Islam, Pancasila, dan NKRI

Mohamad Ansori

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan hasil bumi dan kekayaan alam lainnya. Sejak awal abad 16, berbagai negara baik dari Eropa maupun Asia ingin menguasai negeri ini. Oleh karena itu, kolonialisme di Indonesia berlangsung cukup lama. Portugis, Spanyol, Perancis, Inggris, Belanda, dan Jepang, merupakan negara-negara yang pernah menjajah beberapa bagian dari wilayah Indonesia.

Bangsa Indonesia berjuang mengusir penjajah selama ratusan tahun. Dalam masa itu perjuangan belum pernah berhasil. Tidak lain karena perjuangan dilakukan secara sporadis dan berbasis daerah. Sehingga pasukan penjajah bisa saja berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Apalagi, politik devide et empera sangat manjur untuk memecah belah bangsa Indonesia.

Sejak awal masa penjajahan, para kiai dan santri serta tokoh-tokoh muslim lainnya berupaya membangkitkan semangat perjuangan dan persatuan bangsa. Oleh karena itu, lama kelamaan persatuan dan kesatuan bangsa dapat diwujudkan. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober 1928 dicanangkanlah Sumpah Pemuda yang mempersatukan semua komponen bangsa melalui pengakuan akan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Berawal dari momentum Sumpah Pemuda itu, persatuan dan kesatuan bangsa semakin menguat. Perjuangan dari sisi konfrontasi maupun diplomasi senantiasa dilakukan. Nama Indonesia sebagai "calon negara" mulai dikenal bangsa Indonesia secara luas. Bahu membahu antar ratusan suku bangsa di Indonesia, kerajaan-kerajaan di Nusantara, antara pemeluk agama, dan semua kompenen yang ada semakin menguatkan langkah untuk merdeka. Alhasil, Bung Karno dan Bung Hatta, tentu atas backup dari semua komponen bangsa, berhasil memproklamirkan Negera Indonesia.

Sebagai sebuah negara, Indonesia membutuhkan Dasar Negeri. Pada tanggal 1 Juni 1945 disepakatilah Pancasila sebagai Dasar Negera Indonesia. Pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila ditetapkan secara resmi sebagai Dasar Negera Indonesia.

Akhir-akhir ini, muncul berbagai pertanyaan tentang Dasar Negera Pancasila. Mengapa Pancasila yang digunakan sebagai dasar negara? Bukankah Islam adalah komponen terbesar? Bahkan, pada saat itu 90% penduduk Indonesia adalah muslim. Mengapa tidak menggunakan Islam sebagai Dasar Negara? Mengapa Indonesia tidak saja menjadi negara Islam saja? Toh, dalam negera Islam, komponen lainnya juga akan mendapatkan perlindungan yang sama?

Sejak awal, alasan mengapa Pancasila digunakan sebagai dasar negara, merupakan alasan solutif. NKRI tidak saja didirikan oleh umat Islam, tetapi merupakan perjuangan bersama dengan umat beragama lain. Sehingga, ketika ada tujuh kata "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemuluknya", di akhir sila pertama Pancasila, sudah dapat menimbulkan penolakan bagi bangsa Indonesia yang berada di Indonesia bagian timur. Belum lagi negara ini didirikan, ancaman perpecahan telah nyata di hadapan kita.

Itulah mengapa, KH Hasyim Asy'ari, bersama kiai-kiai lain, merestui dihapusnya tujuh kata di atas. Alasannya jelas, menghindari perpercahan bahkan perang saudara. Apalagi, kelima sila dalam Pancasila, sama sekali tidak ada yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sehingga, meskipun secara tekstual "Islam" tidak tertulis di dalam sila-sila Pancasila, namun semua sila Pancasila tidaklah bertentangan dengan Islam.

Sila satu adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa", bukankah ini pengakuan akan ketauhidan dan keesaan Allah Swt? Tentu ini tidak bertentangan dengan Islam, karena di dalam al Qur'an banyak terdapat ayat-ayat yang mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Pernyataan keesaan Tuhan, artinya Tuhan itu hanya satu, tidak ada Tuhan selain Tuhan yang satu, yaitu Allah Swt. Selebihnya, sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima Pancasila, semuanya tidak ada yang bertentangan dengan Islam, sehingga cukuplah Pancasila sebagai landasan dalam berbangsa dan bernegara. Karena, sekali lagi, meskipun tidak berlabel Islam, semua nilai Pancasila merupakan perwujudan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Nilai-nilai Islam menjiwai Pancasila, dan Pancasila merupakan lem perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini tentu harus disadari bersama, karena Indonesia merupakan negara majemuk, bangsa Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa, enam agama, dan begitu banyak istiadat lainnya. Sehingga, tidaklah tepat mempertentangkan Islam dengan Pancasila, karena hakikatnya hanya labelnya saja yang tidak Islam, tetapi isi dan nilai-nilai Pancasila sangatlah sesuai dengan ajaran Islam. Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2020. Semoga Pancasila tetap dapat menjadi "lem perekat", yang dengan kuat dapat mempersatukan bangsa Indonesia.

Gerakan Literasi dan Konsep Iqra'

Mohamad Ansori

Beberapa tahun belakangan ini, gerakan literasi semakin kuat disuarakan oleh para penggiat. Hal ini tidak lepas dari keprihatinan banyak pihak akan rendahnya minat baca bangsa Indonesia. Padahal membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan. Banyak membaca berarti memperluas pengetahuan, menambah wawasan, dan membangun cakrawala berpikir untuk mengembangkan semua potensi yang ada.

Gerakan literasi, secara konseptual, telah dimulai sejak sekitar 15 abad yang lalu. Yaitu, ketika pada suatu malam, Rasullullah Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama kali. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah kenabian, Nabi Muhammad yang pada saat itu belum diwisuda manjadi nabi didatangi oleh Malaikat Jibril pada suatu malam, ketika berkhalwat di Goa Hiro, sebelah utara Kota Mekah. Ayat al Quran yang pertama kali di turunkan adalah lima ayat yang tertera dalam Surah Al Alaq ayat 1-5. Perintah pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril adalah iqra’, yang artinya membaca.

Dalam sebuah kesempatan, Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga merupakan salah satu cendekiawan Islam terkemuka saat ini, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa iqra’ paling tidak memiliki empat makna. Pertama iqra’ mengajarkan how to read, yaitu bagaimana kita dapat membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan baik dan benar, dan mengkhatamkannya. Kedua, iqra’ mengajarkan how to learn, bagaimana mengetahui tafsirnya, bahkan bagaimana mengetahui takwilnya. Ketiga, iqra’ mengajarkan how to understand, yaitu bagaimana kita memahaminya, secara emosional dan spiritual. Dan yang keempat, iqra’ mengajarkan bagaimana cara me-mukasyafah-kan, yaitu menyingkap tabir-tabir yang ada di dalamnya.

Kemampuan literasi merupakan kemampuan untuk membaca, memahami, dan mengambil hikmah serta manfaat dari materi yang dibaca. Gerakan literasi dilaksanakan dalam upaya untuk mencapai kompetensi itu. Dengan adanya gerakan literasi, minat baca diharapkan bisa meningkat, kemampuan menganilisis sumber bacaan meningkat, dan yang paling penting dapat mengambil kesimpulan dan hikmah yang ada di dalamnya.

Iqra’ tidak hanya mengajarkan membaca ayat al Qur’an. Lebih luas dari itu, iqra’ mengajarkan untuk membaca semua ayat-ayat Alloh SWT. Terdapat ayat-ayat Allah SWT yang lain yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan manusia. Ayat-ayat Allah SWT selain al Qur’an itu lazim disebut ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat yang berhubungan dengan alam. Hukum alam, peristiwa alam, gejala sosial, dan sebagainya, juga merupakan sumber bacaan yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang berharga bagi manusia.

Peristiwa alam seperti banjir bandang dan tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan, merupakan peristiwa-peristiwa alam yang seharusnya menjadi pelajaran yang berharga manusia. Dengan adanya bencana-bencana itu, manusia dapat mengambil kesimpulan bahwa demi kebahagian dan kesejahteraan manusia di masa mendatang, maka manusia harus care terhadap alam. Alam telah menyediakan sumber makanan, tempat tinggal, oksigen, udara yang segar, dan seterusnya, sudah sepantasnya mendapatkan perhatian dari manusia agar alam tetap lestari dan terjaga dari kerusakan.

Gejala-gejala sosial seperti kejahatan, perkelahian, dan perang misalnya, juga bisa menjadi pelajaran bagi manusia, bahwa kekerasan selalu menghasilkan kerusakan dan kesedihan. Perang dan kekerasan tidak menyelesaikan masalah dengan baik, sebaliknya menimbulkan masalah-masalah kemanusiaan yang sangat merugikan manusia sendiri. Oleh karena itu, dialog dan duduk bersama dalam menyelesaikan persengketan, merupakan hal terbaik yang seharusnya dipilih manusia dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Iqra’ juga mengajarkan manusia untuk mengungkap rahasia-rahasia dibalik ayat-ayat Allah SWT. Demikian juga literasi, dalam level yang lebih mendalam, mengajarkan pada kegiatan analisis masalah. Dari berbagai analisis itu ditemukan gejala-gejala dan fenomena yang muncul dari berbagai peristiwa. Gejala dan fenomena itu dapat menjadi tolok ukur penyelesaian masalah karena darinya akan ditemukan akar persoalan yang mengemuka.

Kehidupan tidak dapat dilepaskan dari masalah. Setiap perjalanan hidup manusia pasti akan menemukan masalah. Oleh karena itu, kemampuan menganalisis masalah dengan tujuan menemukan akar masalah merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki. Masalah terjadi pasti ada latar belakangannya, ada penyebab-penyebab yang memicunya, ada celah-celah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya, dan seterusnya. Kemampuan analisis seperti itu, juga dikembangkan dalam kegiatan literasi.

Secara spesifik Gerakan Literasi Nasional (GLN) menempatkan enam dimensi literasi, yaitu literasi baca dan tulis, numerasi, sains, finansial, digital, budaya dan kewargaan. Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.

Sementara itu, literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari; (b) bisa menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) untuk mengambil keputusan.

Literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasarkan fakta, memahami karakteristik sains, membangun kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta meningkatkan kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains. Literasi sains ini sangat diperlukan karena perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi berkembang dengan sangat luar biasa di era digital ini.

Sedangkan literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan eranya, literasi digital merupakan kebutuhan utama masyarakat modern dalam menjalani kehidupannya. Digitalisasi merasuk ke dalam semua lini kehidupan sehingga literasi digital benar-benar merupakan kebutuhan manusia.

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan (a) pemahaman tentang konsep dan risiko, (b) keterampilan, dan (c) motivasi dan pemahaman agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Sedangkan yang terakhir, literasi budaya yaitu pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat. Sebagai bangsa, kita harus berperan aktif dalam menjaga budaya bangsa. Selain itu, kita juga harus mengetahui hak dan kewajiban kita, sehingga kita dapat mengambil peran yang aktif dalam pembangunan bangsa. (ans)

Prestasi di Masa Pandemi

Tidak semua orang bisa bekerja dari rumah. Bahkan orang-orang yang sebenarnya pekerjaannya ada di rumah. Mengapa? Tentu karena semua pekerjaan tentu berkaitan dengan pihak-pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Seorang pengusaha home industry mengaku tidak bisa bekerja selama pandemi C19 ini. Ia bahkan terpaksa merumahkan 3 dari 5 orang karyawannya. Bukan karena ia tidak bisa produksi, tetapi karena hasil produksinya yang masih menumpuk dan ia tidak bisa mengirimkannya ke agen atau grosir dimana biasanya ia mengirim. Maknanya, ia bisa produksi tetapi tidak bisa mendistribusikan produknya. So, lebih baik berhenti.

Beberapa pedagang mengeluhkan hal yang sama. Ia memang biasa bekerja di rumah, sehingga tidak ada anjuran work from home pun ia tetap saja bekerja di rumah. Tapi ya itu, pembelinya mana? Ia tetap saja berjualan di rumah, tapi pembelinya tidak ada yang datang. Sementara, untuk berjualan secara online ia juga belum bisa. Alhasil, ya bertahan bekerja dengan penghasilan sedapatnya.

Dalam hal ini, orang kantoran, para guru, dosen, dan pekerja kantoran dengan penghasilan tetap dan pekerjaannya bisa dikerjakan di rumah, tentu harus bersyukur. Dari sisi penghasilan mereka tentu tidak terdampak. Memang pendapatan mereka tidak bertambah, tetapi juga tidak berkurang. Sementara semua pekerjaannya dapat dilakukan di rumah dengan menggunakan fasilitas internet dan perangkat IT yang dimilikinya.

Para guru cukup memantau tugas yang diberikan pada siswa melalui daring. Tugas diberikan, petunjuk disertakan, media pembelajaran di share, dan para siswa sudah bisa mengerjakan tugasnya baik secara mandiri maupun didampingi orang tua. Tinggal menunggu, hasil kerja siswa yang juga diberikan pada keesokan harinya. Demikian juga para dosen, beliau-beliau dapat juga melakukan yang sama.

Seorang teman, pada masa pandemi ini justru memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu di luar aktivitas rutinnya. Dengan bakat, minat, kemampuan, dan perangkat yang dimilikinya bahkan ada yang sampai bisa membuat barang-barang yang biasanya dibuat dengan biaya mahal. Seorang teman bahkan berhasil membuat pagar stainless steel buatan sendiri selama masa bekerja di rumah ini. Sementara teman yang lainnya membuat kebun mini dengan sistem hidroponik dengan hasil yang membanggakan. Bagaimana tidak selama dua setengah bulan ia membuat kebun hidroponik ini ia telah berhasil panen sawi dan gambas organik hasil kebun hidroponiknya. Teman lain, seorang penulis, bisa menyelesaikan buku kumpulan cerpen dan cerita anak, justru selama "terpaksa" tidak keluar rumah.

Yang paling menarik adalah, ketika saya bertanya pada seorang teman yang terlihat hampir tidak mengerjakan apa-apa selama libur pandemi. Sobat, apa yang sudah kamu kerjakan selama masa tidak keluar rumah ini sobat? Teman-teman kita ada yang berhasil membuat karya dari stainless steel, ada yang berhasil membuat kebun hidroponik, ada yang berhasil menyelesaikan satu kumpulan cerpen, dan sebagainya.

Teman yang terakhir ini hanya tersenyum. Dia kemudian menjelaskan, aku memang tidak melakukan apa-apa, tapi aku telah enam kali khatam al Qur'an selama dua setengah bulan ini. Bahkan, aku berhasil menghafalkan beberapa surat yang cukup panjang, yang selama ini hampir mustahil kulakukan.

Dulunya aku tidak lancar membaca al Quran, padahal aku juga mengaji ketika aku masih muda. Aku juga belajar tajwid, nahwu, dan sharaf. Selama ini aku bisa membaca al Qur'an, tapi aku tidak sempat melakukannya. Waktuku habis oleh pekerjaan dan aktivitas sosialku yang seabreg jumlahnya. Bahkan, sebelum prahara ini, satu juz pun aku ndak bisa menyelesaikannya dalam sehari. Aku gunakan waktuku untuk menumpahkan rindu. Aku gunakan kesempatan yang diberikan Allah Swt ini untuk bercengkrama sepanjang waktu. Dengan ayat-ayatNya, dengan firmanNya, dengan hikmah yang terkandung di dalamnya, dengan rahmat yang datang menyertainya.

Allahu akbar. Ternyata, ada celah yang selama ini tertutup. Oleh prestasi duniawi yang menipu. Bahkan, oleh sesuatu yang menjauhkan dari kebersamaan denganNya.

Wallahu'alam.

Istirahatlah dengan Menulis

Mohamad Ansori

Tak bisa dipungkiri, istirahat merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Secara klinis, tubuh memerlukan istirahat untuk relaksasi. Mesin saja juga butuh fase pendinginan, agar dapat bekerja dengan baik dan maksimal. Manusia tidak bisa menghindar dari kebutuhan istirahat. Bahkan manusia bisa mati jika tidak bisa istirahat.

Para ahli psikologi mengatakan, ada banyak cara orang beristirahat. Paling tidak, kita mengenal macam-macam istirahat seperti tidur, rekreasi, dan berolah raga. Sementara itu, Dr Matius Edlund, seorang pakar psikologi AS, menyatakan bahwa ada empat jenis istirahat aktif: sosial, mental, fisik dan rohani (menggunakan meditasi dan doa untuk bersantai).

Secara umum, istirahat bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada tubuh untuk recovery. Tidur merupakan istirahat terbaik dalam kaitannya dengan hal ini. Tidur tidak harus lama, tetapi yang penting adalah berkualitas. Menurut pakar Psikologi Ahmad Faiz Zaenuddin, tidur yang baik dan bahagia itu bukan tergantung banyaknya waktu, melainkan tidur yang berkualitas.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pada intinya, istirahat bertujuan memberikan kesempatan tubuh untuk berganti fokus, baik secara jasmani maupun rohani. Ada orang yang dapat beristirahat dengan baik pada saat ia berkesempatan untuk tidur. Orang lainnya bisa jadi, ia lebih suka beristirahat dengan berjalan-jalan, nonton TV, mendengarkan musik, atau bahkan berolahraga ringan. Sementara orang lainnya cukup dengan membaca buku untuk sekedar mengalihkan konsentrasi dari pekerjaan semula.

Nah, bagaimana dengan menulis? Jika membaca buku dapat menjadi sarana untuk beristirahat, apakah menulis juga dapat digunakan hal yang serupa?

Menulis merupakan salah satu kegiatan untuk menuangkan ide dan gagasan. Setiap orang menulis dengan tujuannya masing-masing. Ada orang yang menulis untuk tujuan ideologis (mempengaruhi orang lain), akademis (kegiatan pembelajaran, perkuliahan, dll), ekonomis (untuk mendapatkan manfaat ekonomis), chatarsis (menyalurkan emosi diri penulis), politis (kepentingan mempengaruhi orang untuk kepentingan politik), pedagogis (untuk memberikan edukasi pada pembaca), medis (kepentingan menjelaskan hal-hal medis tertentu), dan pragmatis (penulis ingin terkenal atau tuntutan tugas tertentu)

Namun, ada orang yang menulis hanya untuk kepentingan hobi atau kesenangan. Orang-orang ini tidak mempedulikan kepentingan atau tujuan-tujuan lainnya, ia hanya menulis sebagai salah satu hobinya saja. Sehingga ia bisa menulis apapun yang ia mau. Satu saat ia menulis puisi, menulis cerita, menulis cerita humor atau anekdot, dan seterusnya. Ia hanya ingin berbagai, menyampaikan pesan yang ingin disampaikan pada orang lain, atau bercerita tentang suasana hatinya. Orang-orang ini menulis "tanpa beban" dan tekanan baik dari dalam dirinya maupun dari orang lain. Ia menulis dan ia bahagia. Baginya, menulis adalah hiburan, menulis adalah rekreasi, dan menulis adalah relaksasi.

Justru dalam kondisi ini seorang penulis dapat menjadikan dirinya produktif. Ia akan menulis kapan saja ia mau. Ia akan menulis apa saja yang ia mau. Tanpa mempertimbangkan apakah orang like atau dislike terhadap tulisannya. Yang terpenting baginya, menulis dan menulis. Dan, ia bisa "beristirahat" dari aktivitas "wajib"nya yang lain ketika ia menulis.

Wallahu'alam.

Tamu di Tengah Hujan

Malam itu belum larut. Tapi hujan turun sejak sore. Air turun dari langit seperti ditumpahkan. Deras sekali. Genangan air mulai menghampiri halaman rumahku. Sementara disana-sini bocor mulai mengganggu aktivitasku malam ini. Aku mondar mandir menata ember untuk menghalau titik-titik air yang semakin banyak membasahi lantai rumahku.

Saat ini aku sendiri. Tidak ada seorang pun di rumahku. Ayahku sudah sejak kemarin di Surabaya menyelesaikan persoalan-persoalan pekerjaannya. Beliau bukan pebisnis, hanya urusan bahan pembuatan spring bed yang agak macet karena berbagai urusan. Harusnya malam ini beliau pulang. Tapi, sampai hampir pukul 22.00 ini belum ada berita apakah beliau benar-benar pulang.

Sementara ibuku juga tidak di rumah. Nenekku tinggal sendirian di desa sebelah dan butuh yang menemani. Apalagi, akhir-akhir ini nenek sering sakit-sakitan, sehingga sangat kasihan kalau harus tinggal sendiri. Malam ini harusnya giliran pamanku yang menemani nenek. Tapi sayangnya pamanku juga sedang ke Probolinggo menjenguk sepupuku yang sedang belajar di pondok pesantren. Alhasil, kembali malam ini aku harus sendiri.

Kuambil HPku di atas meja belajar. Kubuka whatsapp messenger dan mencoba mencari teman di WAG yang kupunya. Tapi sialnya, malam itu, tak seorangpun online dan sudah tidak ada lagi chat yang belum kubaca. Kucoba share humor-humor di grup madrasahku, tapi tidak ada yang comment. Mungkin jam segini, teman-temanku sudah pada tidur. Atau mungkin kedinginan karena sudah hampir 2 jam ini hujan belum juga berhenti.

Biasanya aku tidak merasa takut meskipun aku di rumah sendiri. Aku seorang gadis yang sudah hampir 16 tahun dan sudah duduk di kelas sebelas Madrasah Aliyah. Sehingga, tak pantas lagi aku takut berada di rumah sendiri, yang sejak aku lahir telah aku tinggali.

Tapi entah mengapa, malam ini aku merasakan lain. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Kaki dan tanganku kurasakan dingin sekali. Sesekali kulihat ke pintu, berharap ayahku datang dari Surabaya. Tapi, belum juga ada tanda-tanda kedatangan beliau. Biasanya, dari luar pagar aku sudah hafal deru mobil pick up ayah yang menderu kencang. Bukan karena di modif sport, tapi karena memang knalpotnya sudah usang dan banyak berlubang.

Tiba-tiba kudengar pintu diketuk. Tidak serta merta aku menuju ke pintu itu.
"Siapa ya yang datang malam-malam begini? Sudah hampir jam sepuluh malam loh? hujan lagi?" tanyaku dalam hati.

Hatiku bergeming. Aku semakin ragu. Jangan-jangan ada orang yang berniat jahat yang datang ke rumah.

"Kalau ayah yang datang...ah tidak mungkin. Kan tidak ada suara mobilnya. Kalau ibu yang datang? Kok nggak ada suara sepeda motornya?" aku semakin bertanya-tanya dalam hati.

Suara ketukkan itu berhenti. Aku mencoba melihat keluar melalui jendela samping. Kusibakkan korden putih yang menutupi kaca jendela depan rumahku. Sedikit sedikit kusibakkan, mencoba mengintip apa yang terjadi di luar.

"Hah...", aku semakin terkesiap. Tidak terlihat seorang pun di depan pintu. Bahkan tidak ada tanda-tanda kedatangan orang ke rumahku.

Aku semakin ketakutan.

"Benarkah yang kudengarkan tadi? Benarkah ada orang yang datang mengetuk pintu? Ataukah.... Ah, tidak mungkin. Masak ada hantu yang bisa ketuk pintu. Tapi siapa? Jelas-jelas pintu tadi diketuk orang. Waduh...aku semakin taku...."

Segera aku berlari ke kamarku. Ku kunci kamarku rapat-rapat dari dalam. Kuambil selimut dan kubenamku diriku di dalam selimut hangatku.

Sejenak kuraih handphone-ku. Kucoba menelpon ibuku. Wuaduh! Pulsaku habis. Yang ada tinggal paket internet nya saja. Kutelelepon ibu menggunakan whatspp. Ibu...aku takut bu. Ya Allah...ibu ndak bisa dihubungi juga. Mungkin baterai HP ibu sedang habis. Dan, ibu memang tidak pernah bawa charger HP.

"Ya Allah, bagaimana ini...", aku semakin ketakutan.

Malam semakin larut. Hujan juga belum mau berhenti. Sesekali terdengar terlihat kilat menyambar diiringi suara petir yang bersahutan. Aku semakin takut dan takut. Kupasrahkan diriku pada Allah semata. Kubaca ayat kursi, sholawat, dan semua yang kubisa. Aku sudah tidak bisa berharap pada siapa lagi. Ayahku masih belum pulang, ibu pun tak bisa dihubungi. Aku tertidur dalam kepasrahan.

Aku terbangun dari tidurku. Ketukan suara pintu membangunkanku dari tidur pagi itu. Suara ibu dari luar pintu membuatku tersadar dari tidurku.

"Astaghfirullah...sudah jam 5 pagi. Aku belum shalat Subuh".

Segera aku meloncat dari tempat tidurku. Membuka pintu dimana ibuku sudah menunggu. Segera aku peluk wanita paruh baya yang paling kucinta itu.

"Ibu, aku takut. Tadi malam ada orang yang ketuk-ketuk pintu. Aku tak berani membukanya. Saat kulihat dari jendela, ternyata tidak ada orang di depan pintu. Ada hantu Bu...."

Ibuku tersenyum.

"Lihat tuh, di gagang pintu..." Kata beliau

Aku langsung mengarahkan pandanganku ke gagang pintu. Ada satu tas plastik warna putih berisi "berkat" di gagang pintu.

"Hadeeeh...ternyata ada tetangga yang mengantar "berkat" tadi malam. Mungkin, karena hujannya sangat deras, sehingga ia langsung meninggalkan tas plastik itu di gagang pintu. Hehehe....

Menjaga Nilai Ramadan di Bulan Syawal

Mohamad Ansori

Ramadan 1441 H telah berlalu. Kini, kita sudah menapaki Syawal 1441 H dengan aura kemenangan dan kesenangan. Kita merasa menang, karena kita telah berhasil melalui perjuangan berat baik fisik maupun mental selama Ramadan. Betapa tidak, puasa kali ini, kita harus menahan diri dari berbagai hal, baik yang standar maupun yang "ekstra".


Standarnya, kita berpuasa menahan diri dari makan, minum, dan "berkumpul" dengan istri atau suami kita. Untuk kesempurnaannya, kita juga harus menahan diri dari berbohong, menggunjing, ghibah, dan hal-hal lain yang merusak puasa kita. Nabi Muhammad Saw bersabda:

خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة

Artinya : "Ada lima perbuatan yang menghapus pahala puasa, yaitu berbohong, menggunjing, mengadu domba, bersumpah palsu, dan memandang dengan syahwat".(H.R. Al-azdi dan Addailami dari Anas r.a.)

Perjuangan ekstranya adalah bahwa pada Ramadan tahun ini, kita juga harus menahan diri dari kumpul-kumpul dengan teman, mengaji bersama, berdzikir bersama, berbuka bersama, sahur bersama, dan lain-lain. Pokoknya, melibatkan kata bersama atau orang banyak, hal itu dilarang. Bahkan, sebagian dari kita terpaksa harus ter-lockdown, baik dalam skala kota, desa, atau bahkan rumah. Hal ini tentu, membuat puasa kita semakin berat dan berat. Apalagi, bagi kelompok-kelompok terdampak C19, tentu puasa tahun ini sungguh merupakan puasa yang sangat berat.

Tapi sebagai seorang yang beriman, kita harus yakin bahwa puasa dengan segala keterbatasannya seperti itu, pasti akan membawa nilai lebih dihadapan Allah Swt. Bagi orang yang beriman, baik bersyukur maupun bersabar, semuanya akan mendapatkan pahala dan kebaikan.


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)


Ramadan melejitkan motivasi ibadah kita. Puasa, tarawih, tadarus, semuanya dilakukan seperti tiada pernah lelah. Bahkan ketika sebentar tidur, sebentar lagi bangun semuanya hampir tidak ada persolan. Misalnya, tidur sudah cukup larut, malam harus bangun sahur, dilanjutkan dengan sholat tahajjut, disambung dengan sholat sunnah fajar, lalu sholat Subuh. Setelah Subuhpun sangat dianjurkan untuk tidak tidur lagi. Demikian seterusnya.

Di luar Ramadan, banyak kemungkinan tidak banyak orang yang kuat menjalankan ibadah secara marathon seperti itu. Kalkulasi fisik tidak akan dapat dicapai dalam kondisi seperti itu. Namun dalam Ramadan, ketika motivasi ruhaniah menguat dan menguasai, fisik pun mengikut. Berlimpahnya rahmat dan karunia Allah Swt selama Ramadan, merupakan penjamin utama kekuatan ibadah marathon kita. Oleh karena itu, sungguh rugi orang yang telah menyia-nyiakan kesempatan ibadah selama Ramadan.

Yang perlu dipertanyakan adalah, bagaimana cara kita mempertahankan ghiroh ibadah kita pasca Ramadan? Bagaimana penguatan dan peningkatan ibadah itu tetap terjaga? Haruskah kita kembali ke semula, seperti sebelum Ramadan tiba?

Bulan Syawal adalah bulan peningkatan, bukan bulan penurunan. Dalam konteks dosa dan maghfirah, Allah Swt telah mengampuni dosa-dosa kita. Sehingga, saatnya kita memupuk pahala dan kebaikan. Bertahan pada level ibadah dalam Ramadan memang tidak mudah. Tetapi sesulit apapun, dengan perjuangan keras dan upaya yang istikomah, sedapat mungkin kita harus bisa mempertahankan motivasi ibadah kita selama Ramadan. Paling tidak, tadarus dan sholat sunnah yang selama Ramadan kita jaga, sepatutnya dilanggengkan.

Tentu, karena berbagai halangan dan gangguan, kita tidak bisa beribadah sehebat pada saat Ramadan. Karena, didalamnya ada rahmat dan karunia Allah, yang mengirimkan "angin surga" kepada kita, sehingga begitu nyamannya kita beribadah di dalam Ramadan. So, mari kita juga minta kepada Allah Swt, agar "kenyamanan" ibadah selama Ramadan tetap Allah Swt berikan pada kita, sehingga kalau pun toh tidak dapat meningkatkan, paling tidak kita bisa mempertahankan nilai-nilai Ramadan dibulan-bulan setelahnya. Semoga.

Wallahu'alam.

PPDB DI TENGAH PANDEMI

Mohamad Ansori

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merupakan salah satu agenda rutin di awal tahun ajaran baru. Oleh karena itu, agenda ini tidak bisa lepas dari perhatian masyarakat. Kenaikan jenjang siswa dari TK/RA ke SD/MI, dari SD/MI ke SMP/MTs dan seterusnya, tentu tetap harus dilaksanakan. Jika tidak, maka tatanan sistem dan jenjang pendidikan di negara ini tentu akan mengalami kekacauan yang akan sangat mengganggu.

Sementara itu, Indonesia masih berada di dalam masa-masa sulit Pandemi C19. Kurva penyebaran tak kunjung menurun dengan drastis. Dalam artian, di beberapa tempat masih terdapat angka penyebaran C19 yang mengkhawatirkan. Sehingga, pemerintah memerlukan formulasi dan penyikapan agar PPDB tetap dapat dilaksanakan tetapi protokol kesehatan seperti mengurangi kerumunan dan menjaga jarak kontak sosial tetap harus diterapkan.

Sekolah-sekolah di bawah Kementrian Agama seperti MTs dan MA, nampaknya lebih siap menghadapi situasi ini. Pendaftaran melalui jalur-jalur khusus telah disiapkan sehingga jauh-jauh sebelum timing PPDB ditetapkan, madrasah-madrasah tersebut sudah melaksanakan PPDB terlebih dahulu.

Jalur Try Out (TO) mandiri madrasah, dengan "hadiah" diterima langsung di madrasah tersebut untuk siswa-siswa yang mendapatkan hasil terbaik dalam TO merupakan salah satu jalur yang digunakan. Setelah itu ada semacam Test Masuk yang juga sudah dilaksanakan, dengan berbagai variasi program dari madrasahnya sendiri. Sementara itu, sekolah-sekolah negeri di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melaksanakan PPDB lebih belakangan.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1591), dan Surat Edaran Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Merdeka Belajar dalam penentuan Kelulusan Peserta Didik dan Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Ajaran
2020/2021 SMP Negeri menerima peserta didik baru melalui 4 jalur, yaitu jalur prestasi, afirmasi, perpindahan orang tua, dan jalur zonasi. Jalur prestasi dan afirmasi serta perpindahan orang tua, pendaftaran dilaksanakan pada tanggal 8 - 10 Juni 2020, sedangkan jalur zonasi dilaksanakan pada tanggal 17 - 19 Juni 2020. Sedangkan pendaftaran di SD dilaksanakan pada tanggal 8-10 Juni 2020.

Untuk menyikapi kondisi darurat C19 ini, pendaftaran tidak langsung dilaksanakan oleh siswa atau orang tua siswa ke sekolah yang dituju. Tetapi, pendaftaran ke SD Negeri akan dikoordinir oleh panitia PPDB  di TK, sedangkan untuk pendaftaran ke SMP Negeri akan di koordinir oleh panitia PPDB di SD masing-masing. Pengkoordiniran itu dilaksanakan sebelum masa pendaftaran, yaitu pada tanggal 3-5 Juni 2020 pada fase yang disebut pra pendaftaran. Setelah terkumpul berkas pendaftaran di SD masing-masing, maka panitia akan menyetorkan berkas tersebut ke UPT Dinas Pendidikan Kecamatan. Sehingga, petugas di UPT Dinas Pendidikan kecamatan setempat yang akan mengantarkan berkas pendaftaran ke sekolah yang dituju.

Langkah pemerintah ini tentunya patut diapresiasi. Upaya mencegah penyebaran C19 dengan menghindari timbulnya kerumunan saat PPDB merupakan langkah strategis yang harus didukung. dengan cara ini paling tidak siswa dan orang tua tidak perlu lagi berdesak-desakkan mengantri di sekolah yang dituju untuk menyetorkan berkas pendaftaran lagi. Berkas pendaftaran yang berisi formulir pendaftaran, foto copy kartu keluarga, foto copy KIA, surat keterangan telah menyelesaikan pembelajaran di kelas 6 atau surat keterangan lulus, dan lain-lain, semuanya cukup diserahkan di sekolah dan kemudian "diurus" oleh panitia dari UPT Dinas Pendidikan kecamatan.

Namun demikian, ke depan seharusnya berkas pendaftaran siswa sudah tidak menggunakan "seabrek" berkas lagi. Pendataan siswa di TK maupun SD sudah sedemikian lengkap dengan menggunakan sistem dapodik, sehingga semestinya semua data siswa telah ada disana. Sehingga, sangat dimungkinkan pendaftaran dapat dilaksanakan dengan satu data kunci berupa NISN atau NIK. Semoga ke depan bisa menjadi lebih baik, lebih simple, dan berorientasi pada penerapan teknologi informasi yang lebih sempurna. Semoga! (ans)

Abnormal atau New Normal?

Mohamad Ansori

Pemerintah telah menyiapkan planning untuk kehidupan new normal pasca pandemi C19. Namun demikian sampai pada saat ini, Presiden Jokowi belum menetapkan kapan atau tanggal berapa dimulainya kehidupan normal baru. Mengingat, untuk melaksanakan fase tersebut harus memenuhi beberap syarat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut WHO, paling tidak ada enam syarat penerapan new normal di sebuah negara: (1) pemerintah harus memastikan bahwa pengendalian virus korona sudah dilakukan, (2) pemerintah harus menyiapkan rumah sakit atau sistem kesehatan untuk identifikasi, isolasi, testing, hingga karantina, (3) pemerintah harus memastikan pencegahan dan perlindungan pada masyarakat rentan berisiko tinggi, (4) membuat protokol untuk melakukan upaya-upaya pencegahan di lingkungan kerja, (5) pemerintah harus bisa mencegah kasus impor Covid-19 dan bisa melindungi warga Indonesia dari potensi penularan Covid-19 yang dibawa orang asing, dan (6) yang paling penting ialah mempersiapkan penerapannya di masyarakat melalui sosialisasi dan edukasi sebelum memasuki fase new normal.

Saat ini, upaya yang dilakukan pemerintah adalah membuat perencanaan yang detil dan terstruktur akan peneraman kenormalan baru itu. Pemerintah sambil melakukan tahap-tahap pengendalian penyebaran C19 juga melakukan sosialisasi dan edukasi tentang tatanan kehidupan baru nantinya. Media sosial dan media konvensional menjadi sarana utama untuk sosialisasi new life style itu.

Sayangnya, respon masyarakat terhadap new normal ini begitu cepat, sehingga meskipun masih dalam tahap perencanaan dan sosialisasi, kenormalan baru itu seolah-olah sudah akan diterapkan besok pagi. Sehingga, ketatnya aturan-aturan PSBB diberbagai tempat, menjadi agak diabaikan oleh masyarakat. Masyarakat merasa sudah saatnya hidup lebih bebas setelah sekitar dua bulan harus bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Alhasil, penurunan jumlah kasus terkonfirmasi positif C19 yang agak drastis menjadi tidak kunjung tercapai.

Kehidupan dalam kenormalan baru sebenarnya tidak sangat berbeda dengan kehidupan kita sebelumnya. Secara sederhana, hidup dalam kenormalan baru itu hanya merupakan kehidupan biasa plus penerapan protokol kesehatan. Sederhana kan? Kalau diucapkan atau kalau dituliskan. Penerapannya bagaimana?

Hidup dalam kenormalan baru memberikan kesempatan kita untuk lebih produktif. Secara sosial juga akan memberikan kehidupan yang lebih layak dibanding hidup terkungkung di dalam rumah tanpa kesempatan untuk beraktivitas di luar rumah. Tetapi new normal itu akan berubah menjadi abnormal lagi, kalau kita menerapkannya pada saat yang tidak tepat. Memang beberapa bulan kita hidup secara abnormal dan kita sudah sangat merindukan kehidupan yang normal, tetapi kenormalan baru itu akan sangat riskan jika kita tergesa-gesa melakukannya. Kedisplinan sosialah yang sebenarnya menjadi penentu bisa atau tidaknya kita meninggalkan kehidupan abnormal menuju new normal. Sebaliknya, jika secara sosial kita tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan, bisa-bisa kita akan lebih lama hidup secara abnormal.



Halal bi Halal : Antara Fitrah Kesucian & Kemanusiaan

Mohamad Ansori

Halal bi halal merupakan salah satu tradisi di Indonesia, yang diinisiasi oleh KH Wahab Hasbullah, sebagai solusi dari kegaduhan nasional pasca kemerdekaan. Dimana pada saat itu, diantara para pemimpin mulai timbul perselisihan yang sangat dikhawatirkan akan memunculkan kegaduhan di tingkat akar rumput. Sehingga, diperlukan wahana silaturrahim antar pemimpin untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Dan, terciptalah istilah hala bi halal, yang dikonotasikan sebagai kegiatan silaturrahim dan saling memaafkan yang diadakan pada hari raya Idul Fitri.

Inti halal bi halal adalah saling memaafkan. Hal ini sangat penting karena pada saat Idul Fitri boleh jadi kesalahan manusia pada Allah Swt telah diampuni, tetapi haqqul adami dan kesalahan pada sesama manusia, belum terselesaikan. Oleh karena itu, momentum halal bi halal dapat dimanfaatkan untuk menghapus dosa sesama manusia, sehingga pada Idul Fitri, umat Islam telah dapat mensucikan dirinya dari kesalahan hablum minallahnya, sekaligus kesalahan hablum minannasnya. Alhasil, kita dapat kembali ke kesucian atau ke fitrah kita sebagai manusia.

Menurut KH Muhson Hamdany, M.Sy, makna Idul Fitri adalah kembali pada kesucian dan kembali kepada fitrah. Kembali pada kesucian dimaknai diampuni dosanya oleh Allah Swt dan dimaafkan kesalahannya kepada manusia, sedangkan kembali pada fitrah memiliki tiga makna, yaitu: (1) fitrah pengakuan adanya Tuhan, (2) fitrah manusia sebagai makhluk sosial, dan (3) fitrah bahwa manusia memiliki kebaikan, namun juga memiliki kesalahan.

Fitrah kepercayaan kepada Tuhan, dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan, orang-orang komunispun, juga percaya adanya Tuhan, meskipun mungkin karena pemikiran, pergaulan, dan kesalahan pengambilan kesimpulan, membuat mereka tidak mengakuinya.

Adanya animisme, dinamisme, dan penyembahan pada berhala, juga menunjukkan bahwa setiap manusia, memiliki naluri untuk mempercayai adanya kekuatan besar yang mempengaruhi kehidupannya. Hanya saja, mereka tidak mendapatkan petunjuk, tentang siapa pemilik kekuatan besar itu. Sehingga, mereka mencari-carinya sendiri, dan mereka menganggap pohon-pohon besar, gunung, dan berhala, sebagai Tuhan mereka.

Fitrah manusia sebagai makhluk sosial, menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia adalah zoon politicon yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan makanan yang tidak bisa diproduksinya sendiri. Ia butuh binatang dan tumbuhan sebagai sumber makanannya, dan membutuhkan orang lain untuk mengelolanya.

Ketika seorang manusia berhasil dalam hidupnya, tentu ia tidak dapat sukses sendiri. Ada orang lain yang membantu kesuksesannya. Sehingga, ia tidak boleh menyombongkan diri, dan mengakui keberhasilannya itu sebagai usahanya sendiri saja. Oleh karena itu, fitrah manusia harus bisa memanusiakan orang lain, menghormatinya, dan mempedulikan keberadaan orang lain di sekitarnya.

Fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan namun pada saat yang sama juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Selain Rasullullah Saw, tidak ada manusia yang sempurna. Meskipun kita adalah ahsani takwim, namun kita juga mahalul khataq wannisyan, tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu, sebagai manusia kita tidak boleh "jumawa" terhadap kelebihan yang kita miliki, sebab pada saat yang sama kita juga memiliki kesalahan dan kekurangan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, mohon maaf lahir dan bathin.
Wallahu 'alam.

*Disarikan dari "Sekapur Sirih Halal bi Halal Online PAI Kab. Tulungagung, oleh KH Muhson Hamdani, dengan berbagai pengembangan dan penambahan.

PORTAL LEBARAN

Mohamad Ansori

Fenomena pemasangan portal diberbagai daerah seringkali menimbulkan pro dan kontra. Warga yang memiliki kepentingan yang "sangat penting" terhadap akses jalan yang ditutup, tentu akan "ngresulo" karena kepentingannya terganggu. Sementara warga lain yang tidak merasa sangat penting terhadap akses itu tidak akan bereaksi dan cenderung berpikir let water flow to the sea. Sementara kelompok warga yang paham akan pentingnya mengurangi akses masuk orang luar di daerah mereka, tentua akan mendukung pemasangan portal seribu persen.

Greneng-greneng, ternyata orang memiliki pemahaman yang berbeda akan alasan pemasangan portal selama lebaran ini. Pertama, mereka berpikir tentang pencegahan penyebaran C19. Kok bisa? Bukankah sang virus bisa saja masuk ke suatu tempat meskipun sudah dipasang portal? Atau bahkan dipasang pintu besi misalnya?

Tentu, pola pikirnya tidak se-naif itu. Mereka beralasan, dengan penutupan akses jalan, orang dari luar lingkungan tertentu, tidak akan mudah masuk ke lingkungan. Sehingga, warga bisa menghalau kedatangan orang dari luar, yang tentunya tidak diketahui riwayat kontak dekat mereka sebelumnya. Apalagi, selama lebaran berbagai kelompok tentu akan datang dengan alasan saudara, teman, kerabat, kolega, dan lain sebagainya.

Sepintas ini tentu masuk akal. Pengurangan kesempatan kontak dekat dengan orang lain dari luar lingkungan sangat realistis jika disebut sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran C19. Namun, sayangnya, ketika portal dipasang, pada saat yang sama lingkungan baik secara terstruktur ataupun tidak, juga akan mengadakan jaga malam. Nah, jaga malamnya ini yang justru merisaukan. Betapa tidak, ketika berjaga, protokol kesehatan sudah tidak dihiraukan lagi. Warga lingkungan abai akan jarak, pemakaian masker, cuci tangan, dan seterusnya.

Jika hal itu terus diabaikan, bisa jadi hal ini yang justru akan menumbuhkan resiko penyebaran. Apalagi, semakin banyak ditemukan kasus orang tanpa gejala (OTG), yang tentunya juga berperan sebagai carier C19.

Kedua, alasan keamanan. Keputusan pemerintah melepaskan puluhan ribu napi dari lapas untuk mencega penyebaran C19, tentu menimbulkkan kecemasan baru di masyarakat. Apalagi, ditengah-tengah masa-masa darurat C19, kasus kriminalitas juga semakin meningkat. Parahnya, kriminalitas itu sebagian juga dilakukan warga binaan yang masih dalam tahap asimilasi dan keluar dari lapas karena alasan darurat C19 itu tadi.

Jika demikian, pemasangan portal dalam rangka keamanan lingkungan ini justru patut diapresiasi. Kita tahu, sejak awal bangsa ini adalah bangsa yang memiliki nilai luhur yang bernama gotong royong, sehingga nuansa gotong royong ini juga harus tetap dijaga agar tetap lestari di masyarakat. Kita tentunya juga masih ingat, dilingkungan-lingkungan kita, ada kegiatan lingkungan yang bernama siskamling (sistem keamanan lingkungan) atau sispamling (sistem pengamanan lingkungan), yang mana, kegiatan itu sudah agak lama kita lupakan.

Jaga portal bersama-sama warga lingkungan, akan lebih elok kalau diteruskan dengan kegiatan siskamling, yang melibatkan seluruh warga laki-laki dewasa. Kaya dan miskin, pejabat atau rakyat, semua bergotong royong untuk bersama-sama menjaga lingkungan secara bergiliran. Tentun harus ada pengaturan jadwal, cara, dan sistem yang baik, yang disepakati bersama. Keamanan adalah faktor utama penentu kenyamanan. Sehingga, pengabaian terhadap keamanan tentu akan mengganggu kenyamanan. Selamat jaga malam!

Silaturrahmi Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Mohamad Ansori

Idul Fitri telah tiba. Konsentrasi muslim di Indonesia adalah silaturrahim. Mengunjungi orang tua, mertua, kakek nenek, paman bibi, teman sekolah, teman kantor, dan banyak lagi yang lainnya. Semua demi memanfaatkan momentum yang bernama lebaran, dimana silaturahmi tidak hanya bernuansa syar'i, tetapi juga tradisi.

Secara umum, silaturrahim berarti menyambung tali kekerabatan atau menyambung sanak saudara. Ulama berbeda pendapat, tentang obyek silaturrahim ini. Ada yang mengkhususkan pada orang-orang yang memilki kaitannya dengan nasab, adapula yang berpandangan lebih umum yaitu bahwa silaturrahim dapat juga berarti menyambungkan kasih sayang kepada sesama muslim.

Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama dalam memaknai silaturrahim dalam konteks objeknya, mereka sepakat bahwa silaturrahim memiliki makna yang mendalam menurut syariat Islam.

Berkaitan dengan silaturrahim ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa beriman (dengan sempurna) kepada Allah dan hari akhir maka sambunglah kerabatnya.”(HR. Bukhori Muslim). Dalam kesempatan lain beliau ditanya, “Siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa kepada Allah dan paling menyambung tali kekerabatan.” (HR. Ahmad dan at-Thabrani). Sementara bagi orang-orang yang memutus silaturrahim, ancaman besar akan didapatkannya. Rasulullah Saw bersabda, Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali kerabat) (HR. Bukhori Muslim dan lainnya)

Silaturrahim sering dimaknai dengan anjangsana. Itulah mengapa tradisi di Indonesia, khususnya di masyarakat Jawa, silaturrahim diwujudkan dengan saling mengunjungi antara satu kerabat dengan kerabat yang lain, antara teman yang satu dengan teman yang lain. Bahkan kemudian dikreasikan suatu wahana yang bernama halal bi halal yang tidak lain merupakan perwujudan dari silaturrahim dan ekspresi permintaan maaf seseorang kepada orang lain.

Oleh karena itu, Idul Fitri di Indonesia menjadi sesuatu yang heboh. Orang-orang yang tinggal ratusan kilometer jauhnya, akan berdatangan ke kampung halaman, "sekedar" untuk bersilaturrahim dengan kerabatnya. Lalu, muncullah budaya "mudik" dengan segala plus minusnya. Banyak kritikus yang mengatakan budaya mudik sebagai budaya yang tidak pas, pemborosan, bahkan tidak ada "dalil naqlinya". Sehingga, mudik dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan perbuatan yang bid'ah.

Sementara kelompok lainnya menunjukkan fakta-fakta bahwa secara sosial dan ekonomi, budaya mudik justru sangat bermanfaat bagi "pemerataan kesejahteraan" dari kota ke desa. Dalam mudik juga terjadi perpindahan barang dan uang yang sangat bermanfaat untuk menguatkan ekonomi desa. Selain itu, moment satu tahun sekali bertemua dengan keluarga besar dan kerabat jauh juga menjadi perekat persaudaraan yang secara sosial sangat besar manfaatnya. Apalagi, jika dikaitkan dengan bakti anak kepada orang tua yang tinggal di kampung, tentu nuansa ruhaihnya akan semakin menguat.

Persolannya adalah, ketika mudik di larang, dan silaturrahim dalam makna anjangsana juga sangat dibatasi, dalam rangka memutus rantai penyebaran C19. Apakah silaturrahim masih memiliki makna?

Dalam suatu kesempatan, KH Muhson Hamdani M.Sy., menjelaskan, "bahwa anjangsana bisa saja dibatasi, tetapi silaturrahim tetap harus dijalankan". Artinya, silaturrahim tidak harus dimaknai sebagai "anjangsana" atau "tatap muka". Meskipun tanpa anjangsana, silaturrahim masih tetap harus dijalankan.

Penggunaan media sosial, aplikasi video conference, pengiriman pesan singkat, pengiriman kartu lebaran, dan produk-produk media lainnya merupakan salah satu wasilah untuk menerapkan syariat silaturrahim. Pesan utama silaturrahim adalah pengiriman pesan kasih sayang dan persaudaraan, sehingga tidak harus secara fisik ada pertemuan. Ketika pesan kasih sayang dan persaudaraan itu dapat tersampaikan, apapun medianya, semua tetap dapat dilakukan. Dengan tidak perlu merasa kurang karenanya. Anjangsana memang terbatas ruang dan waktu, tetapi silaturrahim tidak lagi terbatas oleh sekat ruang dan waktu itu.

Wallahu a'lam. (ans)



SISI LAIN KEFITRAHAN MANUSIA

Hari istimewa itu bernama Idul Fitri. Kata itu berasal dari bahasa Arab yang mana id berarti kembali, dan fitri berarti suci atau fitrah. Ketika sampai pada tahapan Idul Fitri, diharapkan semua mukmin kembali pada fitrahnya, kembali pada kesecuiannya.

Hal ini bukannya tanpa alasan, karena semua mukmin yang berpuasa Ramadan dengan niat hanya karena iman dan mengharap ridlo Allah Swt, maka Allah Swt akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sehingga ketika sampai pada Idul Fitri, maka orang beriman akan bersih dari dosanya, seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya.

Sabda Nabi Muhammad Saw:
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘alayh).

Pertanyaannya, apakah puasa kita benar-benar hanya karena iman dan mengharap ridlo Allah semata? Atau, adakah puasa kita juga tercampuri oleh tekanan-tekanan selain Allah, seperti malu pada anaknya, atau sungkan sama atasannya, atau takut pada orang tuanya? Tentu hanya Allah saja yang tahu.

Terlepas dari itu semua, semua orang berhak bahagia dengan datangnya Idul Fitri. Meskipun predikat muttaqien belum tentu didapatkan oleh semuanya, tapi Idul Fitri adalah hari kebahagiaan. Kebahagiaan bagi semua? Apa hanya bagi orang-orang yang puasa? Atau bagi semuanya?

Seharusnya, memang hanya bagi orang-orang yang berpuasa saja. Karena, mereka telah berhasil menjalankan ibadah yang panjang dan melelahkan, ibadah yang tidak hanya membutuhkan kekuatan mental, pun juga membutuhkan kekuatan fisik. Sehingga, mereka berhak bahagia, berhak bergembira, karena keberhasilan itu.

Tapi realitasnya, semua orang bahagia. Puasa atau tidak, mukmin atau tidak, bahkan muslim atau tidak, kita bisa melihat semuanya bahagia. Dan, itulah Islam. Agama rahmatan lil alamin. 

Betapa tidak, ketika Idul Fitri tiba, orang kaya, orang setengah kaya, bahkan orang yang agak kaya saja, dengan senang hati, ikut bersedekah dengan mengharap keberkahan Ramadan. Sehingga, menjelang Idul Fitri, orang-orang miskin tidak lagi susah. Beras, minyak goreng, kopi, teh, sirup, kue lebaran, bertebaran ke rumah-rumah orang miskin, demi menyambut hari kemenangan.

Dan, hebatnya, sedekah yang diberikan itu, tidak pernah mensyaratkan apakah penerima itu shalat apa tidak, puasa apa tidak, Islam betulan atau hanya KTPnya saja yang Islam, bahkan tidak juga ditanya apakah ia Islam atau tidak. Memberi ya memberi, sedekah ya sedekah, titik.

Tidak hanya perorangan, kelompok-kelompok masyarakat, perusahaan kecil atau besar, organisasi-organisas, partai politik, semua berlomba-lomba memberikan bingkisan lebaran. Dengan atau tanpa label, semuanya hanya ingin membuat orang-orang miskin bahagia ketika Idul Fitri tiba.

Mungkin, sebenarnya itulah salah satu fitrah kita. Fitrah kita adalah orang yang peduli. Peduli terhadap sesama, khususnya orang-orang yang kurang mampu ekonominya. Fitrah inilah yang wajib selalu dijaga. Fitrah kemanusiaan, yang memanusiakan manusia lainnya. Fitrah yang tidak ingin bahagia sendiri di hari raya, tapi bahagia ketika melihat orang lain juga ikut bahagia.

Wallahu'alam.

FULAN DAN KEGALAUANNYA


Mohamad Ansori

Fulan adalah orang yang sangat kaya. Bisnisnya sukses luar biasa sepuluh tahun terakhir. Keluarganya bahagia. Ia memiliki seorang anak yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Saat ini, anaknya tersebut sedang mempersiapkan bisnisnya sendiri. Tentunya, bagi Fulan ini juga merupakan tantangan. Ia berhasil meraih kejayaan, lalu apakah kejayaan itu juga akan diraih anaknya?

Beberapa hari ini Fulan merasa galau. Pandemi Covid 19 membuatnya ketakutan. Betapa tidak, secara makro pandemi ini sangat berbahaya bagi orang seusianya. Saat ini ia sehat-sehat saja. Tapi ia tahu, tidak hanya masyarakat biasa, bahkan tenaga medis pun banyak yang berguguran dihantam Corona. Ia tahu, bahwa sekali ia terkena, maka sungguh sangat berbahaya bagi dirinya yang sudah berusia kepala enam.

Fulan memutuskan untuk tinggal di rumah. Ia tak melakukan apa-apa. Karena ia sudah tidak membutuhkan apa-apa. Ia tidak perlu bekerja, karena hartanya sangat banyak kalau hanya sekedar hidup enak saja. Hari-harinya hanya bercengkerama dengan istrinya, main bersama hewan piaraannya, menyanyi di ruang home teathernya, dan nonton TV untuk melihat perkembangan kasus Corona. Kalau lelah, ia akan berganti bermain telepon pintarnya. Disitu ia juga dapat melihat lebih luas lagi akan perkembangan kasus Corona di seluruh dunia.

Hatinya benar-benar miris. Ia melihat Negara sehebat Italy, porak poranda dan sempoyongan menghadapi kasus kematian akibat Corona. Negera dengan kualitas kesehatan, jaminan social, dan kebersihan yang sangat baik dan berkelas dunia, harus juga babak belur dihajar Corona. Ia juga melihat Jerman, negara maju dengan kemajuan teknologinya yang luar biasa, memiliki nasib yang sama. Terakhir, ia melihat betapa Amerika, negara adidaya yang menggelari dirinya polisi dunia, juga tidak berdaya menghadapi serangan makhluk kecil yang bernama virus Corona.

Fulan sejenak terkesiap. Dihatinya muncul pertanyaan besar dan menggelisihkan. Uang, mobil, rumah, saham, dan semuanya yang dimilikinya, akankah dapat membantunya? Apakah Italy kurang canggih alat kesehatannya, apakah Jerman kurang hebat dokter-dokternya, atau apakah Amerika kurang hebat pakar-pakar medisnya? Toh begitu banyak rakyatnya yang tumbang dan harus menyerah kalah dalam perangnya melawan Corona.
Lalu, kalau sampai aku terkena, sampai aku harus menemui ajalku, apa yang akan aku bawa?

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggelayut di hati si Fulan. Hatinya resah dan gelisah, tak tentu arah. Betapa tidak. Puluhan tahun ia membangun bisnisnya, mengumpulkan uang triliunan rupiah. Puluhan mobil dimilikinya. Dari yang berharga 1 miliar an rupiah sampai yang berharga puluhan miliar rupiah. Ia beli rumah-rumah mewah. Hari ini di rumah ke satu, hari lain di rumah lainnya. Apapun yang ia mau, selalu ada. Apapun yang ia inginkan, selalu ia dapatkan.

Tapi apa? Naik mobil mewah ya begitu-begitu aja, tidur di ranjang yang berharga puluhan juta rupiah juga begitu-begitu saja. Apalagi makan, makanan yang paling mahal di restoran termahal, baik restoran Jepang, Amerika, Perancis, atau restoran apa saja, semuanya sudah ia coba semua. Alhasil, dia masih senang dengan sambel terasi dan bandeng goring buatan istrinya.

Selama ini waktunya ia habiskan untuk kekayaan dan kejayaanya. Ia berperang dan menang di dunia bisnisnya. Ia tak peduli bagaimanapun caranya. Yang penting menang dan menang. Ia ditakuti oleh setiap musuhnya, ia disegani oleh semua kawannya.

Tapi kini, ketika Corona mengancam semua orang termasuk dirinya? Apa kiranya yang bisa ia handalkan? Obat Corona belum ditemukan, apalagi vaksinnya. Cara mencegahnya hanya dengan physical distancing dan menjaga kebersihan tangan, itu pun sudah dilakukannya. Kalau saja, ia terkena lalu mati, apa yang akan ia bawa sebagai bekal perjalanan akhiratnya?

Fulan mengambil nafas panjang. Ia sadar sesadar-sadarnya. Selama ini ia tertipu. Tertipu oleh kemegahan dunia. Tertipu oleh kekayaan dan kejayaan di dunia. Selama enam puluh tahun sudah, ia mengabaikan akhiratnya. Selama ini, uang dan uang saja yang ada dalam agendanya.

Hari-hari dalam lockdown ia mulai menyadari, betapa semua yang ia miliki hanya begitu-begitu saja. Hanya penampilan yang wah, kehidupan yang mewah, hanya puji-pujian dari koleganya yang membuat ia melambung. Selebihnya, kehidupannya kosong.

Ia hanya bergeser dari kesenangan yang satu dengan kesenangan lainnya. Setelahnya, ia merasakan hampa. Seperti ada sesuatu yang kosong dan tidak bisa diisi apapun juga yang ada di salah satu bagian hatinya. Sayangnya, ia tidak tahu itu apa dan mengapa.

Hari ini seorang temannya menasehatinya. Ia merasakan kosong karena ia jauh dengan Tuhannya. Ia merasa tidak tenang karena ia lupa akan jati dirinya. Ia merasa tidak bahagia karena semua yang ia punya hanya ia nikmati sendiri. Ia tidak tahu betapa bahagianya ketika ia dapat menolong orang lain. Ia tidak pernah merasakan betapa bahagianya kita ketika kita dapat membuat orang bahagia. Sejauh ini, yang ia temui hanya "senang", bukan bahagia. Karena itulah, seperti ada satu "gigi" yang lepas, dari gear penggerak roda hidupnya.

Wallahu’alam.  

Keistimewaan Ramadan


Mohamad Ansori

R
amadan adalah bulan yang istimewa. Ia adalah sayyidussuhr, yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Seandainya keutamaan Ramadan dapat terlihat dengan mata, maka semua umat Islam pasti menginginkan satu tahun itu Ramadan semua. Sayangnya, hanya iman yang teguh saja yang meyakini istimewanya Ramadan. Sehingga, masih banyak orang yang mengabaikannya, menyia-nyiakannya, bahkan meremehkannya. Naudzubillahi min dzalik.
Mengapa Ramadan istimewa? Pertama, karena ramadan adalah bulan maghfirah. Setiap mukmin yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap ridlo Allah Swt, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap keridlaan Allah Swt, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Ahmad). Dalam hadist lain, Allah Swt mengampuni dosa-dosa manusia asal tidak mengerjakan dosa besar. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Shalat lima Jum’at ke Jum’at, Ramadan-ke Ramadan, menutupi dosa-dosa yang dilakukan diantaranya asal dijauhi segala dosa besar”. (HR Muslim)
Kedua, Ramadan adalah bulan al Qur’an. Mengapa, karena di dalam Ramadanlah pertama kali al Qur’an diturunkan. Peringatan nuzulul ‘qur’an, dilaksanakan di dalam bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 17 Ramadan. Kita semua tahu, al Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Al Qur’an juga merupakan mu’jizat Nabi Muhammad Saw yang menjadi pedoman hidup umat manusia. Secara global, didalamnya terdapat syariat Islam meliputi akidah, ibadah dan muamalah, akhlak, hukum, kisah umat terdahulu, serta isyarat pengembangan pengetahuan dan teknologi. Kalau saja hidup kita berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw, maka dijamin hidup kita akan terarah.
Ketiga, pada bulan Ramadan pintu syurga dibuka dan terkuncinya pintu neraka serta syetan dibelenggu. Oleh karenanya seringkali kita merasa lebih “enteng” beribadah di bulan Ramadan. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Sungguh telah datang bulan Ramadan yang penuh barokah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, disaat dibuka pintu-pintu syurga ditutup pintu neraka, dan dibelenggu syetan-syetan, dan dimana dijumpai satu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya sungguh tiadalah akan mendapatkan itu buat selama-selamanya”. (HR Ahmad dan Baihaqi)
Keempat, di dalam bulan Ramadan terdapat satu malam yang istimewa yang disebut lailat al qodr. Pada malam itu Allah melipatgandakan amal pahala ibadah dengan kelipatan yang luar biasa, yaitu lebih baik dari 1000 bulan. Artinya, kalau saja kita shalat sunnah pada malam itu, maka kita mendapatkan pahala seperti shalat sunnah selama 1000 bulan (83 tahun).
Kelima, orang yang berpuasa dalam bulan ini tempatnya di dalam syurga yang pintunya bernama Rayyan. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya dalam syurga itu ada sebuah pintu, yang dinamakan Rayyan. Pada hari Qiyamat diserukan dari pintu itu : “Dimana orang-orang yang berpuasa?” Apabila mereka semua telah masuk, pintu itu pun ditutup kembali”. (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu ‘alam.

MENJAGA PUASA


Mohamad Ansori

P
uasa memiliki manfaat yang luar biasa bagi setiap orang. Meskipun puasa Ramadhan hanya diperintahkan untuk orang-orang yang beriman, namun banyak orang yang tidak beriman juga melakukan puasa. Orang-orang non muslim pun banyak yang melakukan puasa. Di dalam agama Hindu, Budha, Kristen, dan Katholik, juga dikenal puasa. Hanya saja seringkali cara dan tujuan puasanya berbeda-beda.

Puasa tidak hanya diwajibkan pada orang-orang zaman sekarang. Orang-orang dahulu pun juga mengenal dan melakukan puasa. Bahkan orang-orang Jawa suka bertapa, yang juga merupakan bentuk lain dari puasa. Hampir semua agama mengakui bahwa puasa sangat bermanfaat bagi manusia.


Dalam Surah Al Baqarah Allah Swt berfirman, yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah : 183)

Namun sebagai seorang muslim, puasa hendaknya dilakukan dengan alasan yang paling mendasar. Yaitu, alasan karena taat menjalankan perintah Allah Swt. Seorang mukmin harus bisa secara pasti mengatkan, bahwa puasaku atas perintah Allah Swt, dan memang untuk Allah Swt. Urusan manfaat puasa baik secara dhohir maupun bathin, biarlah anggap itu bonus yang mengirinya. Karena, yang menjadi dasar penilaian Allah Swt terhadap manusia, adalah ketaatannya.

Dalam sejarah, puasa banyak dilakukan orang untuk tujuan dan keinginan tertentu. Seorang petapa, ia rela tidak makan dan tidak minum sampai berhari-hari, dan menyepi di dalam gua menjauhi segala keramaian dunia, dengan tujuan menyempurnakan ilmunya. Seorang pencuri pun, berpuasa dengan berbagai macam bentuk puasanya, agar ia menjadi orang yang sakti, yang bisa menjalankan aksinya dengan leluasa.

Bahkan, binatangpun banyak yang menjalankan puasa. Lihatlah, betapa seekor ulat harus berpuasa dalam sebuah kepompong untuk dapat menjadi binatang yang dapat terbang dan indah dipandang mata. Padahal, ketika ulat masih menjadi dirinya, banyak orang yang senantiasa menyingkirkannya, banyak orang yang tidak rela dekat-dekat dengan dirinya. Tetapi, ketika sudah menjadi kupu-kupu dan terbang diantara bunga-bunga, begitu banyak gadis cantik yang ingin menyentuhnya.

Binatang lain yang juga berpuasa adalah  adalah beruang. Beruang mampu berpuasa selama musim dingin, yang biasa disebut dengan hibernasi. Kondisi alam yang ekstrimlah yang kemudian memaksa beruang untuk berpuasa. Beruang akan melakukan puasa dalam jangka waktu yang lama (6-8 bulan) untuk menghadapi musim dingin dan baru terbangun ketika musim dingin usai dan mencari makanan karena lapar.

Sementara itu, ular melakukan puasa secara berkala. Hewan melata ini dalam waktu tertentu akan melakukan puasa setelah terlebih dahulu mempersiapkan cadangan makanan di perutnya, misalnya makan anak kambing satu ekor. Puasa yang dilakukan ular bertujuan untuk meningkatkan suhu badan hingga beberapa derajat di atas normal guna melakukan pergantian kulit baru. Jadi tujuan puasa yang dilakukan ular adalah untuk melakukan pergantian kulit.

Seorang muslim sepantasnya menjaga puasanya dengan baik. Puasa secara fisik memang hanya menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan dengan suami/istri di siang hari. Tetapi, lebih penting dari itu, puasa juga harus dapat menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak pahala puasa. Ghibah, berbohong, adu domba, memandang lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu, adalah hal-hal yang dapat merusak puasa.

Jangan sampai, kita masuk golongan orang-orang sebagaimana pesan Nabi Muhammad Saw, “Betapa banyak orang yang berpuasa, yang tidak mendapatkan dari puasanya itu, kecuali lapar dan dahaga”. Naudzublillahi mindzalik.

Wallahu’alam.

Mencari Bahagia

Mohamad Ansori

Kebahagiaan adalah sesuatu yang paling dicari di muka bumi. Meskipun, tidak semua orang tahu, apakah bahagia itu. Paling tidak, tidak banyak orang yang dapat mendefinisikan dengan baik, apa makna bahagia. Sehingga cara, jalan, arah, dan upaya yang dilakukan untuk mencari bahagia pun menjadi sangat berbeda-beda.

Imam Qurtubi menjelaskan bahwa untuk mencari kebahagiaan di dunia dan diakhirat, paling tidak ada lima perkara. Yaitu, (1) rezeki yang halal, (2) qona'ah, (3) taufiq, (4) sa'adah, dan (5) jannah.

Rezeki yang halal adalah rezeki yang diperoleh dari jalan yang dibenarkan menurut syari'at Islam. Rezeki yang halal menjamin keberkahan. Sebaliknya rezeki yang diperoleh dari cara yang haram, tidak akan menghasilkan keberkahan.

Namun demikian, banyak orang yang mengabaikan halal dan haram dalam mencari rezeki. Mencari yang haram aja sulit, apalagi mencari yang halal, mungkin begitu kata sebagian dari mereka. Seharusnya, pola pikirnya bisa dibalik. Kalau sama-sama sulitnya, kenapa tidak mencari yang halal saja bro?

Sebagian orang juga mengabaikan berkah. Padahal berkah itulah yang menjadi komponen utama penghasil bahagia. Bagaimana tidak, rezeki yang berkah selalu menghasilkan bertambahnya kebaikan. Rezeki berkah membuat keluarga menjadi tambah baik, tambah rukun, anak-anaknya menjadi anak yang sholeh, rumahnya menjadi selaknya surga. Sementara rezeki yang tidak berkah, malah memproduksi kemaksiatan. Semakin banyak rezeki, tidak semakin mendekat pada Allah Swt, tapi sebaliknya justru semakin menjauhkan kita dariNya.

Qonaah adalah sikap menerima dan ridlo akan apa yang diberikan Allah Swt. Ketika mendapatkan rezeki yang banyak, orang-orang qona'ah akan bersyukur dan segera membagikan sebagian rezekinya kepada orang lain yang kekurangan. Sementara ketika sedikit, mereka tidak ngresula, tetap diterima dengan lapang dada, dinikmati apa adanya, tidak berusaha mencari-cari yang tambahan dengan cara yang memberatkan.

Misalnya, ketika seorang qona'ah mendapat penghasilan Rp 50.000,- sehari, maka cukuplah itu yang ia gunakan untuk menyambung hidupnya. Ia merasa cukup dengan makan dengan tahu, tempe, ikan asin, sayur-sayuran, dengan pepaya dan pisang sebagai buahnya. Ia tidak perlu mencari pinjaman hanya untuk membeli daging, lobster, pizza, atau makanan mahal lainnya. Cukuplah apa yang diberikan oleh Allah pada hari itu, ia nikmati seadanya.

Taufiq Allah Swt adalah kesesuaian antara keinginan kita dengan kehendak Allah Swt. Kalau saja kita ingin membeli mobil baru, kita sudah berusaha mengumpulkan uang bertahun-tahun, tapi pada saat uang sudah terkumpul, tiba-tiba ada kebutuhan lainnya, yang lebih mendesak. Ini berarti, bahwa keinginan kita dengan kehendak Allah Swt, tidak sama.

Oleh karena itu, untuk meraih kebahagiaan itu, kita perlu senantiasa berdoa, semoga taufiq Allah Swt hadir dalam kehidupan kita. Sehingga, apa yang kita inginkan, apa yang kita rencanakan, pada akhirnya dapat tercapai, karena sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Saadah adalah ketenangan jiwa. Dalam bahasa sederhana, kita sering menyebutnya dengan istilah ayem tentrem. Saadah juga merupakan salah satu syarat meraih bahagia. Orang-orang yang selalu terlibat konflik, tidak memiliki kecocokan dalam kelompoknya, selalu berselisih dengan anggota keluarganya, tentu akan sulit mendapatkan kebagiaan. Meskipun pada saat itu, ia memiliki banyak harta.

Jannah adalah syurga. Syurga adalah tempat yang disediaakan Allah Swt untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta bertakwa. Syurga merupakan tempat dimana kita mendapatkan kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Luasnya seluas langit dan bumi, didalamnya terdapat kenikmatan yang lengkap tiada tara.

Firman Allah dalam Al Quran al Karim, yang artinya:
Di dalam Surga kamu memperoleh apa (segala kenikmatan) yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa (segala kenikmatan) yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Fushshilat: 31-32).

Wallahu'alam.

Ramadhan 40 Tahun Lalu





R
amadhan adalah momen terindah bagi setiap muslim, laki-laki atau perempuan, besar atau kecil, anak-anak atau dewasa. Banyak hal khusus yang bisa di dapatkan di bulan mulia ini. Cara makan yang berbeda, momentum ibadah yang berbeda, dan tentunya pertemanan yang berbeda. Paling tidak, ada aturan makan minum yang berbeda, ada tarawih berjamaah di mushola, dan ada "ronda" dengan teman-teman sekampung, yang tidak mungkin dilaksanakan di luar Ramadhan.
Tapi ya itu, haus dan laparnya yang nggak ketulungan. Bagaimana tidak, pada usia 7 sampai 9 tahun, bapak mengharuskan aku berlatih puasa. Sehingga, pagi yang biasanya sarapan, kadang ada ketan bubuk, dawet gempol, putu tegal, serta nagasari, yang menjadi favorit aku, harus hilang begitu saja. Walhasil, kegiatan yang paling sering dilakukan adalah melihat jam dinding. Jam delapan, jam sembilan, jam sepuluh, semua tak lepas dari pengamatan sambil menerapkan ilmu matematika "operasi pengurangan" terhadap jam Maghrib tiba.
Ramadan tahun-tahun itu, biasanya sekolah libur sebulan penuh. Sekolah akan buka lagi setelah Iedul Fitri. Oleh karenanya, banyak waktu untuk berada di rumah, bermain bersama teman-teman bermain, bahkan “berkarya” dengan sesuatu yang sebelum-sebelumnya tidak ada.
Pagi itu, aku bersama beberapa teman berencana membuat “dor-doran”. Makhluk ini terbuat dari bamboo, dengan sekat bambu yang dilubangi, dan disisakan hanya diujungnya. Kita akan mengisikan “karbit” dan diisi sedikit air, kemudian dari lubangnya itu akan kita sulutkan api. Dan hasilnya….”jleemmmm”, dentuman keras akan mengguncang satu RT.
Semuanya sudah siap, bamboo sebesar paha dengan ukuran satu setengah meter, sudah kami bersihkan, dan sudah kami hilangkan sekat bambunya. Tinggal membuat lubang kecil diujung bawah, tempat kami menyulutkan api. Tapi akung, ketika kami berkumpul di belakang rumah, semuanya ndak ada yang membawa benda tajam. Terpaksa aku pulang mengambil sabit yang biasa digunakan bapak untuk sekedar membersihkan sekitar rumah.
Beberapa menit aku beroperasi di dapur, menelusuri tempat-tempat dimana biasanya bapak menaruh sabit itu. Tapi, setelah sekian lama, nggak ketemu juga. Aku kembali ke teman-temanku yang berada di ujung “tegalan”.
“Nggak ketemua itu sabitnya, piye iki?” Tanyaku kepada teman-temanku
Pean aja Kuh, kamu kan punya sabit yang tajam…” Kataku pada Kukuh, salah seorang temanku dalam gank itu.
“Iya, tapi kan jauh…, kamu aja Cuk…” kata Kukuh kepada Cucuk, temanku yang lain
“Hadeeh…aku lagi, kemarin yang bersihkan bambu kan aku..masak aku lagi…” Rajuk Cucuk
“Iya udah, aku aja…,” Kukuh akhirnya mengalah dan mengambil sabit.
Sekarang sabit sudah ada ditangan Kukuh. Ia mulai membuat lubang kecil diujung bawah bambu. Tak lama kemudian siaplah lubang itu. meriam bamboo siap digunakan.
“Gimana, kita nyalakan sekarang?” Tanyaku pada teman-teman.
“Ayooo…” jawab teman-temanku
Kukuh dan Cucuk lalu mengangkat meriam bamboo itu ke pinggir tegalan. Disitu ada bebarapa pohon “rajek” yang dapat digunakan untuk meletakkan meriam bambu agar posisinya dapat miring sebelah. Ujung bamboo diarahkan ke selatan, mengarah ke rumah Mbah Kardi. Tegalan Mbah Kardi cukup luas, sehingga jarak antara rumah beliau dan tempat menyalakan meriam agak jauh.
Aku memasuk satu buah karbit seukuran jempol kaki ke dalam meriam bambu. Setelah itu air dimasukkan dan ditunggu beberapa saat. Ujung meriam kita tutup dengan sampah plastic yang berserakan disekitar tempat kami berkumpul.
Piye, siap?” tanyaku pada teman-teman
“Iya, siap…sekarang yuh….”
Aku menyalakan tongkat kecil yang diujungnya ditalikan kain dan dicelupkan ke minyak tanah. Api berkobar diujung tongkat kecil itu, lalu kuarahkan ke lubang kecil pemicu meriam bambu. Dan…..
“Jlemmmmbbbb….” Suara yang keluar dari meriam bambu itu membuat pohon-pohon kecil di sekitar ikut bergetar. Aku kaget sekali, nggak mengira kalau suaranya akan sekeras itu. Mungkin karena bambunya yang cukup besar, atau karbitnya yang terlalu gedhe.
Semuanya berteriak, bersorak, dan bergembira. Tertawa terbahak-bahak meskipun agak kaget juga mendengar dentuman itu.
“Hoeeeh…siapa itu, main dor-doran di belakang rumahku” terdengar seseorang teriak-teriak dari belakang kami. Semua menoleh, dan melihat Mbah Sadi membawa sabit yang diacung-acungkan dengan wajah tampak marah sekali. Ternyata beliau sedang tidur dan kaget oleh suara dentuman yang mengguncang. Dan, aku dan teman-temanku pun ketakutan.
“Larii….” Teriakku. Semua berlarian menjauh. Meninggalkan Mbah Sadi yang marah-marah dan memorakporandakan meriam bambu karya kami sejak pagi. Hadeeh….(ans)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes