Belajar Mandiri dengan Modul Digital

gambar : youtube.com

Kemandirian merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal 3 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa : "pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".

Sebagai bangsa, kemandirian memiliki makna tidak ada ketergantungan suatu bangsa kepada bangsa lain. Sebagai peserta didik, kemandirian berarti bahwa peserta didik tidak tergantung pada orang lain dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tugas utama peserta didik adalah belajar, sehingga peserta didik yang mandiri ia akan merencanakan dan melaksanakan sendiri kegiatan belajarnya. Mereka tidak perlu menunggu perintah belajar dari orang tua atau guru untuk mengerjakan tugas belajarnya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian peserta didik adalah dengan pembelajran sistem modul. Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis yang di dalamnya memuat seperangkat alat belajar yang terencana dan didesain untuk membantusiswa menguasai tujuan belajar yang spesifik.Modul adalah program pembelajaran terkecil yang bisa dipelajari secara mandiri (self instructional) (Winkel,2009)
Menurut Suryaningsih (2010) sebagaimana dimuat dalam https://www.silabus.web.id/, kelebihan pembelajaran dengan menggunakan modul adalah sebagai berikut.
  1. Meningkatkan motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
  2. Setelah dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui benar, pada modul yang mana siswa telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
  3. Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester.
  4. Pendidikan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun menurut jenjang akademik.
Pembelajaran menggunakan modul diyakini dapat meningkatkan kemandirian pada siswa. Apalagi jika dikaitkan dengan akselerasi pembelajaran, dimana siswa dapat melanjutkan pembelajarannya jika telah menyelesaikan modul tertentu. Anak-anak "pintar" akan termotivasi dengan situasi kompetitif ini. Namun demikian, guru harus lebih perhatian terhadap anak-anak yang "tertinggal" dalam pembelajaran, karena justru itu akan membuatnya semakin tertinggal.

Namun demikian, pembelajaran dengan menggunakan modul juga memiliki beberapa kekurangan. Menurut Vembrianto (1981),  kelemahan pembelajaran menggunakan modul adalah:
  1. Kesukaran pada siswa tidak segera dibatasi.
  2. Tidak semua siswa dapat belajar sendiri, melainkan membutuhkan bantuan guru.
  3. Tidak semua bahan dapat dimodulkan dan tidak semua guru mengetahui cara pelaksanaan pembelajaran menggunakan modul.
  4. Kesukaran penyiapan bahan dan memerlukan banyak biaya dalam pembuatan modul.
  5. Adanya kecenderungan siswa untuk tidak mempelajari modul secara baik.
Beberapa kelemahan di atas, tentunya dapat dikurangi di era digital ini. Kelemahan-kelemahan di atas dapat kita atasi dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.

  1. Membangun jaringan komunikasi digital dengan para siswa, seperti menggunakan media whatsapp group, kaizala, telegram, dan lain-lain.
  2. Melakukan pengecekan perkembangan pembelajaran capaian siswa secara rutin.
  3. Memberikan petunjuk-petunjuk yang praktis pada setiap tugas modul yang diberikan.
  4. Pembuatan modul seharusnya tidak lagi ada kendala, ketika laptop dan jaringan internet sudah tersedia. Tinggal kemauan yang kuat dan kompetensi guru di bidang IT saja yang harus diperkuat. Penggunaan e-modul diharapkan dapat mengatasi kendala penyiapan modul tersebut.
  5. Melakukan monitoring yang disiplin terhadap pembelajaran mandiri yang dilakukan siswa.
Modul tidak harus dibuat dalam bentuk teks cetak. Para pendidik bisa membuatnya sebagai modul berbasis digital (e-modul), seperti dalam bentuk file pdf. Para siswa dapat menggunakan e-modul sebagai bahan belajar dan teks tugas, sedangkan pengertjaannya dapat menggunakan buku tugas biasa. Dalam kondisi tertentu, para guru dapat mem-break down e-modul dalam bentuk-bentuk terpisah dan menyajikannya menggunakan aplikasi google form, dimana para siswa dapat mengerjakan tugasnya secara langsung melalui google form ini dalam pembelajaran daringnya.




2 Comments:

prianto mengatakan...

Kreatif kang...

Kang Ansorie mengatakan...

matur nuwun

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes