Antara Guru, Siswa, dan "Mbah Google"

 



Istilah mbah google muncul sejak mesin pencari google menjadi andalan banyak orang untuk mencari informasi tentang banyak hal. Google mengusai market share sampai 92,5% sedangkan bing hanya memperoleh 2,83% dan yahoo sebesar 1,65%, Sisanya dibagi mesin pencari lain yang juga banyak bertebaran di dunia maya.

Mbah google merepresentasikan sebutan "kakek segala tahu" sehingga semua infomasi dapat dengan mudah di dapatkan di mesin pencari tersebut. Oleh karena itu, google menjadi sangat penting perannya bagi semua orang karena informasi lama maupun baru dapat diperoleh dengan mengetikan beberapa buah kata kunci di google. Google lalu memunculkan berbagai alternatif terdekat berdasarkan kata kunci yang kita ketikkan.

Pada masa Pandemi Covid 19, peran google di kalangan siswa menjadi semakin dominan. Pembelajaran daring memaksa anak-anak belajar sendiri di rumah, tanpa guru yang mendampingi. Para guru biasanya hanya memberikan tugas yang diiringi dengan ringkasan materi atau medai pembelajaran berbasis video kepada siswa. Selebihnya para siswa harus berusaha memahami sendiri materi yang dipelajari, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru, dan menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan.

Oleh karena itu, fokus pun berganti. Jika di kelas para siswa bertanya pada guru tentang apa yang tidak dipahami, dengan pembelajaran daring para siswa lebih banyak bertanya pada google untuk mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya. Alhasil, selama enam bulan terakhir para siswa akrab dengan "si embah" daripada pada para gurunya. Realitas ini, tentunya menyisakan beberapa persoalan. 

Pertama, ketergantungan siswa pada google untuk mencari jawaban dari semua persoalannya adalah hal yang harus kita ceramati. Kita tahu, google hanya menunjukkan tempat dimana informasi itu ada. Menghubungkan dengan situs yang memuat materi yang ditanyakan siswa. Tetapi, tidak ada jaminan apakah jawaban dan pemahaman itu benar atau tidak. Sementara tidak semua siswa mengetahui situs-situs sumber belajar yang verified sesuai dengan yang diprogramkan oleh kementrian pendidikan.

Kedua, siswa lebih suka mendapatkan jawaban daripada mempelajari dan memahami materi dari awal. Sehingga mereka lebih hanya mengetahui jawaban tanpa mengetahui darimana jawaban itu berasal, bagaimana konsep berpikirnya, atau dari sumber mana jawaban itu berasal. Intinya, semua didapatkan siswa secara instant.

Ketiga, ketergantungan siswa akan smartphone akan semakin meningkat. Telepon pintar itu tidak lagi menjadi barang komplementer tatapi suatu saat akan menjadi kebutuhan primer para siswa. Realitasnya, hal ini juga dialami para orang dewasa dimana handphone merupakan salah satu barang wajib yang harus dibawa kemana saja mereka pergi. Ketinggalan handphone atau handphone yang low bat pada masa sekarang ini telah menjadi suatu persoalan besar bagi banyak orang dewasa.

Namun demikian, dibalik ancaman yang cukup serius itu, para orang tua dan guru memiliki secercah harapan menghadapi situasi ini. Para siswa memastikan diri bahwa mereka sudah tidak gagap dengan teknologi informasi. Artinya, pada era dimana peran teknologi informasi sangat dominan, para siswa telah memiliki kesiapan kompetensi teknis dalam bidang teknologi informasi. Hanya saja, ke depan para siswa harus dimotivasi untuk tidak puas menempatkan diri sebagai pengguna, tetapi juga trampil menjadi provider atau producer aplikasi yang mereka butuhkan sendiri. 

Dalam artian, posisi awal ini dapat digunakan untuk mencuri start memanfaatkan bonus demografi di sekitaran tahun 2045, yang mana mensyaratkan kepemilikian kompetensi di bidang IT bagi siapa saja yang ingin mengambil peran penting dalam percaturan dunia, disamping penguasaan cross cultural understanding dan international language mastery agar mereka dapat mengikuti pergaulan dunia dengan sebaik-baiknya. (ans)




2 Comments:

prianto mengatakan...

Sangat lengkap artikelnya kang ansori... isinya mantap

Kang Ansorie mengatakan...

thanks Mas Pri...

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes