Tentang Outline dan Pencegahan "Macet" Menulis

Pelatihan menulis, tetap menarik dibawah kendali pakar literasi Dr. Ngainun Naim. Materi tip dan trik menulis hampir tidak pernah membosankan dengan nara sumber Ketua LP2M IAIN Tulungagung ini.

Hari itu, Minggu 4 April 2020 dalam sebuah perhelatan diklat literasi yang diselenggarakan oleh Fatayat NU Tulungagung, beliau kembali memberikan petunjuk teknis menulis di hadapan peserta diklat. Diklat yang dilaksanakan di Aula Dispendikpora Kab. Tulungagung itu, diikuti sekitar 50 peserta dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.

"Sebelum menulis, sebaiknya seorang penulis  menyiapkan outline" Kata Pak Naim, sebutan akrab beliau. Outline adalah garis besar dari apa yang akan kita tulis. Outline berisi poin utama dari naskah yang akan kita tulis. Ini semacam "ancar-ancar" penulis untuk menuangkan pikiran kita.

Dalam sebuah outline, umumnya terdapat beberapa poin wajib. Pendahuluan/prolog, isi, dan penutup atau kesimpulan. Isi bisa terdiri dari beberapa poin utama materi yang kita tulis. Tentu saja tergantung materi utama yang hendak kita tulis.

Ouline sebuah tulisan sangat penting untuk menjaga agar tulisan kita tetap on the track. Selain itu sangat bermanfaat untuk mengarahkan penulis fokus pada materi tulisan. Outline sangat membantu para penulis pemula agar tidak mengalami writer's block.

Writer's block atau kemandegan pada saat menulis. Para penulis yang belum terampil akan sangat terganggu dengan kondisi ini. Jika writer's block terjadi berkali-kali dimungkinkan penulis penulis pemula akan patah semangat dan pada akhirnya berhenti menulis.

Pada setiap penulis outline dapat dibuat secara berbeda. Seorang penulis mungkin menyukai outline dalam bentuk tabel. Penulis lain lebih menyukai outline dalam bentuk numbering.


Menulis, Aku Kangen


Lebih dari 1 bulan, aku tidak mengunjungi blog-ku sendiri. Jika dikumpulkan, lebih dari "satu ember" alasan yang bisa kuberikan. Urusan sekolah, kegiatan masyarakat, urusan rumah tangga dan pekerjaan, dan banyak lagi yang lainnya. Urusan-urusan yang bukan urusanku saja, juga bisa menjadi tambahan alasan untuk menjadikannya lebih dari satu ember. Hehe...

Sebenarnya, tidak ada yang dirugikan juga, kecuali aku sendiri. Betapa tidak, hal ini berarti produktivitasku akan berkurang. Satu hari satu tulisan tidak lagi pernah tercapai. Bagaimana bisa genap tiga ratus enam puluh artikel dalam satu tahun jika tidak lagi setiap hari aku menullis? Terngiang kembali dawuh para ulama, menjaga istikomah memang sangat berat adanya.

Mengapa tidak berhasil menulis?

Ada beberapa alasan mengapa orang tidak berhasil menjaga konsistensinya dalam menulis, antara lain:

Pertama, tidak fokus. Siapapun kita, apapun kita, dimana pun kita, fokus tetap menjadi sesuatu yang sangat penting. Fokus menulis sebenarnya tidak memerlukan banyak waktu. Sepuluh sampai lima belas menit dapat menghasilkan lebih dari 200 kata jika kita fokus. Sebaliknya, tanpa fokus yang kuat, seharipun tidak akan cukup untuk menulis lima paragraf.

Kedua, gangguan. Setiap kita akan menghadapi gangguan yang bisa saja datang dari mana saja, atau dari siapa saja. Pas konsentrasi hampir selesai, tiba-tiba tamu datang, anak menangis, listrik padam, laptop hang, atau tiba-tiba tetangga memutar musik cadas yang keras dengan sound system 10.000 mega watt. Byar....! Buyarlah semua. Gagal maning...gagal maing. 

Oleh karena itu, tidak saja kemampuan merangkai kata, menginisiasi kalimat, atau menyusun paragraf yang diperlukan penulis, tapi juga kemampuan mengelola "gangguan" yang bisa datang darimana saja dan kapan saja.

Ketiga, kehilangan ide. Yah, ide memang dapat datang darimana saja. Tetapi, pada umumnya kita tidak segera menuliskan ide yang kita dapatkan secara cepat untuk secepatnya pula menjadi tulisan. Sehingga, kita kehilangan ide itu lagi ketika sudah datang tema lain diwaktu berikutnya. Maka, sesegera mungkin menuliskan ide, atau paling tidak mencatatnya menjadi sebuah outline tulisan, akan menjadi cara yang menarik untuk tidak kehilangan sesuatu yang berharga.

Keempat, kurang bahan. Mengapa sampai kekurangan? Ibarat toko, jika setiap hari kita menjual barang tanpa "kulakan", ya habislah dagangan kita. Saatnya kita menambah stok barang toko kita, dengan membaca, melihat, mengamati, bahkan membuat pengalaman baru. Membaca membuat kita kaya dengan kata-kata dan kalimat. Dari kata-kata sumber baca kita itu, akan sangat mudah bagi kita untuk memodifikasinya menjadi kata-kata dan kalimat kita sendiri dengan ciri khas yang kita miliki.

Apakah ini plagiat? Tentu tidak. Selama kita sudah memodifikasinya, mengembangkan ide dasarnya, merangkai kalimatnya dengan kalimat-kalimat baru kita, tentu ini sudah termasuk dalam ATM (amati, tirukan, dan modifikasi), hehe.

Melihat, mengamati, bahkan mengalami sendiri berbagai hal dalam kehidupan, tentu juga akan menjadi sumber ide menulis yang sangat banyak. Melihat, mengamati, dan mengalami sendiri berbagai kejadian dalam hidup tentu membuat kita lebih mudah menuangkannya dalam tulisan daripada hanya membayangkannya saja. Kita tinggal menuliskan apa yang kita lihat, amati, dan alami, maka jadilah tulisan kita. Semoga.



Brain Fog

Pernah mengalami "blank"? Atau tiba-tiba lupa ingin mengatakan sesuatu, pada saat kita sedang bercakap-cakap dengan teman kita. Bahkan, sesuatu yang semua orang sebenarnya tahu seperti benda-benda yang ada di sekitar kita, nama orang-orang yang kita kenal dengan baik, atau istilah yang sering digunakan? Jika iya, saat itulah anda mengalami brain fog.

Atau suatu saat mungkin anda sedang bercerita. Tiba-tiba anda lupa mengatakan sesuatu. Menyebut suatu barang, nama, tempat, dan sebagainya. Sehingga, muncul kata-kata : "apa...itu..., aduhh...apa...". Dan, semakin anda berusaha mengingat, hati anda akan semaking gundah gulana. Karena, pada akhirnya tidak akan ingat juga!

Sebagaimana dilansir di https://www.sehatq.combrain fog adalah Brain fog adalah sebuah gejala yang dapat memengaruhi kemampuan Anda dalam berpikir. Anda mungkin akan merasa kebingungan, sulit fokus, dan kacau ketika tidak dapat menyebutkan hal yang ingin Anda ucapkan. 

Penyebab brain fog

Menurut https://www.sehatq.com disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

1. Stres

Stres kronis dapat meningkatkan tekanan darah, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan memicu kelelahan mental. Saat otak Anda lelah, maka Anda menjadi lebih sulit untuk berpikir, menggunakan nalar, dan berkonsentrasi.Selain itu, apabila Anda menderita sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome), maka Anda sangat mungkin mengalami brain fog. Penderita sindrom ini selalu merasa tubuh dan pikirannya selalu lelah sepanjang waktu. Akibatnya, ia sering kebingungan dan pelupa. Tidak ada obat yang diketahui dapat menyembuhkan sindrom kelelahan kronis, tetapi Anda dapat berkonsultasi dengan dokter atau psikolog untuk mendapatkan penanganan tepat. Anda juga bisa melakukan olahraga ringan untuk membantu proses penyembuhan.

2. Kurang tidur

Kualitas tidur yang buruk juga dapat mengganggu kinerja otak. Waktu tidur yang kurang maupun yang berlebihan sama-sama memberi efek yang kurang baik bagi otak, seperti brain fog. Cobalah untuk tidur 8-9 jam setiap malam. Hindari konsumsi kafein di sore hari dan pastikan Anda tidak lagi bermain gadget menjelang jam tidur. 

3. Perubahan hormon

Perubahan hormon juga dapat memicu brain fog. Saat hamil, kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh wanita meningkat. Perubahan ini dapat memengaruhi memori dan menyebabkan gangguan kognitif jangka pendek. Hal ini juga terjadi pada wanita yang sudah menopause. Berkurangnya kadar estrogen saat menopause membuat para wanita mengalami brain fog. Biasanya hal ini terjadi satu tahun setelah siklus menstruasi terakhir atau sekitar usia 50 tahun. 

4. Menjalani diet

Nutrisi yang dikonsumsi juga berkaitan dengan kabut otak. Kekurangan vitamin B12 disebut dapat memengaruhi fungsi otak dan menyebabkan brain fogBila Anda memiliki alergi terhadap makanan tertentu, kabut otak dapat terjadi setelah Anda mengonsumsi alergen, seperti MSG, aspartam, kacang, maupun produk susu (dairy product). Menghindari makanan pemicu dapat membantu mengurangi terjadinya kabut otak.

5. Mengonsumsi obat-obatan tertentu

Jika Anda mengalami brain fog setelah mengonsumsi obat, coba sampaikan keluhan Anda ini pada dokter. Bisa saja brain fog merupakan efek samping dari obat tersebut. Dokter akan mengurangi dosis atau menggantinya dengan obat lain untuk membantu mencegah terjadi brain fog.Pengobatan kanker seperti kemoterapi yang menggunakan jenis obat yang kuat juga dapat menyebabkan kabut otak yang sering disebut chemo brain. Pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan kesulitan mengingat hal-hal detail seperti nama atau tanggal, tidak bisa multitasking, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kondisi ini biasanya akan berlalu dengan cepat, tetapi sebagian orang dapat terpengaruh untuk waktu yang lama setelah perawatan. 

6. Kondisi medis

Kondisi medis seperti peradangan (inflamasi), kelelahan, atau perubahan kadar glukosa darah ternyata juga dapat menyebabkan kelelahan mental. Penderita fibromyalgia juga dapat mengalami brain fog yang sama setiap hari.
Berbahayakan brain fog?

Dalam kondisi biasa, tidak sangat sering terjadi, atau tidak terlalu "parah" lupanya, brain fog tidak perlu dikhawatirkan. Anda mungkin hanya perlu refreshing, melepaskan penat, mengalihkan perhatian pada hal-hal lain yang lebih santai, dan mengurangi stress. Pada saatnya, kondisi itu akan membaik dengan sendirinya. 

Namun, jika kondisi itu telah mengganggu fokus anda, maka perlu kiranya melakukan beberapa hal agar kondisinya tidak semakin parah.

  • Tidur 8-9 jam setiap malam
  • Mengendalikan stres dengan memahami batasan diri
  • Mengurangi kafein dan alkohol
  • Olahraga
  • Melatih kekuatan otak dengan senam otak, menjawab teka-teki, bermain puzzle, atau permainan lain yang baik untuk fungsi kognitif
  • Melakukan hobi
  • Memastikan menu makanan mengandung gizi seimbang



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes