Olah Raga dan Matematika


Olah raga adalah mata pelajaran favorit hampir semua anak. Sorak sorai selalu terdengar ketika di dalam kelas bapak atau ibu guru meminta anak untuk keluar, berganti pakaian olah raga, dan segera menuju lapangan. Mengapa? Tentu karena pada saat berolah raga anak-anak dapat bermain, bersenda gurau, dan berkumpul dengan teman-teman di alam bebas.

Jika demikian, untuk menjadi mata pelajaran favorit tentunya ada beberapa hal yang bisa kita "contek" dari olah raga. Apa itu? Ya, bermain, bersenda gurau, dan di alam bebas. Tiga hal itu ternyata merupakan hal-hal yang paling disukai anak. 

Lantas, haruskan anak-anak selalu diajak bermain, bersenda gurau, dan belajar di alam bebas? Tentu saja tidak gaesss.... Tetapi, paling tidak, kita sudah mengetahui jika pola bermain, bersenda gurau, dan belajar di alam bebas, merupakan hal-hal yang sangat disukai anak-anak. Itulah anak, bermain adalah dunia mereka, bersenda gurau alias guyon adalah hobi mereka, dan alam terbuka merupakan favorit mereka.

Matematika dalam Pelajaran Olah Raga
Seorang guru kreatif, bisa saja mengajak anak-anak mengikuti outdoor classroom. Guru dapat memilih lapangan tempat berkumpul anak-anak. Lantas, meminta anak-anak untuk berbaris sesuai jumlah kehadiran. Misalnya saja, kelas jumlahnya 20 anak. Guru dapat meminta anak untuk berbaris 4 banjar, 5 baris. Kemudian meminta anak-anak untuk berhitung. Ya, tentu hasil akhir dari berhitungnya adalah 20. Tapi, tahukah bahwa dengan anak-anak membuat barisan dengan 4 banjar dan 5 baris kita dapat mengajarkan perkalian 4 x 5 = 20?

Kemudian, anak-anak diminta berkelompok. Misalnya, dengan berdasarkan nomer absen mereka. Yang nomor ganjil berkumpul dikiri guru, sedangkan yang nomor genap berkumpul di kanan guru. Berapa jumlah masing-masing kelompok? Tentu saja 10 orang. Karena jumlah anak 20, maka yang bernomor ganjil sebanyak 10 anak dan yang bernomor genap juga 10 anak. Disini, guru dapat mengajarkan pembagian sederhana, yaitu 20 : 2 = 10

Para guru dapat menggunakan pelajaran olah raga juga untuk mengajarkan matematika operasi pengurangan. Contohnya, seorang anak disuruh berdiri. Anak yang lain memperhatikan anak tersebut. Kemudian, guru meminta anak untuk maju 5 langkah. Kemudian mundur 2 langkah. Guru bertanya, sekarang anak tersebut pada posisi berapa langkah dari tempat semula? Anak-anak akan dengan mudah menjawab, yaitu pada posisi tiga langkah dari tempat semula. Sebenarnya, ini sedang mengajarkan bahwa 5 - 2 = 3.

Guru kreatif dapat menggunakan berbagai kesempatan untuk belajar. Matematika, IPA, IPS, dan semua muatan dalam pelajaran tematik dapat diajarkan dengan mudah oleh guru-guru kreatif. Tinggal, apakah kesempatan itu dapat dimodifikasi dengan baik atau tidak. Selamat berkreasi para guru!

Warna Hijau dan Kedamaian


Warna hijau sering disebut dengan warna kedamaian. Orang yang ingin merasakan kedamaian biasanya pergi ke hutan, sawah, ladang, atau padang rumput yang hijau, untuk mengistirahatkan mata dan pikiran. Melihat alam dengan dominasi warna hijau akan membuat hati dan pikiran tenang. Buktinya, banyak orang memilih bersantai di gubug sawah, di ujung lembah, atau di pinggir hutan, sekedar untuk menikmati kehijauan. Sungguh, ini tidak dalam rangka mencari "dalil" yang mendukung makanan yang berwarna hijau, klepon!

Seperti dijelaskan dalam Colour-Affects.co.uk, ada 4 warna utama yang mempengaruhi psikologi kita sehari-hari, yaitu merah, biru, kuning, dan hijau. Mereka memiliki keterkaitan dengan tubuh, pikiran, emosi, dan keseimbangan penting di antara ketiganya.

Saat mata melihat sesuatu yang hijau atau berwarna hijau, mata kita tidak perlu penyesuaian apapun, makanya kita terasa nyaman dan tenang ketika melihatnya. Ketika kita melihat warna hijau, kita akan merasakan kehadiran alam, seperti kehadiran adanya air, dan merasa aman karena rasa ancaman bahaya lebih sedikit.

Sementara itu, plus.kapanlagi.com, menjelaskan "warna hijau adalah warna yang identik dengan alam dan mampu memberi suasana yang santai. Berdasarkan cara pandang ilmu psikologi warna hijau sangat membantu seseorang yang berada dalam situasi tertekan untuk menjadi lebih mampu dalam menyeimbangkan emosi dan memudahkan keterbukaan dalam berkomunikasi dan warna hijau adalah aura untuk orang dengan tipe kepribadian plegmatis, yaitu kedamaian yang mendominasi di dalam diri seseorang tersebut. Orang dengan tipe kepribadian ini selalu bisa menjadi pengengah dalam setiap perbedaan, dan juga lebih memilih menghindari hal-hal yang berbau konflik".

Warna hijau menurut sagat Covid 19 juga merupakan warna kesyukuran. Betapa tidak, zona hijau adalah zona yang sangat diharapkan. Ketika berada di zona merah, kita harus membatasi banyak hal, karena kita berada dalam zona bahaya. Warna oranye membawa kita ke tingkat yang lebih aman. Sementara zona kuning membuat kita bertambah lega. Dan akhirnya, kalau kita berada pada zona hijau, tentu kita sudah bisa memulai normal baru yang kita impikan.

Bersyukurlah, orang-orang yang sering berkegiatan dengan dominasi warna hijau. Warna ini akan membuat kita merasakan damai dan nyaman. Namun demikian, motivasi bekerja tetap harus kita jaga. Merasakan kedamaian tidak berarti menurunkan motivasi dalam bekerja. Dalam artian, berada di "zona hijau" tidak berarti bahwa kita bisa nyantai-nyantai saja. Damai hati, kuat semangat dan motivasinya. Semoga kita semua segera berada di zona hijau! Aamiin.

Belajar Sain di Dapur Mama


Belajar dari rumah bermakna bahwa semua hal yang ada di rumah dapat digunakan untuk belajar. Dan, hal itu sangat mungkin dilakukan. Apalagi semuat tempat di rumah kita, sebenarnya merupakan sumber belajar yang bagus bagi anak-anak, baik dalam bidang studi sains, matematika, dan bidang studi lainnya. Paling tidak, banyak hal matematis dan saintis ada di rumah kita.

Dapur merupakan salah satu tempat yang tepat untuk belajar sains. Di dapur kita bisa belajar perubahan wujud benda, seperti perubahan air menjadi uap air (menguap), lalu uap air menjadi embun (mengembun), serta perubahan air menjadi es (membeku). Tinggal kita mengajak anak-anak mengamati hal itu, lalu mendeskripsikannya dalam sebuah teks yang terdiri dari beberapa paragraf.

Di dapur, anak-anak kelas 1 sekolah dasar dapat belajar tentang panca indera, salah satunya indra penciuman. Banyak bumbu dapur dan "empon-empon" untuk mengajar perbedaan bau antara satu bumbu dengan bumbu yang lain. Ibu dapat menjelaskan mana kunyit, jahe, kencur, mrica, bawang merah, bawang putih, dan sebagianya. Salah satu caranya adalah ibu menunjukkan semua benda lalu menyebutkan namanya. Setelah itu anak disuruh menutup mata, ibu mendekatkan bumbu ke hidung anak kemudian menyebutkan apa nama bumbu itu.

Contoh lain adalah mempelajari kalor. Ketika air dipanaskan di atas api, maka terjadi perubahan suhu pada air. Air yang tadinya dingin lama kelamaan akan menjadi panas. Ketika menerima panas dari luar, suhu air akan bertambah. Pertambahan suhu air mengakibatkan air menjadi panas. Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Air panas jika didiamkan lama kelamaan akan menjadi dingin. Kalor yang terdapat dalam air sedikit demi sedikit akan lepas dan suhu air akan turun. Air akan menjadi dingin.

Anak-anak juga bisa belajar tentang perpindahan panas di dapur. Kalor dapat berpindah melalui media. Media yang mudah menghantarkan panas disebut konduktor, sedangkan benda yang sulit menghantarkan panas disebut isolator. Kayu dan plastik merupakan bahan-bahan isolator. Sementara aluminium, besi, dan logam lainnya merupakan konduktor panas yang baik. Itulah mengapat pegangan tutup panci atau pegangan "sotil" terbuat dari kayu atau plastik, agar tidak cepat panas.

Intinya, banyak hal yang dapat dipelajari di dapur. Sain merupakan salah satu obyek yang dapat dipelajari dengan mudah di dapur. Banyak materi pelajaran yang dapat dipelajari secara kontekstual di dapur. Namun, dalam hal ini ibu harus mau "direpotkan" oleh buah hatinya. Semua kembali pada kemauan orang tua untuk mau melaksanakannya atau tidak.

Mengaitkan Sain dengan Akidah

ilustrasi : kompas.com
Akidah merupakan landasan pertama dan utama yang harus kita kuatkan pada diri anak didik kita. Mengapa? Dengan akidah yang kuat anak-anak kita akan terkondisikan pada track yang benar. Sehingga, mempelajari apa pun mereka nanti, atau menjadi apapun merek nanti, tetap akan menjadi orang-orang yang beriman. Utamanya mereka tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Tetapi justru menjadi dunia dan seisinya sebagai wasilah untuk mendekatnya dirinya pada Allah Swt serta menjalankan tugasnya beribadah dan mengabdi kepada-Nya.

Dalam Islam, menanamkan akidah yang kuat kepada anak-anak, merupakan kewajiban orang tua yang paling mendasarkan. Al Qur’an menggambarkan betapa Nabi Ya’kub sangat getol menanyakan kepada anak-anaknya tentang hal ini. Ketika anak-anak mereka dewasa, bahkan ketika Nabi Ya’kub akan meninggal, beliau tetap menanyakan, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Dalam Surah Al Baqarah ayat 133 Allah Swt berfirman, yang artinya: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dan guru, dalam menguatkan akidah anak, antara lain: 

Pertama, adalah dengan menceritakan kisah-kisah para nabi dan sahabat-sahabatnya, auliya, ulama, dan orang-orang sholeh, yang menceritakan bagaimana perjuangan mereka untuk mempertahankan akidahnya. Betapa mereka rela disiksa, dihina, bahkan sampai harus mengorbankan nyawa mereka untuk mempertahankan akidah mereka.

Kedua, adalah dengan membawa mereka ke dalam lingkungan yang baik dan benar, untuk mengaktualisasikan akidah. Misalnya dengan cara mengajak anak-anak ke masjid atau mushola untuk sholat jamaah, mendatangi majelis-majelis ilmu, dan sebagainya.

Ketiga, adalah mendorong anak untuk belajar dan berguru pada orang yang benar, dengan sudut pandang yang tepat, dan sering berdiskusi dengan orang-orang sholeh.

Lantas bagaimana menggunakan sains untuk menguatkan pembelajaran akidah? Atau, bagaimana menghubungkan sain dengan agama? Bukankah sain berkaitan erat dengan fakta dan pengetahuan sedangkan akidah lebih banyak berkaitan dengan keyakinan?

Fakta membuktikan bahwa beberapa ilmuwan Barat seperti Jacques Yves Costeau, Maurice Bucaille, Prof William Brown, Fidelma O'leary, Leopold Werner Von Ehrenfels, Keith Moore, Masaru Emoto, dam Tegatat Tejasen masuk Islam gara-gara riset yang dilakukannya sesuai dengan firman Allah Swt dalam al Quran al Karim. Artinya, sain seharus bisa mendekatkan orang pada Islam, bukan menjauhkannya. Oleh karena itu, orang tua dan para guru seharusnya dapat menghubungkan sains dengan Islam, khususnya akidah.

Para guru sekolah dasar, bisa saja menghubungkan sains dengan akidah dengan mudahnya. Contohnya, ketika di kelas 4 anak-anak telah belajar sistem peredaran darah manusia, anak-anak dapat mengetahui betapa rumitnya sistem peredaran darah yang ada pada manusia. Pada saat yang sama, peradaran darah itu telah tertata secara sistemik dengan sendiri. Bahkan ribuan bahkan jutaan pembuluh darah yang saling berkaitan dan “bersliweran” di seluruh tubuh manusia, dapat berjalan dengan baik tanpa campur tangan manusia sendiri. Akhirnya, kita dapat menyimpulkan betapa hebatnya Allah Swt telah mengatur semuanya.

Atau, pada saat guru membicarakan simbiosis mutualisme antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Pada siang hari, tumbuh-tumbuhan memerlukan CO2 dan mengeluarkan O2 dalam respirasinya. Sementara manusia dan hewan justru mengeluarkan CO2 dan membutuhkan O2 agar dapat bernafas. Sehingga, terjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan antara manusia dan hewan dengan tumbuh-tumbuhkan pada ekosistem yang secara alimiah telah disiapkan Allah Swt untuk kehidupan manusia.

Contoh lain adalah ketika guru kelas mengajak anak untuk praktek menanam. Biasanya para guru mengajak anak menyiapkan beberapa gelas plastik dan mengisinya dengan media tanam. Kemudian guru menyuruh anak-anak mengisinya dengan biji jagung atau kacang. Satu gelas diletakkan di tempat terbuka, satu gelas lagi ditempatkan di samping jendela, dan satunya lagi dimasukkan ke dalam almari atau kotak kayu yang gelap. Anak-anak diminta mengamati betapa terjadi perbedaan pertumbuhan dari masing-masing biji. Dari situ, guru dapat menghubungkan dengan akidah, yaitu dengan mengatakan betapa “sunnatullah” telah berlaku pada mereka. Yaitu dimana satu biji kecil dapat tumbuh menjadi tanaman jagung yang semakin tinggi, meskipun berada di tempat yang berbeda dan tentunya dengan kualitas pertumbuhan yang berbeda.

Berdasarkan contoh-contoh sederhana di atas, dapat disimpulkan bahwa para guru dengan pengetahuan dan akidah yang kuat, akan dapat dengan mudah menghubungkan peristiwa sain dengan akidah. Dalam artian, dengan kreativitas dan inovasi yang tinggi, serta dapat meletakkan sudut pandang yang tepat guru dapat menghubungkan sain dengan penguatan keyakinan akan eksistensi Allah Swt dan campur tangan-Nya dalam setiap bagian dari kehidupan kita. Sehingga, keyakinan anak pada Allah Swt akan semakin menguat.

Menguatkan Kecakapan Literasi Numerasi



Angka hampir tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Sejak bangun tidur kita melihat jam dinding kita akan melihat angka. Lalu kita shalat Subuh, tetap juga tidak bisa melepaskan diri dari angka, seperti jumlah raka’at, jumlah bacaan sujud, jumlah bacaan rukuk’, dan sebagainya. Setelah shalat ketika kita membaca dzikir dan kalimah thoyibah, tetap saja tidak bisa lepas dari angka.

Bayangkan, jika seseorang tidak mengenal angka, tentu ia akan mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Beberapa wirausahawan di masa lampau, meskipun beberapa diantaranya tidak bisa membaca huruf, tetap saja pandai dalam bermain angka, seperti menghitung pendapatan dan pengeluaran, menghitung omset dan kebutuhan, dan lain-lain. Artinya, kebutuhan manusia akan mengerti angka, dalam pengertian numerasi, adalah sangat penting untuk “kebaikan” hidupnya.

Oleh karena itu, dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan pada tahun 2017, literasi numerasi merupakan salah satu kecakapan yang sangat ditekankan. Menurut Andreas Schleicher dari OECD, kemampuan numerasi yang baik merupakan proteksi terbaik terhadap angka pengangguran, penghasilan yang rendah, dan kesehatan yang buruk. Keterampilan numerasi dibutuhkan dalam semua aspek kehidupan, baik di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat.

Menurut Kemendikbud dalam buku Materi Pendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN), definisi literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk: (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.

Di sekolah dasar, para siswa dikenalkan literasi numerasi sejak kelas 1. Bahkan di taman kanak-kanak, mereka sudah dikenalkan dangan simbol-simbol angka. Mereka mulai dikenalkan numerasi dengan menyebutkan jumlah tangan, kaki, mata, telinga, hidung, jari, dan seterusnya. Ketika lebih besar mereka akan mempelajari jumlah kaki ayam, kambing, sapi, dan binatang-binatang lainnya. Lebih lanjut, mereka juga kan diajari menambah dan mengurangin sesuatu yang diberikan pada mereka.

Seperti jika mereka punya permen kemudian sebagian dimakan, maka jumlah permen akan berkurang. Sedangkan jika ayah atau ibu membelikan permen, maka jumlah permen mereka akan bertambah. Intinya, sesuai kemampuan anak, numerasi diajarkan para guru dengan berbagai metode dan strategi yang digunakannya. Demikian seterusnya, di sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan perguruan tinggi, literasi numerasi akan selalu dikembangkan.

Namun demikian, hampir disemua tingkatan, literasi numerasi dalam bentuk pelajaran matematika, sering menjadi “momok” yang menakutkan. Baik siswa SD, SMP, SMA, dan bahkan para mahasiswa, masih memandang pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sulit. Oleh karena itu, para guru perlu merancang strategi yang terbaik, agar penguatan kecakapan literasi numerasi ini dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Di sekolah dasar, penguatan literasi numerasi tidak selalu dikaitkan dengan pelajaran matematika. Pelajaran-pelajaran kecakapan hidup, kewirausahaan, ketrampilan, bahkan seni dapat digunakan untuk menguatkan kecakapan literasi numerasi siswa. Tinggal bagaimana guru dapat memformulasikan kegiatan belajar yang menyenangkan tetapi tetap dapat menguatkan kecakapan literasi numerasi siswa.

Sebuah sekolah mengadakan bazar, untuk menguatkan kecakapan literasi numerasi siswa. Dalam bazar yang diadakan secara sederhana itu, siswa diminta menjadi penjual sekaligus pembeli. Sebagai penjual, para siswa secara berkelompok harus “urunan” sejumlah uang, untuk modal membeli barang dagangan. Dari barang-barang yang dibeli itu, siswa harus dapat menentukan berapa harga beli masing-masing barang. Setelah itu, mereka juga harus menentukan, berapa harga jual dari masing-masing barang yang akan dijajakan.

Selain mengasah kemampuan berwirausaha, disini para siswa juga belajar menentukan harga jual masing-masing barang, setelah ia membeli barang dalam jumlah banyak. Barang dagangan yang dibeli dalam ukuran dozen harus dirinci menjadi harga barang satuan. Kemudian ia harus dapat menentukan berapa harga jualnya, dan menghitung berapa laba yang diperolehnya, baik dalam bentuk nominal maupun persentase.

Setelah bazar selesai, para siswa harus membuat laporan. Laporan itu terdiri dari berapa barang yang dibeli dan berapa nominalnya, berapa barang yang terjual beserta nominal, dan berapa barang yang tersisa. Lebih lanjut, para siswa juga harus dapat mengembalikan modal kepada anggota kelompok, tentunya setelah itu ditambah berapa laba yang harus diterima masing-masing pemodal.

Berdasarkan uraian di atas, hanya dari sebuah kegiatan bazar kelas, kita dapat mengajarkan banyak hal tentang literasi numerasi. Para guru dapat memodifikasi berbagai kegiatan, agar penguatan kecakapan literasi ini dapat senantiasa ditingkatkan. Mengingat, modal kecakapan literasi numerasi ini sangat penting bagi kehidupan para siswa di masa mendatang.

Mengenalkan Organisasi di Sekolah Dasar



Kompetensi kolaborasi, yang merupakan salah satu kompetensi abad 21 yang harus dikuasai siswa, mensyaratkan seseorang dapat bekerjasama dengan orang lain, baik secara individu, maupun bersama banyak orang lainnya. Oleh karena itu, sejak dini guru sebaiknya mengenalkan siswa dengan organisasi.

Menurut Siagian pengertian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang / lebih yang saling bekerjasama serta terikat secara formal dalam rangka melakukan pencapaian tujuan yang sudah ditentukan dalam ikatan yang ada pada seseorang atau beberap orang yang dikenal sebagai atasan dan seorang atau kelompok orang yang dikenal sebagai bawahan. Intinya, organisasi adalah beberapa orang yang bekerjasama untuk meraih tujuan tertentu.

Pada umumnya, setiap kelas adalah organisasi. Di sekolah dasar, kelas adalah para siswa yang belajar bersama, dengan wali kelas, jadwal pelajaran, materi pelajaran, dan dalam ruang yang sama. Tujuan dari semua anggota kelas juga sama, yaitu untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan dengan melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Namun, tidak semua anak mengetahui bahwa mereka merupakan anggota organisasi yang bernama kelas.

Oleh karena itu, pada setiap awal tahun pelajaran, guru menjadwalkan adanya pemilihan ketua kelas, penetapan sekretaris dan bendahara, serta kelompok-kelompok piket. Pada intinya, hal ini adalah upaya untuk memperkenalkan organisasi pada anak. Dengan penataan struktrur kelas itu, anak mengetahui siapa pemipin di kelasnya, apa hak dan kewajibannnya, dan apayang menjadi tugasnya sehari-hari.

Di kelas, sebaiknya guru tidak hanya menata struktur kelas. Tetapi juga menunjukkan pada masing-masing posisi, akan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya. Dengan demikian, anak akan mengenal apa tugas seorang ketua, apa kewajiban sekretaris, dan apa kewajiban bagi semua anggota organisasi kelas.

Dalam situasi dan kondisi tertentu, dimana sumber daya dan hal-hal yang dibutuhkan, bahkan guru dapat memperkenalkan lebih dulu cara pemilihan ketua kelas yang demokratis. Dalam artian, jika jumlah siswanya cukup banyak, fasilitasnya ada, guru dapat membuat simulasi pemilihan umum dengan tujuan pemilihan ketua kelas. Di sekolah-sekolah unggulan hal ini sudah dapat dilaksanakan sehingga pemilihan ketua kelas layaknya “pilkada”.

Guru dapat menyiapkan keperluan yang dibutuhkan seperti surat suara, bilik suara, bahkan tahapan-tahapan pemilihan ketua kelas. Calon ketua kelas diminta membuat naskah pidato kampanye, sehingga sebagai kandidat ketua kelas, sang “calon” dapat menyampaikan pidato visi dan misinya.

Paling tidak, ada pembelajaran lain di luar pengenalan organisasi dalam kaitannya dengan pemilihan ketua kelas ini, yaitu antara lain: (1) siswa dapat mengikuti simulasi tahapan pemilihan, (2) calon dapat belajar berpidato untuk menyampaikan pesan di depan umu, (3) siswa mengetahui tata cara berdemokrasi, sebagai suatu sistem pemilihan yang sudah disepakati bangsa Indonesia, dan (4) melatih mental siswa untuk tidak merasa malu jika tidak terpilih, tidak sombong jika terpilih, dan menganggap pemilihan ketua kelas sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Namun, guru tetap harus hati-hati dalam menerapkan pengenalan ini. Guru harus benar-benar menyiapkan mental anak terutama mereka yang ikut dalam kompetisi. Anak harus benar-benar siap menang dan siap kalah. Selain, jangan sampai setelah itu muncul “kubu-kubuan” diantara anak-anak, karena hal itu tentu akan kontra produktif dengan tujuan kegiatan itu sendiri.

Literasi Lingkungan dalam Pendidikan

illustrasi : kompasiana.com
Salah satu tema perbincangan yang mengemuka di abad 21 adalah tema literasi lingkungan. Hal ini mengemuka seiring perkembangan buruk kerusakan lingkungan dan kekhawatiran banyak orang akan kondisi bumi di masa mendatang. Kerusakan lingkungan telah dianggap sangat parah sehingga global warming sangat dekat mengancam. Jika hal itu dibiarkan, bisa jadi dalam waktu yang tidak lama es di kutub akan mencair, dan bumi akan tenggelam.

Literasi lingkungan, mencakup beberapa pembahasan tentang beberapa unsur lingkungan. Menurut LPMP Yogjakarta, "literasi lingkungan yaitu mencakup kesadaran terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan secara bertanggungjawab dan bermakna bagi kehidupan. Peka terhadap dampak pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggungjawab terhadap kehidupan secara global. Perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan. Perubahan perilaku alam yang menyebabkan terjadinya anomali iklim, dan dampak-dampak terhadap lingkungan sebagai akibat ekploitasi alam. https://lpmpjogja.kemdikbud.go.id/strategi-pembelajaran-abad-)

Berdasarkan pengertian di atas, paling tidak kita harus menggaribawahi beberapa hal penting yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu: (1) kesadaran terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan, (2) dampak terhadap pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggung jawab, dan (3) dan perubahan iklim, serta dampaknya bagi anomali iklim.

Oleh karena itu, sejak dini, lembaga-lembaga sekolah baik di strata pra sekolah dan sekolah dasar, sekolah menengah, dan seterusnya, harus membicarakan hal-hal pokok tentang pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan. Lingkungan merupakan fasilitas yang telah disiapkan Allah untuk manusia, artinya itu hak manusia untuk memanfaatkannya. Namun demikian, pada saat yang sama manusia memiliki kewajiban untuk memelihara dan melestarikannya.

Di sekolah dasar, guru bisa mengawali pembelajaran tentang lingkungan, dengan mengajak siswa untuk mananam bunga di taman atau kebun sekolah, menjaga dan memeliharanya. Guru dapat membuat jadwal "perawatan" taman atau kebun sekolah, sehingga para siswa memiliki jadwal menyiram, memupuk, atau menyiram tanaman serta menyiangi rumput. Anak-anak juga diwajibkan menjaga kelestariannya dengan tidak bermain bola di sekitar taman. Di kelas, guru dapat mendiskusikan, memutar video, atau menunjukkan gambar-gambar yang mendeskripsikan kerusakan lingkungan akibat tidak terpeliharanya alam.

Selanjutnya, diskusi dapat dilanjutkan tentang terjadinya anomali iklim. Anomali iklim tersebut dapat menyebabkan curah hujan di bawah normal yang mengakibatkan kekeringan panjang ataupun curah hujan di atas normal yang mengakibatkan bencana banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya.  Di Indonesia, fenomena anomali iklim  yang umum dikenal dan paling dominan antara lain El NiƱo Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Sebagai tindak lanjut, diskusi dilanjutkan dengan langkah-langkah yang perlu disiapkan dalam menghadapi anomali iklim tersebut. Menghemat air dengan berbagai macam cara dan pendekatannya, merupakan salah satu cara mempersiapkan diri menghadapi kekeringan yang panjang. Lebih lanjut, dapat dijelaskan bagaimana menjaga kelestarian hutan dan reboisasi untuk mencegah timbulnya kekeringan. Sementara untuk menghadapi banjir, kita dapat mendiskusikan tentang menajga kebersihan lingkungan, membuang sampah di tempat yang tepat, normalisasi saluran air, dan seterusnya.

Mengkomunikasikan Kemampuan

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh anak didik kita di abad 21 adalah kompetensi komunikasi. Kompetensi ini tidak hanya menyangkut kemampuan dalam menguasai penggunaan teknologi informasi, tetapi juga penggunaan bahasa Internasional sebagai media utama dalam berkomunikasi. Tanpa itu, mustahil anak didik kita dapat berkomunikasi dengan orang lain di luar negeri. Padahal di abad 21 ini pergaulan dunia sudah tidak lagi terbatas ruang dan waktu, sehingga siapa saja dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan mudah, meskipun terpisah jarak ribuan kilometer jaraknya.

Suatu seorang, seorang anak muda kesulitan menjawab pesan yang disampaikan sebuah perusahaan besar yang ada di luar negeri. Anak ini memiliki kemampuan desain grafis yang sangat baik dengan mengunggah portofolionya di akun media sosial yang dimiliki. Ia seringkali menerima pesanan pembuatan karya grafis dari orang-orang disekitarnya, lalu meluas ke orang lain melalui jejerang media sosialnya, dan saat ini mulai ada perusahan besar skala internasional yang menawari kesempatan menunjukkan karyanya. Perusahaan itu mengirimkan surat elektronik dan mengatakan jika ia tertarik dengan karakteristik desainnya.

Sungguh, secara finansial, hal itu merupakan kesempatan yang besar sekali. Pendapatan tidak lagi diukur oleh rupiah, tetapi oleh US Dolar dengan standar pembayaran Amerika Serikat. Artinya, dengan sekali kerja pemuda ini akan mendapatkan berkali-kali lipat dari pendapatannya. Bayangkan, dengan kerja sekali dengan pendapatkan lebih dari sepuluh kali lipat. Siapapun akan tertarik untuk mendapatkannya. Tapi apa yang terjadi? Pemuda ini kesulitan menerjemahkan surel yang di dapatnya, dan tentu saja akan menghambat komunikasi berikutnya.

Kasus di atas menunjukkan, betapa kemampuan berkomunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Dunia ini sudah menjadi sangat sempit dengan adanya perkembangan sain dan teknologi. Kompetensi komunikasi, khususnya penggunaan bahasa Internasional, merupakan hal penting yang harus disiapkan, disamping menyiapkan kompentsi utama mereka. Banyak kesempatan yang terbuang karena kelemahan kita dalam berkomunikasi, banyak kerugian diderita perusahaan, gara-gara mis-komunikasi.

Di desa-desa, kita juga banyak menemui orang-orang kreatif dengan karya orisinil dan khas. Produk mereka bisa jadi tidak kalah bagus dengan produk-produk yang dihasilkan oleh orang lain di luar negeri. Petani-petani kita, dapat bercocok tanam dengan baik dan menghasilkan produk-produk yang luar biasa. Tanah Indonesia yang subur makmur merupakan tempat yang tepat untuk menanam hampir semua tanaman yang ada di dunia. Produk buah-buahan dan sayur di berbagai tempat di Jawa dan Sumatera, merupakan produk-produk yang unggul berkelas dunia.

Namun kenapa di pasar internasional seperti Singapura dan Arab Saudi produk buah kita tidak menguasai pasar? Salah satunya adalah karena petani-petani kita tidak menguasai teknologi informasi serta belum memiliki kompetensi komunikasi internasional yang mumpuni. Kita bukannya tidak mampu menghasilkan produk terbaik, tetapi kita masih belum berhasil mengkomunikasi produk terbaik kita itu. Kita bukannya tidak mampu, tetapi belum bisa mengkomunikasikan kemampuan kita.

Oleh karena itu, sejak dini seharusnya sekolah-sekolah sudah merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi internasional. Pembelajaran bahasa Inggris misalnya, bukan dalam rangka mempelajari bahasa orang lain, tetapi dalam rangka menyiapkan anak-anak kita agar dapat mengambil peran penting dalam percaturan dunia.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes