Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Mengkreasikan Pembelajaran Daring


gambar : kompasiana

Mohamad Ansori

Setelah lebih dari lima bulan pembelajaran daring dilaksanakan di sekolah, persoalan-persoalan mulai muncul, salah satunya adalah kebosanan. Siswa sudah merindukan pembelajaran tatap muka dimana mereka dapat berinteraksi, bersenda gurau, bermain, dan belajar bersama teman-teman. Bagaimanapun situasi dan kondisi pembelajaran tatap muka tetap saja tidak bisa digantikan seutuhnya oleh pembelajaran daring. Oleh karena itu, para guru harus memiliki kreativitas dan dapat membuat inovasi-inovasi pembelajaran daring.

Faktor utama penyebab kebosanan adalah banyaknya tugas yang dibebankan guru kepada siswa. Sejak awal siswa sudah belajar menggunakan lembar kerja siswa tercetak, sehingga guru tinggal memberikan instruksi untuk membaca halaman sekian dan mengerjakan tugas di halaman sekian. Demikian seterusnya, sehingga siswa harus mengerjakan sesuatu yang sebenarnya belum diajarkan oleh para guru. Sumber pengetahuan siswa adalah dari membaca buku siswa atau rangkuman materi dalam lember kerja siswa, dan setelahnya adalah mengerjakan soal-soal yang telah tersedia.

Sementara dalam pembelajaran tatap muka, mereka dapat mengklarifikasi hal-hal yang belum mereka pahami, berdiskusi dan bekerjasama dengan teman-temanya, serta bekerja kelompok sambil sesekali bersenda gurau. Di rumah, jika mereka tidak belajar sendiri, mereka harus belajar dengan para orang tua yang belum tentu semuanya guru, dan memahami ilmu mendidik. Para orang tua kebanyakan berorientasi pada hasil, yaitu anaknya bisa mengerjakan soal ini dan itu, sementara mereka juga tidak dapat menjelaskan secara detil seperti gurunya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dan manajemen sekolah diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan perbaikan kurikulum tingkat satuan pelajaran, dengan cara memilah dan memilih kompetensi dasar yang bisa diajarkan secara daring, dengan pendekatan urgensi, relevansi, kontinuitas, dan keterpakaian. Dengan kata lain, target capaian harus dikurangi, sebagai konsekuensi dari adanya masa darurat.
  2. Menggunakan mendia pembelajaran online sebagai alat pembelajaran, bukan semata-mata media penugasan. Guru harus bisa membuat video pembelajaran yang juga menampilkan "wajah guru" sehingga seolah-olah siswa sedang benar-benar berhadapan dengan gurunya.
  3. Mengubah penugasan berbasis soal dengan penugasan kreatif seperti membuat hasta karya, melakukan kegiatan, atau membuat mind map, kemudian siswa mengirimkan video kegiatannya kepada guru. Untuk memberikan penghargaan pada karya siswa itu, para guru dapat mengunggah videonya di website atau akun media sosial sekolah. Dengan demikian siswa akan merasa dihargai hasil karyanya. Ini merupakan salah satu reward yang diberikan pada siswa akan karya-karyanya.
  4. Jika memungkinkan secara teknis, seperti tersedianya jaringan internet yang bagus dan ketersediaan laptop atau smarphone yang mendukung, guru juga dapat memanfaatkan aplikasi video conference yang marak digunakan dimasa pandemi ini, seperti zoom cloud meeting, google teams, cisco webex, skype, dan lain-lain. Selain itu penggunaan google form untuk kuis dan diperkuat dengan penggunaan google classroom tentu akan membuat pembelajaran daring lebih menarik.
Namun demikian, persoalan baru akan muncul. Salah satunya adalah kompetensi guru di bidang teknologi informasi. Untuk menyajikan media pembelajaran yang menarik, seorang guru tidak hanya harus kreatif dalam merancang media pembelajaran, tetapi juga harus mahir dalam mewujudkan dalam bentuk video pembelajaran yang menarik. Jika tidak, media pembelajaran dalam bentuk video yang dibuat guru, kembali akan menjadi tampilan yang tidak menarik atau bahkan monoton.

Oleh karena itu, kepala sekolah juga harus terlibat dala upaya guru berkreasi dalam pembelajaran daring ini. Kepala sekolah dapat menginisiasi kerjasama dengan pihak lain seperti tenaga ahli, lembaga kursus, atau komunitas-komunitas desain grafis dan animasi, untuk membimbing guru dalam pembuatan video pembelajaran. Kelompok kerja guru (KKG) juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan kompetensi guru dibidang teknologi informasi.








Membangun Pendidikan Profetik

gambar : okezone muslim


Pengaruh negatif kehidupan modern dan kemajuan teknologi melanda semua tingkatan terutama peserta didik dan generasi muda pada umumnya. Era digital yang melingkupi semua lini kehidupan memberikan efek negatif berupa mundurnya nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak mulia. Kesibukkan orang tua yang menyita hampir seluruh waktunya untuk kepentingan pekerjaan, kegiatan sosial politik, dan lain-lain, merupakan salah satu pendorong munculnya kasus-kasus yang melibatkan peserta didik seperti perkelahian, minum minuman keras, narkoba, seks bebas, dan sebagainya. Dunia membutuhkan model pendidikan yang dapat mengendalikan persoalan-persoalan pendidikan karakter yang semakin menjauh dari kondisi ideal yang diharapkan.

Pendidikan profetik merupakan salah satu jawaban dari persoalan-persoalan yang dihadapi para orang tua dan guru untuk menghalau pengaruh buruk modernisasi. Pada intinya, pendidikan profetik adalah pendidikan yang meniru nabi Muhammad SAW. Istilah profetik ini berawal dari kata prophetic (kenabian atau berkenaan dengan nabi). Pendidikan profetik mengajarkan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw dalam konteks pendidikan. Dengan demikian pendidikan diarahkan pada duplikasi uswah hasanah yang telah diajarkan Nabi Muhamamd Saw.

Menurut Moh. Roqib dalam bukunya Filsafat Pendidikan Profetik; Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhmmad pendidikan profetik secara faktual berusaha menghadirkan nilai kenabian dalam konteks kekinian. Secara skematis bagaimana epistemologi, model integrasi dan koneksitas, serta pola bangunan pendidikan profetik. Zakiyah Daradjat, dkk, dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam, menjelaskan bahwa dengan paradigma profetik, pendidikan Islam diharapkan mampu mencapai puncak tujuannya yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman kokoh dan berilmu luas (ūlūl albāb) menjadi insan kamil.

Pada abad 21 ini, pendidikan seperti kehilangan ruh-nya. Pendidikan terkesan hanya berwujud transfer ilmu pengetahuan dengan tidak dibarengi transfer nilai-nilai kehidupan dan kebaikan. Dengan kata lain transfer of knowledge yang melaju lebih cepat melalui teknologi informasi, ternyata tidak bisa dibarengi transfer of value yang semestinya diajarkan dalam bentuk keteladanan dan interaksi antara guru dan murid.

Berbagai nilai yang tidak selaras, bahkan kontradiktif dengan ajaran dan nilai-nilai akhlakul karimah, masuk dengan mudah ke ruang belajar peserta didik tanpa adanya filter yang jelas. Peserta didik yang secara mental belum siap menerima nilai-nilai baru itu, lebih cepat menerima budaya-budaya yang "tak berbudaya" itu karena memang tampak lebih "asyik" dibanding dengan kebiasaan-kebiasaan  yang diajarkan para gurunya di sekolah atau madrasah. Sehingga gaya hidup baru yang lebih bebas akan dengan mudah diterima oleh para peserta didik.

Pendidikan profetik merupakan pilihan untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw. Tujuan pendidikan profetik adalah membangun peradaban yang berlandaskan akhlak yang mulia, yang berusaha "membumikan" ajaran Nabi Muhammad Saw dalam bentik perilaku nyata. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan, syariat, dan akhlakul karimah (perilaku yang mulia). Ketiga hal itu seringkali disebut dengan iman, Islam, dan ihsan.

Secara sederhana, menerapkan pendidikan profetik dilaksanakan dengan mengandalkan pembiasaan dan keteladanan. Para pendidik adalah contoh nyata para peserta didik untuk mencontohkan penerapan iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Para pendidik adalah contoh nyata pembiasaan mengerjakan syariat Islam, seperti shalat berjamaah, mengaji, menghormati orang tua dan menyayangi teman, bersikap sopan santun dalam pergaulan, dan sebagainya. Oleh karena itu pembiasaan-pembiasaan yang diajarkan di sekolah tidak saja diajarkan nilai-nilai itu, tetapi juga contoh nyata penerapannya. Oleh karena itu, terutama di sekolah dasar dan pra sekolah, para guru harus benar-benar dapat "menjaga diri" dihadapan para peserta didik.


Belajar Mandiri dengan Modul Digital

gambar : youtube.com

Kemandirian merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal 3 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa : "pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".

Sebagai bangsa, kemandirian memiliki makna tidak ada ketergantungan suatu bangsa kepada bangsa lain. Sebagai peserta didik, kemandirian berarti bahwa peserta didik tidak tergantung pada orang lain dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tugas utama peserta didik adalah belajar, sehingga peserta didik yang mandiri ia akan merencanakan dan melaksanakan sendiri kegiatan belajarnya. Mereka tidak perlu menunggu perintah belajar dari orang tua atau guru untuk mengerjakan tugas belajarnya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian peserta didik adalah dengan pembelajran sistem modul. Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis yang di dalamnya memuat seperangkat alat belajar yang terencana dan didesain untuk membantusiswa menguasai tujuan belajar yang spesifik.Modul adalah program pembelajaran terkecil yang bisa dipelajari secara mandiri (self instructional) (Winkel,2009)
Menurut Suryaningsih (2010) sebagaimana dimuat dalam https://www.silabus.web.id/, kelebihan pembelajaran dengan menggunakan modul adalah sebagai berikut.
  1. Meningkatkan motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
  2. Setelah dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui benar, pada modul yang mana siswa telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
  3. Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester.
  4. Pendidikan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun menurut jenjang akademik.
Pembelajaran menggunakan modul diyakini dapat meningkatkan kemandirian pada siswa. Apalagi jika dikaitkan dengan akselerasi pembelajaran, dimana siswa dapat melanjutkan pembelajarannya jika telah menyelesaikan modul tertentu. Anak-anak "pintar" akan termotivasi dengan situasi kompetitif ini. Namun demikian, guru harus lebih perhatian terhadap anak-anak yang "tertinggal" dalam pembelajaran, karena justru itu akan membuatnya semakin tertinggal.

Namun demikian, pembelajaran dengan menggunakan modul juga memiliki beberapa kekurangan. Menurut Vembrianto (1981),  kelemahan pembelajaran menggunakan modul adalah:
  1. Kesukaran pada siswa tidak segera dibatasi.
  2. Tidak semua siswa dapat belajar sendiri, melainkan membutuhkan bantuan guru.
  3. Tidak semua bahan dapat dimodulkan dan tidak semua guru mengetahui cara pelaksanaan pembelajaran menggunakan modul.
  4. Kesukaran penyiapan bahan dan memerlukan banyak biaya dalam pembuatan modul.
  5. Adanya kecenderungan siswa untuk tidak mempelajari modul secara baik.
Beberapa kelemahan di atas, tentunya dapat dikurangi di era digital ini. Kelemahan-kelemahan di atas dapat kita atasi dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.

  1. Membangun jaringan komunikasi digital dengan para siswa, seperti menggunakan media whatsapp group, kaizala, telegram, dan lain-lain.
  2. Melakukan pengecekan perkembangan pembelajaran capaian siswa secara rutin.
  3. Memberikan petunjuk-petunjuk yang praktis pada setiap tugas modul yang diberikan.
  4. Pembuatan modul seharusnya tidak lagi ada kendala, ketika laptop dan jaringan internet sudah tersedia. Tinggal kemauan yang kuat dan kompetensi guru di bidang IT saja yang harus diperkuat. Penggunaan e-modul diharapkan dapat mengatasi kendala penyiapan modul tersebut.
  5. Melakukan monitoring yang disiplin terhadap pembelajaran mandiri yang dilakukan siswa.
Modul tidak harus dibuat dalam bentuk teks cetak. Para pendidik bisa membuatnya sebagai modul berbasis digital (e-modul), seperti dalam bentuk file pdf. Para siswa dapat menggunakan e-modul sebagai bahan belajar dan teks tugas, sedangkan pengertjaannya dapat menggunakan buku tugas biasa. Dalam kondisi tertentu, para guru dapat mem-break down e-modul dalam bentuk-bentuk terpisah dan menyajikannya menggunakan aplikasi google form, dimana para siswa dapat mengerjakan tugasnya secara langsung melalui google form ini dalam pembelajaran daringnya.




Gerakan Literasi dan Konsep Iqra'

Mohamad Ansori

Beberapa tahun belakangan ini, gerakan literasi semakin kuat disuarakan oleh para penggiat. Hal ini tidak lepas dari keprihatinan banyak pihak akan rendahnya minat baca bangsa Indonesia. Padahal membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan. Banyak membaca berarti memperluas pengetahuan, menambah wawasan, dan membangun cakrawala berpikir untuk mengembangkan semua potensi yang ada.

Gerakan literasi, secara konseptual, telah dimulai sejak sekitar 15 abad yang lalu. Yaitu, ketika pada suatu malam, Rasullullah Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama kali. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah kenabian, Nabi Muhammad yang pada saat itu belum diwisuda manjadi nabi didatangi oleh Malaikat Jibril pada suatu malam, ketika berkhalwat di Goa Hiro, sebelah utara Kota Mekah. Ayat al Quran yang pertama kali di turunkan adalah lima ayat yang tertera dalam Surah Al Alaq ayat 1-5. Perintah pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril adalah iqra’, yang artinya membaca.

Dalam sebuah kesempatan, Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga merupakan salah satu cendekiawan Islam terkemuka saat ini, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa iqra’ paling tidak memiliki empat makna. Pertama iqra’ mengajarkan how to read, yaitu bagaimana kita dapat membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan baik dan benar, dan mengkhatamkannya. Kedua, iqra’ mengajarkan how to learn, bagaimana mengetahui tafsirnya, bahkan bagaimana mengetahui takwilnya. Ketiga, iqra’ mengajarkan how to understand, yaitu bagaimana kita memahaminya, secara emosional dan spiritual. Dan yang keempat, iqra’ mengajarkan bagaimana cara me-mukasyafah-kan, yaitu menyingkap tabir-tabir yang ada di dalamnya.

Kemampuan literasi merupakan kemampuan untuk membaca, memahami, dan mengambil hikmah serta manfaat dari materi yang dibaca. Gerakan literasi dilaksanakan dalam upaya untuk mencapai kompetensi itu. Dengan adanya gerakan literasi, minat baca diharapkan bisa meningkat, kemampuan menganilisis sumber bacaan meningkat, dan yang paling penting dapat mengambil kesimpulan dan hikmah yang ada di dalamnya.

Iqra’ tidak hanya mengajarkan membaca ayat al Qur’an. Lebih luas dari itu, iqra’ mengajarkan untuk membaca semua ayat-ayat Alloh SWT. Terdapat ayat-ayat Allah SWT yang lain yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan manusia. Ayat-ayat Allah SWT selain al Qur’an itu lazim disebut ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat yang berhubungan dengan alam. Hukum alam, peristiwa alam, gejala sosial, dan sebagainya, juga merupakan sumber bacaan yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang berharga bagi manusia.

Peristiwa alam seperti banjir bandang dan tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan, merupakan peristiwa-peristiwa alam yang seharusnya menjadi pelajaran yang berharga manusia. Dengan adanya bencana-bencana itu, manusia dapat mengambil kesimpulan bahwa demi kebahagian dan kesejahteraan manusia di masa mendatang, maka manusia harus care terhadap alam. Alam telah menyediakan sumber makanan, tempat tinggal, oksigen, udara yang segar, dan seterusnya, sudah sepantasnya mendapatkan perhatian dari manusia agar alam tetap lestari dan terjaga dari kerusakan.

Gejala-gejala sosial seperti kejahatan, perkelahian, dan perang misalnya, juga bisa menjadi pelajaran bagi manusia, bahwa kekerasan selalu menghasilkan kerusakan dan kesedihan. Perang dan kekerasan tidak menyelesaikan masalah dengan baik, sebaliknya menimbulkan masalah-masalah kemanusiaan yang sangat merugikan manusia sendiri. Oleh karena itu, dialog dan duduk bersama dalam menyelesaikan persengketan, merupakan hal terbaik yang seharusnya dipilih manusia dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Iqra’ juga mengajarkan manusia untuk mengungkap rahasia-rahasia dibalik ayat-ayat Allah SWT. Demikian juga literasi, dalam level yang lebih mendalam, mengajarkan pada kegiatan analisis masalah. Dari berbagai analisis itu ditemukan gejala-gejala dan fenomena yang muncul dari berbagai peristiwa. Gejala dan fenomena itu dapat menjadi tolok ukur penyelesaian masalah karena darinya akan ditemukan akar persoalan yang mengemuka.

Kehidupan tidak dapat dilepaskan dari masalah. Setiap perjalanan hidup manusia pasti akan menemukan masalah. Oleh karena itu, kemampuan menganalisis masalah dengan tujuan menemukan akar masalah merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki. Masalah terjadi pasti ada latar belakangannya, ada penyebab-penyebab yang memicunya, ada celah-celah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya, dan seterusnya. Kemampuan analisis seperti itu, juga dikembangkan dalam kegiatan literasi.

Secara spesifik Gerakan Literasi Nasional (GLN) menempatkan enam dimensi literasi, yaitu literasi baca dan tulis, numerasi, sains, finansial, digital, budaya dan kewargaan. Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.

Sementara itu, literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari; (b) bisa menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) untuk mengambil keputusan.

Literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasarkan fakta, memahami karakteristik sains, membangun kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta meningkatkan kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains. Literasi sains ini sangat diperlukan karena perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi berkembang dengan sangat luar biasa di era digital ini.

Sedangkan literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan eranya, literasi digital merupakan kebutuhan utama masyarakat modern dalam menjalani kehidupannya. Digitalisasi merasuk ke dalam semua lini kehidupan sehingga literasi digital benar-benar merupakan kebutuhan manusia.

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan (a) pemahaman tentang konsep dan risiko, (b) keterampilan, dan (c) motivasi dan pemahaman agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Sedangkan yang terakhir, literasi budaya yaitu pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat. Sebagai bangsa, kita harus berperan aktif dalam menjaga budaya bangsa. Selain itu, kita juga harus mengetahui hak dan kewajiban kita, sehingga kita dapat mengambil peran yang aktif dalam pembangunan bangsa. (ans)

Prestasi di Masa Pandemi

Tidak semua orang bisa bekerja dari rumah. Bahkan orang-orang yang sebenarnya pekerjaannya ada di rumah. Mengapa? Tentu karena semua pekerjaan tentu berkaitan dengan pihak-pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Seorang pengusaha home industry mengaku tidak bisa bekerja selama pandemi C19 ini. Ia bahkan terpaksa merumahkan 3 dari 5 orang karyawannya. Bukan karena ia tidak bisa produksi, tetapi karena hasil produksinya yang masih menumpuk dan ia tidak bisa mengirimkannya ke agen atau grosir dimana biasanya ia mengirim. Maknanya, ia bisa produksi tetapi tidak bisa mendistribusikan produknya. So, lebih baik berhenti.

Beberapa pedagang mengeluhkan hal yang sama. Ia memang biasa bekerja di rumah, sehingga tidak ada anjuran work from home pun ia tetap saja bekerja di rumah. Tapi ya itu, pembelinya mana? Ia tetap saja berjualan di rumah, tapi pembelinya tidak ada yang datang. Sementara, untuk berjualan secara online ia juga belum bisa. Alhasil, ya bertahan bekerja dengan penghasilan sedapatnya.

Dalam hal ini, orang kantoran, para guru, dosen, dan pekerja kantoran dengan penghasilan tetap dan pekerjaannya bisa dikerjakan di rumah, tentu harus bersyukur. Dari sisi penghasilan mereka tentu tidak terdampak. Memang pendapatan mereka tidak bertambah, tetapi juga tidak berkurang. Sementara semua pekerjaannya dapat dilakukan di rumah dengan menggunakan fasilitas internet dan perangkat IT yang dimilikinya.

Para guru cukup memantau tugas yang diberikan pada siswa melalui daring. Tugas diberikan, petunjuk disertakan, media pembelajaran di share, dan para siswa sudah bisa mengerjakan tugasnya baik secara mandiri maupun didampingi orang tua. Tinggal menunggu, hasil kerja siswa yang juga diberikan pada keesokan harinya. Demikian juga para dosen, beliau-beliau dapat juga melakukan yang sama.

Seorang teman, pada masa pandemi ini justru memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu di luar aktivitas rutinnya. Dengan bakat, minat, kemampuan, dan perangkat yang dimilikinya bahkan ada yang sampai bisa membuat barang-barang yang biasanya dibuat dengan biaya mahal. Seorang teman bahkan berhasil membuat pagar stainless steel buatan sendiri selama masa bekerja di rumah ini. Sementara teman yang lainnya membuat kebun mini dengan sistem hidroponik dengan hasil yang membanggakan. Bagaimana tidak selama dua setengah bulan ia membuat kebun hidroponik ini ia telah berhasil panen sawi dan gambas organik hasil kebun hidroponiknya. Teman lain, seorang penulis, bisa menyelesaikan buku kumpulan cerpen dan cerita anak, justru selama "terpaksa" tidak keluar rumah.

Yang paling menarik adalah, ketika saya bertanya pada seorang teman yang terlihat hampir tidak mengerjakan apa-apa selama libur pandemi. Sobat, apa yang sudah kamu kerjakan selama masa tidak keluar rumah ini sobat? Teman-teman kita ada yang berhasil membuat karya dari stainless steel, ada yang berhasil membuat kebun hidroponik, ada yang berhasil menyelesaikan satu kumpulan cerpen, dan sebagainya.

Teman yang terakhir ini hanya tersenyum. Dia kemudian menjelaskan, aku memang tidak melakukan apa-apa, tapi aku telah enam kali khatam al Qur'an selama dua setengah bulan ini. Bahkan, aku berhasil menghafalkan beberapa surat yang cukup panjang, yang selama ini hampir mustahil kulakukan.

Dulunya aku tidak lancar membaca al Quran, padahal aku juga mengaji ketika aku masih muda. Aku juga belajar tajwid, nahwu, dan sharaf. Selama ini aku bisa membaca al Qur'an, tapi aku tidak sempat melakukannya. Waktuku habis oleh pekerjaan dan aktivitas sosialku yang seabreg jumlahnya. Bahkan, sebelum prahara ini, satu juz pun aku ndak bisa menyelesaikannya dalam sehari. Aku gunakan waktuku untuk menumpahkan rindu. Aku gunakan kesempatan yang diberikan Allah Swt ini untuk bercengkrama sepanjang waktu. Dengan ayat-ayatNya, dengan firmanNya, dengan hikmah yang terkandung di dalamnya, dengan rahmat yang datang menyertainya.

Allahu akbar. Ternyata, ada celah yang selama ini tertutup. Oleh prestasi duniawi yang menipu. Bahkan, oleh sesuatu yang menjauhkan dari kebersamaan denganNya.

Wallahu'alam.

PPDB DI TENGAH PANDEMI

Mohamad Ansori

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merupakan salah satu agenda rutin di awal tahun ajaran baru. Oleh karena itu, agenda ini tidak bisa lepas dari perhatian masyarakat. Kenaikan jenjang siswa dari TK/RA ke SD/MI, dari SD/MI ke SMP/MTs dan seterusnya, tentu tetap harus dilaksanakan. Jika tidak, maka tatanan sistem dan jenjang pendidikan di negara ini tentu akan mengalami kekacauan yang akan sangat mengganggu.

Sementara itu, Indonesia masih berada di dalam masa-masa sulit Pandemi C19. Kurva penyebaran tak kunjung menurun dengan drastis. Dalam artian, di beberapa tempat masih terdapat angka penyebaran C19 yang mengkhawatirkan. Sehingga, pemerintah memerlukan formulasi dan penyikapan agar PPDB tetap dapat dilaksanakan tetapi protokol kesehatan seperti mengurangi kerumunan dan menjaga jarak kontak sosial tetap harus diterapkan.

Sekolah-sekolah di bawah Kementrian Agama seperti MTs dan MA, nampaknya lebih siap menghadapi situasi ini. Pendaftaran melalui jalur-jalur khusus telah disiapkan sehingga jauh-jauh sebelum timing PPDB ditetapkan, madrasah-madrasah tersebut sudah melaksanakan PPDB terlebih dahulu.

Jalur Try Out (TO) mandiri madrasah, dengan "hadiah" diterima langsung di madrasah tersebut untuk siswa-siswa yang mendapatkan hasil terbaik dalam TO merupakan salah satu jalur yang digunakan. Setelah itu ada semacam Test Masuk yang juga sudah dilaksanakan, dengan berbagai variasi program dari madrasahnya sendiri. Sementara itu, sekolah-sekolah negeri di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melaksanakan PPDB lebih belakangan.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1591), dan Surat Edaran Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Merdeka Belajar dalam penentuan Kelulusan Peserta Didik dan Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Ajaran
2020/2021 SMP Negeri menerima peserta didik baru melalui 4 jalur, yaitu jalur prestasi, afirmasi, perpindahan orang tua, dan jalur zonasi. Jalur prestasi dan afirmasi serta perpindahan orang tua, pendaftaran dilaksanakan pada tanggal 8 - 10 Juni 2020, sedangkan jalur zonasi dilaksanakan pada tanggal 17 - 19 Juni 2020. Sedangkan pendaftaran di SD dilaksanakan pada tanggal 8-10 Juni 2020.

Untuk menyikapi kondisi darurat C19 ini, pendaftaran tidak langsung dilaksanakan oleh siswa atau orang tua siswa ke sekolah yang dituju. Tetapi, pendaftaran ke SD Negeri akan dikoordinir oleh panitia PPDB  di TK, sedangkan untuk pendaftaran ke SMP Negeri akan di koordinir oleh panitia PPDB di SD masing-masing. Pengkoordiniran itu dilaksanakan sebelum masa pendaftaran, yaitu pada tanggal 3-5 Juni 2020 pada fase yang disebut pra pendaftaran. Setelah terkumpul berkas pendaftaran di SD masing-masing, maka panitia akan menyetorkan berkas tersebut ke UPT Dinas Pendidikan Kecamatan. Sehingga, petugas di UPT Dinas Pendidikan kecamatan setempat yang akan mengantarkan berkas pendaftaran ke sekolah yang dituju.

Langkah pemerintah ini tentunya patut diapresiasi. Upaya mencegah penyebaran C19 dengan menghindari timbulnya kerumunan saat PPDB merupakan langkah strategis yang harus didukung. dengan cara ini paling tidak siswa dan orang tua tidak perlu lagi berdesak-desakkan mengantri di sekolah yang dituju untuk menyetorkan berkas pendaftaran lagi. Berkas pendaftaran yang berisi formulir pendaftaran, foto copy kartu keluarga, foto copy KIA, surat keterangan telah menyelesaikan pembelajaran di kelas 6 atau surat keterangan lulus, dan lain-lain, semuanya cukup diserahkan di sekolah dan kemudian "diurus" oleh panitia dari UPT Dinas Pendidikan kecamatan.

Namun demikian, ke depan seharusnya berkas pendaftaran siswa sudah tidak menggunakan "seabrek" berkas lagi. Pendataan siswa di TK maupun SD sudah sedemikian lengkap dengan menggunakan sistem dapodik, sehingga semestinya semua data siswa telah ada disana. Sehingga, sangat dimungkinkan pendaftaran dapat dilaksanakan dengan satu data kunci berupa NISN atau NIK. Semoga ke depan bisa menjadi lebih baik, lebih simple, dan berorientasi pada penerapan teknologi informasi yang lebih sempurna. Semoga! (ans)

Abnormal atau New Normal?

Mohamad Ansori

Pemerintah telah menyiapkan planning untuk kehidupan new normal pasca pandemi C19. Namun demikian sampai pada saat ini, Presiden Jokowi belum menetapkan kapan atau tanggal berapa dimulainya kehidupan normal baru. Mengingat, untuk melaksanakan fase tersebut harus memenuhi beberap syarat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut WHO, paling tidak ada enam syarat penerapan new normal di sebuah negara: (1) pemerintah harus memastikan bahwa pengendalian virus korona sudah dilakukan, (2) pemerintah harus menyiapkan rumah sakit atau sistem kesehatan untuk identifikasi, isolasi, testing, hingga karantina, (3) pemerintah harus memastikan pencegahan dan perlindungan pada masyarakat rentan berisiko tinggi, (4) membuat protokol untuk melakukan upaya-upaya pencegahan di lingkungan kerja, (5) pemerintah harus bisa mencegah kasus impor Covid-19 dan bisa melindungi warga Indonesia dari potensi penularan Covid-19 yang dibawa orang asing, dan (6) yang paling penting ialah mempersiapkan penerapannya di masyarakat melalui sosialisasi dan edukasi sebelum memasuki fase new normal.

Saat ini, upaya yang dilakukan pemerintah adalah membuat perencanaan yang detil dan terstruktur akan peneraman kenormalan baru itu. Pemerintah sambil melakukan tahap-tahap pengendalian penyebaran C19 juga melakukan sosialisasi dan edukasi tentang tatanan kehidupan baru nantinya. Media sosial dan media konvensional menjadi sarana utama untuk sosialisasi new life style itu.

Sayangnya, respon masyarakat terhadap new normal ini begitu cepat, sehingga meskipun masih dalam tahap perencanaan dan sosialisasi, kenormalan baru itu seolah-olah sudah akan diterapkan besok pagi. Sehingga, ketatnya aturan-aturan PSBB diberbagai tempat, menjadi agak diabaikan oleh masyarakat. Masyarakat merasa sudah saatnya hidup lebih bebas setelah sekitar dua bulan harus bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Alhasil, penurunan jumlah kasus terkonfirmasi positif C19 yang agak drastis menjadi tidak kunjung tercapai.

Kehidupan dalam kenormalan baru sebenarnya tidak sangat berbeda dengan kehidupan kita sebelumnya. Secara sederhana, hidup dalam kenormalan baru itu hanya merupakan kehidupan biasa plus penerapan protokol kesehatan. Sederhana kan? Kalau diucapkan atau kalau dituliskan. Penerapannya bagaimana?

Hidup dalam kenormalan baru memberikan kesempatan kita untuk lebih produktif. Secara sosial juga akan memberikan kehidupan yang lebih layak dibanding hidup terkungkung di dalam rumah tanpa kesempatan untuk beraktivitas di luar rumah. Tetapi new normal itu akan berubah menjadi abnormal lagi, kalau kita menerapkannya pada saat yang tidak tepat. Memang beberapa bulan kita hidup secara abnormal dan kita sudah sangat merindukan kehidupan yang normal, tetapi kenormalan baru itu akan sangat riskan jika kita tergesa-gesa melakukannya. Kedisplinan sosialah yang sebenarnya menjadi penentu bisa atau tidaknya kita meninggalkan kehidupan abnormal menuju new normal. Sebaliknya, jika secara sosial kita tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan, bisa-bisa kita akan lebih lama hidup secara abnormal.



Pembelajaran Transdisipliner Tematik Terpadu


S
alah satu istilah populer dalam penerapan Kurikulum 2013 (K-13) di Sekolah Dasar adalah penggunaan istilah tematik terpadu. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan pendekatan pembelajaran Kurikulum 2013 di sekolah dasar yang disusun berdasarkan tema tertentu, yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat. Melalui pendekatan ini peserta didik tidak lagi mengenal mata pelajaran bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS dan lain-lain. Belajar dengan pendekatan ini ibarat minum juz buah mix, yang mana peserta didik sudah tidak dapat membedakan lagi buah apa yang dicampurkan dalam jus buah itu, tetapi mereka dapat merasakan manfaatnya.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang dirancang untuk menyiapkan kompetensi peserta didik sesuai tuntutan dan kebutuhan pada Abad 21. Pada abad ini, kemampuan dalam berkreasi dan berkomunikasi memiliki arti yang sangat penting. Demikian juga kompetensi sikap, seperti kejujuran, etos kerja, kedisiplinan, dan lain-lain, juga memiliki posisi yang penting dalam kehidupan, disamping kompetensi pengetahuan dan ketrampilan yang juga diperlukan.
Untuk mencapai kompetensi seperti itu diperlukan pendekatan pembelajaran yang tematik terpadu. Maknanya, peserta didik mempelajari semua pelajaran secara terpadu melalui tema-tema kehidupan yang dijumpai peserta didik setiap hari. Setiap materi yang dipelajari dikaitkan dengan kehidupan di alam nyata, sehingga peserta didik dapat mengkonkritkan pengetahuan mereka yang selama ini masih bersifat abstrak.
Berkaitan dengan pembelajaran tematik terpadu ini Muhammad Nuh (2013) mengatakan “peserta didik diajak mengikuti proses pembelajaran yang transdisipliner dimana kompetensi yang diajarkan dikaitkan dengan konteks peserta didik dan lingkungannya”. Pembelajaran transdisipliner pada hakikatnya merupakan pembelajaran lintas disiplin ilmu. Dengan pembelajaran ini ilmu pengetahuan tidak lagi dibingkai dalam berbagai disiplin ilmu tetapi telah menjadi satu kesatuan ilmu itu sendiri.
Tujuan utama dari pendekatan tematik terpadu adalah untuk menghindari tumpang tindih dan ketidakselarasan antar materi mata pelajaran. Dengan demikian akan tercapai efisiensi materi dan efektifitas dalam penyerapannya oleh peserta didik. Selama ini, beberapa mata pelajaran bahkan mempelajari hal yang sama meskipun mata pelajarannya berbeda. Sebagai contoh adalah materi tentang alam dan lingkungan, yang diajarkan baik oleh mata pelajaran IPA maupun IPS.
Sejalan dengan kompetensi yang diharapkan itu, melalui penerapan pendekatan tematik terpadu ini peserta didik  dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasinya melaui pembelajaran saintifik, baik pada saat menanya dan mengumpulkan data maupun pada saat presentasi serta diskusi, sekaligus mengembangkan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif. Kemampuan tersebut juga ditunjukkan melalui sajian pengetahuan dan ketrampilan pesera didik pada saat mereka harus mempresentasikan hasil belajar mereka. Apalagi pembelajaran tematik terpadu ini juga melalui proses pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning) yang dirancang melalui kegiatan berbasis proyek (project based learning) yang mencakup kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan.
Dalam penerapannya, guru mengamati dan memerhatikan beberapa aspek inti yang berupa kompetensi inti. Setiap materi pelajaran selalu memuat kompetensi religius (KI 1), kompetensi sosial (KI 2), kompetensi pengetahuan atau kognitif (KI 3) dan komptensi ketrampilan (KI 4). Sedapat mungkin dalam setiap penyampaian materi pelajaran guru memberikan perhatian pada kaitan antara materi dengan nilai-nilai religius, sosial, kognitif dan ketrampilan. Dengan demikian diharapkan para peserta didik dapat dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya.
Namun demikian pendekatan tematik terpadu ini bukan tanpa kelemahan. Dengan keterpaduan materi pelajaran tersebut para peserta didik tidak lagi mengenal mata pelajaran. Peserta didik kelas I misalnya, tidak mengenal istilah pelajaran matematika, IPA, bahasa Indonesia, dan lain-lain. Padahal dalam rapor mereka, kualitas pengetahuan masih dinilai berdasarkan mata pelajaran itu. Bahkan tidak hanya dengan angka, tetapi juga dengan grade dan narasi yang menjelaskan kemampuan mereka dalam menguasai kompetensi dasar (KD) dari masing-masing pelajaran. Sehingga sering muncul pertanyaan, jika peserta didik belajar menggunakan pendekatan tematik terpadu, mengapa mereka harus dinilai berdasarkan mata pelajaran? Faktanya penilian ini yang seperti inilah yang menjadi beban dan kesulitan bagi para guru di sekolah dasar. Ibaratnya, para guru harus memilah lagi, buah-buah yang telah tercampur dalam satu gelas es buah. Benarkah?

*) Penulis adalah Guru di SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon
Kecamatan Sumbergempol Tulungagung


Mengatasi Kebosanan Belajar dengan Outdoor Classroom

Mengatasi Kebosanan Belajar dengan Outdoor Classroom
Oleh : Mohamad Ansori, M.Pd.I *)

S
alah satu masalah yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas adalah masalah kebosanan siswa. Rangkaian kegiatan belajar, mengerjakan PR, materi belajar yang bertumpuk, tugas-tugas yang tambahan yang banyak, membuat siswa merasa tertekan dan bosan. Belajar tidak lagi menjadi kegiatan yang fun, tetapi justru membebani mental mereka. Akhirnya muncullah keluh kesah “ah…sekolah lagi”.
     Menghadapi hal ini, guru dituntut memiliki kreativitas dan inovasi. Sedapat mungkin, guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (enjoyful learning). Kondisi ini diperlukan, agar siswa tidak lagi memandang kegiatan belajar sebagai beban. Sebaliknya menganggapnya sebagai kegiatan yang menantang, menyenangkan, dan membuat mereka ketagihan. Dalam kata lain, suasana belajar di sekolah tidak lagi menjadi beban pekerjaan tetapi menjadi wahana rekreasi, bermain, tumbuh dan berkembang secara bersama-sama dengan teman-teman mereka.
Salah satu alternatif kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangka adalah outdoor classroom (pembelajaran di luar ruangan). Outdoor classroom merupakan kegiatan belajar yang dilaksanakan di luar ruangan. Kegiatan belajar seperti ini dapat dilakukan di taman, di halaman sekolah, di gazebo, di kebun sekolah, atau di tempat-tempat lain di luar kelas.
Meskipun tempat belajarnya berbeda, tetapi tujuan pembelajaran, materi, metode, strategi, dan sebagainya, tetap sebagaimana pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas. Yang membedakan bukanlah materi dan strategi belajarnya, tetapi tempat dan suasana belajar yang berbeda yang diharapkan menghasilkan suasana belajar yang fresh dan enjoy.
Di berbagai negara maju seperti di Eropa dan Amerika, kegiatan belajar seperti ini telah banyak dikembangkan. Outdoor classroom tidak hanya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tetapi memberi manfaat lainnya seperti: (1) Tersedianya udara segar yang mengandung banyak okigen, yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan siswa, (2) Tersedianya sinar matahari pagi yang sejuk yang mengandung pro vitamin D yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan tulang, (3) Terciptanya suasana yang berbeda yang membuat siswa menjadi lebih termotivasi dalam mengikuti pemberlajaran, dan (4) Dapat digabungkan dengan metode pembelajaran kontekstual dalam menghadirkan benda nyata dalam pembelajaran.
Namun demikian, ada beberapa hal yang harus diantisipasi guru dalam melaksanakan pembelajaran outdoor classroom, antara lain: (1) Keamanan (safety) tetap harus menjadi prioritas utama dalam kegiatan pembelajaran ini. Guru harus yakin bahwa keamanan anak-anak terutama dari binatang buas, binatang berbisa, nyamuk, dan serangga lainnya, yang bisa mengancam keselematan dan kenyamanan anak, (2) Tersedianya tempat terbuka dengan tempat duduk yang paling tidak berkategori nyaman dan bersih, meskipun tidak harus berbentuk kursi (bisa berupa tribun, bangku panjang, kayu atau bambu), (3) Guru harus yakin bahwa dia harus dapat mengendalikan siswa dalam artian semua siswa dapat mendengar dan mengakses informasi yang disampaikannya, dan (4) Perlu menyesuaikan media pembelajaran yang digunakan, sehingga pembelajaran tetap dapat dilaksanakan secara fokus.
Meskipun dirasa menguntungkan, outdoor classroom ini juga memiliki kerugian. Salah satunya adalah focus dan konsentrasi belajar siswa. Siswa dengan kategori tertentu, misalnya siswa yang sudah biasa “bandel”, biasanya memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk bersenda gurau, bermain-main, dan tidak fokus pada kegiatan belajar. Oleh karena itu sedapat mungkin guru menguasai kelas atau jika tidak mendapatkan bantuan dari teman sejawat untuk mengawasi dan mengendalikan siswa.

*) Penulis adalah Guru di SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon
Kecamatan Sumbergempol Tulungagung






Ilustrasi : Tempat Belajar Outdoor Classroom

MENUJU SEKOLAH YANG EFEKTIF dan BERKUALITAS

MENUJU SEKOLAH EFEKTIF & BERKUALITAS
Oleh : Mohamad Ansori, M.Pd.I *)

P
erkembangan sain dan teknologi khususnya di bidang informasi mengakibatkan arus informasi berjalan liar tanpa adanya daya bendung dan filter yang pasti. Hal-hal yang terjadi diberbagai belahan bumi dengan jarak ribuan kilometer pun dapat dilihat dalam waktu yang sama secar live  melalui media televise. Media massa dan media sosial menyediakan informasi yang beragam, baik dari sudut pandang negatif maupun positif. Alhasil segala sesuatu dapat dilihat secara transparan oleh orang lain, meskipun kadang tanpa melalui sumber informasi yang kompeten dan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu dampaknya adalah pandangan masyarakat terhadap efektifitas lembaga pendidikan. Dengan semakin derasnya arus informasi dari berbagai sumber tadi, masyarakat pengguna jasa pendidikan, dapat mengetahui efektifitas organisasi lembaga pendidikan dengan mudah sekali. Melalui jaringan informasi antar wali murid sebagai pelanggan jasa sekunder lembaga pendidikan orang tua atau wali murid dapat saling bertukar informasi tentang efektifitas lembaga pendidikan mereka. Apalagi dengan semakin banyaknya pesaing yang menyediakan layanan jasa pendidikan, mengakibatkan mereka dengan sangat mudah membandingkan kondisi lembaga pendidikan yang satu dengan lembaga pendidikan yang lain. Oleh karena itu, manajemen lembaga pendidikan harus dapat menyediakan layanan yang efektif dan berkualitas. Jika tidak, siap-siaplah lembaga pendidikan tersebut ditinggalkan oleh para pelanggannya.

Menurut Dr. Syaifuddin (2015), ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh sebuah lembaga agar manajemen lembaga tersebut dapat berjalan secara efektif, yaitu:
1.      Visi dan Misi yang Jelas
Visi yang jelas harus memuat harapan yang tinggi kepada siswa untuk belajar dan berbuat sesuai kemampuan yang dimilikinya, dalam kapasitas potensi yang terbaik yang dapat dilakukannya. Misi yang jelas mengarahkan perkembangan seluruh siswa secara menyeluruh, meliputi aspek-aspek intelektual, sosial, religi, emosi dan fisik secara maksimal. Misi yang jelas juga harus menjamin bahwa program-program yang ditetapkan oleh sekolah berada on the right track menuju visi yang telah ditetapkan.
2.      Kepala Sekolah yang Profesional
Seorang kepala sekolah adalah pemimpin yang mengarahkan jalannya sekolah untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Untuk mencapai hal itu seorang kepala sekolah hendaknya memiliki kemampuan leadership yang tinggi, dapat bekerjasama dengan guru, komite, masyarakat, dan unsur-unsur lainnya, serta mau dan mampu belajar secara berkesinambungan untuk melakukan pengembangan diri.
3.      Guru yang professional
Guru adalah ujung tombak yang melaksanakan pendidikan di sebuah lembaga. Gurulah yang menentukan kualitas pembelajaran di kelas karena ia tidak hanya pengajar, tetapi juga manajer, leader, motivator, dan bahkan innovator di kelasnya. Oleh karena itu, guru harus senantias dapat mengembangkan ketrampilannya untuk berpikir kritis, problem solving, dan menginisiasi kreativitas siswa. Disamping itu, guru juga harus memiliki sikap yang positif dan moral yang tinggi, serta mau belajar secara berkesinambungan untuk mengembangkan kemampuan dan profesionalitasnya.
4.      Kurikulum yang Luas dan Seimbang
Kurikulum yang luas dan seimbang menjamin pembelajaran dapat berjalan dengan aktif dan efektif. Kurikulum harus mencakup semua pengembangan semua potensi siswa yang mencakup bidang akedemik, sosial, religi, kepribadian, dan fisik. Kurikulum juga harus dapat mendorong siswa memiliki sikap yang positif terhadap belajar, sehingga siswa tidak lagi merasakan belajar sebagai beban, tetapi merupakan kebutuhan bahkan kesenangan atau hobi. Dengan begitu, siswa dapat senantiasa termotivasi untuk belajar dan belajar.
5.      Lingkungan Belajar yang Kondusif
Lingkungan belajar yang kondusif menjamin pembelajaran dapat berjalan dengan baik, tanpa hambatan dan gangguan yang berarti. Tolok ukurnya adalah lingkungan belajar yang bersih, aman, nyaman, dan hangat. Kondisi yang demikian dapat menstimulasi anak untuk betah belajar dan beraktivitas. Disamping itu, lingkungan belajar harus memiliki aturan yang jelas dan sensible. Sehingga menjadi tempat untuk semua orang untuk memiliki hubungan yang positif dan menimbulkan rasa handarbeni serta kebanggaan terhadap semua warga sekolah.
6.      Ramah Siswa
Siswa adalah pelanggan utama jasa pendidikan. Oleh karena itu, semua program dan kegiatan dalam sekolah, harus diarahkan untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi siswa. Dengan pelayanan yang seperti itu, potensi siswa akan berkembang secara maksimal, kesulitan-kesulitan dalam belajar mereka dapat ditangani secara efektif dan efisien, serta memiliki kepekaan terhadap kebutuhan dan latar belakang siswa yang berbeda. Sekolah juga harus dapat meningkatkan pelayanannya dengan meningkatkan pelayanan kepada siswa dengan pihak-pihak luar, seperti pusat kesehatan, pusat kebudayaan, pusat olah raga dan tempat-tempat rekreasi.
7.      Manajemen yang Kuat
Manajemen sekolah yang kuat adalah manajemen yang dapat memberdayakan semua potensi dan sumber yang ada di sekolah secara efektif dang efisien. Melalui kerjasama yang baik dengan semua komponen yang ada di sekolah, keputusan dapat diambil secara kolaboratif, perencanaan dapat dilaksanakan secara bersama-sama, dan berbagai kegiatan dijalan dengan tingkat kepedulian yang tinggi.
8.      Penilaian dan Pelaporan Prestasi Siswa yang Bermakna
Prestasi belajar merupakan tujuan akhir dari belajar itu sendiri. Prestasi belajar tidak hanya menunjukkan hasil belajar seorang siswa tetapi juga merupakan kebanggaan yang dapat memicu motivasi siswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dengan adanya pelaporan prestasi belajar yang akurat, mengarahkan guru untuk menggunakan berbagai metode, strategi dan pendekatan belajar yang sesuai untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Disamping itu, jika ditemukan permasalahan-permasalahan dalam belajar, guru dapat mengajak orang tua untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para siswa.
9.      Pelibatan Masyarakat yang Tinggi
Tak dipungkiri bahwa sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Masyarakat memiliki daya dukung yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu sekolah harus mendorong dirinya secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di masyarakat. Hal ini penting karena keterlibatan sekolah dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan eksistensi sekolah di masyarakat. Selain itu, masyarakat merupakan “ruang belajar” yang sangat luas, yang merupakan sumber belajar yang penting untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Lembaga sekolah yang efektif dan berkualitas merupakan dambaan setiap orang, baik civitas akademika, orang tua, masyarakat, dan khususnya para siswa itu sendiri. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk meningkatkan efektifitas sekolah harus senantiasa dijalankan, agar output yang dihasilkan dari “kawah candradimuka” yang bernama sekolah itu, dapat betul-betul sesuai dengan yang harapkan semua pihak. Semoga bermanfaat.

*) Penulis adalah Guru di SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon

Kecamatan Sumbergempol Tulungagung

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes