SUDUT PANDANG




Segala sesuatu harus dipandang secara proporsional. Sudut pandang seseorang terhadap sesuatu sangat menentukan penilaiannya terhadap sesuatu itu. Orang-orang yang bijak, harus dapat memandang segala sesuatu dengan cakrawala pandang yang luas sehingga dapat melihat suatu objek dari satu sudut yang terbaik. Agar kita dapat melihat sesuatu itu dari sisi kelebihan, bukan kekurangan.

Mengapa? Melihat kelebihan menimbulakn syukur. Melihat kekurangan menghasilkan kekecewaan. Padahal pada segala sesuatu, pastilah ada kelebihan dan kekurangannya. Termasuk, ketika para guru melihat siswa-siswanya. Misalnya, apakah siswa ini yang terbaik? Bisa jadi YA, dalam satu sisi. Tapi, apakah ia juga terbaik dalam hal yang lainnya? Belum tentu.

Demikian juga melihat kekurangan siswa. Siswa ini sangat sulit diajari, tidak konsentrasi, dan pasif di dalam kelas. Nilai-nilainya jelek semua. Dalam setiap ujian, ia selalu mendapatkan nilai terendah dari semua siswa di kelas. Lantas, apakah kita dapat menjustifikasi sebagai siswa terburuk di kelas? Inilah pentingnya meletakkan sudut pandang yang tepat, dan penilaian yang holistik terhadap sesuatu.

Melihat dari Ranah yang Berbeda

Di pinggi sawah yang hijau ranau dengan hamparan padi yang luas dan subur, berdiri beberapa orang dengan latar belakang yang berbeda. Mereka adalah petani, seniman, pedagang, dan kontraktor. Petani mengatakan, "Alhamdulillah...senangnya hatiku melihat padi yang tumbuh subur ini, bagaimana yang merawatnya, apa pupuknya, berapa lama masa panennya, berapa hasil produksi per hektarnya, berapa pekerja yang dibutuhkannya?" tanya si Petani dalam hati.

Sementara si seniman berkata lain dalam hatinya, "Indah banget sawah ini ya? Luas, teratur, sejuk, dengan background gunung. Wah, aku harus melihat semuanya, nanti akan kuabadikan dengan kuas dan canvas, agar semua orang bisa menikmatinya".

Si pedagang tentu akan berpikir lain. Ia akan mulai menghitung berapa biaya operasional pemanennya, berapa harga gabah basah atau keringnya, berapa ton yang dihasilkan dari sawah se luas itu, bagaimana trasportasi pengiriman dari sini ke pasar, berapa untung yang akan diperoleh, dan seterusnya.

Adapun sang kontraktor ternyata juga memiliki pemikiran lain. Ia akan berpikir di lahan seluas itu ia akan membangun perumahan. Ia sudah mulai mendesain di mana jalan masuknya, letak taman, jumlah unit, ukuran per unit dari setiap unitnya, berapa jenis unitnya, berapa harga per unitnya, apa konsep pembangunan kawasannya, dan seterusnya.

Dari satu obyek yang sama, kita dapat melihat betapa begitu banyak sudut pandang yang bisa diambil. Semuanya berdasarkan ranah berpikir dan latar belakang yang berbeda. Sudut pandang yang berbeda-beda itu perlu mendapatkan jembatan komunikasi yang tepat sehingga tidak terjadi konflik.

Sudut Pandang Guru

Para guru harus memiliki sudut pandang yang menyeluruh. Dari semua contoh di atas, para guru harus melihat dari sudut yang paling atas. Para guru harus dapat memahami alasan petani, seniman, pedagang, dan kontraktor. Sehingga, ia dapat bersikap arif dan bijaksana.

Setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan. Bisa jadi si Fulan lemah dalam matematika, tetapi mungkin ia baik dalam bahasa. Si Fulanah lemah dalam hafalan, tetapi baik dalam pengertian. Si Badu lemah dalam bidang akademis, namun bisa jadi ia hebat dalam bidang non akademis.

Dengan begitu, para guru dapat memberikan penilaian yang holistik untuk para siswa. Yang akhirnya, semua potensi dihargai, semua prestasi diapresiasi.

2 Comments:

prianto mengatakan...

Keluasan sudut pandang

Mas Guru mengatakan...

Leres...

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes