dapat menginisiasi kerjasama dengan pihak lain seperti tenaga ahli, lembaga kursus, atau komunitas-komunitas desain grafis dan animasi, untuk membimbing guru dalam pembuatan video pembelajaran. Kelompok kerja guru (KKG) juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan kompetensi guru dibidang teknologi informasi.








Nasionalisme itu Sederhana!



Bagi bangsa Indonesia, bulan Agustus adalah bulan istimewa. Bulan ini merupakan bulan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Tepat pada hari Jum'at tanggal 17 Agustus 1945 founding fathers kita memprokamirkan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukalah hadiah dari Jepang, tapi benar-benar merupakan hasil perjuangan seluruh komponen bangsa Indonesia. Momentum ini tentu harus selalu diperingati, sebagai bagian mengingat sejarah dan meneladani perjuangan para pahlawan bangsa. Mereka tidak hanya telah bekerja, berusaha, dan berjuang dengan keras, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa untuk kebahagiaan anak cucunya.

Memperingati kemerdekaan pada hakikatnya adalah mensyukuri kemerdekaan itu sendiri. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, mengakui benar bahwa kemerdekaan ini merupakan berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Sebab, secara teknis hampir tidak mungkin para pejuang di masa lalu dapat memenangkan berbagai pertempuran dengan hanya bermodalkan senjata seadanya. Sementara para penjajah memiliki senjata yang lengkap dan otomatis. Sehingga keberhasilan meraih kemerdekaan ini benar-benar anugerah dari Allah Swt.

Mengingat dan mengenang jasa para pahlawan saja tentu tidak cukup. Sebagai generasi penerus kita memiliki tugas yang tidak kalah beratnya. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan merupakan tugas utama kita sebagai penerus perjuangan para pahlawan. Mempertahankan bermakna kita harus menjaga kemerdekaan ini tetap harus terjaga. Tidak saja dari invasi militer bangsa lain, tetapi juga penguasaan sektor ekonomi dan penjajahan budaya bangsa lain. Generasi sekarang harus memastikan bahwa bangsa Indonesia benar-benar dapat berdikari dan mandiri, tidak dalam kooptasi negara dan bangsa lain dalam semua lini kehidupannya.

Generasi sekarang juga harus memastikan bahwa kita telah merdeka dari semuanya, baik dalam konteks ekonomi, sosial, budaya, bahkan hukum. Sebab penetrasi budaya dan semakin bebasnya pergaulan antar bangsa merupakan pintu masuknya pengaruh asing pada bangsa kita. Ketergantungan kita pada produk luar dan semakin habisnya sumber daya alam akan sangat mempengaruhi kemerdekaan ekonomi. Kekuatan pemodal besar yang menggerakkan ekonomi dunia sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi negara kita.

Mau tidak mau, gerakan mencintai produk bangsa sendiri merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan kita dengan bangsa lain. Apalagi, 270 juta bangsa Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi produk-produk kita sendiri. Sebagai bangsa kita harus bertekad memajukan bangsa sendiri dan menomorduakan produk bangsa lain. Dalam hal bangsa Indonesia bisa memproduksi sendiri kebutuhannya, maka kita harus tetap mengutamakan untuk menggunakan produk kita sendiri, bukan sebaliknya.

Nasionalisme itu sederhana. Mencintai negeri dengan menggunakan produk kita sendiri, bangga sebagai bangsa dengan tetap mempertahankan budaya yang mulia, bersatu melawan ketergantungan dengan bangsa asing dengan berupaya untuk berdikari. Hal ini memang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilaksankan. Tapi dengan tekat yang kuat, kita yakin bahwa kita akan bisa melakukannya, demi kejayaan bangsa Indonesia.

Selamat HUT RI ke 75, Dirgahayu Indonesiaku!

Menjaga Nasionalisme



Mencintai tanah air merupakan salah satu upaya menjaga harmonisasi kehidupan suatu bangsa. Komponen-komponen bangsa yang berbeda-beda tetapi memiliki kesamaan sudut pandang atas negerinya dapat menjamin persatuan dan kesatuan di negara itu. Sebaliknya jika masing-masing kelompok berpikir berdasarkan sudut pandang kepentingan kelompok, suku, atau golongannya maka bangsa sebesar apapun akan tercerai berai. Kondisi itu akan mempersulit diri menjadi bangsa yang besar, karena perpecahan tidak akan menghasilkan kebesaran dan kedamaian.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Sebagai negara kepalauan, bangsa Indonesia tinggal di ribuan pulau yang terpisah oleh laut dan selat yang dalam. Bersumber dari kondisi ini maka adat istiadat, budaya, cara hidup, bahasa, dan  bahkan agama dan kepercayaan bangsa-bangsa di Indonesia berbeda-beda. Berdasarkan hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa, 652 bahasa daerah, dan 17.504 pulau besar kecil, yang bahkan tidak semuanya berpenghuni.

Menurut Hans Kohn sebagaimana dimuat dalam https://www.mypurohith.com/ mengatakan bahwa nasionalisme adalah sebuah bentuk rasionalisasi dan formalisasi yang terbentuk karena kesadaran nasional untuk bernegara dan berbangsa. Kesadaran sebagai bangsa sangat diperlukan untuk memperkuat suatu bangsa. Dengan kesadaran itu warga bangsa membangun kekuatan yang besar untuk berdirinya suatu negara.

Peringatan hari besar nasional, seperti peringatan HUT RI merupakan salah satu upaya untuk menguatkan rasa nasionalisme itu. Dengan peringatan itu kita seperti diputarkan kembali kisah-kisah perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan di masa lalu. Melaui peringatan itu kita kembali diingatkan untuk menghargai perjuangan para pendahulu yang rela mengorbankan harta benda bahkan nyawa mereka untuk kemerdekaan negeri ini. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Tugas generasi penerus adalah melanggengkan kemerdekaan yang telah diraih, mempertahankan yang telah dicapai, dan mengisinya dengan hal-hal positif yang dapat mendukung bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Proklamasi kemerdekaan bukanlah tujuan, tetapi wasilah untuk meraih tujuan kita sebagai bangsa, yaitu mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Generasi pasca kemerdekaan memiliki tugas menjalankan roda pembangunan dan menjaga agar tujuan bersama yang telah ditetapkan segera dapat diraih.

Membangun Pendidikan Profetik

gambar : okezone muslim


Pengaruh negatif kehidupan modern dan kemajuan teknologi melanda semua tingkatan terutama peserta didik dan generasi muda pada umumnya. Era digital yang melingkupi semua lini kehidupan memberikan efek negatif berupa mundurnya nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak mulia. Kesibukkan orang tua yang menyita hampir seluruh waktunya untuk kepentingan pekerjaan, kegiatan sosial politik, dan lain-lain, merupakan salah satu pendorong munculnya kasus-kasus yang melibatkan peserta didik seperti perkelahian, minum minuman keras, narkoba, seks bebas, dan sebagainya. Dunia membutuhkan model pendidikan yang dapat mengendalikan persoalan-persoalan pendidikan karakter yang semakin menjauh dari kondisi ideal yang diharapkan.

Pendidikan profetik merupakan salah satu jawaban dari persoalan-persoalan yang dihadapi para orang tua dan guru untuk menghalau pengaruh buruk modernisasi. Pada intinya, pendidikan profetik adalah pendidikan yang meniru nabi Muhammad SAW. Istilah profetik ini berawal dari kata prophetic (kenabian atau berkenaan dengan nabi). Pendidikan profetik mengajarkan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw dalam konteks pendidikan. Dengan demikian pendidikan diarahkan pada duplikasi uswah hasanah yang telah diajarkan Nabi Muhamamd Saw.

Menurut Moh. Roqib dalam bukunya Filsafat Pendidikan Profetik; Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhmmad pendidikan profetik secara faktual berusaha menghadirkan nilai kenabian dalam konteks kekinian. Secara skematis bagaimana epistemologi, model integrasi dan koneksitas, serta pola bangunan pendidikan profetik. Zakiyah Daradjat, dkk, dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam, menjelaskan bahwa dengan paradigma profetik, pendidikan Islam diharapkan mampu mencapai puncak tujuannya yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman kokoh dan berilmu luas (ūlūl albāb) menjadi insan kamil.

Pada abad 21 ini, pendidikan seperti kehilangan ruh-nya. Pendidikan terkesan hanya berwujud transfer ilmu pengetahuan dengan tidak dibarengi transfer nilai-nilai kehidupan dan kebaikan. Dengan kata lain transfer of knowledge yang melaju lebih cepat melalui teknologi informasi, ternyata tidak bisa dibarengi transfer of value yang semestinya diajarkan dalam bentuk keteladanan dan interaksi antara guru dan murid.

Berbagai nilai yang tidak selaras, bahkan kontradiktif dengan ajaran dan nilai-nilai akhlakul karimah, masuk dengan mudah ke ruang belajar peserta didik tanpa adanya filter yang jelas. Peserta didik yang secara mental belum siap menerima nilai-nilai baru itu, lebih cepat menerima budaya-budaya yang "tak berbudaya" itu karena memang tampak lebih "asyik" dibanding dengan kebiasaan-kebiasaan  yang diajarkan para gurunya di sekolah atau madrasah. Sehingga gaya hidup baru yang lebih bebas akan dengan mudah diterima oleh para peserta didik.

Pendidikan profetik merupakan pilihan untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw. Tujuan pendidikan profetik adalah membangun peradaban yang berlandaskan akhlak yang mulia, yang berusaha "membumikan" ajaran Nabi Muhammad Saw dalam bentik perilaku nyata. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan, syariat, dan akhlakul karimah (perilaku yang mulia). Ketiga hal itu seringkali disebut dengan iman, Islam, dan ihsan.

Secara sederhana, menerapkan pendidikan profetik dilaksanakan dengan mengandalkan pembiasaan dan keteladanan. Para pendidik adalah contoh nyata para peserta didik untuk mencontohkan penerapan iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Para pendidik adalah contoh nyata pembiasaan mengerjakan syariat Islam, seperti shalat berjamaah, mengaji, menghormati orang tua dan menyayangi teman, bersikap sopan santun dalam pergaulan, dan sebagainya. Oleh karena itu pembiasaan-pembiasaan yang diajarkan di sekolah tidak saja diajarkan nilai-nilai itu, tetapi juga contoh nyata penerapannya. Oleh karena itu, terutama di sekolah dasar dan pra sekolah, para guru harus benar-benar dapat "menjaga diri" dihadapan para peserta didik.


Belajar Mandiri dengan Modul Digital

gambar : youtube.com

Kemandirian merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal 3 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa : "pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".

Sebagai bangsa, kemandirian memiliki makna tidak ada ketergantungan suatu bangsa kepada bangsa lain. Sebagai peserta didik, kemandirian berarti bahwa peserta didik tidak tergantung pada orang lain dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tugas utama peserta didik adalah belajar, sehingga peserta didik yang mandiri ia akan merencanakan dan melaksanakan sendiri kegiatan belajarnya. Mereka tidak perlu menunggu perintah belajar dari orang tua atau guru untuk mengerjakan tugas belajarnya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian peserta didik adalah dengan pembelajran sistem modul. Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis yang di dalamnya memuat seperangkat alat belajar yang terencana dan didesain untuk membantusiswa menguasai tujuan belajar yang spesifik.Modul adalah program pembelajaran terkecil yang bisa dipelajari secara mandiri (self instructional) (Winkel,2009)
Menurut Suryaningsih (2010) sebagaimana dimuat dalam https://www.silabus.web.id/, kelebihan pembelajaran dengan menggunakan modul adalah sebagai berikut.
  1. Meningkatkan motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
  2. Setelah dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui benar, pada modul yang mana siswa telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
  3. Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester.
  4. Pendidikan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun menurut jenjang akademik.
Pembelajaran menggunakan modul diyakini dapat meningkatkan kemandirian pada siswa. Apalagi jika dikaitkan dengan akselerasi pembelajaran, dimana siswa dapat melanjutkan pembelajarannya jika telah menyelesaikan modul tertentu. Anak-anak "pintar" akan termotivasi dengan situasi kompetitif ini. Namun demikian, guru harus lebih perhatian terhadap anak-anak yang "tertinggal" dalam pembelajaran, karena justru itu akan membuatnya semakin tertinggal.

Namun demikian, pembelajaran dengan menggunakan modul juga memiliki beberapa kekurangan. Menurut Vembrianto (1981),  kelemahan pembelajaran menggunakan modul adalah:
  1. Kesukaran pada siswa tidak segera dibatasi.
  2. Tidak semua siswa dapat belajar sendiri, melainkan membutuhkan bantuan guru.
  3. Tidak semua bahan dapat dimodulkan dan tidak semua guru mengetahui cara pelaksanaan pembelajaran menggunakan modul.
  4. Kesukaran penyiapan bahan dan memerlukan banyak biaya dalam pembuatan modul.
  5. Adanya kecenderungan siswa untuk tidak mempelajari modul secara baik.
Beberapa kelemahan di atas, tentunya dapat dikurangi di era digital ini. Kelemahan-kelemahan di atas dapat kita atasi dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.

  1. Membangun jaringan komunikasi digital dengan para siswa, seperti menggunakan media whatsapp group, kaizala, telegram, dan lain-lain.
  2. Melakukan pengecekan perkembangan pembelajaran capaian siswa secara rutin.
  3. Memberikan petunjuk-petunjuk yang praktis pada setiap tugas modul yang diberikan.
  4. Pembuatan modul seharusnya tidak lagi ada kendala, ketika laptop dan jaringan internet sudah tersedia. Tinggal kemauan yang kuat dan kompetensi guru di bidang IT saja yang harus diperkuat. Penggunaan e-modul diharapkan dapat mengatasi kendala penyiapan modul tersebut.
  5. Melakukan monitoring yang disiplin terhadap pembelajaran mandiri yang dilakukan siswa.
Modul tidak harus dibuat dalam bentuk teks cetak. Para pendidik bisa membuatnya sebagai modul berbasis digital (e-modul), seperti dalam bentuk file pdf. Para siswa dapat menggunakan e-modul sebagai bahan belajar dan teks tugas, sedangkan pengertjaannya dapat menggunakan buku tugas biasa. Dalam kondisi tertentu, para guru dapat mem-break down e-modul dalam bentuk-bentuk terpisah dan menyajikannya menggunakan aplikasi google form, dimana para siswa dapat mengerjakan tugasnya secara langsung melalui google form ini dalam pembelajaran daringnya.




Disiplin Protokol Kesehatan dalam Pembelajaran Tatap Muka

foto : radartulungagung

Pemerintah telah memperluas izin pembelajaran tatap muka menjadi zona kuning dan zona hijau. Namun demikian, beberapa syarat harus dipenuhi oleh sekolah. Salah satunya adalah izin dari orang tua siswa. "Jika orang tua atau wali siswa tidak setuju, maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa," Kata Mendikbud Nadiem Makarim dalam rilis yang disampaikan Tim Komunikasi Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional, sebagaimana dimuat dalam https://kumparan.com/kumparannews, Sabtu (8/8) .

Selain itu, protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan. Penggunaan masker atau face shield, ketersediaan wastafel dan sabun, ketersediaan ruang yang cukup untuk phisical distancing, dan sistem belajar gantian (shift) juga harus diterapkan. Setiap kali masuk sekolah hanya boleh melaksanakan pembelajaran dengan 50% dari jumlah kapasitas kelas yang tersedia. Selain itu, juga tidak boleh ada kegiatan kerumuman seperti kerumunan di kantin atau kegiatan ekstrakurikuler.

Pro kontra pun mulai menyeruak. Para orang tua menyambut gembira karena durasi waktu pembelajaran daring menjadi berkurang. Mereka tidak terbebani lagi menjadi "guru" bagi anak-anak mereka yang ternyata sangat sulit dan membebani mereka secara mental. Para guru pun menyambut demikian. Kebolehan mengadakan tatap muka di sekolah memberikan kesempatan pada mereka untuk berinteraksi kembali dengan anak didik yang telah mereka rindukan.

Namun demikian, beberapa pihak menyayangkan keputusan ini. Hal ini disebabkan Pandemi yang belum reda dan siswa belum berada pada kondisi aman. Buktinya jumlah pertambahan kasus terkonfirmasi positif corona masih cukup tinggi. Dikhawatirkan masuknya kembali para siswa ke sekolah justru menimbulkan cluster baru penyebaran virus Corona.

Oleh karenanya, jika pada akhirnya pemerintah daerah dan wali murid melalui komite sekolah menyetujui pembelajaran dengan tatap muka, semua pihak harus bisa memberikan jaminan adanya penerapan protokol kesehatan yang disiplin. 

Seringkali komitmen itu luntur ketika pelaksanaan di lapangan. Dalam arti pada saat momen formal penerapan protokol kesehatan tampak baik, tapi realitanya banyak terjadi pelanggaran. Sebagai contoh orang banyak memakai masker ketika berfoto, tetapi justru melepasnya pada saat bercakap-cakap dengan orang lain.

Dengan pertimbangan besarnya bahaya paparan virus ini, pihak sekolah dan para siswa harus bertekad menjadikan protokol kesehatan sebagai hal penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan. Bukan hanya sebagai bagian agar tampak mengikuti aturan saja. Disiplin adalah vaksin, karenanya disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan adalah ikhtiar maksimal pencegahan penyebaran virus Corona.

Mendalami Kelas Maya

gambar : yuksinau.com


Sebagaimana kita ketahui, pendidikan diarahkan untuk pencapaian kecakapan abad 21 sebagai upaya untuk menyiapkan peserta didik untuk dapat mengambil peran aktif dalam kehidupan di masa mendatang. Kecakapan yang hendak dicapai dalam pendidikan saat ini adalah: (1) Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skill); (2) Kecakapan Berkomunikasi (Communication Skills); (3) Kecakapan Kreatifitas dan Inovasi (Creativity and Innovation); dan (4) Kecakapan Kolaborasi (Collaboration).

Oleh karena itu, kemendikbud merilis sebuah fitur yang disebut dengan kelas maya. Sebagaimana dimuat dalam http://pena.belajar.kemdikbud.go.id, fitur kelas maya merupakan fitur pembelajaran online yang pada hakikatnya adalah sebuah pembelajaran tradisonal/konvensional yang hanya saja disajikan dalam bentuk format digital melalui sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dalam kelas maya, peserta didik dapat megakses materi pelajaran (tulisan, gambar, audio, dan video), tugas, kuis, serta ujian yang telah dibuat oleh gurunya. Selain dari itu peserta didik juga dapat berdiskusi secara online bersama peserta didik lain dan guru pengampunya.

Pembelajaran Kurikulum 2013, mengarahkan siswa untuk mencapai kompetensi secara paripurna. Melalui K13 kompetensi siswa dalam bidang religiu (KI1), sosial (KI2), pengetahuan (K3), dan ketrampilan (K1) dikembangkan sedemikian rupa melalui pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Para siswa tidak hanya mengembangkan kognitifnya, tetapi juga mengembangkan afektif dan psikomotoriknya. Meskipun secara online, kelas maya tetap mengajak siswa untuk belajar secara menyeluruh.

Lebih lanjut, sebagaimana dijelaskan dalam http://pena.belajar.kemdikbud.go.id, melalui fitur kelas maya dapat membimbing siswa untuk: (1) Belajar untuk mencari tahu (learning to know) ; (2) Belajar untuk mengerjakan (learning to do) (3) Belajar untuk menjadi (learning to be); (4) Belajar untuk berhidupan bersama dalam kedamaian (learning to live together in peace). Belajar di kelas maya, tidak saja belajar menggunakan teknogi infomasi, tetapi tetap saja mempelajari materi secara menyeluruh dan mengembangkan semua kecakapan yang ditargetkan.

Belajar dengan kelas maya tidak berarti menghilangkan peran pendidik. Para guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping siswa dalam pembelajaran menggunakan fitur kelas maya. Pembelajaran dengan kelas maya tetap menempatkan pendidik sebagai tokoh sentral dalam pembelajaran. Sebab, tulisan, video, audio, kuis, bahkan ujian, tetap dibuat oleh para pendidik sendiri. Sehingga para pendidik tetap dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disiapkan.

Beberapa kelebihan belajar secara dengan kelas maya adalah: (1) peserta didik dapat belajar kapan saja dan dimana saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, (2) peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan kreativitasnya dengan lebih cepat, (3) peserta didik juga dapat mengembangkan skill-nya dibidang teknologi informasi, (4) peserta didik tidak akan ketinggalan pelajaran meskipuan suatu saat terpaksa ia tidak bisa masuk sekolah, dan (5) kelas maya merupakan kesempatan bagi pendidik untuk mengembangkan kemampuannya dalam bidang teknologi informasi.

Namun, pembelajaran dengan kelas maya juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu (1) pembelajaran ini memerlukan bantuan dan dukungan teknis berupa laptop, komputer, smartphone, dan jaringan internet yang stabil, (2) kurangnya transfer of value, karena para guru dan siswa tidak bertemu dan berinteraksi dalam satu tempat, sementara pembangunan karakter hanya dapat dilaksanakan dengan adanya transfer of value itu sendiri.

Oleh karena itu, pembelajaran kelas maya sebaiknya bukan merupakan pembelajaran yang bersifat konstan. Pendidik harus tetap melakukan interaksi dengan para siswa, sehingga dapat mengamati setiap detik perkembangan siswa, khususnya karakternya. Pembelajaran dengan kelas maya dilakukan sebagai "variasi pembelajaran" sehingga siswa tidak jenuh dengan pembelajaran yang monoton. Keragaman cara belajar ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Menguatkan Karakter dengan Short Film



Meskipun dalam masa pandemi, guru tetap harus berupaya melaksanakan tugas pendidikannya dengan maksimal. Pendidikan dan pengajaran must go on, tidak boleh stuck apalagi stop. Dalam artian, guru harus memutar otak, melakukan inovasi dan kreasi, agar penguatan karakter tetap bisa dijalankan. Jika tidak, dalam masa penantian dimana kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir, pendidikan karakter akan discontinue. Hasilnya tentu akan menakutkan, atau bahkan mengerikan, tatkala pendidikan karakter berhenti dijalankan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk menguatkan karakter anak adalah dengan membuat film pendek. Tentu kualitas film pendek yang dibuat guru tidak boleh disejajarkan dengan film pendek buatan sinematografer profesional. Guru cukup menggunakan smarphone yang dimiliki, membuat cerita berkarakter, menuangkan dalam skenario, memilih pemeran, shooting video, mengeditnya, dan menguploadnya di youtube atau medsos yang dimiliki.

Membuat cerita berkarakter dengan durasai 5 sampai 10 menit, bagi para guru tentu tidaklah sangat sulit. Apalagi sumber cerita banyak tersedia di internet, maka dengan ATM (amati, tirukan, modifikasi) saja, kita dapat membuat cerita berkarakter. Demikian juga dengan skenarionya. Tidaklah harus tercatat dengan rapih cukup membagi peran dan mengatakan pada para guru nanti berkata begini dan begitu dan seterusnya. Yang penting, dapat mudah dipahami oleh para siswa apa konfliknya, dan bagiamana penyelesaiannya, atau apa karakter buruknya, dan bagaimana seharusnya karakter baiknya. Lebih baik lagi, jika juga dimunculkan akibat karakter buruk yang dimiliki oleh siswa, dan buah dari karakter baik yang diperoleh jika siswa melakukan kebaikan.

Smarphone juga cukup memberikan fasilitas pembuatan video. Jika kita ketik video maker di playstore, maka akan muncul banyak aplikasi pembuatan video yang bisa diunduh dan kemudian digunakan. Tinggal mengotak-atik sambil membaca tutorial atau melihat video tutorialnya di youtube. Maka para guru juga akan memiliki ketrampilan sebagai "kameramen" dadakan. Terakhir, para guru tinggal mengedit, menggabungkan video dan foto yang ada, menyisipkan teks, dan mengekspor nya menjadi file video yang siap diungguh di youtube atau medsosnya.

Yang terpenting dari semuanya, bahwa guru tetap harus bergerak. Hati terdalam dari seorang guru tentunya tidak akan rela melihat anak didik dalam jangka waktu yang panjang "terbebas" dari pembiasaan-pembiasaan baik danmengenal nilai-nilai kebajikan. Oleh karena itu, berbagai cara harus ditempuh agar anak-anak kita tidak jauh-jauh dari bimbingan guru, meskipun secara fisik kita belum bisa berinteraksi tatap muka. Selamat berkreasi guruku! (ans)


Arti Penting Seat Rolling di Kelas



Salah satu yang perlu diperhatikan guru dalam meningkatkan efektifivitas pembelajaran adalah seat rolling. Dalam kelas dengan jumlah siswa lebih dari 20 anak per kelas, seat rolling sangat diperlukan supaya terjadi pemerataan. Seat rolling pada prinsipnya adalah perpindahan tempat duduk siswa pada setiap jangka waktu tertentu, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali. Untuk menentukan siapa dan duduk dimana, para guru bisa mengkreasikan caranya menggunakan kuis, tebak-tebakkan, atau berurutan berdasarkan nomor absen, supaya terjadi pemerataan. Faktor pemerataan merupakan salah satu faktor penting dalam seat rolling ini karena hal itu adalah tujuan utama dari aktivitas ini.

Seat rolling memiliki banyak keuntungan, khususnya bagi para siswa. Beberapa arti penting seat rolling adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan kesempatan pada siswa untuk duduk pada posisi yang berbeda terhadap guru atau papan tulis. Dengan demikian penghlihatan siswa tidak hanya mengarah pada sudut yang sama sehingga tidak mengganggu penglihatan mereka. Duduk pada posisi yang sama dalam jangka waktu yang panjang, terutama bagi tempat duduk yang berada di pinggir, tentu akan mempengaruhi penghlihatan siswa. Lama kelamaan siswa akan memiliki kebiasaan melihat dengan sudut mata kiri atau kanan sesuai kebiasaan duduknya.
  2. Memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dengan siswa yang berbeda. Dengan demikian siswa akan lebih banyak belajar karakter temannya. Hal ini penting untuk menambah wawasan siswa agar mereka semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter, sifat, dan perilaku yang berbeda. Kesadaran ini sangat penting agar siswa menjadi orang-orang yang berlapang dada akan kelebihan dan kekurangan orang lain, serta dapat bersikap bijak dalam pergaulan mereka.
  3. Memberikan kesempatan pada siswa untuk merasakan suasana yang berbeda. Duduk tepat dihadapan meja guru dan duduk di jajaran kursi paling belakang tentu memiliki sense yang berbeda. Adanya seat rolling memberikan kesempatan pada siswa untuk menempati posisi dan tempat duduk yang berbeda, sehingga mereka dapat merasakan kelebihan dan kekurangannya.
  4. Meningkatkan motivasi belajar siswa. Seat rolling ini menghasilkan suasana baru, terutama jika guru juga menyertainya dengan layout tempat duduk yang baru. Tatanan tempat duduk dan meja siswa dapat diubah-ubah sedemikian rupa, sehingga kelas menjadi variatif, segar, dan menyenangkan. Kelas-kelas reguler yang selalu menghadap ke papan tulis tidak harus ditinggalkan tetapi perlu diselingi layout lainnya agar suasana kelas mengalami perubahan.
Agar memberikan efek yang terasa, seat rolling harus dilakukan dengan terus menerus tetapi dalam jangka waktu tertentu yang telah direncanakan sebelumnya. Aktivitas ini tidak akan berpengaruh besar jika hanya dilakukan sesekali saja. Paling tidak, harus melewati satu periode dimana seorang siswa sudah dapat kembali pada posisi semula. (ans)

Olah Raga dan Matematika


Olah raga adalah mata pelajaran favorit hampir semua anak. Sorak sorai selalu terdengar ketika di dalam kelas bapak atau ibu guru meminta anak untuk keluar, berganti pakaian olah raga, dan segera menuju lapangan. Mengapa? Tentu karena pada saat berolah raga anak-anak dapat bermain, bersenda gurau, dan berkumpul dengan teman-teman di alam bebas.

Jika demikian, untuk menjadi mata pelajaran favorit tentunya ada beberapa hal yang bisa kita "contek" dari olah raga. Apa itu? Ya, bermain, bersenda gurau, dan di alam bebas. Tiga hal itu ternyata merupakan hal-hal yang paling disukai anak. 

Lantas, haruskan anak-anak selalu diajak bermain, bersenda gurau, dan belajar di alam bebas? Tentu saja tidak gaesss.... Tetapi, paling tidak, kita sudah mengetahui jika pola bermain, bersenda gurau, dan belajar di alam bebas, merupakan hal-hal yang sangat disukai anak-anak. Itulah anak, bermain adalah dunia mereka, bersenda gurau alias guyon adalah hobi mereka, dan alam terbuka merupakan favorit mereka.

Matematika dalam Pelajaran Olah Raga
Seorang guru kreatif, bisa saja mengajak anak-anak mengikuti outdoor classroom. Guru dapat memilih lapangan tempat berkumpul anak-anak. Lantas, meminta anak-anak untuk berbaris sesuai jumlah kehadiran. Misalnya saja, kelas jumlahnya 20 anak. Guru dapat meminta anak untuk berbaris 4 banjar, 5 baris. Kemudian meminta anak-anak untuk berhitung. Ya, tentu hasil akhir dari berhitungnya adalah 20. Tapi, tahukah bahwa dengan anak-anak membuat barisan dengan 4 banjar dan 5 baris kita dapat mengajarkan perkalian 4 x 5 = 20?

Kemudian, anak-anak diminta berkelompok. Misalnya, dengan berdasarkan nomer absen mereka. Yang nomor ganjil berkumpul dikiri guru, sedangkan yang nomor genap berkumpul di kanan guru. Berapa jumlah masing-masing kelompok? Tentu saja 10 orang. Karena jumlah anak 20, maka yang bernomor ganjil sebanyak 10 anak dan yang bernomor genap juga 10 anak. Disini, guru dapat mengajarkan pembagian sederhana, yaitu 20 : 2 = 10

Para guru dapat menggunakan pelajaran olah raga juga untuk mengajarkan matematika operasi pengurangan. Contohnya, seorang anak disuruh berdiri. Anak yang lain memperhatikan anak tersebut. Kemudian, guru meminta anak untuk maju 5 langkah. Kemudian mundur 2 langkah. Guru bertanya, sekarang anak tersebut pada posisi berapa langkah dari tempat semula? Anak-anak akan dengan mudah menjawab, yaitu pada posisi tiga langkah dari tempat semula. Sebenarnya, ini sedang mengajarkan bahwa 5 - 2 = 3.

Guru kreatif dapat menggunakan berbagai kesempatan untuk belajar. Matematika, IPA, IPS, dan semua muatan dalam pelajaran tematik dapat diajarkan dengan mudah oleh guru-guru kreatif. Tinggal, apakah kesempatan itu dapat dimodifikasi dengan baik atau tidak. Selamat berkreasi para guru!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes