Disiplin Protokol Kesehatan dalam Pembelajaran Tatap Muka

foto : radartulungagung

Pemerintah telah memperluas izin pembelajaran tatap muka menjadi zona kuning dan zona hijau. Namun demikian, beberapa syarat harus dipenuhi oleh sekolah. Salah satunya adalah izin dari orang tua siswa. "Jika orang tua atau wali siswa tidak setuju, maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa," Kata Mendikbud Nadiem Makarim dalam rilis yang disampaikan Tim Komunikasi Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional, sebagaimana dimuat dalam https://kumparan.com/kumparannews, Sabtu (8/8) .

Selain itu, protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan. Penggunaan masker atau face shield, ketersediaan wastafel dan sabun, ketersediaan ruang yang cukup untuk phisical distancing, dan sistem belajar gantian (shift) juga harus diterapkan. Setiap kali masuk sekolah hanya boleh melaksanakan pembelajaran dengan 50% dari jumlah kapasitas kelas yang tersedia. Selain itu, juga tidak boleh ada kegiatan kerumuman seperti kerumunan di kantin atau kegiatan ekstrakurikuler.

Pro kontra pun mulai menyeruak. Para orang tua menyambut gembira karena durasi waktu pembelajaran daring menjadi berkurang. Mereka tidak terbebani lagi menjadi "guru" bagi anak-anak mereka yang ternyata sangat sulit dan membebani mereka secara mental. Para guru pun menyambut demikian. Kebolehan mengadakan tatap muka di sekolah memberikan kesempatan pada mereka untuk berinteraksi kembali dengan anak didik yang telah mereka rindukan.

Namun demikian, beberapa pihak menyayangkan keputusan ini. Hal ini disebabkan Pandemi yang belum reda dan siswa belum berada pada kondisi aman. Buktinya jumlah pertambahan kasus terkonfirmasi positif corona masih cukup tinggi. Dikhawatirkan masuknya kembali para siswa ke sekolah justru menimbulkan cluster baru penyebaran virus Corona.

Oleh karenanya, jika pada akhirnya pemerintah daerah dan wali murid melalui komite sekolah menyetujui pembelajaran dengan tatap muka, semua pihak harus bisa memberikan jaminan adanya penerapan protokol kesehatan yang disiplin. 

Seringkali komitmen itu luntur ketika pelaksanaan di lapangan. Dalam arti pada saat momen formal penerapan protokol kesehatan tampak baik, tapi realitanya banyak terjadi pelanggaran. Sebagai contoh orang banyak memakai masker ketika berfoto, tetapi justru melepasnya pada saat bercakap-cakap dengan orang lain.

Dengan pertimbangan besarnya bahaya paparan virus ini, pihak sekolah dan para siswa harus bertekad menjadikan protokol kesehatan sebagai hal penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan. Bukan hanya sebagai bagian agar tampak mengikuti aturan saja. Disiplin adalah vaksin, karenanya disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan adalah ikhtiar maksimal pencegahan penyebaran virus Corona.

0 Comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes