Hobi Sekolah

 



Belajar tidak mengenal batas usia. Sejak kecil sampai dewasa bahkan hingga kita berusia lanjut, tetap saja diperintahkan untuk belajar. Belajar adalah "laku" mulia yang memang harus kita lakukan. Dengan belajar dan belajar, diharapkan kita menjadi lebih baik dalam menjalankan tugas kita sebagai manusia. 

Belajar tidak harus melalui bangku sekolah. Masjid, mushola, majelis taklim, bahkan disemua tempat dimana disitu ada kebaikan yang diajarkan, kita dapat mengikuti proses pembelajaran. Namun demikian, sebagaian orang, tetap memilih lembaga formal untuk belajar. Sehingga banyak orang yang memiliki gelar S1 lebih dari satu, gelar S2 lebih dari dua, dan seterusnya.

Dilansir pada tempo.co pada tanggal 17 Agustus 2019, beberapa orang Indonesia memiliki gelar yang luar biasa. Dosen tetap di Universitas Tarumanegara Jakarta, Yenita, tengah menjadi perbincangan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya gelar akademik yang dimiliki, dengan satu sarjana, 10 master, dan dua doctor. Namanya pun menjadi Dr. Dr. Yenita SE, MM, MBA, M.Si, MT, MH, MPD, MAK, ME, MIKOM, MMSI. 

Selain Yenita, masih ada beberapa lagi seperti Welin Kusuma dengan 13 gelar akademik dan 14 gelar profesi, sehingga namanya menjadi Welin Kusuma ST, SE, S.Sos, SH, S.Kom, SS, SAP, S.Stat, S.Akt, S.Ikom, MT, MSM, M.Kn, RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, Aff.WM, BKP, QWP, CPHR, ICPM, AEPP, CBA, CMA, CPMA, CIBA. Kemudian M. Achsin (Dosen Unibraw Malang) yang namanya menjadi Dr. Dr. Mochammad Achsin SE, SH, MM, M.Kn, M. Ec. Dev, M.Si, Ak, CA, CPA. Sementara Frans Astani, seorang notaris dan pejabat pembuat akta tanah di DKI Jakarta namanya menjadi Dr. Dr. Ir Franz Astani, SH, SpN, M.Kn, SE, MBA, MM, M.Si, CPM.

Sebegitu pentingkah gelar akademik bagi seseorang? Jawaban dari pertanyaan itu tentu sangat relatif.


Seseorang bisa saja menjawab iya, sangat penting. Gelar adalah bukti otentik dari keberhasilan seseorang menempuh jenjang pendidikan formal dan profesi tertentu. Memiliki gelar berarti ia telah berhasil mengikuti pembelajaran dengan beban, waktu, tantangan, ujian, dan tugas-tugas lain yang harus ia selesaikan selama mengikuti pendidikan. Apalagi, jika gelar itu diperoleh dari sebuah perguruan tinggi yang bonafit dimana kualitas pembelajaran disitu memang terakreditasi dengan baik, tentu merupakan kebanggan tersendiri. 

Perguruan-perguruan tinggi dengan nilai akreditasi A tentu memiliki keunggulan-keunggulan dibanding yang masih memiliki akrediatasi B atau bahkan C. Artinya, dari sisi kualitas pembelajaran, tugas, dan tantangan yang diberikan di perguruan tinggi tersebut memiliki standar yang lebih tinggi. Secara umum, kualitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut seharusnya juga lebih baik.

Sementara sebagian orang lainnya tidak menganggap gelar akademik sebagai sesuatu yang penting. Apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan dalam kehidupan nyata. Soft skill dan hard skill yang dimiliki seseorang jauh lebih penting daripada gelar akademiknya. Enterpreneur handal tanpa gelar akademiki seringkali lebih mampu menjadi manajer bagi perusahaannya daripada lulusan fakultas ekonomi jurusan manajemen bisnis. Beberapa pemimpin perusahaan besar, seperti pendiri perusahaan rokok PT Gudang Garam misalnya, bukanlah orang-orang yang dilahirkan dari bangku kuliah jurusan ekonomi, tetapi dari tempaan pengalaman kehidupan berwirausaha yang ulet dan handal. Berdasarkan realitas-realitas itu, kita tetap saja tidak dapat menjustifikasi mana yang lebih penting antara gelar atau keahlian. Semuanya penting dalam konteksnya masing-masing. 

Tetapi paling tidak, kita harus mengakui, minat belajar orang-orang dengan sederet gelar akademis merupakan contoh baik yang harus menunjukkan betapa belajar tidak mengenal batas usia. Siapa saja dan kapan saja, belajar tetap merupakan hal baik yang harus dirawat. Salah satu sabda Nabi Muhamamad Saw yaitu  : أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ, yang artinya: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”

Setiap orang memiliki kegemaran. Mungkin, orang-orang dengan gelar yang "seabrek" itu adalah orang-orang yang memang kegemarannya belajar. Jika orang lain memiliki hobi bermain sepak bola, menyanyi, bersepeda, memancing, dan lain-lain, maka bisa jadi kalau kita bertanya pada beliau-beliau itu, mereka akan menjawab, "Hobi saya sekolah"! (ans)


0 Comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes