Menulis, Aku Kangen


Lebih dari 1 bulan, aku tidak mengunjungi blog-ku sendiri. Jika dikumpulkan, lebih dari "satu ember" alasan yang bisa kuberikan. Urusan sekolah, kegiatan masyarakat, urusan rumah tangga dan pekerjaan, dan banyak lagi yang lainnya. Urusan-urusan yang bukan urusanku saja, juga bisa menjadi tambahan alasan untuk menjadikannya lebih dari satu ember. Hehe...

Sebenarnya, tidak ada yang dirugikan juga, kecuali aku sendiri. Betapa tidak, hal ini berarti produktivitasku akan berkurang. Satu hari satu tulisan tidak lagi pernah tercapai. Bagaimana bisa genap tiga ratus enam puluh artikel dalam satu tahun jika tidak lagi setiap hari aku menullis? Terngiang kembali dawuh para ulama, menjaga istikomah memang sangat berat adanya.

Mengapa tidak berhasil menulis?

Ada beberapa alasan mengapa orang tidak berhasil menjaga konsistensinya dalam menulis, antara lain:

Pertama, tidak fokus. Siapapun kita, apapun kita, dimana pun kita, fokus tetap menjadi sesuatu yang sangat penting. Fokus menulis sebenarnya tidak memerlukan banyak waktu. Sepuluh sampai lima belas menit dapat menghasilkan lebih dari 200 kata jika kita fokus. Sebaliknya, tanpa fokus yang kuat, seharipun tidak akan cukup untuk menulis lima paragraf.

Kedua, gangguan. Setiap kita akan menghadapi gangguan yang bisa saja datang dari mana saja, atau dari siapa saja. Pas konsentrasi hampir selesai, tiba-tiba tamu datang, anak menangis, listrik padam, laptop hang, atau tiba-tiba tetangga memutar musik cadas yang keras dengan sound system 10.000 mega watt. Byar....! Buyarlah semua. Gagal maning...gagal maing. 

Oleh karena itu, tidak saja kemampuan merangkai kata, menginisiasi kalimat, atau menyusun paragraf yang diperlukan penulis, tapi juga kemampuan mengelola "gangguan" yang bisa datang darimana saja dan kapan saja.

Ketiga, kehilangan ide. Yah, ide memang dapat datang darimana saja. Tetapi, pada umumnya kita tidak segera menuliskan ide yang kita dapatkan secara cepat untuk secepatnya pula menjadi tulisan. Sehingga, kita kehilangan ide itu lagi ketika sudah datang tema lain diwaktu berikutnya. Maka, sesegera mungkin menuliskan ide, atau paling tidak mencatatnya menjadi sebuah outline tulisan, akan menjadi cara yang menarik untuk tidak kehilangan sesuatu yang berharga.

Keempat, kurang bahan. Mengapa sampai kekurangan? Ibarat toko, jika setiap hari kita menjual barang tanpa "kulakan", ya habislah dagangan kita. Saatnya kita menambah stok barang toko kita, dengan membaca, melihat, mengamati, bahkan membuat pengalaman baru. Membaca membuat kita kaya dengan kata-kata dan kalimat. Dari kata-kata sumber baca kita itu, akan sangat mudah bagi kita untuk memodifikasinya menjadi kata-kata dan kalimat kita sendiri dengan ciri khas yang kita miliki.

Apakah ini plagiat? Tentu tidak. Selama kita sudah memodifikasinya, mengembangkan ide dasarnya, merangkai kalimatnya dengan kalimat-kalimat baru kita, tentu ini sudah termasuk dalam ATM (amati, tirukan, dan modifikasi), hehe.

Melihat, mengamati, bahkan mengalami sendiri berbagai hal dalam kehidupan, tentu juga akan menjadi sumber ide menulis yang sangat banyak. Melihat, mengamati, dan mengalami sendiri berbagai kejadian dalam hidup tentu membuat kita lebih mudah menuangkannya dalam tulisan daripada hanya membayangkannya saja. Kita tinggal menuliskan apa yang kita lihat, amati, dan alami, maka jadilah tulisan kita. Semoga.



6 Comments:

djambi.blogspot.com mengatakan...

Masya Allah, benar yang dibilang Prof Naim, sangat bergizi untuk otak, terima kasih Pak Ansori

Etik mengatakan...

Seperti Udara.. berhembus terus.. semoga tetap mengiringi gerak langkah kita motivator hebat

Kang Ansorie mengatakan...

Hehe...iya toh? Thanks telah mengunjungi...

Kang Ansorie mengatakan...

Aamiin. Doa yg sama ya Bund..

spirit-literasi.id mengatakan...

Terus rawat semangat

prianto mengatakan...

Alhamdulillah sudah kembali menulis...

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes