Mengkreasikan Pembelajaran Daring


gambar : kompasiana

Mohamad Ansori

Setelah lebih dari lima bulan pembelajaran daring dilaksanakan di sekolah, persoalan-persoalan mulai muncul, salah satunya adalah kebosanan. Siswa sudah merindukan pembelajaran tatap muka dimana mereka dapat berinteraksi, bersenda gurau, bermain, dan belajar bersama teman-teman. Bagaimanapun situasi dan kondisi pembelajaran tatap muka tetap saja tidak bisa digantikan seutuhnya oleh pembelajaran daring. Oleh karena itu, para guru harus memiliki kreativitas dan dapat membuat inovasi-inovasi pembelajaran daring.

Faktor utama penyebab kebosanan adalah banyaknya tugas yang dibebankan guru kepada siswa. Sejak awal siswa sudah belajar menggunakan lembar kerja siswa tercetak, sehingga guru tinggal memberikan instruksi untuk membaca halaman sekian dan mengerjakan tugas di halaman sekian. Demikian seterusnya, sehingga siswa harus mengerjakan sesuatu yang sebenarnya belum diajarkan oleh para guru. Sumber pengetahuan siswa adalah dari membaca buku siswa atau rangkuman materi dalam lember kerja siswa, dan setelahnya adalah mengerjakan soal-soal yang telah tersedia.

Sementara dalam pembelajaran tatap muka, mereka dapat mengklarifikasi hal-hal yang belum mereka pahami, berdiskusi dan bekerjasama dengan teman-temanya, serta bekerja kelompok sambil sesekali bersenda gurau. Di rumah, jika mereka tidak belajar sendiri, mereka harus belajar dengan para orang tua yang belum tentu semuanya guru, dan memahami ilmu mendidik. Para orang tua kebanyakan berorientasi pada hasil, yaitu anaknya bisa mengerjakan soal ini dan itu, sementara mereka juga tidak dapat menjelaskan secara detil seperti gurunya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dan manajemen sekolah diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan perbaikan kurikulum tingkat satuan pelajaran, dengan cara memilah dan memilih kompetensi dasar yang bisa diajarkan secara daring, dengan pendekatan urgensi, relevansi, kontinuitas, dan keterpakaian. Dengan kata lain, target capaian harus dikurangi, sebagai konsekuensi dari adanya masa darurat.
  2. Menggunakan mendia pembelajaran online sebagai alat pembelajaran, bukan semata-mata media penugasan. Guru harus bisa membuat video pembelajaran yang juga menampilkan "wajah guru" sehingga seolah-olah siswa sedang benar-benar berhadapan dengan gurunya.
  3. Mengubah penugasan berbasis soal dengan penugasan kreatif seperti membuat hasta karya, melakukan kegiatan, atau membuat mind map, kemudian siswa mengirimkan video kegiatannya kepada guru. Untuk memberikan penghargaan pada karya siswa itu, para guru dapat mengunggah videonya di website atau akun media sosial sekolah. Dengan demikian siswa akan merasa dihargai hasil karyanya. Ini merupakan salah satu reward yang diberikan pada siswa akan karya-karyanya.
  4. Jika memungkinkan secara teknis, seperti tersedianya jaringan internet yang bagus dan ketersediaan laptop atau smarphone yang mendukung, guru juga dapat memanfaatkan aplikasi video conference yang marak digunakan dimasa pandemi ini, seperti zoom cloud meeting, google teams, cisco webex, skype, dan lain-lain. Selain itu penggunaan google form untuk kuis dan diperkuat dengan penggunaan google classroom tentu akan membuat pembelajaran daring lebih menarik.
Namun demikian, persoalan baru akan muncul. Salah satunya adalah kompetensi guru di bidang teknologi informasi. Untuk menyajikan media pembelajaran yang menarik, seorang guru tidak hanya harus kreatif dalam merancang media pembelajaran, tetapi juga harus mahir dalam mewujudkan dalam bentuk video pembelajaran yang menarik. Jika tidak, media pembelajaran dalam bentuk video yang dibuat guru, kembali akan menjadi tampilan yang tidak menarik atau bahkan monoton.

Oleh karena itu, kepala sekolah juga harus terlibat dala upaya guru berkreasi dalam pembelajaran daring ini. Kepala sekolah dapat menginisiasi kerjasama dengan pihak lain seperti tenaga ahli, lembaga kursus, atau komunitas-komunitas desain grafis dan animasi, untuk membimbing guru dalam pembuatan video pembelajaran. Kelompok kerja guru (KKG) juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan kompetensi guru dibidang teknologi informasi.








2 Comments:

prianto mengatakan...

Harus menjadi guru kreatif

Wijaya kusumah mengatakan...

https://www.essaipendidikan.club/2020/08/mengkreasikan-pembelajaran-daring.html peserta lomba blog nomor 116

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes