Membangun Pendidikan Profetik

gambar : okezone muslim


Pengaruh negatif kehidupan modern dan kemajuan teknologi melanda semua tingkatan terutama peserta didik dan generasi muda pada umumnya. Era digital yang melingkupi semua lini kehidupan memberikan efek negatif berupa mundurnya nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak mulia. Kesibukkan orang tua yang menyita hampir seluruh waktunya untuk kepentingan pekerjaan, kegiatan sosial politik, dan lain-lain, merupakan salah satu pendorong munculnya kasus-kasus yang melibatkan peserta didik seperti perkelahian, minum minuman keras, narkoba, seks bebas, dan sebagainya. Dunia membutuhkan model pendidikan yang dapat mengendalikan persoalan-persoalan pendidikan karakter yang semakin menjauh dari kondisi ideal yang diharapkan.

Pendidikan profetik merupakan salah satu jawaban dari persoalan-persoalan yang dihadapi para orang tua dan guru untuk menghalau pengaruh buruk modernisasi. Pada intinya, pendidikan profetik adalah pendidikan yang meniru nabi Muhammad SAW. Istilah profetik ini berawal dari kata prophetic (kenabian atau berkenaan dengan nabi). Pendidikan profetik mengajarkan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw dalam konteks pendidikan. Dengan demikian pendidikan diarahkan pada duplikasi uswah hasanah yang telah diajarkan Nabi Muhamamd Saw.

Menurut Moh. Roqib dalam bukunya Filsafat Pendidikan Profetik; Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhmmad pendidikan profetik secara faktual berusaha menghadirkan nilai kenabian dalam konteks kekinian. Secara skematis bagaimana epistemologi, model integrasi dan koneksitas, serta pola bangunan pendidikan profetik. Zakiyah Daradjat, dkk, dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam, menjelaskan bahwa dengan paradigma profetik, pendidikan Islam diharapkan mampu mencapai puncak tujuannya yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman kokoh dan berilmu luas (ūlūl albāb) menjadi insan kamil.

Pada abad 21 ini, pendidikan seperti kehilangan ruh-nya. Pendidikan terkesan hanya berwujud transfer ilmu pengetahuan dengan tidak dibarengi transfer nilai-nilai kehidupan dan kebaikan. Dengan kata lain transfer of knowledge yang melaju lebih cepat melalui teknologi informasi, ternyata tidak bisa dibarengi transfer of value yang semestinya diajarkan dalam bentuk keteladanan dan interaksi antara guru dan murid.

Berbagai nilai yang tidak selaras, bahkan kontradiktif dengan ajaran dan nilai-nilai akhlakul karimah, masuk dengan mudah ke ruang belajar peserta didik tanpa adanya filter yang jelas. Peserta didik yang secara mental belum siap menerima nilai-nilai baru itu, lebih cepat menerima budaya-budaya yang "tak berbudaya" itu karena memang tampak lebih "asyik" dibanding dengan kebiasaan-kebiasaan  yang diajarkan para gurunya di sekolah atau madrasah. Sehingga gaya hidup baru yang lebih bebas akan dengan mudah diterima oleh para peserta didik.

Pendidikan profetik merupakan pilihan untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw. Tujuan pendidikan profetik adalah membangun peradaban yang berlandaskan akhlak yang mulia, yang berusaha "membumikan" ajaran Nabi Muhammad Saw dalam bentik perilaku nyata. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan, syariat, dan akhlakul karimah (perilaku yang mulia). Ketiga hal itu seringkali disebut dengan iman, Islam, dan ihsan.

Secara sederhana, menerapkan pendidikan profetik dilaksanakan dengan mengandalkan pembiasaan dan keteladanan. Para pendidik adalah contoh nyata para peserta didik untuk mencontohkan penerapan iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Para pendidik adalah contoh nyata pembiasaan mengerjakan syariat Islam, seperti shalat berjamaah, mengaji, menghormati orang tua dan menyayangi teman, bersikap sopan santun dalam pergaulan, dan sebagainya. Oleh karena itu pembiasaan-pembiasaan yang diajarkan di sekolah tidak saja diajarkan nilai-nilai itu, tetapi juga contoh nyata penerapannya. Oleh karena itu, terutama di sekolah dasar dan pra sekolah, para guru harus benar-benar dapat "menjaga diri" dihadapan para peserta didik.


2 Comments:

spirit-literasi.blogspot.com mengatakan...

Catatan yang menarik. Ikhtiar lewat pemikiran dan tindakan untuk memajukan dunia pendidikan harus terus dilakukan.

Kang Ansorie mengatakan...

siap ustadz...

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes