Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Tamu di Tengah Hujan

Malam itu belum larut. Tapi hujan turun sejak sore. Air turun dari langit seperti ditumpahkan. Deras sekali. Genangan air mulai menghampiri halaman rumahku. Sementara disana-sini bocor mulai mengganggu aktivitasku malam ini. Aku mondar mandir menata ember untuk menghalau titik-titik air yang semakin banyak membasahi lantai rumahku.

Saat ini aku sendiri. Tidak ada seorang pun di rumahku. Ayahku sudah sejak kemarin di Surabaya menyelesaikan persoalan-persoalan pekerjaannya. Beliau bukan pebisnis, hanya urusan bahan pembuatan spring bed yang agak macet karena berbagai urusan. Harusnya malam ini beliau pulang. Tapi, sampai hampir pukul 22.00 ini belum ada berita apakah beliau benar-benar pulang.

Sementara ibuku juga tidak di rumah. Nenekku tinggal sendirian di desa sebelah dan butuh yang menemani. Apalagi, akhir-akhir ini nenek sering sakit-sakitan, sehingga sangat kasihan kalau harus tinggal sendiri. Malam ini harusnya giliran pamanku yang menemani nenek. Tapi sayangnya pamanku juga sedang ke Probolinggo menjenguk sepupuku yang sedang belajar di pondok pesantren. Alhasil, kembali malam ini aku harus sendiri.

Kuambil HPku di atas meja belajar. Kubuka whatsapp messenger dan mencoba mencari teman di WAG yang kupunya. Tapi sialnya, malam itu, tak seorangpun online dan sudah tidak ada lagi chat yang belum kubaca. Kucoba share humor-humor di grup madrasahku, tapi tidak ada yang comment. Mungkin jam segini, teman-temanku sudah pada tidur. Atau mungkin kedinginan karena sudah hampir 2 jam ini hujan belum juga berhenti.

Biasanya aku tidak merasa takut meskipun aku di rumah sendiri. Aku seorang gadis yang sudah hampir 16 tahun dan sudah duduk di kelas sebelas Madrasah Aliyah. Sehingga, tak pantas lagi aku takut berada di rumah sendiri, yang sejak aku lahir telah aku tinggali.

Tapi entah mengapa, malam ini aku merasakan lain. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Kaki dan tanganku kurasakan dingin sekali. Sesekali kulihat ke pintu, berharap ayahku datang dari Surabaya. Tapi, belum juga ada tanda-tanda kedatangan beliau. Biasanya, dari luar pagar aku sudah hafal deru mobil pick up ayah yang menderu kencang. Bukan karena di modif sport, tapi karena memang knalpotnya sudah usang dan banyak berlubang.

Tiba-tiba kudengar pintu diketuk. Tidak serta merta aku menuju ke pintu itu.
"Siapa ya yang datang malam-malam begini? Sudah hampir jam sepuluh malam loh? hujan lagi?" tanyaku dalam hati.

Hatiku bergeming. Aku semakin ragu. Jangan-jangan ada orang yang berniat jahat yang datang ke rumah.

"Kalau ayah yang datang...ah tidak mungkin. Kan tidak ada suara mobilnya. Kalau ibu yang datang? Kok nggak ada suara sepeda motornya?" aku semakin bertanya-tanya dalam hati.

Suara ketukkan itu berhenti. Aku mencoba melihat keluar melalui jendela samping. Kusibakkan korden putih yang menutupi kaca jendela depan rumahku. Sedikit sedikit kusibakkan, mencoba mengintip apa yang terjadi di luar.

"Hah...", aku semakin terkesiap. Tidak terlihat seorang pun di depan pintu. Bahkan tidak ada tanda-tanda kedatangan orang ke rumahku.

Aku semakin ketakutan.

"Benarkah yang kudengarkan tadi? Benarkah ada orang yang datang mengetuk pintu? Ataukah.... Ah, tidak mungkin. Masak ada hantu yang bisa ketuk pintu. Tapi siapa? Jelas-jelas pintu tadi diketuk orang. Waduh...aku semakin taku...."

Segera aku berlari ke kamarku. Ku kunci kamarku rapat-rapat dari dalam. Kuambil selimut dan kubenamku diriku di dalam selimut hangatku.

Sejenak kuraih handphone-ku. Kucoba menelpon ibuku. Wuaduh! Pulsaku habis. Yang ada tinggal paket internet nya saja. Kutelelepon ibu menggunakan whatspp. Ibu...aku takut bu. Ya Allah...ibu ndak bisa dihubungi juga. Mungkin baterai HP ibu sedang habis. Dan, ibu memang tidak pernah bawa charger HP.

"Ya Allah, bagaimana ini...", aku semakin ketakutan.

Malam semakin larut. Hujan juga belum mau berhenti. Sesekali terdengar terlihat kilat menyambar diiringi suara petir yang bersahutan. Aku semakin takut dan takut. Kupasrahkan diriku pada Allah semata. Kubaca ayat kursi, sholawat, dan semua yang kubisa. Aku sudah tidak bisa berharap pada siapa lagi. Ayahku masih belum pulang, ibu pun tak bisa dihubungi. Aku tertidur dalam kepasrahan.

Aku terbangun dari tidurku. Ketukan suara pintu membangunkanku dari tidur pagi itu. Suara ibu dari luar pintu membuatku tersadar dari tidurku.

"Astaghfirullah...sudah jam 5 pagi. Aku belum shalat Subuh".

Segera aku meloncat dari tempat tidurku. Membuka pintu dimana ibuku sudah menunggu. Segera aku peluk wanita paruh baya yang paling kucinta itu.

"Ibu, aku takut. Tadi malam ada orang yang ketuk-ketuk pintu. Aku tak berani membukanya. Saat kulihat dari jendela, ternyata tidak ada orang di depan pintu. Ada hantu Bu...."

Ibuku tersenyum.

"Lihat tuh, di gagang pintu..." Kata beliau

Aku langsung mengarahkan pandanganku ke gagang pintu. Ada satu tas plastik warna putih berisi "berkat" di gagang pintu.

"Hadeeeh...ternyata ada tetangga yang mengantar "berkat" tadi malam. Mungkin, karena hujannya sangat deras, sehingga ia langsung meninggalkan tas plastik itu di gagang pintu. Hehehe....

Ramadhan 40 Tahun Lalu





R
amadhan adalah momen terindah bagi setiap muslim, laki-laki atau perempuan, besar atau kecil, anak-anak atau dewasa. Banyak hal khusus yang bisa di dapatkan di bulan mulia ini. Cara makan yang berbeda, momentum ibadah yang berbeda, dan tentunya pertemanan yang berbeda. Paling tidak, ada aturan makan minum yang berbeda, ada tarawih berjamaah di mushola, dan ada "ronda" dengan teman-teman sekampung, yang tidak mungkin dilaksanakan di luar Ramadhan.
Tapi ya itu, haus dan laparnya yang nggak ketulungan. Bagaimana tidak, pada usia 7 sampai 9 tahun, bapak mengharuskan aku berlatih puasa. Sehingga, pagi yang biasanya sarapan, kadang ada ketan bubuk, dawet gempol, putu tegal, serta nagasari, yang menjadi favorit aku, harus hilang begitu saja. Walhasil, kegiatan yang paling sering dilakukan adalah melihat jam dinding. Jam delapan, jam sembilan, jam sepuluh, semua tak lepas dari pengamatan sambil menerapkan ilmu matematika "operasi pengurangan" terhadap jam Maghrib tiba.
Ramadan tahun-tahun itu, biasanya sekolah libur sebulan penuh. Sekolah akan buka lagi setelah Iedul Fitri. Oleh karenanya, banyak waktu untuk berada di rumah, bermain bersama teman-teman bermain, bahkan “berkarya” dengan sesuatu yang sebelum-sebelumnya tidak ada.
Pagi itu, aku bersama beberapa teman berencana membuat “dor-doran”. Makhluk ini terbuat dari bamboo, dengan sekat bambu yang dilubangi, dan disisakan hanya diujungnya. Kita akan mengisikan “karbit” dan diisi sedikit air, kemudian dari lubangnya itu akan kita sulutkan api. Dan hasilnya….”jleemmmm”, dentuman keras akan mengguncang satu RT.
Semuanya sudah siap, bamboo sebesar paha dengan ukuran satu setengah meter, sudah kami bersihkan, dan sudah kami hilangkan sekat bambunya. Tinggal membuat lubang kecil diujung bawah, tempat kami menyulutkan api. Tapi akung, ketika kami berkumpul di belakang rumah, semuanya ndak ada yang membawa benda tajam. Terpaksa aku pulang mengambil sabit yang biasa digunakan bapak untuk sekedar membersihkan sekitar rumah.
Beberapa menit aku beroperasi di dapur, menelusuri tempat-tempat dimana biasanya bapak menaruh sabit itu. Tapi, setelah sekian lama, nggak ketemu juga. Aku kembali ke teman-temanku yang berada di ujung “tegalan”.
“Nggak ketemua itu sabitnya, piye iki?” Tanyaku kepada teman-temanku
Pean aja Kuh, kamu kan punya sabit yang tajam…” Kataku pada Kukuh, salah seorang temanku dalam gank itu.
“Iya, tapi kan jauh…, kamu aja Cuk…” kata Kukuh kepada Cucuk, temanku yang lain
“Hadeeh…aku lagi, kemarin yang bersihkan bambu kan aku..masak aku lagi…” Rajuk Cucuk
“Iya udah, aku aja…,” Kukuh akhirnya mengalah dan mengambil sabit.
Sekarang sabit sudah ada ditangan Kukuh. Ia mulai membuat lubang kecil diujung bawah bambu. Tak lama kemudian siaplah lubang itu. meriam bamboo siap digunakan.
“Gimana, kita nyalakan sekarang?” Tanyaku pada teman-teman.
“Ayooo…” jawab teman-temanku
Kukuh dan Cucuk lalu mengangkat meriam bamboo itu ke pinggir tegalan. Disitu ada bebarapa pohon “rajek” yang dapat digunakan untuk meletakkan meriam bambu agar posisinya dapat miring sebelah. Ujung bamboo diarahkan ke selatan, mengarah ke rumah Mbah Kardi. Tegalan Mbah Kardi cukup luas, sehingga jarak antara rumah beliau dan tempat menyalakan meriam agak jauh.
Aku memasuk satu buah karbit seukuran jempol kaki ke dalam meriam bambu. Setelah itu air dimasukkan dan ditunggu beberapa saat. Ujung meriam kita tutup dengan sampah plastic yang berserakan disekitar tempat kami berkumpul.
Piye, siap?” tanyaku pada teman-teman
“Iya, siap…sekarang yuh….”
Aku menyalakan tongkat kecil yang diujungnya ditalikan kain dan dicelupkan ke minyak tanah. Api berkobar diujung tongkat kecil itu, lalu kuarahkan ke lubang kecil pemicu meriam bambu. Dan…..
“Jlemmmmbbbb….” Suara yang keluar dari meriam bambu itu membuat pohon-pohon kecil di sekitar ikut bergetar. Aku kaget sekali, nggak mengira kalau suaranya akan sekeras itu. Mungkin karena bambunya yang cukup besar, atau karbitnya yang terlalu gedhe.
Semuanya berteriak, bersorak, dan bergembira. Tertawa terbahak-bahak meskipun agak kaget juga mendengar dentuman itu.
“Hoeeeh…siapa itu, main dor-doran di belakang rumahku” terdengar seseorang teriak-teriak dari belakang kami. Semua menoleh, dan melihat Mbah Sadi membawa sabit yang diacung-acungkan dengan wajah tampak marah sekali. Ternyata beliau sedang tidur dan kaget oleh suara dentuman yang mengguncang. Dan, aku dan teman-temanku pun ketakutan.
“Larii….” Teriakku. Semua berlarian menjauh. Meninggalkan Mbah Sadi yang marah-marah dan memorakporandakan meriam bambu karya kami sejak pagi. Hadeeh….(ans)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes