Belajar Apa pada Ayah?



Tentang orang tua, seringkali kita lebih banyak terfokus pada ibu. Kasih sayang yang besar, berlaku unlimited dan unconditionally, selalu ada untuk kita, dan do'anya yang dikabulkan Allah Swt. Ibu mengasihi, menyayangi, mendidik, dan membimbing anak-anaknya sejak ia masih di dalam kandungan. Sebelum ibu meninggalkan dunia, beliau tidak akan melepaskan semuanya dari anak terkasihnya.

Tapi, kita tidak boleh lupa, ibu bukan satu-satunya orang tua kita. Ayah kita adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan kehidupan kita. Beliaulah yang menjadi garda terdepan dan benteng terakhir untuk mengatasi persoalan-pesoalan yang muncul dari ulah kita. Ayahlah yang bertanggung jawab akan nafkah seluruh keluarga, termasuk terhadap ibu kita. Meskipun, karena tugas dan pekerjaan, kita jarang berada dalam satu waktu dan tempat yang sama dengan ayah kita. Tetap saja, apa yang beliau lakukan di luar sana adalah langkah-langkah perjuangan untuk keluarga.

Melihat Sifat Ayah

Seringkali ayah tidak memiliki sifat yang lembut. Ayah adalah sosok yang kasar, tegas, disiplin, dan bisa saja berbuat agar "tega" kepada anak-anaknya. Beberapa ayah bahkan tega menghukum anaknya secara fisik karena kenakalannya. Namun, tetap saja apa yang dilakukan ayah adalah karena kasih sayangnya kepada anak.

Ayah bersifat keras, karena itulah kehidupan yang dialaminya. Ia juga ingin mengajari kepada anak-anaknya bahwa di luar sana, tida selalu kita menemukan kelembutan dan kasih sayang. Kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki sifat yang jauh dari itu. Orang-orang yang hidup dalam dunia keras dan kasar, yang mana kita juga harus bisa menghadapinya.

Ayah bersifat tegas dan disiplin, karena ayah tidak ingin anaknya menjadi pemalas dan tidak menghargai aturan. Ayah ingin kita taat pada aturan Allah Swt dan rasulullah, aturan pemerintah, norma-norma di masyarakat, dan seterusnya. Aturan itu untuk dijalankan, bukan dilanggar. Tanpa ketegasan dan kedisiplinan kita akan menjadi manusia yang "sak enak e dhewe". Ayah tidak ingin kita menjadi orang-orang yang tak karuan apalagi tak beraturan (irregular). Ayah mau kita menjadi sosok yang tertib pada aturan sehingga kehidupan dapat berjalan dengan baik dan benar.

Ayah adalah orang yang bertanggung jawab. Ayah harus bertanggung jawab pada semua kenakalan kita. Sehingga, ketika ada orang yang merasa dirugikan oleh ulah kita, tetap saja ayah yang harus bertanggung jawab, meskipun beliau tidak melakukannya. Ayah bertanggung jawab akan terpenuhinya nafkah keluarga, sehingga apapun dilakukan untuk memenuhi kewajibannya itu. Ayah bisa menjelma menjadi kuli, menjadi buruh, dan semua pekerjaan berat lainnya, hanya untuk melakukan tanggung jawabnya itu.

Belajar Apa dari Ayah?

Dari caranya memperlakukan kita, seringkali ayah dan ibu melakukan hal yang berbeda. Ibu mendekap kita di dadanya, ayah mamanggul kita di pundaknya. Ibu ingin menunjukkan kasih sayangnya, ayah ingin mengajari anak-anaknya untuk melihat dunia. 

Ketika jatuh, ibu akan berlari, mendekap anak kecilnya, mengobati luka, dan menentramkan hatinya agar ia tidak risau akan rasa sakit yang dialaminya. Ayah lain lain. Beliau tidak serta merta merengkuh kita, tetapi justru menyuruh kita bangkit sendiri, dan belari lagi. Ayah ingin menunjukkan pada kita, bahwa dunia tidak bisa diratapi. Jatuh bangun adalah hal yang biasa. Kalau jatuh, ya bangkit lagi. Tetap semangat untuk melihat masa depan.

Ayah mengajari kita kuat, semangat, bertanggung jawab, disiplin, dan tegas dalam menghadapi persoalan hidup. Hal itu adalah hal-hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena kehidupan kita memerlukannya. Bagi ayah yang masih bersama kita, semoga ayah kita tetap diberikan kesehatan dan panjang umur. Namun, bagi ayah yang sudah menghadap Allah Swt, semoga Allah memberikan maghfirah dan ampunannya. Aaamin.

#kangenbapak


0 Comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes