Bahaya Literasi Digital di Sekolah Dasar


Salah satu kemampuan penting yang harus dikuasai siswa di abab 21 ini adalah literasi digital. Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.

Literasi digital merupakan enam dari literasi yang disepakati oleh World Economic Forum pada tahun 2015 menjadi sangat penting tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat. Enam literasi dasar tersebut mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan.

Mendikbud RI (2017) menyatakan bahwa, Bangsa yang maju tidak dibangun hanya dengan mengandalkan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak. Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang literat, yang memiliki peradaban tinggi, dan aktif memajukan masyarakat dunia.

Penguasaan literasi digital, merupakan prasarat “hidup layak” dalam dunia modern di abad 21 ini. Hampir semua sektor kehidupan, baik ekonomi, sosial, hankam, keagamaan, bahkan keluarga, memerlukan penguasaan akan literasi digital ini. Jangkauan jarak yang semakin luas sebagai akibat adanya globalisasi, memaksa kita menguasai literasi digital ini. Sehingga, tanpa penguasaan itu, kita akan tertatih-tatih di belakang dari barisan panjang bangsa-bangsa lain di dunia.

Penerapan literasi digital di sekolah dasar, mengharuskan sekolah dan para guru meningkatkan kearifannya. Dengan dilaksanakannya pembelajaran dari rumah, khususnya dengan penggunaan media informasi, akan sangat membantu anak menguasai literasi digital yang dibutuhkan. Namun pada saat yang sama, guru dan orang tua perlu melakukan pendampingan untuk menyiapkan mental anak-anak menghadapi luasnya dunia digital yang tanpa batas ruang dan waktu.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak jauh lebih cepat dapat menggunakan media teknologi informasi dibanding orang tua. Para guru yang senior seringkali ketinggalan menguasai teknologi informasi dibanding anak-anak. Demikian juga orang tua yang memiliki jarak usia yang jauh dari anak-anaknya. Sehingga orang tua akan kesulitan mengontrol perjalanan digital anak karena keterbatasan kemampuannya di bidang teknologi informasi. Al hasil, anak-anak akan tahu lebih dulu dibanding orang tuanya tentang banyak hal, seperti istilah-istilah tentang email, akun, website, podcast, dan lain-lain.

Guru dapat “menjernihkan” situasi ini, dengan memberikan penugasan yang terukur pada pembelajaran daring. Misalnya guru hanya memberikan instruksi untuk mengamati video, menjelaskan maksud dari video itu, dan meminta anak untuk menjawab pertanyaan yang sudah disediakan di google form. Dengan demikian, anak tidak perlu lagi surfing ke google sendiri, karena jawaban pertanyaan tugas yang diberikan sudah ada didalam deskripsi dan penjelasan yang diberikan guru.

Contoh di atas, memberikan batasan pada anak, untuk tidak mencari sendiri jawaban persoalannya di rimba raya dunia maya. Kita tahu, bahwa di tempat tersebut tidak hanya terdapat materi-materi yang produktif untuk mengembangkan karakter dan intelektual anak, tetapi juga terdapat “binatang buas” yang berbahaya bagi anak. Jika secara mental anak-anak belum disiapkan, curiousity anak-anak akan menjadi bahaya besar baginya.

Intinya, penguatan literasi digital di sekolah dasar tetap harus dilakukan, namun tetap dalam kendali guru dan orang tua. Dalam hal ini, guru harus serius dan kreatif, dengan memberikan penugasan yang betul-betul terukur, dengan materi tepat sasaran, dan tentunya dengan materi yang sudah disiapkan. Jangan sampai membiarkan anak-anak berjuang sendiri, mencari jawaban dan menyelesaikan persoalannya, hanya lewat aktivitas surfing dan browsing, yang dikhawatirkan membahayakan anak. Dalam hal ini, konten-konten dewasa, perjudian, kekerasan, kengerian, dan sebagainya, yang dengan mudah dapat ditemukan dalam surfing-nya di dunia maya.

Jurnalistik di Sekolah Dasar, Memang Bisa?

Kegiatan ekstrakurikuler adalah suatu kegiatan di luar jam belajar yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan minat dan bakat siswa. Minat dan bakat itu bisa meliputi bidang seni, olahraga, keagamaan, dan lain-lain. Bidang seni seperti seni suara, seni rupa, sastra, dan seni drama. Bidang olah raga meliputi olah raga permainan, atletik, renang, dan lain-lain. Sedang pada bidang keagamaan, khususnya agama Islam, antara lain MTQ, seni kaligrafi, seni sholawat, dan lain-lain.

Salah satu ekstrakurikuler yang tidak umum dilaksanakan di sekolah dasar adalah jurnalistik. Roland E. Wolseley dalam buku Understanding Magazines (1969): menjelaskan bahwa jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada suratkabar, majalah, dan disiarkan.

Berdasarkan jenisnya, jurnalistik dapat dibedakan menjadi:
1. Jurnalistik Cetak (printed journalism) — yaitu proses jurnalistik di media cerak (printed media) koran/suratkabar, majalah, tabloid.
2.  Jurnalistik Elektronik (electronic journalism) atau Jurnalistik Penyiaran (Broadcast Journalism) — yaitu proses jurnalistik di media radio, televisi, dan film.
3.  Jurnalistik Online (online journalism) atau Jurnalistik Daring (dalam jaringan — yaitu penyebarluasan informasi melalui situs web berita atau portal berita (media internet, media online, media siber).

Ekstrakurikuler jurnalistik, banyak diterapkan di sekolah-sekolah menengah, mulai tingkat SMP dan yang sederajat, SMA, dan Perguruan Tinggi. Pada umumnya wujud kegiatannya berupa penerbitan buletin sekolah, membuat blog atau website, dan majalah kampus. Pelatihannya sendiri umumnya terfokus pada kegiatan produksi naskah jurnalistik dalam bentuk terbitan-terbitan di atas. Pelatihan secara khusus seperti bagaimana cara menulis berita, bagaimana cara menulis puisi, menggambar ilustrasi, dan sebagainya, diberikan secara terpisah oleh sekolah melalui guru seni, guru bahasa Indonesia, atau lembaga-lembaga kursus di luar sekolah.

Lantas, bagaimana dengan jurnalistik di sekolah dasar? Mungkinkan ekstrakurikuler jurnalistik dilaksanakan di sekolah dasar? Jika pertanyaannya hanya mungkin atau tidak mungkin, tentu jawabnya adalah mungkin. Hanya saja, bagaimana kemungkinan-kemungkinan itu dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah dasar?

Produk jurnalistik di sekolah dasar tidak harus diartikan sebagai kegiatan menghasilkan produk berupa buletin, majalan, koran, dan sebagainya. Jurnalistik dapat dimulai dari bagaimana siswa dapat menyusun kata menjadi kalimat yang benar, lalu bagaimana kalimat-kalimat itu menjadi paragraf yang baik dan benar, serta bagaimana kalimat-kalimat itu menjadi teks yang baik. Anak-anak tidak harus dapat membuat teks panjang, tetapi cukup membuat “lima paragraf” yang baik dan benar.

Selain itu, jurnalistik dapat juga dilaksankan dengan mengajari anak membuat puisi. Anak-anak dikenalkan dengan olah kata dan olah rasa dalam puisi, mulai tema-tema sederhana dan akrab dengan anak-anak seperti tentang teman, ibu, ayah, binatang piaraan, bunga, dan sebagainya.

Lebih lanjut, anak-anak juga patut dikenalkan dengan cerita anak. Cerita anak dipilihkan cerita-cerita yang mengandung unsur pendidikan karakter sehingga nilai-nilai karakter juga masuk di dalamnya.

Untuk semua tugas yang diberikan, tetap harus dilakukan setelah anak dikenalkan dengan contoh materi sekaligus penjelasannya. Anak-anak baru diminta membuat puisi, membuat teks, dan mengarang ceritanya sendiri, sesuai kemampuannya. Di awal, tentu rangkaian kata anak-anak akan sangat beragam. Dari situlah guru pembimbing dapat melihat mana anak yang berbakat pada bidang jurnalistik, dan mana yang tidak.


Lebih lanjut, anak-anak juga patut dikenalkan dengan cerita anak. Cerita anak dipilihkan cerita-cerita yang mengandung unsur pendidikan karakter sehingga nilai-nilai karakter juga masuk di dalamnya.

Untuk semua tugas yang diberikan, tetap harus dilakukan setelah anak dikenalkan dengan contoh materi sekaligus penjelasannya. Anak-anak baru diminta membuat puisi, membuat teks, dan mengarang ceritanya sendiri, sesuai kemampuannya. Di awal, tentu rangkaian kata anak-anak akan sangat beragam. Dari situlah guru pembimbing dapat melihat mana anak yang berbakat pada bidang jurnalistik, dan mana yang tidak.

Untuk materi yang lebih komplit, sekolah dapat mendatangkan wartawan. Selain menyampaikan materi, kehadiran wartawan di sekolah juga dalam rangka memberi motivasi. Apalagi jika wartawan yang didatangkan merupakan sosok yang telah dikenal anak-anak, tentu hal ini akan lebih menyemangati.


Materi yang disampaikan tentu tidak harus sangat detil. Anak cukup diajari unsur-unsur utama dalam sebuah berita, yaitu 5W+1H, yaitu who, what, where, when, why, dan how. Narasumber juga dapat memberikan contoh-contoh berita sederhana, sembari menunjukkan teks yang bukan berita. Sehingga, paling tidak siswa dapat membedakan mana teks jenis berita dan mana yang bukan berita. Di akhir kegiatan, siswa diharapkan dapat memproduk berita, meskipun hanya satu paragraf. 

Presentasi hasil karya anak dapat ditempel di dinding sekolah dalam bentuk majalah dinding. Warga sekolah dapat memberikan apresiasinya pada karya tersebut. Para guru dapat menyemangati anak dengan memberikan apresiasi berupa penghargaan dengan mengumumkannya pada upacara bendera, atau di masing-masing kelas tempat anak belajar. Dengan begitu anak akan merasa dihargai karyanya.

Belajar di Luar Ruangan

Salah satu kendala yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah mulai timbulnya kebosanan dan kelelahan siswa. Pada kondisi normal, siswa di sekolah dasar negeri, pada umumnya belajar mulai jam 07.00 – 12.00. Sedangkan di sekolah-sekolah swasta yang menerapkan full day school atau program integrasi, biasanya para siswa belajar mulai jam 07.00 sampai dengan jam 14.00 atau jam 14.30. Dengan demikian, siswa berada di sekolah antara 5 sampai 7 jam sehari.

Untuk mengatasi kebosanan siswa dalam belajar, para guru dapat menerapkan berbagai inovasi pembelajaran. Salah satu diantaranya adalah belajar di luar ruangan atau outdoor classroom. Belajar di luar ruangan ini sangat baik bagi siswa, antara lain untuk memberikan suasana baru dan segar, memperluas jangkauan pandangan siswa, menghilangkan kejenuhan, dan menyediakan bagi siswa udara yang segar. Jika dilakukan pada pagi hari, dimana sinar matahari dapat bersentuhan langsung dengan badan siswa, akan bermanfaat mengubah pro vitamin D yang ada di dalam tubuh, menjadi vitamin D yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tulang. Namun demikian, guru juga akan menghadapi persoalan-persoalan ketika pembelajaran di luar ruangan itu tidak direncanakan dan diprogramkan dengan baik.

Persolan pertama yang dihadapi guru adalah siswa akan lebih sulit dikendalikan. Jangkauan gerak siswa akan lebih luas, sehingga kecenderungan siswa untuk bergerak kesana kemari juga akan lebih luas. Jika pembelajaran dilaksanakan di kebun misalnya, siswa juga akan dengan senang hati “mengganggu” tanaman yang ada di sana. Jika dilaksanakan di halaman maka siswa pun akan tergoda melihat teman-teman dari kelas lain yang sedang bermain bola atau berolahraga lainnya.

Persoalan kedua yang mungkin dihadapi guru adalah kurangnya konsentrasi siswa. Di tempat yang luas dan terbuka, siswa akan melihat dan memperhatikan banyak hal selain gurunya. Jika dalam hal ini guru masih menggunakan metode ceramah, hampir bisa dipastikan suara guru akan “hilang entah kemana”. Selain akan terdengar lebih lirih di telinga siswa, memang pada pembelajaran di luar ruangan ini siswa tidak hanya mendengarkan gurunya.

Persoalan ketiga yang juga mungkin dihadapi guru adalah siswa akan sulit mengerjakan tugas tertulisnya. Ketika di luar siswa tidak akan memiliki tempat menulis yang baik dan benar, sehingga bisa jadi siswa akan menulis di lantai, atau bahkan “meminjam” punggung temannya sebagai meja tulis. Alhasil, kualitas tulisan tangan para siswa pun tidak akan sebagaimana biasanya.

Oleh karena itu, pada saat guru merencanakan pembelajaran di luar ruangan, paling tidak guru harus mempersiapkan hal-hal sebagai berikut.

1.  Guru harus bersiap dengan metode pembelajaran yang tidak melulu ceramah, dapat dikombinasikan dengan metode diskusi, kerja kelompok, atau pengamatan.

2.   Guru harus siap dengan form pengerjaan tugas yang simple dan sederhana, berupa cek list atau form pengamatan sehingga siswa tidak perlu “menulis banyak” ketika berada di luar ruangan. Dalam hal ini guru bisa mempersiapkan lembar kerja siswa untuk dikerjakan dengan cara mengamati atau mempelajari benda-benda yang ada di luar ruangan.
3.   Jika memungkinkan tempat belajar di luar ruangan pun juga telah didesain sedemikian rupa, sehingga tetap menyerupai ruang kelas dengan tempat duduk dan tempat menulis yang baik dengan formasi setengah lingkaran dimana titik pusatnya pada lokasi dimana guru berada. Contohnya : guru berada di bawah sebuah pohon, dan disekitar pohon itu kursi-kursi panjang terbuat dari bambu atau batang pohon sehingga tetap saja semua siswa dapat melihat dan mendengarkan penjelasan guru dengan baik.


Selain memastikan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik, guru juga harus memastikan keamanan siswa, baik dari benda-benda berbahaya, binatang berbisa, binatang buas, dan sebagainya. Sebab, pada hakekatnya, keamanan dan keselamatan anak tetap menjadi hal yang utama.

Memvariasikan Kompetisi di Kelas

Salah satu yang menarik bagi anak adalah kompetisi. Kompetisi memacu motivasi. Kompetisi membuat suasana menjadi hidup. Apalagi jika kompetisi itu tidak melibatkan kepentingan lain seperti ke
pentingan prestasi guru, gengsi orang tua, atau pemahaman yang salah dari makna asli kompetisi. Kompetisi akan sangat produktif memacu semangat lebih baik jika dikelola dengan baik, jujur, dan profesional.

Setiap siswa kita di kelas, juga menginginkan posisi lebih baik. Hal itu tentu merupakan hal alamiah yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya oleh para guru. Mungkin tidak semua anak memementingkan posisi atau prestasi itu, tapi paling tidak pada umumnya mereka ingin menjadi yang terbaik. Memang ada juga anak-anak yang slow down, "ndak mikir" prestasi itu apa, yang penting belajar, bermain, dan tertawa bersama teman-temannya di sekolah.

Namun demikian guru tetap harus memberikan penghargaan bagi mereka yang berprestasi. Ini merupakan bagian dari punishment and reward, agar usaha anak yang belajar dan bekerja keras mendapatkan penghargaan yang layak. Jika tidak, upaya itu tentu akan menjadi sia-sia dan motivasi belajar anak tidak akan tumbuh dengan baik.

Anak-anak dengan nilai akademis terbaik, tetap harus mendapatkan penghargaan yang layak. Meskipun, penghargaan tidak harus berdasarkan nilai akademis itu sendiri. Paling tidak, nilai akademis bukan satu-satunya tolok ukur prestasi anak. Setiap anak dibekali Allah Swt dengan berbagai macam kelebihannya. Sehingga, setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing.

Bisa jadi seorang anak lemah dalam pelajaran matematika, tetapi bagus dalam pelajaran bahasa dan sastra. Anak yang lain bagus dalam ilmu pengetahuan sosial, tetapi lemah dalam mata pelajaran lainnya. Ada juga anak yang lemah hampir dalam semua bidang studi akademisnya, tapi anak itu memiliki fisik yang sehat, lari yang cepat, dan jago dalam sepak bola. Bahkan ada anak yang seolah-olah tidak memiliki prestasi apapun, tetapi memiliki sikap yang baik, sopan, santun, disiplin, dan menghargai orang lain. Dalam hal, tetap saja guru haru menghargainya sebagai prestasi.

Pada kenyataannya, pada saat dewasa nanti, tidak semua peran dapat diambil orang yang berprestasi di bidang akademis. "Pelayan-pelayan" masyarakat di desa-desa, justru biasanya berasal dari orang-orang yang ketika masih anak-anak tidak cukup berprestasi dalam bidang akademis. Tetapi mereka memili simpati dan empati yang baik dalam berbagai permasalahan di desa. Mereka lalu menjadi "orang-orang baik" di desa, yang mau "ngopeni" masyarakat desa dengan segala persoalannya. Sementara sebagian "anak-anak" pintar sibuk dengan segala macam "project" yang belum tentu menyentuh kepentingan masyarakat secara luas.

Itulah mengapa orang-orang Jawa membedakan orang "pinter" dan orang "temen". Orang "pinter" belum tentu "temen", demikian pula orang "temen" belum tentu "pinter". Idealnya, masyarakat membutuhkan orang-orang "pinter' dan "temen", tapi jika realistnya sulit, maka orang-orang "temen" lebih dihargai masyarakat daripada orang-orang "pinter" yang seringkali "minteri".

Dalam konteks pembelajaran, para guru harus bisa menghargai semuanya. Penghargaan terhadap semua kemampuan anak didik ini akan sangat produktif untuk meningkatkan motivasi belajar mereka. Dengan penghargaan itu anak didik akan merasakan dirinya berharga, sehingga akan memiliki kebanggan dan harga diri.

Bagaimana caranya? Salah satunya dengan "memvariasikan kompetisi di kelas". Guru dapat berkreasi dengan menciptakan variasi kompetisi. Kadang-kadang guru memberikan reward pada anak yang memiliki nilai matematika terbaik, pada saat yang lain reward diberikan pada anak-anak dengan nilai bahasa Indonesia dan Sastra yang paling bagus, pada saat lainnya memberikan reward pada anak yang memiliki prestasi di bidang olah raga. Bahkan, jika perlu, para guru dapat memberikan penghargaan pada anak yang "paling disiplin", atau anak yang datangnya "tidak pernah terlambat" pada suatu periode tertentu. Yang terpenting, para guru harus menghargai setiap capaian dari seorang anak didik. (ans)

Membaca Sebagai "Hadiah"

Membaca merupakan salah satu kegiatan literasi yang sangat bermanfaat bagi semua orang, termasuk di dalam siswa di sekolah. Guru selalu berupaya untuk meningkatkan minat baca siswa agar perkembangan pengetahuan siswa dapat bergerak dengan cepat. Jika buka adalah jendela ilmu, maka membaca adalah membukanya. Siswa dengan minat baca yang tinggi biasanya juga memilik prestasi belajar yang tinggi.

Namun tidak semua siswa memiliki minat membaca yang tinggi. Sebagian siswa lebih tertarik melihat gambar daripada membaca teks pelajaran yang ada di dalam buku siswa. Materi pelajaran yang kurang komunikatif serta beban tugas yang diberikan setelah membaca teks pelajaran, merupakan salah satu hal yang menjadi penyebabnya. Siswa tidak membaca karena suka, tetapi pada umumnya siswa membaca karena terpaksa.

Para guru di kelas seringkali melakukan pembelajaran dengan cara memerintahkan pada siswa untuk membaca satu teks tertentu. Kemudian siswa diharuskan memahami makna materi yang dibaca lalu ditugaskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di halaman berikutnya. Apalagi jika guru lebih banyak bertumpu pada Lembar Kerja Siswa (LKS). "Beban" membaca siswa menjadi semakin banyak karena di setiap LKS juga akan muncul bacaan-bacaan. Apalagi dalam Kurikulum 2013 ini, sebagian besar lembar kerja siswa berisi bacaan-bacaan. Sehingga, membaca seringkali membuat para siswa merasa "neg".

Namun demikian, apakah keengganan membaca itu juga berlaku untuk buku-buku non pelajaran? Bagaimana dengan membaca buku-buku cerita atau majalah anak-anak yang berpadu dengan gambar yang menarik? Apakah pada buku-buku-buku itu anak-anak juga masih malas membacanya?

Dalam suatu kelas, dimana seorang guru dapat memotivasi siswa dalam membaca, yang terjadi adalah membaca itu menyenangkan. Awalnya sang guru memantik minat baca siswa dengan menyiapkan buku-buku cerita, baik itu tentang legenda, cerita para wali, cerita para nabi, bahkan cerita-cerita anak-anak kekinian. Selain menyiapkannya sendiri, dengan mengambil buku-buku bacaan itu dari perpustakaan, guru ini juga meminta muridnya untuk masing-masing siswa membawa dua buku ke sekolah.

Buku itu kemudian dikumpulkan di sebuah meja, yang dianggapnya sebagai pojok literasi. Disitu siswa boleh membaca buku apa saja, dan bukunya siapa saja. Sehingga anak-anak bisa memilih sendiri, buku bacaan dan majalah yang dibawa oleh temannya dari rumah. Dari kegiatan itu, membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan. Anak tidak perlu lagi disuruh membaca, mereka sudah dengan senang hati membaca. Apalagi jika guru menunjukkan buku baru pada awal bulan. Mereka akan berebutu membaca buku baru itu.

Permasalahan baru muncul. Anak-anak tetap tidak suka membaca buku pelajaran. Mengerjakan tugas tetap menjadi beban berat bagi mereka. Membaca buku pelajaran tetap menjadi tugas yang tidak mereka sukai. Mereka hanya mau membaca buku-buku cerita, bukannya buku pelajaran yang menjadi tugas utama mereka.

Alhasil, sang guru menjadikan kegiatan "membaca buku cerita" sebagai "hadiah" bagi yang telah lebih dulu menyelesaikan tugasnya. Disini, anak-anak kemudian berkompetisi. Saling berlomba untuk menyelesaikan tugas dengan lebih dulu dan dengan jawaban yang minimal baik. Guru itu juga tidak membiarkan siswa mengerjakan tugasnya asal-asalan. Siswa mendapat hadiah membaca jika dapat menyelesaikan tugasnya lebih dulu dan dapat melampuai passing grade yang telah ditentukan. Jika tidak, hadiah membaca pun tidak mereka dapatkan.


Leader itu Diikuti, Bos Ditakuti!


Siapakah seorang kepala sekolah itu? Apakah ia seorang leader atau seorang bos? Seorang perlu mengetahui itu karena ia memiliki tiga tugas utama yaitu di bidang manajemen, supervisi, dan kewirausahaan. Sehingga kepala sekolah tidak lagi mengajar. Ia hanya me-manage para guru yang mengajar, para karyawan yang bekerja, dan anak-anak yang sedang belajar di sekolahnya. Disamping itu, ia juga harus membangun kerjasama dengan lingkungan sekolah, para stakeholder, dan pihak-pihak yang dapat membantu meng-upgrade sekolahnya. 

Pembelajaran Daring di PAUD, Mungkinkah?

ilustrasi : maxmanroe.com
Pembelajaran daring tetap menjadi topik perbincangan yang layak didiskusikan. Penutupan sekolah dan perguruan tinggi di negeri kita, mewajibkan sekolah untuk melaksanakan pembelajaran daring. Dalam konteks transfer ilmu pengetahuan sebenarnya pembelajaran daring tidak banyak menimbulkan masalah. Apalagi pada siswa sekolah menengah dan para mahasiswa, tentu akan lebih mudah dilaksanakan. Yang menjadi persoalan adalah ketika pembelajaran dengan bantuan IT itu, harus dilaksanakan di kelas bawah sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan play group (PAUD Non Formal).

Si Cengeng di Kelasku

Salah satu murid di kelasku cengeng sekali. Sedikit-sedikit nangis, sebentar-sebentar ngambek. Ketika pensilnya hilang, langsung saja menangis tanpa mencarinya dulu. Ketika bukunya sobek, segera pecah suara tangis dari kedua bibirnya. Teman-temannya pun bandel. Melihat ada anak yang cengeng seperti itu tidak kemudian dijaga agar tidak menangis, justru "dijarak" agar nagis. Entah dijawil, digoda, bahkan beberapa kalai alat tulisnya "dihilangkan" teman-temannya. Baru setelah pecah tangis, teman-temannya menunjukkan dimana alat tulisnya itu berada. Sehingga, hari-hari di kelasku, seperti "tiada hari tanpa tangisnya".

Kompleksitas Pembelajaran Daring di Kelas Bawah

Pembelajaran daring merupakan pilihan yang "tidak ada pilihan" lain untuk dilaksanakan di semua sekolah, termasuk diantaranya di SD bahkan di PAUD/TK. Cara yang digunakan guru tentunya macam-macam. Ada yang menggunakan website sekolah, aplikasi khusus, dan yang  paling populer adalah menggunakan grup WA wali murid. Dilihat dari pelaksanaannya, hampir semua guru khususnya di Tulungagung misalnya, dapat melaksanakan pembelajaran daring dengan sebaik-baiknya. Hal ini, karena mayoritas wilayah di kabupaten penghasil marmer ini masih dalam jangkauan internet.

Belajar Kondisional

ilustrasi : merdeka.com
Situasi dan kondisi yang kita alami saat Pandemi C19, merupakan kondisi yang tidak normal. Dalam perkembangannya, pemerintah mengajak kita memasuki era baru yang disebut new nourmal. Namun demikian, ketidakpastian tetap saja ada dan tetap harus kita hadapi bersama-sama. Normal baru yang mulai disosialisasikan tidak serta merta menyelesaikan semua persoalan terdampak, tetapi juga memunculkan persoalan-persoalan baru.


Merdeka Mendidik

Program merdeka belajar juga berarti merdeka mendidik. Artinya, guru dan sekolah dapat membuat program apa saja, asal tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat dicapai. Tentu tetap dengan memperhatikan proses pembelajaran yang dijalankan. Karena dimaklumi, mendidik tidak hanya berorientasi pada hasil, tapi juga proses. Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik, sementara proses yang kurang baik, juga akan menghasilkan output yang tidak baik. Meskipun, sudah sering kita temui, output yang terpaksa "dibaik-baikin" untuk tujuan dan kepentingan tertentu.

Muridku Pinter Sekali

Semua guru pasti mendambakan murid yang cerdas, pandai, aktif, kreatif, dan berakhlak mulia. Itu semua merupakan kondisi ideal yang diharapkan oleh guru dan orang tua. Anak yang cerdas cepat menerima materi,. Anak yang aktif membuat suana pembelajaran menjadi dinamis. Anak yang kreatif dapa menyelesaikan masalah dengan berbagai kreasi. Dan yang terpenting, anak yang berkhlakak mulia akan menghormati gurunya, mentaati orang tuanya, dan menyayangi teman-temannya, dan terutama taat pada Allah dan Rasulnya.


ilustrasi : kesekolah.com
Pada saat masih menjadi wali kelas saya mempunyai murid yang istimewa. Betapa tidak, hobinya membaca, luar biasa. Pengetahuannya luas. Pertanyaannya "aneh-aneh", bahkan pada materi yang belum diajarkan gurunya. Sehingga, "terpaksa" saya harus bersiap dengan logika dan pengetahuan yang bisa menjadi modal menjawab pertanyaan teman-temannya.

Untungnya, anak ini hanya tertarik pada sains. Sehingga pertanyaan-pertanyaannya tidak terlalu membebani saya dengan hafalan. Sain adalah logika. Nama dan hafalan memang penting, tapi tidak terlalu penting juga. Logikan hukum alam jauh lebih mudah dipahami dan dapat "menenangkan" gejolak ingin tahu murid saya yang hebat ini.

Suatu saat pelajaran tematik saya pas membahas muatan ilmu pengetahuan alam. Materi intinya adalah tentang siklus air yang membahass tentang perubahan air dari wujud aslinya, menjadi uap, kemudian mendung lalu turun sebagai hujan dan mengalir ke laut. Ketika sudah masuk ke laut terkena panas matahari, kemudian menjadi uap lagi, jagi mendung lagi, dan seterusnya. Saya juga menjelaskan, bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Sehingga kemana saja ada tempat yang lebih rendah, maka air akan mengalir ke dalamnya.

Tiba-tiba anak ini bertanya, "Mister, kalau air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah, mengapa kita banyak menemukan sumber air justru di puncang gunung? Airnya dari mana itu? Kalau dari hujan, kan tidak setiap hari hujan. Kalau dari bawah, bagaimana? Kalau dari ikatan air yang diikat oleh akar-akar pohon, bisa juga. Tapi, hutannya juga gundul. Bagaimana?"

Tidak berhenti disitu, suatu saat yang lain, ketika saya sedang menjelaskan tata surya, ada pertanyaan yang muncul darinya. "Mister, kalau kita menempel di bumi, kenapa kita tidak jatuh. Kalau bumi mengelilingi matahari, mengapa jarak bumi dan matahari bisa tetap, tidak menjauh atau mendekat. Kan tidak ada talinya? Kok bisa begitu ya Mister?" tanyanya.

Bagiku pertanyaan demikian bagi anak kelas 4 SD merupakan pertanyaan luar biasa. Paling tidak, logika berpikirnya cukup jalan. Usut punya usut, ia memang memiliki banyak buku sain di rumahnya. Dan, hari-harinya dihiasi dengan kegiatan membaca dan membaca.

Tentu, anak ini bukan anak sempurna. Setiap anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya. Ada anak yang pandai matematika, tapi lemah ilmu pengetahuan sosial. Ada anak yang lemah di mapel pada umumnya, tapi hafalan dan bacaan al Qur'annya luar biasa. Ada anak yang lemah di akademis, tapi pada bidang seni dan olah raga justru menjadi jagonya.

Demikian juga dengan anak ini. Ia hebat di ilmu pengetahuan alam, tapi tulisannya...waduh...para "dokter" pun sulit membaca. Belum lagi di bidang-bidang lainnya, ketertibannya, kedisiplinannya, kerapiannya....pokoknya, nobody perfectlah. Intinya, sebagai guru ternyata kita harus "siap" menghadapi semuanya. Menghadapi anak yang cerdas dan pandai, harus punya modal. Menghadapi anak yang lemah, harus bisa memotivasi. Menghadapi anak "jahil" harus bisa mengatasi. Kalau muridnya pinter sekali, gurunya juga harus pinter sekali. (ans)


Orientasi Siswa "Bukan" Baru

Diakui atau tidak, selama kurang lebih tiga bulan, anak-anak sekolah tidak memiliki "pekerjaan pasti". Pembelajaran yang daring yang dilakukan guru tidak cukup efektif untuk menggantikan waktu belajar mereka di hari normal. Tugas-tugas yang diberikan guru cukup ringan sehingga cukup dilakukan dalam waktu kurang dari 20% dibandingkan ketika mereka berada disekolah. Sisa waktunya dihabiskan untuk menonton TV atau bermain game. Apalagi, kumpul-kumpul dengan teman juga harus dihindari karena berpotensi penyebaran Covid 19.



Sementara tidak semua orang cukup waktu untuk mendampingi anak dengan durasi yang sama dengan ketika mereka bersama bapak ibu guru mereka. Hal ini sangat wajar karena orang tua juga harus tetap bekerja agar kehidupan ekonomi keluarga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Sementara siaran TV pembelajaran digital hanya berkisar 60 menit untuk satu kelompok usia siswa. Sehingga tetap saja belum dapat mencukupi untuk dapat menggantikan waktu belajar di saat normal.

Pemerintah juga tidak memiliki pilihan lahin selain "merumahkan" anak-anak. Resiko penyebaran Covid 19 masih sangat besar dan riskan serta dihantui kemunculan cluster baru di sekolah. Sementara dimasyarakat muncul dua kubu pemikiran, yang juga merupakan turunan kubu pemikiran dari para ahli, yaitu yang sangat mengkhawatirkan kebahayaan virus ini dan kubu lain yang menganggap virus ini tidak sangat berbahaya dibandingkan dengan virus-virus lainnya. Alhasil, perdebatan dan perbedaan di tingkat bawah pun menyeruak. Satu kelompok mendukung seratus persen kebijakan pemerintah, sementara satu kelompok lainnya mengabaikan bahkan menolaknya dengan terang-terangan.

Yang jelas, apapun yang terjadi, para guru akan menghadapi akan menghadapi persoalan yang cukup pelik dua atau tiga bulan ke depan. "Istirahat" dari kegiatan sekolah yang dimulai dari pertengahan Maret dan dilanjutkan bulan April, Mei, Juni, dan mungkin nanti sampai September, atau Oktber, bahkan bisa jadi sampai akhir tahun 2020, merupakan persoalan baru yang mungkin sekali akan muncul pada psikologis anak. Dalam jangka waktu yang lama tanpa kegiatan belajar yang memadai, tentu akan memunculkan "kebiasaan" baru pada anak. Sementara kita tidak yakin lagi, apakah pembiasaan-pembiasaan yang sudah diinisiasi sekolah dapat dijalankan dengan baik atau tidak.

Paling tidak, kebiasaan tidak belajar akan menjadi kebiasaan yang akan memunculkan persoalan baru. Dalam hal yang sama, kebiasaan "tidak mengajar" secara tatap muka, bisa jadi juga akan menjadi hal baru yang perlu diadaptasikan oleh para guru nantinya. Kedisiplinan para siswa dalam mengikuti pembelajaran akan mendapatkan pertentangan dengan kebiasaan siswa yang tidak belajar. Budaya konsistensi belajar lima sampai enam jam sehari akan runtuh dengan sendirinya pada saat siswa tetap berada di rumah.

Oleh karena itu, perlu persiapan-persiapan dan strategi yang khusus, agar para guru dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka nantinya. Masa orientasi kembali harus dilakukan, meskipun pada siswa yang "tidak baru". Mengapa, karena mereka memerlukan perubahan yang landai, dari kondisi tidak belajar tatap muka, menjadi kembali belajar dengan tatap muka. Mereka memerlukan waktu adaptasi lagi, meskipun mereka masih berada di sekolah yang sama. Orientasi pasca pandemi dapat disiapkan untuk merangkai kembali motivasi belajar siswa yang mungkin selama mereka learning from home, luntur oleh aktivitas di luar sekolah mereka. (ans)

Memanfaatkan Efektivitas Pembelajaran Daring

Kurang lebih dalam satu semester ke depan, sekolah-sekolah harus siap dengan pembelajaran daring. Jika sejak pertengahan Maret 2020 lalu, kita "terpaksa" melaksanakan pembelajaran daring, maka satu bulan ini harus menyiapkan diri dengan pembelajaran daring yang lebih efektif. Tentunya, dengan melakukan evaluasi terhadap pembelajaran daring yang telah dilaksanakan beberapa bulan ini, sambil mencari celah-celah perbaikan, berdasarkan masalah yang ditemukan.

Rekayasa atau bukan, faktanya Pendemi C19 melanda seluruh dunia. Bukan hanya negara kita, tetapi ratusan negara lainnya juga dibuat "pusing" karena pandemi ini. Sehingga, adaptasi dan modifikasi cara hidup kita mau tidak mau harus segera dilakukan.


Kita sudah tidak boleh lagi terpaku oleh kenangan masa lalu dimana kita dapat hidup dengan enak dan nyaman, tanpa rasa ketakutan paparan Covid 19 yang faktanya telah "mengganggu" kenyamanan hidup kita. Dan, kita harus menyadari, bahwa sebagai salah satu makhluk Allah Swt, Corona sudah tidak bisa lagi lepas dari kehidupan kita. Mereka juga akan hidup di dunia yang sama, dan tetap akan mengancam kenyamanan hidup kita. Hanya saja kita yang harus mengubah pola hidup kita, dengan apa yang disebut kenormalan baru.

Oleh karena itu, pembelajaran daring juga harus menjadi bagian dari kehidupan kita. Hal ini memang menyulitkan, tetapi sisi baiknya adalah membawa kita dalam kehidupan yang lebih simple, efektif, dan efisien. Bayangkan, sebentar lagi, para guru dan kepala sekolah, tidak akan lagi mengikuti diklat-diklat yang membutuhkan biaya besar. Jika biasanya puluhan miliar rupiah diperlukan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pelatihan di tingkat pusat dengan 500 peserta, dengan menggunakan teknologi IT, kegiatan yang sama cukup berbekal pulsa atau jaringan wifi saja. Biaya akomodasi, transportasi, honorarium, dan biaya-biaya lainnya, dapat dialihkan untuk kegiatan-kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

Ke depan, efektivitas pembelajaran daring, tentu akan lebih ditingkatkan. Dalam satu atau dua tahun ke depan, diperkirakan siswa setingkat SMP dan SMA dan para mahasiswa, cukup beberapa kali bertemu dalam satu semester, untuk selanjutnya tugas sekolah dan kuliah dapat diunggah di akun sekolah atau perguruan tinggi. Dengan demikian, biaya transportasi ke sekolah, biaya indekost untuk yang kuliah, biaya buku, dan semuanya, akan dapat dialihkan untuk kepentingan yang lain. Apalagi jika ke depan pemerintah dapat lebih banyak menyediakan buku-buku sekolah dan buku penunjang lainnya dalam bentuk e-book, tentu hal ini akan menjadi model kehidupan yang lebih efektif.

Sekarang saja, orang sudah malas membaca buku, tetapi laju lalu lintas download buku-buku elektronik lebih banyak. Buku yang harus dibeli dengan ratusan ribu, saat ini sudah dapat dibeli secara resmi dalam bentuk e-book, hanya dengan beberapa puluh ribu rupiah. Film-film yang harus kita tonton di bioskup dengan tiket Rp 20.000,- per orang, dapat di download dengan biaya yang sama dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Atau, melalui situs tertentu, dengan membayar Rp 30.000 per bulan, kita sudah dapat nonton ratusan film yang kita mau. Belum lagi, situs-situs yang memberikan fasilitas gratis untuk menonton film dan video lainnya dengan mengandalkan iklan dari akun tersebut.

Sebenarnya, kehidupan daring ini sudah kita mulai sejak satu dekade yang lalu. Namun, sekolah belum memanfaatkannya secara maksimal. Sehingga, tetap saja "pemborosan" di pelbagi bidang kita temui dalam kehidupan. Padahal, dalam sudut pandang finansial, pembelajaran dengan daring tentu akan menghemat biaya operasional sekolah. Pembayaran listrik, biaya transport, pembelian buku dan alat pembelajaran, tentu akan lebih berkurang dibanding pembelajaran konvensional. Bahkan, para guru dapat "merangkap" dengan pekerjaan lain, sehingga produktifitas akan meningkat.

Namun demikian, pembelajaran daring tidak bisa efektif untuk anak-anak PAUD, TK, dan SD. Anak-anak dalam usia tersebut tidak hanya membutuhkan konten pembelajaran, tetapi justru penguatan karakter yang lebih utama. Dalam usia-usia ini, pembelajaran tetap harus diarahkan pada pembiasaan, baik pembiasaan untuk hidup sehat, bersikap sopan, berbuat jujur, suka bekerja sama, hormat terhadap yang lebih tua, dan pembiasaan-pembiasaan ibadah lainnya. Penguatan karakter sangat sulit dilakukan dengan mengandalkan daring. Oleh karena itu, tatap muka dan pembimbingan serta sentuhan hati dari guru dan orang tua tetaplah diperlukan. (ans)

Kepemimpinan Progresif Kepala Sekolah

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu penentu keberhasilan sekolah dalam meraih visinya. Kepala sekolah merupakan nahkoda yang mengendalikan dan mengarahkan serta menentukan cepat atau lambatnya laju kapal besar yang bernama sekolah. Kreativitas dan progressivitas kepala sekolah sangat menentukan, apakah sekolah dalam waktu dekat dapat meraih cita-citanya, ataukah sebaliknya justru stagnan atau bias dengan arah yang mau dituju.


Iklim pelaksanaan pembelajaran, sebagai kegiatan utama di sekolah, selalu dinamis dan mengalami perubahan serta penyesuaian. Situasi politik, sosial, dan ekonomi dalam skala nasional dan daerah sangat mempengaruhi situasi dan kondisi sekolah. Kebijakan pemerintah yang dinamis, mungkin dalam makna berubah-berubah, memaksa kepala sekolah untuk juga menerapkan manajemen progresif dalam menjalankan laju manajemen sekolah. Jika tidak, akan terjadi kontradiksi antara kondisi ideal dengan kondisi riil yang dihadapi.

Munculnya situasi darurat karena Pandemi C19, menuntut kepala sekolah berpikir keras menyiapkan manajemen pembelajaran yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi. Kepala sekolah tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan pasrah bongkok-an kepada guru atau wali kelas, untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran daring, sebenarnya lebih tepat disebut pembelajaran jarak jauh pada tingkat sekolah dasar ke bawah. Kepala sekolah harus bisa memberikan arah yang jelas kepada semua guru, sekaligus membantu guru menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul sebagai akibat dilaksanakannya pembelajaran "model baru" sebagai dampak adanya Pandemi C19. Apalagi, pembelajaran daring yang dilaksanakan di masa ini, sangat tergantung kerjasama yang baik antara guru, siswa, dan orang tua.

Permasalahan yang sering muncul dalam pelaksanaan pembelajaran daring antara lain dapat diklasifikasikan dalam permasalahan yang berkaitan dengan guru, siswa, dan orang tua. Permasalahan yang berkaitan dengan guru misalnya masalah yang berkaitan dengan penguasaan teknologi informasi. Jika ada pertanyaan apakah semua guru telah akrab dengan smarphone dan dapat menggunakannnya, maka jawabannya adalah "iya". Paling tidak hal itu sesuai dengan situasi dan kondisi di Jawa, khususnya di daerah perkotaan. Tetapi, jika pertanyaannya dilanjutkan dengan apakah semua guru dapat menggunakan semua fasilitas yang ada smarphone nya itu, maka jawabnya tentu "belum". Sehingga, pembelajaran dengan fasilitas teknologi informasi, tentu tidak serta merta bermodal kemampuan guru yang sangat mumpuni di bidang IT. Alhasil, selama dua atau tiga bulan para siswa belajar di rumah, guru hanya mendasarkan pembelajarannya pada penggunaan aplikasi whatsapp saja, bukan implementasi IT secara menyeluruh.

Dari sisi siswa, dalam konteks anak-anak sekarang khususnya, penguasaan IT dalam arti smartphone oleh siswa tentu sudah tidak diragukan lagi. Ketrampilan menggunakan HP siswa bisa jadi lebih cepat daripada gurunya. Siswa kelas satu sekolah dasar, sudah banyak yang mahir dalam menggunakan HP dibanding gurunya. Apalagi siswa kelas atasnya. Tetapi dalam konteks apa? Ya khsususnya dalam hal bermain online game atau aplikasi animasi serta aplikasi ala anak-anak lainnya. Tetapi paling tidak, hal ini akan mempermudah guru dalam melaksanakan pembelajaran daring, dengan "modal" keakraban anak dengan smartphone ini.

Selanjutnya, dari sisi orang tua, dimana selama belajar di rumah sebagian orang tua tidak bisa berada di rumah, atau tidak semua orang tua bisa mendampingi anaknya, tentu membiarkan anak belajar sendiri dengan menggunakan smartphone, juga merupakan pilihan yang meragukan. Betapa tidak, ketika orang tua membiarkan anaknya sendirian bermaian HP dalam rangka pembelajaran daring, mereka juga tidak dapat menjamin jika anaknya hanya belajar saja, bukannya bermain atau membuka content lain yang sebagian tidak tepat untuk diakses anak-anak.

Belum lagi, kepedulian orang tua terhadap tugas di rumah tentu sangat beragam. Tidak semua ibu "sabar" menjadi guru dari anak-anaknya. Apalagi bapak, bisa jadi juga "lebih tidak sabar" mengajari anak-anaknya. Sehingga, persoalan banyak muncul pada keluarga dimana ayah atau ibunya tidak berada di rumah, seperti orang tua yang menjadi TKI atau TKW, bekerja di luar kota, pekerja medis yang terpaksa meninggalkan keluarganya, dan sebagainya. Belum lagi, persoalan-persoalan latar belakang pendidikan orang tua, yang juga sangat beragam.

Berdasarkan kondisi-kondisi sebagaimana diuraikan di atas, guru tentu akan menghadapi banyak persoalan dalam melaksanakan tugas mendampingi anak-anak learning from home. Kepala sekolah sebagai supervisor para guru harus menyiapkan strategi yang tepat untuk membantu guru menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi. Adalah merisaukan jika para guru menyelesaikan persoalannya sendiri, dengan tanpa berdiskusi dengan para guru lainnya atau dengan kepala sekolah, karena bisa kontraproduktif terhadap upaya membangunan citra sekolah. (ans)

Sembilan Nilai Utama Gus Dur (Part 2)

Nilai utama kelima adalah pembebasan. Pembebasan bermakna bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab membebaskan dirinya dari belenggu. Dalam artian, manusia harus merdeka. Merdeka dari rasa takut, rasa khawatir, rasa rendah diri, rasa sedih, dan sebagainya. Jiwa yang merdeka adalah jiwa yang optimis. Yang meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah Swt akan menolong siapun yang dikehendakinya. Asalkan manusia senantiasa mendekat pada Allah Swt, maka Allah Swt pasti juga akan bersamanya. Gus Dur sangat mendukung lahirnya jiwa-jiwa merdeka, yang mampu memerdekan dirinya, dan memerdekan manusia lain.


Sembilan Nilai Utama Gus Dur (Part 1)

Gus Dur manusia pilihan. Baik pada saat beliau masih hidup, atau sekarang ketika beliau sudah meninggal, tetap saja menjadi bahan pembicaraan yang sangat pantas untuk didiskusikan. Pada masa hidupnya, Gus Dur adalah manusia dengan trah kiai besar dan luar biasa. Kakeknya, adalah sang Hadratusy Syech KH Hasyim Asy'ari, pendiri Jamiyah Nadlatul Ulama, sebuah organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia. Ayahnya, adalah KH Wachid Hasyim, salah seorang anggota PPKI yang ikut merumuskan Pancasila, Dasar Negara Republik Indonesia. Gus Dur sendiri adalah Presiden Ke-4 RI yang meskipun hanya menjabat selama 2 tahun, telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi perkembangan demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, pluralisme, persatuan, dan persaudaraan. 

Para Gusdurian (pencinta Gus Dur), mencatatat ada sembilan nilai utama yang diamalkan dan diajarkan Gus Dur. Sembilan nilai itu adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Sembilan nilai itu merupakan nilai-nilai utama yang diperjuangkan Gus Dur, tidak hanya untuk Indonesia, tetapi untuk Perdamaian Dunia.

Mencuri Manfaat Bonus Demografi

Pada tanggal 22 Mei 2017, Kementrian PPN/Bappenas merilis siaran pers tentang "Bonus Demografi 2030-2040; Strategi Indonesia Terkait Ketenagakerjaan dan Pendidikan". Dalam siaran pers itu dijelaskan bahwa pada tahun 2030-2040 Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produkti (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk tidak produktif (berusia dibawah 15 tahun, dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total penduduk yang diproyeksi sejumlah 297 juta jiwa pada periode tersebut.

Kondisi itu tentu akan sangat menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Justru pada saat negara-negara lain mengalami kekurangan jumlah penduduk produktif, Indonesia malah sebaliknya. Negara-negara Eropa dimana angka kelahiran tertekan sangat kuat, ditopang oleh budaya masyarakatkanya yang "enggan" memiliki anak, mengakibatkan Eropa kekurangan penduduk usia produktif pada masa itu. Penduduk yang saat ini sedang pada usia produktif sudah akan memasuk fase tidak produktif, sementara akan kelahiran sangatlah kurang. Demikian juga yang terjadi di negara-negara di benua Amerika, maupun negara Asia lainnya, di luar Cina dan India, yang memang memiliki modal sumber daya manusia yang sangat cukup.

Dalam hal ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari periode bonus demografi tersebut. Terutama, jika Indonesia dapat menyiapkan angkatan kerja yang memiliki pendidikan dan ketrampilan yang baik dan memiliki daya saing yang kuat, terutama dalam menghadapi keterbukaan pasar kerja. Jika tidak, kondisi ini akan berbalik arah, menjadi persoalan pengangguran yang tentu akan membebani anggaran negara.

Dalam hal pendidikan, anak-anak pra usia produktif pada saat ini harus mempersiapkan diri dengan berbagai kompetensi. Penguatan dan penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, dan bahasa-bahasa internasional lainnya seperti bahasa Arab, Perancis, dan Mandarin, sangat diperlukan sebagai modal meraih kompetensi komunikasi. Mempelajari bahasa asing, apalagi bahasa internasional, bukan berarti "tidak cinta tanah air", tetapi justru dalam rangka mempersiapkan diri untuk kejayaan bangsa dan negara di masa depan.

Selain itu, penguasaan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi sangatlah dibutuhkan karena pada saat ini kita sudah akan memasuki era Revolusi Industri 4.0 dimana penguasaan teknologi digital sangat diperlukan. Keakraban generasi muda dengan istilah-istilah dan kerja digital sangat diperlukan agar dapat meraih kesempatan kerja yang sangat terbuka luas di bidang itu, bahkan sejak masa sekarang ini. Dengan penguasaan teknologi digital, anak-anak Indonesia dapat bekerja pada perusahaan-perusahaan di Eropa dan Amerika meskipun tanpa meninggalkan rumahnya. Bagi anak-anak generasi Z, work from home tidak saja terjadi karena Pandemi C19, tetapi memang merupakan kinerja biasa yang akan dilakukan sehari-hari senyampang tersedia jaringan internet dan alat pendukung lainnya. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan karena anak-anak kita tetap bisa hidup dengan kultur Indonesia tetapi dapat memperoleh income dengan standard dolar, euro, atau poundsterling.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah sekolah-sekolah kita telah siap akan hal itu? Dalam artian siap membekali anak-anak dengan kompetensi komunikasi berbasis bahasa Internasional, ketrampilan berbasis teknologi digital, kreativitas tanpa batas, dan tentunya dengan tetap mendasari dengan iman dan takwa, serta pemahaman Islam dan akhlak mulia. Kesiapan itu mutlak diperlukan, apalagi jika kita juga ingin mengambil bagian dalam penyebaran Islam rahmatan lil aalamiin ke seluruh penjuru dunia, dengan mengandalkan kemampuan anak-anak kita saat ini. Kesempatan ini harus kita raih, dengan mengandalkan modal tekad, kerja keras dan cerdas, serta inovasi yang tiada henti. Semoga. (ans)

Membunuh Waktu

Malam ini giliran jaga. Jam 22 aku berangkat dari rumah. Di pos jaga teman-teman satu RT sudah berkumpul. Kartu dibuka lalu dibagikan. Ketawi ketiwi mengiringi berjalannya waktu. Detik demimdemi detik, kini waktu telah separuh malam.

Semakin larut, malam semakin dingin. Maklum, seharian ini hujan tiada henti. Permainan kartu semakin seru. Pemain yang kalah harus mau jongkok untuk menebus kekalahannya. Hawa yang dingin sama sekali tidak pernah mengganggu. Perputaran kartu dan nada canda membuat suasana semakin hangat. 

Membangun Kompetensi Kolaborasi

Pembelajaran Abad 21 menyarankan empat kompetentsi yang harus dikuasai oleh siswa, salah satunya adalah kompetensi kolaborasi. Mengapa kompetensi ini penting untuk dikuasai? Karena mau tidak mau, para siswa harus bekerja sama dengan orang lain dalam kehidupan mereka. Hampir tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan sendiri oleh manusia pada Abad 21 ini, jika mereka ingin bekerja profesional dan menghasilkan output yang maksimal.

Menurut Emily R. Lai, kolaborasi adalah keterlibatan bersama dalam upaya terkoordinasi untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Interaksi kolaboratif ditandai dengan tujuan bersama, struktur yang simeteris dengan negosiasi tingkat tinggi melalui intertivitas dan adanya saling ketergantungan. Kolaborasi adalah bekerjasama bukan bekerja bersama-sama. Bisa jadi paricipant nya mengerjakan hal yang berbeda, tetapi tujuannya adalah sama, yaitu menyelesaikan persoalan yang sama. Dalam kolaborasi dibutuhkan struktur yang simetris, sehingga semua pekerjaannya dapat dilakukan secara teratur, terstruktur, dan terukur. Teratur karena dikerjakan dengan pola-pola tertentu, terstruktur karena ada pencabangan dan job discription yang jelas, dan terukur karena memiliki target yang ingin dicapai.

Realistasnya, semua pekerjaan di masa sekarang membutuhkan kolaborasi. Dalam sebuah perusahaan yang bonafid, setiap orang akan bekerja pada bidangnya masing-masing. Bahkan pada saat rekrutmen karyawan, perusahaan sudah bisa menjelaskan bagian apa saja yang membutuhkan karyawan, apa spesifikasinya, bagaiamana cara bekerjanya, kapan dan berapa jam sehari dalam bekerja. Hampir tidak ada satu karyawan di perusahaan-perusahaan bonafid yang bekerja sendiri dari produksi sampai distribusi. Semua hal dikerjakan dengan spesialisasi untuk kemudian dirangkai menjadi satu produk yang siap distribusi.

Dewasa ini, kolaborasi tidak terbatas ruang dan waktu. Orang-orang dari negara yang berbeda, bekerja pada perusahaan yang sama, meskipun mereka tidak berada pada tempat yang sama. Bahkan, dengan bantuan teknologi infomasi, orang-orang bekerja secara digital dengan tidak mengetahui bosnya. Mereka hanya mengerjakan sesuatu berdasarkan guideline yang sudah diberikan bos, mengerjakannya di rumah, lalu mengirimkan hasil kerjanya ke akun virtual tertentu, dan kemudian mendapatkan "bayaran" secara virtual juga menggunakan pembayaran elektronik seperti pay pal, ovo, gopay, dan sebagainya. 

Untuk meningkatkan kompetensi kolabarasi, para guru dapat melaksanakan tugas sekolah yang berbasis team work, yaitu collaborative team work learning. Penerapan pembelajaran ini akan menyadarkan siswa, bahwa tidak semua orang memiliki ide, gagasan, sudut pandang, pemahaman, dan cara kerja yang sama. Pembelajaran berbasis team work ini juga mengajarkan pada siswa cara mengkoordinasikan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki, mengatasi masalah yang timbul dari persoalan itu, dan bekerjasama menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Selain itu, siswa juga belajar membagi tugas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anggota kelompoknya. Pada akhirnya, mereka juga harus bisa mengkolaborasikan hasil kerjasama mereka, menjadi satu produk yang diharapkan.

Menurut I Wayan Merta Jiwa (2013) sebagaimana dimuat dalam e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Administrasi Pendidikan(Volume 4 Tahun 2013) 
 Collaborative Teamwork Learning merupakan suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan bekerja secara kolaboratif dalam tim. Konsep belajar ini yaitu satu kelompok bekerja sama memecahkan suatu permasalahan dimana setiap siswa saling menyumbangkan pemikirannya masing-masing dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara berkelompok.

Secara historis, pembelajaran seperti ini sudah sering kita dapatkan jauh sebelum kita memasuki Abad 21. Para guru di era 1970, 1980, atau 1990-an, seringkali memberikan tugas "kerja kelompok" yang harus dikerjakan oleh semua anggota kelompok di luar jam pelajaran. "Kelompok-an" tersebut biasa berupa tugas-tugas mata pelajaran kesenian atau ketrampilan. Di sekolah para siswa diminta membuat kelompok berdasarkan kedekatan tempat tinggal, kemudian akan bertemu dan bekerjasama di salah satu rumah siswa yang disepakati. Dalam hal ini, guru memberikan waktu antara satu sampai dua minggu untuk mengerjakan tugas sehingga mereka dapat menyepakati waktu dan tempat yang tepat untuk bekerjasama. Hasilnya akan dikumpulkan pada guru dengan penilaian yang sama untuk masing-masing siswa. Dengan demikian, sudah sepatutnya kita menyiapkan kompetensi kolaborasi anak-anak kita, dengan tidak meninggalkan "kearifan lokal" yang telah diajarkan guru-guru kita dimasa lalu. (ans)

Implementasi Tugas Pembimbingan Guru

Mendidik tidak hanya mengajar. Mendidik lebih banyak mendampingi, memotivasi, menginpirasi, dan membimbing siswa sambil mentransfer pengetahuan. Sehingga, dalam konteks mendidik, tranfer pengetahuan "hanya" merupakan satu unsur dari banyak unsur lainnya. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memastikan bahwa laju perkembangan kearah kedewasaan tidak mandeg atau melenceng dari track yang telah ditetapkan.

Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005, tugas utama guru sebagaimana dijelaskan dalam Bab I Ayat 1 undang-undang tersebut adalah sebagai berikut: guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.


Dalam hal tugas mendidik, membimbing, mengarahkan, serta melatih siswa, seorang guru menjalankan tugasnya dengan permasalahan yang lebih kompleks dan rumit. Setiap siswa adalah pribadi yang unik, yang memiliki sifat, karakter, dan kemampuan yang berbeda. Sementara itu, setiap siswa juga memiliki latar belakang kehidupan keluarga, pertemanan, dan pergaulan yang berbeda. Sehingga sebenarnya input yang ada di sekolah, meskipun mungkin telah diawali seleksi masuk dan pengelompokkan dengan pola tertentu, tetap saja merupakan individu-individu yang berbeda dengan segala kelemahan dan kelebihannya.

Dalam melaksanakan tugas, tentu guru akan menghadapi persoalan-persoalan. Baik itu berkaitan dengan psikologi siswa, latar belakang kehidupan siswa yang berbeda dari idealisme pendidikan, kurang sinkronnya keinginan orang tua dan program-program sekolah, dan sebagainya. Ketika sekolah memprogramkan kewajiban sholat jama'ah bagi siswa di sekolah, seharusnya orang tua melanjutkan dengan kewajiban, atau paling tidak himbauan, untuk shalat jama'ah di masjid, mushola atau mengajaknya shalat jama'ah di rumah. Namun demikian, sebagian orang tua justru abai terhadap hal itu. Bahkan, tidak mendukung sama sekali program sekolah, yang sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi anaknya.

Dalam hal ini, guru menghadapi tantangan dalam menjalankan tugas membimbing siswa. Guru menghadapi situasi yang tidak ideal, dan memerlukan kebijakan internal untuk menghadapinya. Guru tidak boleh mengedepankan punishment siswa, terkait pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan. Seharusnya, terlebih dahulu mengetahui, mengapa siswa abai terhadap arahan dan bimbingan guru. Setelah mengetahui pokok permasalahannya, barulah guru menentukan langkah-langkah konkrit untuk melanjutkan program pembimbingan. Jalinan kerjasama dengan orang tua, dan pihak-pihak yang berkaitan secara langsung atau tidak terhadap "perilaku" anak diperlukan oleh guru, sebagai langkah konstruktif untuk mengatasi persoalan anak.

Ketika ada seorang siswa yang sering terlambat ke sekolah, atau bahkan sering absen tanpa alasan, tidak sepaturnya guru langsung menjustifikasi anak sebagai anak malas. Bisa jadi di rumah ia sulit beristirahat, atau di rumah ia harus membantu orang tuanya bekerja, atau secara medis anak itu mengalami kesulitan tidur atau masalah-masalah kesehatan lainnya sehingga ia sulit beristirahat. Sebelum menuntukan langkah penyelesaian masalah anak, guru harus lebih dulu mengumpulkan informasi yang cukup tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Sekolah memang harus diutamakan, tetapi dalam kondisi tertentu, bisa jadi seorang anak harus berbagi waktu dan peran, sehingga dengan "terpaksa" ia tidak bisa fokus belajar. 

Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Siswa

Satu dari empat kompetensi yang dikembangkan pada abad 21 adalah kompetensi komunikasi. Kompetensi ini sangat diperlukan siswa untuk menyampaikan pesan, gagasan, dan ide yang dimiliki siswa. Sekaligus, mengkomunikasikan hasil kerja yang telah dilakukan dalam menyelesaikan latihan, tugas, dan portofolionya secara verbal. Kompetensi ini sangat diperlukan pada abad 21 mengingat abad ini juga disebut abad komunikasi. Dalam artian, komunikasi memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Komunikasi adalah kegiatan menyampaikan pesan atau gagasan dari seorang sender kepada seorang receiver. Komunikasi dapat terjadi dua arah (two ways communication) maupun satu arah (one way communication). Komunikasi yang baik menjamin pesan yang dikirimkan oleh seorang sumber kepada penerima dengan sedikit mungkin adanya penambahan, pengurangan, atau pembelokkan. Penjaminan ini sangat penting, karena banyak persolan yang terjadi, justru diakibatkan adanya mis communication, salah persepsi, atau bahkan "salah paham". Oleh karena itu, guru perlu memperhatikan perkembangan kemampuan komunikasi siswa, khususnya komunikasi verbal, agar siswa dapat mengambil peran aktif dalam berbagai kesempatan.


Beberapa metode pembelajaran dapat digunakan guru untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa ini. Metode tanya jawab dan diskusi merupakan metode-metode yang diyakini mampu meningkatkan komunikasi siswa. Berbeda dengan metode ceramah, dimana guru menyampaikan pesan pembelajaran satu arah kepada siswa, pada metode tanya jawab dan diskusi, siswa memiliki kesempatan untuk mengasah kemampuan komunikasinya. Dengan menjawab pertanyaan guru, siswa tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga belajar menyusun kalimat, mengatasi nervous, serta mengolah kemampuan menggunakan kata-kata yang tepat dalam berkomunikasi. Sementara dengan menerapkan metode diskusi, siswa mendapatkan kesempatan yang lebih banyak berkomunikasi, karena siswa bisa tidak hanya berperan sebagai "penjawab" tetapi siswa juga berlatih menjadi pemateri.

Namun demikian, penerapan metode tanya jawab dan diskusi, tetap harus dilaksanakan secara cermat. Jika tidak, kelemahan-kelemahan dua metode ini akan muncul dan mengganggu efektifitas pembelajaran. Dalam konteks waktu, penerapan metode tanya jawab dan diskusi membutuhkan waktu yang lebih lama, baik dalam persiapan maupun pelaksanaan. Penerapan dua metode ini juga memberikan ruang yang lebih adanya pembiasaan materi. Kadang-kadang para siswa membuat pertanyaan atau menjawab pertanyaan yang menyimpang dari pokok pembicaraan. Sehingga, guru tetap harus mendampingi, memberikan arahan yang tepat, dan mau meluruskan diskusi yang menyimpang, untuk kembali pada pokok persoalan yang sedang dibicarakan.

Selain dua metode pembelajaran di atas, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa secara verbal, guru dapat mengadakan kegiatan-kegiatan seperti latihan pidato/khitobah, debat dengan bahasa tertentu, atau story telling. Kegiatan-kegiatan ini dapat berupa kegiatan intrakurikuler yang include dengan pembelajaran tertentu, atau kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di luar jam pembelajaran. Dukungan sekolah dapat dengan mengakan lomba-lomba internal sekolah (class meeting) yang berkaitan dengan hal itu, sembari mencari "bibit unggul" untuk kemampuan tertentu, yang dapat digunakan untuk "modal" mengikuti perlombaan-perlombaan antar sekeolah. (ans)

Menumbuhkan Kompetensi Berpikir Kritis

Mohamad Ansori

Salah satu kompetensi yang dijadikan target pencapaian pendidikan Abad 21 adalah critical thingking. Kemampuan ini sangat diperlukan siswa dalam kehidupannya di masa mendatang. Dalam kehidupan yang dinamis dan selalu berkembang, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan. Mengapa? Karena dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan distorsi, setiap kita harus bisa memastikan apakah sebuah informasi merupakan kebenaran atau hoax, apakah sebuah kebijakan yang diambil efektif atau tidak, atau apakah penyelesaian suatu masalah sudah tepat sasaran atau belum.


Menurut www.wabisabilearning.com definisi dari berpikir kritis sebagai sebuah pemikiran yang jelas, rasional, logis dan mandiri. Hal itu tentang meningkatkan pemikiran dengan cara menganalisis, menilai dan merekonstruksi. Pada saat menemui persoalan, seseorang yang telah memiliki critical thinking yang baik, tidak akan memutuskan sesuatu dengan gegabah. Ia akan mengumpulkan berbagai informasi dari sumber yang terpercaya dan relevan, membuat analisi, lalu memutuskan sesuatu berdasrkan analis rasioanl tersebut.


"Memaksakan" Pembiasaan

Mohamad Ansori

Ada pepatah, bisa karena biasa. Artinya, pendidikan salah satunya dapat dilaksanakan dengan pembiasaan. Atau, kebisaan dapat dilahirkan melalui pembiasaan. Anak yang disiplin, dapat lahir dari kebiasaan yang disiplin. Anak yang kreatif, dapat lahir dan kebiasaan orang tua dan guru untuk membuka kran kreativitas yang seluas-luasnya dalam pembelajaran. Anak yang rajin mengaji, lahir karena pembiasaan yang dilakukan orang tua dan gurunya untuk mengaji.

Anis Ibnatul M, dkk (2013) mengatakan bahwa pembiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu tersebut dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan adalah segala sesuatu yang dilakukan secara berulang untuk membiasakan individu dalam bersikap, berperilaku, dan berpikir dengan benar.

Semula, pembiasaan bisa berawal dari pemaksaan. Orang yang diberikan kebebasan untuk melakukan sesuatu, bisa jadi berpikir bahwa ia juga bebas untuk tidak melakukan sesuatu. "Pemaksaan" yang terencana dan terprogram dengan tujuan tertentu yang telah ditetapkan, dapat menjadi sarana untuk menghasilkan sesuatu yang dinginkan.


Tentang Trilogi Menulis

Menulis adalah kegiatan untuk menyampaikan pesan, pikiran, dan perasaan yang ingin disampaikan oleh penulis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Menurut Doyin (2009: 12) menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dipergunakan dalam komunikasi secara tidak langsung.

Dengan menulis orang seperti melepaskan beban pikiran yang tersimpan di dalam dada, sehingga ia akan merasakan "lego" setelah menulis. Namun demikian, baik buruk, menarik atau tidaknya tulisan, tergantung latar belakang, skill, dan pengetahuan penulis. Menulis merupakan salah kegiatan yang membuat kaya. Dalam konteks ini, kaya tidak harus berupa uang, tetapi kaya teman, pengalaman, pengetahuan, dan lain-lain.


Manusia Baru Pasca Pandemi

Mohamad Ansori

Pandemi Covid 19 memaksa semua orang mengubah pola pikir, pola kerja, dan pola belajar. Mau tidak mau, kerja dan belajar daring kita lakukan demi menghindari kerumunan masa, sebagai implementasi work from home. Berbagai persoalan muncul, baik dalam konteks guru, siswa, maupun orang tua.

"Pola pikir kita berubah positif. Paling tidak dari pola pikir ke-aku-an, menjadi ke-kita-an", demikian kata Prof. M. Nuh, dalam Halal bi Halal Online PWLP Ma'arif  Jawa Timur, Rabu tanggal 3 Juni 2020. Semula, banyak dari kita, terutama yang hidup di kota-kota besar, hidup secara individualis. Kita tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi dengan tetangga kita. Kita tidak pernah tahu apakah tetangga kita sudah makan atau belum, sehat atau sakit, dan seterusnya. Yang jelas, banyak orang berpikir nafsi-nafsi, yang penting urusan pribadinya selesai, titik.


Antara Sukses dan Bahagia

Mohamad Ansori

Hidup sukses harapan setiap insan. Di dunia orang ingin mendapatkan kebahagian dengan berupaya meraih cita-cita yang diinginkan. Ketika cita-cita itu dicapai, keinginannya terpenuhi, do'a-do'anya terkabul, seseorang akan menikmati "kepuasan". Kepuasaan itulah yang diharapkan dapat menghadirkan kebahagiaan pada diri dan keluarganya.

Namun demikian, tidak semua orang merasakan kebahagiaan pada saat ia sudah mencapai keinginannya itu. Banyak orang yang hidupnya menjadi kacau ketika ia sudah mencapai puncak karir yang diinginkannya. Banyak keluarga yang berantakan justru ketika kehidupan sosial ekonominya pada posisi yang sempurna. Keberhasilan mencapai keinginan, harapan, dan cita-cita ternyata tidak selalu linier dengan tercapainya kebahagiaan.


Keteladanan dalam Pendidikan

Mohamad Ansori

Salah satu persoalan dalam pendidikan adalah keteladanan. Mengapa, karena nilai-nilai pendidikan yang akan ditransfer pada seorang siswa, akan lebih mudah dimengerti, dipahami, dan ditiru setelah siswa melihat contoh nyata dalam kehidupannya. Sementara itu, "teladan yang baik" itu, hampir sulit ditemukan di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah kita.


Sebagai contoh adalah, ketika guru menasehati siswa untuk tidak terlalu banyak bermain HP, pada saat yang sama para siswa melihat gurunya memegang HP dan menggunakannya pada pembelajaran. Siswa tentu akan berpikir, "kita kok nggak boleh main HP, padahal Pak/Bu Guru main HP sejak pagi ya?" Tentu, nasehat itu menjadi tidak pas ketika masuk pada "pemahaman kritis" siswa.

Contoh lainnya adalah, ketika guru mendisiplinkan siswa untuk sholat berjamaah misalnya, adalah "aneh bagi siswa" ketika para guru justru tetap berada di kantor atau dikantin sambil merokok, setelah "nguyak-uyak" siswanya untuk sholat berjamaah. Hal ini, juga akan menghadirkan "kebingugan etik" dalam diri siswa.

Mencontoh keberhasilan Rasulullah Saw, kita dapat melihat bahwa keberhasilan dakwah dan tarbiyah Rasulullah Saw adalah karena keteladanan. Rasul merupakan teladan semua sahabatnya. Para sahabat merupakan teladan bagi para tabi'in, dan seterusnya.Rasullullah merupakan model pelaksanaan syariat Islam. Pad diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik, yang mana umat Islam tinggal mencontohnya.

Dalam Surah Al Ahzab ayat 21 Allah Swt berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, dijelaskan bahwa makna ayat ini adalah "telah ada bagi kalian (wahai orang-orang yang beriman) pada perkataan rosululloh sholallohu alaihi wasallam, perbuatannya dan keadaannya suri tauladan yang baik bagi kalian yang baik untuk kalian teladani. Maka peganglah Sunnahnya, karena Sunnahnya dipegang dan dijalani oleh orang-orang yang berharap kepada Allah dan kehidupan akhirat, memperbanyak mengingat Allah dan beristigfar kepadaNya, serta bersyukur kepadaNya dalam setiap keadaan.

Berdasarkan penjelasan di atas, persoalan-persoaln keteladanan di dunia pendidikan, harusnya dapat diminimalisir. Seorang guru bukan "tukang perintah", tetapi ia adalah teladan untuk melaksanakan perintah. Seorang guru perkataannya pantas diikuti, karena guru akan melaksanakan yang ia katakan, dan menjauhi apa yang dilarang olehnya. Seorang guru adalah orang yang senantias bersama-sama siswa, mendampingi siswa, membimbing siswa, dan mengarahkan siswa, baik pada jam-jam pembelajaran maupun di kesempatan lainnya.

Pertanyaannya, apa yang diteladankan dalam pendidikan? Tentu adalah nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Kalau guru ingin siswanya jujur, maka setiap perkataan dan perbuatan guru harus menunjukkan kejujuran. Jika guru ingin menanamkan kedisiplinan, maka setiap saat guru harus menunjukkan kedisiplinan, baik disiplin dalam bekerja, beribdah, maupun kegiatan lainnya.
Menjadi guru bukan hanya profesi. Menjadi guru tidak hanya berorientasi pada materi. Menjadi guru adalah menanamkan nilai. Semoga para guru, benar-benar bisa menjadi sosok yang bisa "digugu dan ditiru". Aamiin.

Wallahu'alam.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes