Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Pembelajaran Kewirausahaan di Sekolah

 


Pandemi Covid 19 hampir melumpuhkan semua ranah kehidupan kita. Pendidikan, sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan, benar-benar menghadapi masalah serius. Berbagai program untuk mengatasi keadaan telah dilakukan pemerintah. Tujuannya, agar negeri kita tidak runtuh ke dalam resesi. 

Dalam bidang ekonomi, tidak hanya rakyat kecil, bahkan para pengusaha menengah ke atas pun merasakan beratnya menghadapi persoalan ekonomi. Produksi dengan melibatkan banyak karyawan tidak lagi bisa dilaksanakan. Permintaan pun melemah. Banyak produk yang terpaksa dikembalikan oleh pusat-pusat perbelanjaan. UMKM khususnya di bidang makanan kecil harus menanggung banyaknya barang expired karena tidak terjual habis di pusat oleh-oleh. Semakin sulitnya lapangan kerja telah mengurangi pendapatan masyarakat yang semakin melemah dan melemah.

Namun, ternyata ada beberapa kelompok orang yang justru mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Beberapa pengusaha UMKM mendapatkan permintaan yang luar biasa sehingga mereka harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan pembeli. Lagi-lagi, disini sense of enterpreunership berperan besar. Peluang sebesar lubang jarum pun bisa menjadi harapan besar bagi para pengusaha cerdas dan dapat berpikir cepat. Siapa saja mereka?

Memang tidak semua, tetapai banyak teman yang memiliki basis usaha di bidang konveksi, dapat memanfaatkan momentum, setidaknya untuk tidak gulung tikar. Pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) Medis cukup menjanjikan. Dengan kemampuan desain dan langkah cepat untuk "mengambil contoh" APD standar, beberapa pengusaha konveksi berhasil melampui titik kritis dari usaha ini. Demikian juga dengan pembuatan masker. Permintaan masker yang meningkat tajam terutama setelah pemerintah pusat, daerah, dan desa gemar mensosialisasikan dan membagi masker kepada warga masyarakat, UMKM konveksi yang tentu saja tidak akan merasa kesulitan untuk membuat masker, berhasil mempertahankan diri dari gulung tikar.

Para pengusaha di bidang IT, khususnya di bidang penjualan handphone, pulsa, paket internet, bahkan jasa sharing wifi merupakan pihak-pihak yang juga mendapatkan berkah dari Pandemi ini. Pembelajaran daring yang mengharuskan siswa memiliki handphone sekaligus paket internetnya, meningkatkan demand, sementara ketersediaan paket internet dan pulsa tentu unlimited. Oleh karena itu, dengan sedikit sosialisasi dan "memurahkan" paketan internet, banyak counter yang juga mendapatkan untung dari kondisi ini.

Cerdas Mengambil Peluang

Salah satu hal yang dapat dipelajari dari keberhasilan beberapa wirausahawan dibidang konveksi dan teknologi informasi adalah kemampuan melihat dan mengambil peluang dengan cepat. Kesempatan tidak akan datang dua kali, oleh karena itu ketika ada kesempatan yang datang, seorang pengusaha harus dapat mengambil peluag sebaik-baiknya. Tentu saja tetap dengan mempertimbangkan segala resiko dan analisis pasar yang matang.

Melatih siswa untuk wirausaha yang tangguh, dimulai dari mengajari anak-anak kita dengan kemampuan membaca peluang. Sekolah, tentu memiliki moment-moment khusus di luar kegiatan pembelajaran yang bisa menjadi peluang berwirausaha. Kegiatan seperti akhirussanah, PHBI dan PHBN, dan lain-lain, bagi seorang wirausahawan merupakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan menjual produk dan jasa yang sesuai dengan moment itu. Maka mengajarkan anak untuk berjualan, memproduksi makanan kecil dan minuman kemasan, merupakan cara sederhana mengajarkan anak-anak membaca peluang. 

Kebun, kolam, kantin, dan koperasi sekolah merupakan tempat-tempat yang dapat digunakan untuk mengajarkan kewirausahaan. Di kebun sekolah kita tidak harus menanam bunga, tetapi juga bisa menanam sayur mayur segala rupa. Kolam ikan sekolah juga dapat digunakan untuk menghasilkan ikan yang dapat dijual. Sementara kantin dan koperasi sekolah merupakan pasar yang dapat digunakan untuk mengajarkan anak transaksi keuangan.

Sejak dini, para guru seharusnya mengajarkan anak-anak tentang kewirausahaan. Apalagi pada saat ini, kepala sekolah dan madrasah dituntut untuk memiliki kompetensi wirausaha sehingga sangat pas jika sekolah/madrasah membuat program pengenalan kewirausahaan. Bahkan di Sekolah Dasar pengenalan kewirausahaan sudah dapat dilakukan dengan memilih cara yang sederhana dan mudah dilakukan oleh peserta didik di sekolah dasar.


Harlah Ke 91 LP Ma'arif, What's Next?



Tiga hari lagi, tepatnya tanggal 19 September 2020, LP Ma'arif NU berulang tahun ke 91. Bagi seorang manusia, usia 91tahun adalah usia lanjut. Namun bagi sebuah organisasi kelas nasional, tentu masih merupakan masa-masa penuh dengan upaya untuk meningkatkan kualitas dari berbagai sisinya; profesionalisme, visi ke depan, dan orientasi manfaat yang harus mengemuka. Medan perjuangan LP Ma'arif sangatlah luas, dibarengi dengan tantangan, hambatan, rintangan, gangguan, dan berbagai macam persoalan internal dan eksternal lainnya yang tentu akan bertambah. Tapi itulah perjuangan, selama jajaran pengurus dan anggatonya bisa bersinergi, maka akan memberikan manfaat untuk meraih barokah dari Allah Swt.

Tagline bersinergi, manfaat, dan mbarokahi yang dipilih oleh LP Ma'arif Tulungagung, merupakan salah satu tagline unik yang berkesinambungan. Tagline ini sebenarnya bernuansa sederhana, namun penuh makna. Mungkin, itulah cerminan LP Ma'arif saat ini. Dalam berbagai keterbatasan dan kesederhanaan, LP Ma'arif berusaha memberikan manfaat yang sebesar-besarnya baik untuk warga NU atau masyarakata secara umum. Niat dan tujuannya hanyalah satu, yaitu mencari ridlo Allah Swt untuk meraih barokah dalam kehidupan.

Di Tulungagung, peran sekolah-sekolah dibawah naungan LP Ma'arif sudah tidak bisa diremehkan lagi. Sekolah dan madrasah unggul muncul diberbagai tempat, dengan corak utama ke-NU-annya. Langkah ini disambut baik oleh masyarakat, khsusunya masyarakat muslim yang menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh tetapi tidak ketinggalan dalam sain dan teknologi. Sekolah dan madrasah Ma'arif telah membuktikan bahwa harapan itu dapat diraih dengan belajar di sekolah LP Ma'arif. Realitasnya, sekolah dan madrasah LP Ma'arif di tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtida'iyah mendapatkan masukkan siswa yang melebihi sekolah-sekolah dasar negeri di wilayahnya masing-masing.

LP Ma'arif dan Teknologi Informasi

Menghadapi pembelajaran daring, LP Ma'arif telah bersiap diri. Pembelajaran daring baik melalui e-learning maupuan platform lainnya, sudah dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah-sekolah LP Ma'arif. Berbagai kegiatan yang melibatkan guru dan kepala sekolah/madrasah, sudah tidak lagi berbasis tatap muka. Pertemuan-pertemuan dengan virtual meeting baik melalui zoom, google teams, dan lain-lain, semua dapat dilaksanakan di lingkungan LP Ma'arif dengan baik. Bahkan, sampai saat ini, pelatihan virtual untuk kepala sekolah/madrasah tingkat nasional juga dilaksanakan oleh LP Ma'arif PBNU lebih dari 5 angkatan.

LP Ma'arif sama sekali tidak boleh jauh-jauh dari teknologi informasi. Era revolusi industri 4.0 yang sedang kita lakoni sekarang ini akan semakin canggih dan menuntut kita untuk mengikutinya. LP Ma'arif tidak boleh mundur walau sejengkal, tetap meningkatkan kompetensi baik secara organisasi maupun individu anggota, dalam bidang teknologi informasi. Berhenti saja satu langkah, maka kita akan ketinggalan perkembangan langkah teknologi informasi sekian puluh langkah di belakang. Digitalisasi sistem pembelajaran, keorganisasian, manajemen lembaga, dan lain-lain sangat diperlukan agar LP Ma'arif secara organisatoris tidak ditinggalkan oleh lembaga-lembaga dibawahnya yang juga berkembang dengan pesat.

Menjaga Tradisi

Meskipun harus berlari mengikuti perkembangan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi, LP Ma'arif tetap tidak boleh lepat dari tradisi ke-NU-annya. Islam yang ramah, santun dan bersahaja, tetap harus dikuatkan, baik ke dalam maupun ke luar. Islam ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah yang mengedepankan kemanusian tetap harus menjadi koridor yang diikuti. Ajaran pera wali dan ulama untuk menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan mauidzoh hasanah tanpa mencela dan menyakiti tetap harus menjadi cara yang dipilih agar tidak terjadi pergesekan di masyarakat.

Sekolah dan madrasah LP Ma'arif merupakan wahana yang sangat tepat untuk melaksanakan misi ke-Islam-an wasathiyah yang suka mengambil jalan tengah dengan tidak meninggalkan akidah dan mengabaikan syariah. Islam wasathiyah merupakan materi pokok yang harus disampaikan kepada para santri agar tidak menjadi radikal dalam menghadapi perbedaan. Kita memahami bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan lakum dinukum waliyadin terhadap agama lain, dan lana a'maluna walakum a'amalakum kepada sesama muslim. Dengan begitu, santri-santri LP Ma'arif tidak asing dengan perbedaan di sekitarnya dan tidak mudah mengkafirkan orang lain karena cara ibadahnya yang agak berbeda.

Tradisi ulama'-ulama' NU tetap harus menjadi materi yang "diuri-uri" oleh sekolah dan madrasah LP Ma'arif, karena hal itu merupakan peninggalan yang sangat berarti. Tahlilah, istighotsah, mauludan, sholawatan, dan lain-lain adalah amaliyah ulama yang harus dilestarikan di sekolah dan madrasah LP Ma'arif. 

Meningkatkan Profesionalisme Pelayanan

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang "menjual" jasa kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelayanan yang terbaik akan menjadi daya tarik terhebat bagi masyarakat. Untuk meningkatkan pelayanan itu, profesionalisme lembaga dan organisasi harus menjadi perhatian penting bagi para pengurus dan pimpinan lembaga. 

Profesionalisme mengaju pada kemudahan, kepraktisan, waktu yang cepat, dan tepat. Orang-orang yang profesional menjalankan pekerjaannya secara disiplin dan konsekuen. Tepat waktu dan tepat guna merupakan salah satu unsur yang penting dalam menjalankan pelayanan yang profesionalisme. Lembaga yang profesional dengan biaya yang sedikit lebih mahal akan jauh lebih menarik daripada lembaga-lembaga berbudget murah tapi amburadul.

Untuk itu, pengurus LP Ma'arif secara konsisten harus mengadakan observasi terhadap profesionalisme lembaga-lembaga dibawahnya. Paling tidak, ada pemantauan-pemantauan khusus yang berfokus pada profesionalisme lembaga, dan ditindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan. Sudah waktunya lembaga-lembaga pendidikan dibawah LP Ma'arif mengikuti pelatihan manajemen secara berkala, setelah lebih duluh para pengurus LP Ma'arif mengadakan supervisi terhadap manajemen lembaga. Dengan begitu, lembaga-lembaga di bawah LP Ma'arif dapat meningkatkan kualitas manajemen dengan sebaik-baiknya.

Selamat Harlah LP Ma'arif ke 91, Bersinergi, Manfaati, dan Mbarokahi! 


Belajar Apa pada Ayah?



Tentang orang tua, seringkali kita lebih banyak terfokus pada ibu. Kasih sayang yang besar, berlaku unlimited dan unconditionally, selalu ada untuk kita, dan do'anya yang dikabulkan Allah Swt. Ibu mengasihi, menyayangi, mendidik, dan membimbing anak-anaknya sejak ia masih di dalam kandungan. Sebelum ibu meninggalkan dunia, beliau tidak akan melepaskan semuanya dari anak terkasihnya.

Tapi, kita tidak boleh lupa, ibu bukan satu-satunya orang tua kita. Ayah kita adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan kehidupan kita. Beliaulah yang menjadi garda terdepan dan benteng terakhir untuk mengatasi persoalan-pesoalan yang muncul dari ulah kita. Ayahlah yang bertanggung jawab akan nafkah seluruh keluarga, termasuk terhadap ibu kita. Meskipun, karena tugas dan pekerjaan, kita jarang berada dalam satu waktu dan tempat yang sama dengan ayah kita. Tetap saja, apa yang beliau lakukan di luar sana adalah langkah-langkah perjuangan untuk keluarga.

Melihat Sifat Ayah

Seringkali ayah tidak memiliki sifat yang lembut. Ayah adalah sosok yang kasar, tegas, disiplin, dan bisa saja berbuat agar "tega" kepada anak-anaknya. Beberapa ayah bahkan tega menghukum anaknya secara fisik karena kenakalannya. Namun, tetap saja apa yang dilakukan ayah adalah karena kasih sayangnya kepada anak.

Ayah bersifat keras, karena itulah kehidupan yang dialaminya. Ia juga ingin mengajari kepada anak-anaknya bahwa di luar sana, tida selalu kita menemukan kelembutan dan kasih sayang. Kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki sifat yang jauh dari itu. Orang-orang yang hidup dalam dunia keras dan kasar, yang mana kita juga harus bisa menghadapinya.

Ayah bersifat tegas dan disiplin, karena ayah tidak ingin anaknya menjadi pemalas dan tidak menghargai aturan. Ayah ingin kita taat pada aturan Allah Swt dan rasulullah, aturan pemerintah, norma-norma di masyarakat, dan seterusnya. Aturan itu untuk dijalankan, bukan dilanggar. Tanpa ketegasan dan kedisiplinan kita akan menjadi manusia yang "sak enak e dhewe". Ayah tidak ingin kita menjadi orang-orang yang tak karuan apalagi tak beraturan (irregular). Ayah mau kita menjadi sosok yang tertib pada aturan sehingga kehidupan dapat berjalan dengan baik dan benar.

Ayah adalah orang yang bertanggung jawab. Ayah harus bertanggung jawab pada semua kenakalan kita. Sehingga, ketika ada orang yang merasa dirugikan oleh ulah kita, tetap saja ayah yang harus bertanggung jawab, meskipun beliau tidak melakukannya. Ayah bertanggung jawab akan terpenuhinya nafkah keluarga, sehingga apapun dilakukan untuk memenuhi kewajibannya itu. Ayah bisa menjelma menjadi kuli, menjadi buruh, dan semua pekerjaan berat lainnya, hanya untuk melakukan tanggung jawabnya itu.

Belajar Apa dari Ayah?

Dari caranya memperlakukan kita, seringkali ayah dan ibu melakukan hal yang berbeda. Ibu mendekap kita di dadanya, ayah mamanggul kita di pundaknya. Ibu ingin menunjukkan kasih sayangnya, ayah ingin mengajari anak-anaknya untuk melihat dunia. 

Ketika jatuh, ibu akan berlari, mendekap anak kecilnya, mengobati luka, dan menentramkan hatinya agar ia tidak risau akan rasa sakit yang dialaminya. Ayah lain lain. Beliau tidak serta merta merengkuh kita, tetapi justru menyuruh kita bangkit sendiri, dan belari lagi. Ayah ingin menunjukkan pada kita, bahwa dunia tidak bisa diratapi. Jatuh bangun adalah hal yang biasa. Kalau jatuh, ya bangkit lagi. Tetap semangat untuk melihat masa depan.

Ayah mengajari kita kuat, semangat, bertanggung jawab, disiplin, dan tegas dalam menghadapi persoalan hidup. Hal itu adalah hal-hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena kehidupan kita memerlukannya. Bagi ayah yang masih bersama kita, semoga ayah kita tetap diberikan kesehatan dan panjang umur. Namun, bagi ayah yang sudah menghadap Allah Swt, semoga Allah memberikan maghfirah dan ampunannya. Aaamin.

#kangenbapak


Mengembangkan Kurikulum untuk Santri Masa Depan





Kurikulum adalah seperangkat perencanaan pembelajaran yang sistematis yang meliputi semua hal tentang pelaksanaan pembelajaran di sebuah satuan pendidikan. Kurikulum merupakan pedoman utama bagi satuan pendidikan untuk melaksanakan peran dan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Di dalamnya terdapat banyak hal mulai dari rasionalisasi pendidikan, landasan hukum, visi dan misi serta tujuan sekolah, kompetensi dasar dan evaluasi pembelajaran, dan lain-lain. Bahkan di dalamnya juga terdapat uraian mengenai pengembangan potensi, layanan khusus yang diberikan, dan penguatan literasi.

Kurikulum seharusnya berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Kurikulum yang cocok pada awal tahun 2000 an tentu sudah tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi zaman sekarang. Apalagi, kurikulum yang dipakai di awal tahun 90 an, tentu tidak pas lagi dengan perkembangan dunia pendidikan dan tuntutan zaman saat ini. Oleh karena itu, setiap tahun satuan pendidikan harus menyiapkan kurikulum, yang telah mendapatkan penyesuaian-penyesuaian.

Apa yang perlu dikembangkan?
Pada umumnya, satuan pendidikan mengikuti kurikulum nasional. Kurikulum nasional ini berlaku secara nasional dan harus diikuti oleh semua satuan pendidikan. Namun demikian, ibarat makanan, kurikulum nasional adalah makanan pokok. Sebagai makanan pokok, seperti beras dan jagung, kurikulum nasional hanya menghasilkan "energi dan rasa kenyang". Oleh karena itu, peserta didik tidak cukup dengan makanan pokok itu saja. Ia perlu nutrisi untuk tumbuh dan berkembang, perlu vitamin agar tetap bugar dan imun, dan lain sebagainya.

Satuan pendidikan dapat menambahkan "nutrisi tambahan" pada peserta didik dengan mengembangkan muatan lain di luar kurikulum nasional. Muatan yang berkaitan dengan kecakapan hidup, pendidikan karakter, perkembangan sain dan teknologi, kehidupan global, budaya, dan lain-lain dapat ditambahkan sebagai makanan pelengkap yang dapat mengakselerasi kompetensi peserta didik dalam menghadapi fase kehidupan pada saat mereka dewasa. 

Tim pengembang kurikulum perlu memahami bahwa peserta didik yang pada saat ini sedang belajar di satuan pendidikan, akan hidup dan mengambil peran di masa mendatang. Oleh karena itu, mereka harus memili visi jauh ke depan, dan dapat memprediksi kebutuhan para peserta didik untuk dapat mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupannya di masyarakat kelak.

Sebagai contoh, mungkin saat ini, kemampuan di bidang teknologi informasi dan bahasa internasional belum sangat diperlukan oleh peserta didik di sekolah dasar. Namun demikian, lima atau sepuluh tahun lagi, mereka akan sangat memerlukan keduanya. Apalagi kelak ketika mereka dewasa, dimana sekat negara hampir "tidak ada" karena globalisasi, mereka akan sangat memerlukannya. Oleh karena itu, tim pengembang kurikulum harus dapat memprediksi kebutuhan masa depan dan menyiapkannya di masa sekarang.

Tidak Meninggalkan Karakter Utama
Pengembangan adalah tambahan, jangan sampai tambahan itu menghilangkan sesuatu yang inti. Sebagai tambahan ia memperkuat, bukan menghilangkan. Sebuah satuan pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, harus dapat mempertahankan ciri khas keIslamannya. Sehebat apapun pengembangan yang dilakukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tetap tidak boleh mengabaikan ciri khas sebuah satuan pendidikan.

Sekolah-sekolah Islam tetap harus mencirikan diri dengan keIslamannya. Meskipun ada banyak pengembangan kurikulum untuk menunjang performa sekolah, tetap saja akhlak mulia seperti ketawadu'an pada guru, sholat jama'ah, kebiasaan mengaji, menutup aurot, dan sebagainya, tetap harus dipegang dan dikuatkan untuk membuat ciri khas sekolah Islam. Sehebat apapun peserta didik kita dalam ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, tetapi mereka tetap harus menjadi santri-santri yang ta'dzim pada para asatidz-nya dan tetap memegangi akhlak dan kebiasaan sebagai santri. (ans)

Hobi Sekolah

 



Belajar tidak mengenal batas usia. Sejak kecil sampai dewasa bahkan hingga kita berusia lanjut, tetap saja diperintahkan untuk belajar. Belajar adalah "laku" mulia yang memang harus kita lakukan. Dengan belajar dan belajar, diharapkan kita menjadi lebih baik dalam menjalankan tugas kita sebagai manusia. 

Belajar tidak harus melalui bangku sekolah. Masjid, mushola, majelis taklim, bahkan disemua tempat dimana disitu ada kebaikan yang diajarkan, kita dapat mengikuti proses pembelajaran. Namun demikian, sebagaian orang, tetap memilih lembaga formal untuk belajar. Sehingga banyak orang yang memiliki gelar S1 lebih dari satu, gelar S2 lebih dari dua, dan seterusnya.

Dilansir pada tempo.co pada tanggal 17 Agustus 2019, beberapa orang Indonesia memiliki gelar yang luar biasa. Dosen tetap di Universitas Tarumanegara Jakarta, Yenita, tengah menjadi perbincangan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya gelar akademik yang dimiliki, dengan satu sarjana, 10 master, dan dua doctor. Namanya pun menjadi Dr. Dr. Yenita SE, MM, MBA, M.Si, MT, MH, MPD, MAK, ME, MIKOM, MMSI. 

Selain Yenita, masih ada beberapa lagi seperti Welin Kusuma dengan 13 gelar akademik dan 14 gelar profesi, sehingga namanya menjadi Welin Kusuma ST, SE, S.Sos, SH, S.Kom, SS, SAP, S.Stat, S.Akt, S.Ikom, MT, MSM, M.Kn, RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, Aff.WM, BKP, QWP, CPHR, ICPM, AEPP, CBA, CMA, CPMA, CIBA. Kemudian M. Achsin (Dosen Unibraw Malang) yang namanya menjadi Dr. Dr. Mochammad Achsin SE, SH, MM, M.Kn, M. Ec. Dev, M.Si, Ak, CA, CPA. Sementara Frans Astani, seorang notaris dan pejabat pembuat akta tanah di DKI Jakarta namanya menjadi Dr. Dr. Ir Franz Astani, SH, SpN, M.Kn, SE, MBA, MM, M.Si, CPM.

Sebegitu pentingkah gelar akademik bagi seseorang? Jawaban dari pertanyaan itu tentu sangat relatif.


Seseorang bisa saja menjawab iya, sangat penting. Gelar adalah bukti otentik dari keberhasilan seseorang menempuh jenjang pendidikan formal dan profesi tertentu. Memiliki gelar berarti ia telah berhasil mengikuti pembelajaran dengan beban, waktu, tantangan, ujian, dan tugas-tugas lain yang harus ia selesaikan selama mengikuti pendidikan. Apalagi, jika gelar itu diperoleh dari sebuah perguruan tinggi yang bonafit dimana kualitas pembelajaran disitu memang terakreditasi dengan baik, tentu merupakan kebanggan tersendiri. 

Perguruan-perguruan tinggi dengan nilai akreditasi A tentu memiliki keunggulan-keunggulan dibanding yang masih memiliki akrediatasi B atau bahkan C. Artinya, dari sisi kualitas pembelajaran, tugas, dan tantangan yang diberikan di perguruan tinggi tersebut memiliki standar yang lebih tinggi. Secara umum, kualitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut seharusnya juga lebih baik.

Sementara sebagian orang lainnya tidak menganggap gelar akademik sebagai sesuatu yang penting. Apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan dalam kehidupan nyata. Soft skill dan hard skill yang dimiliki seseorang jauh lebih penting daripada gelar akademiknya. Enterpreneur handal tanpa gelar akademiki seringkali lebih mampu menjadi manajer bagi perusahaannya daripada lulusan fakultas ekonomi jurusan manajemen bisnis. Beberapa pemimpin perusahaan besar, seperti pendiri perusahaan rokok PT Gudang Garam misalnya, bukanlah orang-orang yang dilahirkan dari bangku kuliah jurusan ekonomi, tetapi dari tempaan pengalaman kehidupan berwirausaha yang ulet dan handal. Berdasarkan realitas-realitas itu, kita tetap saja tidak dapat menjustifikasi mana yang lebih penting antara gelar atau keahlian. Semuanya penting dalam konteksnya masing-masing. 

Tetapi paling tidak, kita harus mengakui, minat belajar orang-orang dengan sederet gelar akademis merupakan contoh baik yang harus menunjukkan betapa belajar tidak mengenal batas usia. Siapa saja dan kapan saja, belajar tetap merupakan hal baik yang harus dirawat. Salah satu sabda Nabi Muhamamad Saw yaitu  : أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ, yang artinya: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”

Setiap orang memiliki kegemaran. Mungkin, orang-orang dengan gelar yang "seabrek" itu adalah orang-orang yang memang kegemarannya belajar. Jika orang lain memiliki hobi bermain sepak bola, menyanyi, bersepeda, memancing, dan lain-lain, maka bisa jadi kalau kita bertanya pada beliau-beliau itu, mereka akan menjawab, "Hobi saya sekolah"! (ans)


Belajar dari Pembolos

gambar : anoerkomputer.online




Setiap orang memilik karakteristik yang berbeda. Gaya bicara, belajar, bekerja, bergaul, berkomunikasi, bahkan gaya berjalan pada setiap orang tentu berbeda. Penyeragaman akan sesuatu seringkali juga bertabrakan dari sifat alamiah yang memang dibawa seorang manusia sejak ia lahir. Termasuk di dalamnya gaya dan cara belajar siswa, yang tentu juga berbeda-beda.

Anak yang memiliki gaya belajar visual akan mengalami kesulitan ketika harus belajar dengan cara auditif dan sebaliknya. Anak yang suka belajar dalam ketenangan akan mengalami kesulitan pada saat belajar kelompok. Anak mandiri akan merasa jengah pada saat guru les privatnya mengajar dengan cara yang detil karena hal itu akan berbenturan dengan karakternya yang mandiri. Sehingga, seorang anak mandiri tidak memerlukan guru privat yang harus mendampingi dirinya belajar secara pribadi.

Seorang anak belajar dengan tekun, dalam waktu yang panjang dan teratur. Pantaslah anak itu pintar dalam bidang studi yang dipelajarinya. Ia menghabiskan waktu untuk membaca, menghafal, mengulang, dan mengerjakan latihan-latihan. Apalagi jika ditunjuang dengan fasilitas belajar yang memadai. Buku-buku yang lengkap, ruang belajar yang nyaman, tidak mempunyai tugas lain selain belajar, bahkan mendapatkan bantuan bimbingan dari guru privat. Hasilnya, tentu ia akan mendapatkan nilai-nilai bagus dalam setiap ulangannya.

Namun tidak semua anak berada pada kondisi ideal seperti itu. Tidak semua orang tua bisa menyediakan fasilitas yang penuh untuk anak-anaknya. Kadang-kadang seorang anak harus membantu orang tuanya, mengasuh adiknya, bahkan bekerja paruh waktu di luar jam belajarnya. Namun, anak-anak seperti ini belum tentu mendapatkan nilai buruk dalam ulangannya. Padahal, dari sisi kuantitas waktu belajar yang tersedia, mereka jauh lebih sedikit mendapatkannya.

Faktanya, setiap orang memiliki daya serap yang berbeda. Seseorang bisa hanya dengan sekali membaca, ia kemudian paham, bahkan hafal apa yang dia baca. Seorang anak lain dapat belajar meskipun sambil bekerja, sambil nonton TV, mendengarkan musik, bahkan sambil bermain pun mereka bisa belajar. Anak-anak seperti ini tidak membutuhkan waktu khusus untuk belajar. Sedikit waktu yang dimiliki, cukuplah untuk memahami materi pelajarannya.

Salah seorang teman saya bukan anak penurut. Sering membolos, dan tampak malas belajar. PR dan tugas-tugas pun tidak dikerjakan dengan baik. Asal-asalan saja. Paling tidak, asal tidak dimarahi guru. Namun, di setiap ujian, baik itu ujian tengah semester atau ujian akhir semester, nilai-nilainya selalu berada dideretan sepuluh besar di kelasnya. Padahal, hampir semua orang melihatnya hanya bermain dan bermain, bahkan sering kali tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan.

Anak pembolos ini ternyata memiliki cara belajar sendiri. Ia suka membuat rangkuman, skema materi (mind map), dan mempelajarinya di kala orang tidur. Pendeknya, disaat teman-temannya belajar, ia bermain. Tetapi, pada saat teman-temannya tidur, ia belajar. Itu pun dengan cara yang tidak lazim. Yaitu skematik atau sistem bagan. Sehingga materi yang begitu banyak dapat ia sederhanakan dan dengan mudah dipelajarinya. Anak pembolos itu ternyata memiliki caranya sendiri dalam belajar. Sehingga, tidak patutlah kita meremehkan orang lain, karena pada hakikatnya kita tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnya ia!

Nasionalisme itu Sederhana!



Bagi bangsa Indonesia, bulan Agustus adalah bulan istimewa. Bulan ini merupakan bulan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Tepat pada hari Jum'at tanggal 17 Agustus 1945 founding fathers kita memprokamirkan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukalah hadiah dari Jepang, tapi benar-benar merupakan hasil perjuangan seluruh komponen bangsa Indonesia. Momentum ini tentu harus selalu diperingati, sebagai bagian mengingat sejarah dan meneladani perjuangan para pahlawan bangsa. Mereka tidak hanya telah bekerja, berusaha, dan berjuang dengan keras, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa untuk kebahagiaan anak cucunya.

Memperingati kemerdekaan pada hakikatnya adalah mensyukuri kemerdekaan itu sendiri. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, mengakui benar bahwa kemerdekaan ini merupakan berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Sebab, secara teknis hampir tidak mungkin para pejuang di masa lalu dapat memenangkan berbagai pertempuran dengan hanya bermodalkan senjata seadanya. Sementara para penjajah memiliki senjata yang lengkap dan otomatis. Sehingga keberhasilan meraih kemerdekaan ini benar-benar anugerah dari Allah Swt.

Mengingat dan mengenang jasa para pahlawan saja tentu tidak cukup. Sebagai generasi penerus kita memiliki tugas yang tidak kalah beratnya. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan merupakan tugas utama kita sebagai penerus perjuangan para pahlawan. Mempertahankan bermakna kita harus menjaga kemerdekaan ini tetap harus terjaga. Tidak saja dari invasi militer bangsa lain, tetapi juga penguasaan sektor ekonomi dan penjajahan budaya bangsa lain. Generasi sekarang harus memastikan bahwa bangsa Indonesia benar-benar dapat berdikari dan mandiri, tidak dalam kooptasi negara dan bangsa lain dalam semua lini kehidupannya.

Generasi sekarang juga harus memastikan bahwa kita telah merdeka dari semuanya, baik dalam konteks ekonomi, sosial, budaya, bahkan hukum. Sebab penetrasi budaya dan semakin bebasnya pergaulan antar bangsa merupakan pintu masuknya pengaruh asing pada bangsa kita. Ketergantungan kita pada produk luar dan semakin habisnya sumber daya alam akan sangat mempengaruhi kemerdekaan ekonomi. Kekuatan pemodal besar yang menggerakkan ekonomi dunia sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi negara kita.

Mau tidak mau, gerakan mencintai produk bangsa sendiri merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan kita dengan bangsa lain. Apalagi, 270 juta bangsa Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi produk-produk kita sendiri. Sebagai bangsa kita harus bertekad memajukan bangsa sendiri dan menomorduakan produk bangsa lain. Dalam hal bangsa Indonesia bisa memproduksi sendiri kebutuhannya, maka kita harus tetap mengutamakan untuk menggunakan produk kita sendiri, bukan sebaliknya.

Nasionalisme itu sederhana. Mencintai negeri dengan menggunakan produk kita sendiri, bangga sebagai bangsa dengan tetap mempertahankan budaya yang mulia, bersatu melawan ketergantungan dengan bangsa asing dengan berupaya untuk berdikari. Hal ini memang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilaksankan. Tapi dengan tekat yang kuat, kita yakin bahwa kita akan bisa melakukannya, demi kejayaan bangsa Indonesia.

Selamat HUT RI ke 75, Dirgahayu Indonesiaku!

Menjaga Nasionalisme



Mencintai tanah air merupakan salah satu upaya menjaga harmonisasi kehidupan suatu bangsa. Komponen-komponen bangsa yang berbeda-beda tetapi memiliki kesamaan sudut pandang atas negerinya dapat menjamin persatuan dan kesatuan di negara itu. Sebaliknya jika masing-masing kelompok berpikir berdasarkan sudut pandang kepentingan kelompok, suku, atau golongannya maka bangsa sebesar apapun akan tercerai berai. Kondisi itu akan mempersulit diri menjadi bangsa yang besar, karena perpecahan tidak akan menghasilkan kebesaran dan kedamaian.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Sebagai negara kepalauan, bangsa Indonesia tinggal di ribuan pulau yang terpisah oleh laut dan selat yang dalam. Bersumber dari kondisi ini maka adat istiadat, budaya, cara hidup, bahasa, dan  bahkan agama dan kepercayaan bangsa-bangsa di Indonesia berbeda-beda. Berdasarkan hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa, 652 bahasa daerah, dan 17.504 pulau besar kecil, yang bahkan tidak semuanya berpenghuni.

Menurut Hans Kohn sebagaimana dimuat dalam https://www.mypurohith.com/ mengatakan bahwa nasionalisme adalah sebuah bentuk rasionalisasi dan formalisasi yang terbentuk karena kesadaran nasional untuk bernegara dan berbangsa. Kesadaran sebagai bangsa sangat diperlukan untuk memperkuat suatu bangsa. Dengan kesadaran itu warga bangsa membangun kekuatan yang besar untuk berdirinya suatu negara.

Peringatan hari besar nasional, seperti peringatan HUT RI merupakan salah satu upaya untuk menguatkan rasa nasionalisme itu. Dengan peringatan itu kita seperti diputarkan kembali kisah-kisah perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan di masa lalu. Melaui peringatan itu kita kembali diingatkan untuk menghargai perjuangan para pendahulu yang rela mengorbankan harta benda bahkan nyawa mereka untuk kemerdekaan negeri ini. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Tugas generasi penerus adalah melanggengkan kemerdekaan yang telah diraih, mempertahankan yang telah dicapai, dan mengisinya dengan hal-hal positif yang dapat mendukung bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Proklamasi kemerdekaan bukanlah tujuan, tetapi wasilah untuk meraih tujuan kita sebagai bangsa, yaitu mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Generasi pasca kemerdekaan memiliki tugas menjalankan roda pembangunan dan menjaga agar tujuan bersama yang telah ditetapkan segera dapat diraih.

Mendalami Kelas Maya

gambar : yuksinau.com


Sebagaimana kita ketahui, pendidikan diarahkan untuk pencapaian kecakapan abad 21 sebagai upaya untuk menyiapkan peserta didik untuk dapat mengambil peran aktif dalam kehidupan di masa mendatang. Kecakapan yang hendak dicapai dalam pendidikan saat ini adalah: (1) Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skill); (2) Kecakapan Berkomunikasi (Communication Skills); (3) Kecakapan Kreatifitas dan Inovasi (Creativity and Innovation); dan (4) Kecakapan Kolaborasi (Collaboration).

Oleh karena itu, kemendikbud merilis sebuah fitur yang disebut dengan kelas maya. Sebagaimana dimuat dalam http://pena.belajar.kemdikbud.go.id, fitur kelas maya merupakan fitur pembelajaran online yang pada hakikatnya adalah sebuah pembelajaran tradisonal/konvensional yang hanya saja disajikan dalam bentuk format digital melalui sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dalam kelas maya, peserta didik dapat megakses materi pelajaran (tulisan, gambar, audio, dan video), tugas, kuis, serta ujian yang telah dibuat oleh gurunya. Selain dari itu peserta didik juga dapat berdiskusi secara online bersama peserta didik lain dan guru pengampunya.

Pembelajaran Kurikulum 2013, mengarahkan siswa untuk mencapai kompetensi secara paripurna. Melalui K13 kompetensi siswa dalam bidang religiu (KI1), sosial (KI2), pengetahuan (K3), dan ketrampilan (K1) dikembangkan sedemikian rupa melalui pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Para siswa tidak hanya mengembangkan kognitifnya, tetapi juga mengembangkan afektif dan psikomotoriknya. Meskipun secara online, kelas maya tetap mengajak siswa untuk belajar secara menyeluruh.

Lebih lanjut, sebagaimana dijelaskan dalam http://pena.belajar.kemdikbud.go.id, melalui fitur kelas maya dapat membimbing siswa untuk: (1) Belajar untuk mencari tahu (learning to know) ; (2) Belajar untuk mengerjakan (learning to do) (3) Belajar untuk menjadi (learning to be); (4) Belajar untuk berhidupan bersama dalam kedamaian (learning to live together in peace). Belajar di kelas maya, tidak saja belajar menggunakan teknogi infomasi, tetapi tetap saja mempelajari materi secara menyeluruh dan mengembangkan semua kecakapan yang ditargetkan.

Belajar dengan kelas maya tidak berarti menghilangkan peran pendidik. Para guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping siswa dalam pembelajaran menggunakan fitur kelas maya. Pembelajaran dengan kelas maya tetap menempatkan pendidik sebagai tokoh sentral dalam pembelajaran. Sebab, tulisan, video, audio, kuis, bahkan ujian, tetap dibuat oleh para pendidik sendiri. Sehingga para pendidik tetap dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disiapkan.

Beberapa kelebihan belajar secara dengan kelas maya adalah: (1) peserta didik dapat belajar kapan saja dan dimana saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, (2) peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan kreativitasnya dengan lebih cepat, (3) peserta didik juga dapat mengembangkan skill-nya dibidang teknologi informasi, (4) peserta didik tidak akan ketinggalan pelajaran meskipuan suatu saat terpaksa ia tidak bisa masuk sekolah, dan (5) kelas maya merupakan kesempatan bagi pendidik untuk mengembangkan kemampuannya dalam bidang teknologi informasi.

Namun, pembelajaran dengan kelas maya juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu (1) pembelajaran ini memerlukan bantuan dan dukungan teknis berupa laptop, komputer, smartphone, dan jaringan internet yang stabil, (2) kurangnya transfer of value, karena para guru dan siswa tidak bertemu dan berinteraksi dalam satu tempat, sementara pembangunan karakter hanya dapat dilaksanakan dengan adanya transfer of value itu sendiri.

Oleh karena itu, pembelajaran kelas maya sebaiknya bukan merupakan pembelajaran yang bersifat konstan. Pendidik harus tetap melakukan interaksi dengan para siswa, sehingga dapat mengamati setiap detik perkembangan siswa, khususnya karakternya. Pembelajaran dengan kelas maya dilakukan sebagai "variasi pembelajaran" sehingga siswa tidak jenuh dengan pembelajaran yang monoton. Keragaman cara belajar ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Menguatkan Karakter dengan Short Film



Meskipun dalam masa pandemi, guru tetap harus berupaya melaksanakan tugas pendidikannya dengan maksimal. Pendidikan dan pengajaran must go on, tidak boleh stuck apalagi stop. Dalam artian, guru harus memutar otak, melakukan inovasi dan kreasi, agar penguatan karakter tetap bisa dijalankan. Jika tidak, dalam masa penantian dimana kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir, pendidikan karakter akan discontinue. Hasilnya tentu akan menakutkan, atau bahkan mengerikan, tatkala pendidikan karakter berhenti dijalankan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk menguatkan karakter anak adalah dengan membuat film pendek. Tentu kualitas film pendek yang dibuat guru tidak boleh disejajarkan dengan film pendek buatan sinematografer profesional. Guru cukup menggunakan smarphone yang dimiliki, membuat cerita berkarakter, menuangkan dalam skenario, memilih pemeran, shooting video, mengeditnya, dan menguploadnya di youtube atau medsos yang dimiliki.

Membuat cerita berkarakter dengan durasai 5 sampai 10 menit, bagi para guru tentu tidaklah sangat sulit. Apalagi sumber cerita banyak tersedia di internet, maka dengan ATM (amati, tirukan, modifikasi) saja, kita dapat membuat cerita berkarakter. Demikian juga dengan skenarionya. Tidaklah harus tercatat dengan rapih cukup membagi peran dan mengatakan pada para guru nanti berkata begini dan begitu dan seterusnya. Yang penting, dapat mudah dipahami oleh para siswa apa konfliknya, dan bagiamana penyelesaiannya, atau apa karakter buruknya, dan bagaimana seharusnya karakter baiknya. Lebih baik lagi, jika juga dimunculkan akibat karakter buruk yang dimiliki oleh siswa, dan buah dari karakter baik yang diperoleh jika siswa melakukan kebaikan.

Smarphone juga cukup memberikan fasilitas pembuatan video. Jika kita ketik video maker di playstore, maka akan muncul banyak aplikasi pembuatan video yang bisa diunduh dan kemudian digunakan. Tinggal mengotak-atik sambil membaca tutorial atau melihat video tutorialnya di youtube. Maka para guru juga akan memiliki ketrampilan sebagai "kameramen" dadakan. Terakhir, para guru tinggal mengedit, menggabungkan video dan foto yang ada, menyisipkan teks, dan mengekspor nya menjadi file video yang siap diungguh di youtube atau medsosnya.

Yang terpenting dari semuanya, bahwa guru tetap harus bergerak. Hati terdalam dari seorang guru tentunya tidak akan rela melihat anak didik dalam jangka waktu yang panjang "terbebas" dari pembiasaan-pembiasaan baik danmengenal nilai-nilai kebajikan. Oleh karena itu, berbagai cara harus ditempuh agar anak-anak kita tidak jauh-jauh dari bimbingan guru, meskipun secara fisik kita belum bisa berinteraksi tatap muka. Selamat berkreasi guruku! (ans)


Arti Penting Seat Rolling di Kelas



Salah satu yang perlu diperhatikan guru dalam meningkatkan efektifivitas pembelajaran adalah seat rolling. Dalam kelas dengan jumlah siswa lebih dari 20 anak per kelas, seat rolling sangat diperlukan supaya terjadi pemerataan. Seat rolling pada prinsipnya adalah perpindahan tempat duduk siswa pada setiap jangka waktu tertentu, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali. Untuk menentukan siapa dan duduk dimana, para guru bisa mengkreasikan caranya menggunakan kuis, tebak-tebakkan, atau berurutan berdasarkan nomor absen, supaya terjadi pemerataan. Faktor pemerataan merupakan salah satu faktor penting dalam seat rolling ini karena hal itu adalah tujuan utama dari aktivitas ini.

Seat rolling memiliki banyak keuntungan, khususnya bagi para siswa. Beberapa arti penting seat rolling adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan kesempatan pada siswa untuk duduk pada posisi yang berbeda terhadap guru atau papan tulis. Dengan demikian penghlihatan siswa tidak hanya mengarah pada sudut yang sama sehingga tidak mengganggu penglihatan mereka. Duduk pada posisi yang sama dalam jangka waktu yang panjang, terutama bagi tempat duduk yang berada di pinggir, tentu akan mempengaruhi penghlihatan siswa. Lama kelamaan siswa akan memiliki kebiasaan melihat dengan sudut mata kiri atau kanan sesuai kebiasaan duduknya.
  2. Memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dengan siswa yang berbeda. Dengan demikian siswa akan lebih banyak belajar karakter temannya. Hal ini penting untuk menambah wawasan siswa agar mereka semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter, sifat, dan perilaku yang berbeda. Kesadaran ini sangat penting agar siswa menjadi orang-orang yang berlapang dada akan kelebihan dan kekurangan orang lain, serta dapat bersikap bijak dalam pergaulan mereka.
  3. Memberikan kesempatan pada siswa untuk merasakan suasana yang berbeda. Duduk tepat dihadapan meja guru dan duduk di jajaran kursi paling belakang tentu memiliki sense yang berbeda. Adanya seat rolling memberikan kesempatan pada siswa untuk menempati posisi dan tempat duduk yang berbeda, sehingga mereka dapat merasakan kelebihan dan kekurangannya.
  4. Meningkatkan motivasi belajar siswa. Seat rolling ini menghasilkan suasana baru, terutama jika guru juga menyertainya dengan layout tempat duduk yang baru. Tatanan tempat duduk dan meja siswa dapat diubah-ubah sedemikian rupa, sehingga kelas menjadi variatif, segar, dan menyenangkan. Kelas-kelas reguler yang selalu menghadap ke papan tulis tidak harus ditinggalkan tetapi perlu diselingi layout lainnya agar suasana kelas mengalami perubahan.
Agar memberikan efek yang terasa, seat rolling harus dilakukan dengan terus menerus tetapi dalam jangka waktu tertentu yang telah direncanakan sebelumnya. Aktivitas ini tidak akan berpengaruh besar jika hanya dilakukan sesekali saja. Paling tidak, harus melewati satu periode dimana seorang siswa sudah dapat kembali pada posisi semula. (ans)

Olah Raga dan Matematika


Olah raga adalah mata pelajaran favorit hampir semua anak. Sorak sorai selalu terdengar ketika di dalam kelas bapak atau ibu guru meminta anak untuk keluar, berganti pakaian olah raga, dan segera menuju lapangan. Mengapa? Tentu karena pada saat berolah raga anak-anak dapat bermain, bersenda gurau, dan berkumpul dengan teman-teman di alam bebas.

Jika demikian, untuk menjadi mata pelajaran favorit tentunya ada beberapa hal yang bisa kita "contek" dari olah raga. Apa itu? Ya, bermain, bersenda gurau, dan di alam bebas. Tiga hal itu ternyata merupakan hal-hal yang paling disukai anak. 

Lantas, haruskan anak-anak selalu diajak bermain, bersenda gurau, dan belajar di alam bebas? Tentu saja tidak gaesss.... Tetapi, paling tidak, kita sudah mengetahui jika pola bermain, bersenda gurau, dan belajar di alam bebas, merupakan hal-hal yang sangat disukai anak-anak. Itulah anak, bermain adalah dunia mereka, bersenda gurau alias guyon adalah hobi mereka, dan alam terbuka merupakan favorit mereka.

Matematika dalam Pelajaran Olah Raga
Seorang guru kreatif, bisa saja mengajak anak-anak mengikuti outdoor classroom. Guru dapat memilih lapangan tempat berkumpul anak-anak. Lantas, meminta anak-anak untuk berbaris sesuai jumlah kehadiran. Misalnya saja, kelas jumlahnya 20 anak. Guru dapat meminta anak untuk berbaris 4 banjar, 5 baris. Kemudian meminta anak-anak untuk berhitung. Ya, tentu hasil akhir dari berhitungnya adalah 20. Tapi, tahukah bahwa dengan anak-anak membuat barisan dengan 4 banjar dan 5 baris kita dapat mengajarkan perkalian 4 x 5 = 20?

Kemudian, anak-anak diminta berkelompok. Misalnya, dengan berdasarkan nomer absen mereka. Yang nomor ganjil berkumpul dikiri guru, sedangkan yang nomor genap berkumpul di kanan guru. Berapa jumlah masing-masing kelompok? Tentu saja 10 orang. Karena jumlah anak 20, maka yang bernomor ganjil sebanyak 10 anak dan yang bernomor genap juga 10 anak. Disini, guru dapat mengajarkan pembagian sederhana, yaitu 20 : 2 = 10

Para guru dapat menggunakan pelajaran olah raga juga untuk mengajarkan matematika operasi pengurangan. Contohnya, seorang anak disuruh berdiri. Anak yang lain memperhatikan anak tersebut. Kemudian, guru meminta anak untuk maju 5 langkah. Kemudian mundur 2 langkah. Guru bertanya, sekarang anak tersebut pada posisi berapa langkah dari tempat semula? Anak-anak akan dengan mudah menjawab, yaitu pada posisi tiga langkah dari tempat semula. Sebenarnya, ini sedang mengajarkan bahwa 5 - 2 = 3.

Guru kreatif dapat menggunakan berbagai kesempatan untuk belajar. Matematika, IPA, IPS, dan semua muatan dalam pelajaran tematik dapat diajarkan dengan mudah oleh guru-guru kreatif. Tinggal, apakah kesempatan itu dapat dimodifikasi dengan baik atau tidak. Selamat berkreasi para guru!

Warna Hijau dan Kedamaian


Warna hijau sering disebut dengan warna kedamaian. Orang yang ingin merasakan kedamaian biasanya pergi ke hutan, sawah, ladang, atau padang rumput yang hijau, untuk mengistirahatkan mata dan pikiran. Melihat alam dengan dominasi warna hijau akan membuat hati dan pikiran tenang. Buktinya, banyak orang memilih bersantai di gubug sawah, di ujung lembah, atau di pinggir hutan, sekedar untuk menikmati kehijauan. Sungguh, ini tidak dalam rangka mencari "dalil" yang mendukung makanan yang berwarna hijau, klepon!

Seperti dijelaskan dalam Colour-Affects.co.uk, ada 4 warna utama yang mempengaruhi psikologi kita sehari-hari, yaitu merah, biru, kuning, dan hijau. Mereka memiliki keterkaitan dengan tubuh, pikiran, emosi, dan keseimbangan penting di antara ketiganya.

Saat mata melihat sesuatu yang hijau atau berwarna hijau, mata kita tidak perlu penyesuaian apapun, makanya kita terasa nyaman dan tenang ketika melihatnya. Ketika kita melihat warna hijau, kita akan merasakan kehadiran alam, seperti kehadiran adanya air, dan merasa aman karena rasa ancaman bahaya lebih sedikit.

Sementara itu, plus.kapanlagi.com, menjelaskan "warna hijau adalah warna yang identik dengan alam dan mampu memberi suasana yang santai. Berdasarkan cara pandang ilmu psikologi warna hijau sangat membantu seseorang yang berada dalam situasi tertekan untuk menjadi lebih mampu dalam menyeimbangkan emosi dan memudahkan keterbukaan dalam berkomunikasi dan warna hijau adalah aura untuk orang dengan tipe kepribadian plegmatis, yaitu kedamaian yang mendominasi di dalam diri seseorang tersebut. Orang dengan tipe kepribadian ini selalu bisa menjadi pengengah dalam setiap perbedaan, dan juga lebih memilih menghindari hal-hal yang berbau konflik".

Warna hijau menurut sagat Covid 19 juga merupakan warna kesyukuran. Betapa tidak, zona hijau adalah zona yang sangat diharapkan. Ketika berada di zona merah, kita harus membatasi banyak hal, karena kita berada dalam zona bahaya. Warna oranye membawa kita ke tingkat yang lebih aman. Sementara zona kuning membuat kita bertambah lega. Dan akhirnya, kalau kita berada pada zona hijau, tentu kita sudah bisa memulai normal baru yang kita impikan.

Bersyukurlah, orang-orang yang sering berkegiatan dengan dominasi warna hijau. Warna ini akan membuat kita merasakan damai dan nyaman. Namun demikian, motivasi bekerja tetap harus kita jaga. Merasakan kedamaian tidak berarti menurunkan motivasi dalam bekerja. Dalam artian, berada di "zona hijau" tidak berarti bahwa kita bisa nyantai-nyantai saja. Damai hati, kuat semangat dan motivasinya. Semoga kita semua segera berada di zona hijau! Aamiin.

Belajar Sain di Dapur Mama


Belajar dari rumah bermakna bahwa semua hal yang ada di rumah dapat digunakan untuk belajar. Dan, hal itu sangat mungkin dilakukan. Apalagi semuat tempat di rumah kita, sebenarnya merupakan sumber belajar yang bagus bagi anak-anak, baik dalam bidang studi sains, matematika, dan bidang studi lainnya. Paling tidak, banyak hal matematis dan saintis ada di rumah kita.

Dapur merupakan salah satu tempat yang tepat untuk belajar sains. Di dapur kita bisa belajar perubahan wujud benda, seperti perubahan air menjadi uap air (menguap), lalu uap air menjadi embun (mengembun), serta perubahan air menjadi es (membeku). Tinggal kita mengajak anak-anak mengamati hal itu, lalu mendeskripsikannya dalam sebuah teks yang terdiri dari beberapa paragraf.

Di dapur, anak-anak kelas 1 sekolah dasar dapat belajar tentang panca indera, salah satunya indra penciuman. Banyak bumbu dapur dan "empon-empon" untuk mengajar perbedaan bau antara satu bumbu dengan bumbu yang lain. Ibu dapat menjelaskan mana kunyit, jahe, kencur, mrica, bawang merah, bawang putih, dan sebagianya. Salah satu caranya adalah ibu menunjukkan semua benda lalu menyebutkan namanya. Setelah itu anak disuruh menutup mata, ibu mendekatkan bumbu ke hidung anak kemudian menyebutkan apa nama bumbu itu.

Contoh lain adalah mempelajari kalor. Ketika air dipanaskan di atas api, maka terjadi perubahan suhu pada air. Air yang tadinya dingin lama kelamaan akan menjadi panas. Ketika menerima panas dari luar, suhu air akan bertambah. Pertambahan suhu air mengakibatkan air menjadi panas. Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Air panas jika didiamkan lama kelamaan akan menjadi dingin. Kalor yang terdapat dalam air sedikit demi sedikit akan lepas dan suhu air akan turun. Air akan menjadi dingin.

Anak-anak juga bisa belajar tentang perpindahan panas di dapur. Kalor dapat berpindah melalui media. Media yang mudah menghantarkan panas disebut konduktor, sedangkan benda yang sulit menghantarkan panas disebut isolator. Kayu dan plastik merupakan bahan-bahan isolator. Sementara aluminium, besi, dan logam lainnya merupakan konduktor panas yang baik. Itulah mengapat pegangan tutup panci atau pegangan "sotil" terbuat dari kayu atau plastik, agar tidak cepat panas.

Intinya, banyak hal yang dapat dipelajari di dapur. Sain merupakan salah satu obyek yang dapat dipelajari dengan mudah di dapur. Banyak materi pelajaran yang dapat dipelajari secara kontekstual di dapur. Namun, dalam hal ini ibu harus mau "direpotkan" oleh buah hatinya. Semua kembali pada kemauan orang tua untuk mau melaksanakannya atau tidak.

Mengaitkan Sain dengan Akidah

ilustrasi : kompas.com
Akidah merupakan landasan pertama dan utama yang harus kita kuatkan pada diri anak didik kita. Mengapa? Dengan akidah yang kuat anak-anak kita akan terkondisikan pada track yang benar. Sehingga, mempelajari apa pun mereka nanti, atau menjadi apapun merek nanti, tetap akan menjadi orang-orang yang beriman. Utamanya mereka tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Tetapi justru menjadi dunia dan seisinya sebagai wasilah untuk mendekatnya dirinya pada Allah Swt serta menjalankan tugasnya beribadah dan mengabdi kepada-Nya.

Dalam Islam, menanamkan akidah yang kuat kepada anak-anak, merupakan kewajiban orang tua yang paling mendasarkan. Al Qur’an menggambarkan betapa Nabi Ya’kub sangat getol menanyakan kepada anak-anaknya tentang hal ini. Ketika anak-anak mereka dewasa, bahkan ketika Nabi Ya’kub akan meninggal, beliau tetap menanyakan, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Dalam Surah Al Baqarah ayat 133 Allah Swt berfirman, yang artinya: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dan guru, dalam menguatkan akidah anak, antara lain: 

Pertama, adalah dengan menceritakan kisah-kisah para nabi dan sahabat-sahabatnya, auliya, ulama, dan orang-orang sholeh, yang menceritakan bagaimana perjuangan mereka untuk mempertahankan akidahnya. Betapa mereka rela disiksa, dihina, bahkan sampai harus mengorbankan nyawa mereka untuk mempertahankan akidah mereka.

Kedua, adalah dengan membawa mereka ke dalam lingkungan yang baik dan benar, untuk mengaktualisasikan akidah. Misalnya dengan cara mengajak anak-anak ke masjid atau mushola untuk sholat jamaah, mendatangi majelis-majelis ilmu, dan sebagainya.

Ketiga, adalah mendorong anak untuk belajar dan berguru pada orang yang benar, dengan sudut pandang yang tepat, dan sering berdiskusi dengan orang-orang sholeh.

Lantas bagaimana menggunakan sains untuk menguatkan pembelajaran akidah? Atau, bagaimana menghubungkan sain dengan agama? Bukankah sain berkaitan erat dengan fakta dan pengetahuan sedangkan akidah lebih banyak berkaitan dengan keyakinan?

Fakta membuktikan bahwa beberapa ilmuwan Barat seperti Jacques Yves Costeau, Maurice Bucaille, Prof William Brown, Fidelma O'leary, Leopold Werner Von Ehrenfels, Keith Moore, Masaru Emoto, dam Tegatat Tejasen masuk Islam gara-gara riset yang dilakukannya sesuai dengan firman Allah Swt dalam al Quran al Karim. Artinya, sain seharus bisa mendekatkan orang pada Islam, bukan menjauhkannya. Oleh karena itu, orang tua dan para guru seharusnya dapat menghubungkan sains dengan Islam, khususnya akidah.

Para guru sekolah dasar, bisa saja menghubungkan sains dengan akidah dengan mudahnya. Contohnya, ketika di kelas 4 anak-anak telah belajar sistem peredaran darah manusia, anak-anak dapat mengetahui betapa rumitnya sistem peredaran darah yang ada pada manusia. Pada saat yang sama, peradaran darah itu telah tertata secara sistemik dengan sendiri. Bahkan ribuan bahkan jutaan pembuluh darah yang saling berkaitan dan “bersliweran” di seluruh tubuh manusia, dapat berjalan dengan baik tanpa campur tangan manusia sendiri. Akhirnya, kita dapat menyimpulkan betapa hebatnya Allah Swt telah mengatur semuanya.

Atau, pada saat guru membicarakan simbiosis mutualisme antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Pada siang hari, tumbuh-tumbuhan memerlukan CO2 dan mengeluarkan O2 dalam respirasinya. Sementara manusia dan hewan justru mengeluarkan CO2 dan membutuhkan O2 agar dapat bernafas. Sehingga, terjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan antara manusia dan hewan dengan tumbuh-tumbuhkan pada ekosistem yang secara alimiah telah disiapkan Allah Swt untuk kehidupan manusia.

Contoh lain adalah ketika guru kelas mengajak anak untuk praktek menanam. Biasanya para guru mengajak anak menyiapkan beberapa gelas plastik dan mengisinya dengan media tanam. Kemudian guru menyuruh anak-anak mengisinya dengan biji jagung atau kacang. Satu gelas diletakkan di tempat terbuka, satu gelas lagi ditempatkan di samping jendela, dan satunya lagi dimasukkan ke dalam almari atau kotak kayu yang gelap. Anak-anak diminta mengamati betapa terjadi perbedaan pertumbuhan dari masing-masing biji. Dari situ, guru dapat menghubungkan dengan akidah, yaitu dengan mengatakan betapa “sunnatullah” telah berlaku pada mereka. Yaitu dimana satu biji kecil dapat tumbuh menjadi tanaman jagung yang semakin tinggi, meskipun berada di tempat yang berbeda dan tentunya dengan kualitas pertumbuhan yang berbeda.

Berdasarkan contoh-contoh sederhana di atas, dapat disimpulkan bahwa para guru dengan pengetahuan dan akidah yang kuat, akan dapat dengan mudah menghubungkan peristiwa sain dengan akidah. Dalam artian, dengan kreativitas dan inovasi yang tinggi, serta dapat meletakkan sudut pandang yang tepat guru dapat menghubungkan sain dengan penguatan keyakinan akan eksistensi Allah Swt dan campur tangan-Nya dalam setiap bagian dari kehidupan kita. Sehingga, keyakinan anak pada Allah Swt akan semakin menguat.

Menguatkan Kecakapan Literasi Numerasi



Angka hampir tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Sejak bangun tidur kita melihat jam dinding kita akan melihat angka. Lalu kita shalat Subuh, tetap juga tidak bisa melepaskan diri dari angka, seperti jumlah raka’at, jumlah bacaan sujud, jumlah bacaan rukuk’, dan sebagainya. Setelah shalat ketika kita membaca dzikir dan kalimah thoyibah, tetap saja tidak bisa lepas dari angka.

Bayangkan, jika seseorang tidak mengenal angka, tentu ia akan mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Beberapa wirausahawan di masa lampau, meskipun beberapa diantaranya tidak bisa membaca huruf, tetap saja pandai dalam bermain angka, seperti menghitung pendapatan dan pengeluaran, menghitung omset dan kebutuhan, dan lain-lain. Artinya, kebutuhan manusia akan mengerti angka, dalam pengertian numerasi, adalah sangat penting untuk “kebaikan” hidupnya.

Oleh karena itu, dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan pada tahun 2017, literasi numerasi merupakan salah satu kecakapan yang sangat ditekankan. Menurut Andreas Schleicher dari OECD, kemampuan numerasi yang baik merupakan proteksi terbaik terhadap angka pengangguran, penghasilan yang rendah, dan kesehatan yang buruk. Keterampilan numerasi dibutuhkan dalam semua aspek kehidupan, baik di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat.

Menurut Kemendikbud dalam buku Materi Pendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN), definisi literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk: (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.

Di sekolah dasar, para siswa dikenalkan literasi numerasi sejak kelas 1. Bahkan di taman kanak-kanak, mereka sudah dikenalkan dangan simbol-simbol angka. Mereka mulai dikenalkan numerasi dengan menyebutkan jumlah tangan, kaki, mata, telinga, hidung, jari, dan seterusnya. Ketika lebih besar mereka akan mempelajari jumlah kaki ayam, kambing, sapi, dan binatang-binatang lainnya. Lebih lanjut, mereka juga kan diajari menambah dan mengurangin sesuatu yang diberikan pada mereka.

Seperti jika mereka punya permen kemudian sebagian dimakan, maka jumlah permen akan berkurang. Sedangkan jika ayah atau ibu membelikan permen, maka jumlah permen mereka akan bertambah. Intinya, sesuai kemampuan anak, numerasi diajarkan para guru dengan berbagai metode dan strategi yang digunakannya. Demikian seterusnya, di sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan perguruan tinggi, literasi numerasi akan selalu dikembangkan.

Namun demikian, hampir disemua tingkatan, literasi numerasi dalam bentuk pelajaran matematika, sering menjadi “momok” yang menakutkan. Baik siswa SD, SMP, SMA, dan bahkan para mahasiswa, masih memandang pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sulit. Oleh karena itu, para guru perlu merancang strategi yang terbaik, agar penguatan kecakapan literasi numerasi ini dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Di sekolah dasar, penguatan literasi numerasi tidak selalu dikaitkan dengan pelajaran matematika. Pelajaran-pelajaran kecakapan hidup, kewirausahaan, ketrampilan, bahkan seni dapat digunakan untuk menguatkan kecakapan literasi numerasi siswa. Tinggal bagaimana guru dapat memformulasikan kegiatan belajar yang menyenangkan tetapi tetap dapat menguatkan kecakapan literasi numerasi siswa.

Sebuah sekolah mengadakan bazar, untuk menguatkan kecakapan literasi numerasi siswa. Dalam bazar yang diadakan secara sederhana itu, siswa diminta menjadi penjual sekaligus pembeli. Sebagai penjual, para siswa secara berkelompok harus “urunan” sejumlah uang, untuk modal membeli barang dagangan. Dari barang-barang yang dibeli itu, siswa harus dapat menentukan berapa harga beli masing-masing barang. Setelah itu, mereka juga harus menentukan, berapa harga jual dari masing-masing barang yang akan dijajakan.

Selain mengasah kemampuan berwirausaha, disini para siswa juga belajar menentukan harga jual masing-masing barang, setelah ia membeli barang dalam jumlah banyak. Barang dagangan yang dibeli dalam ukuran dozen harus dirinci menjadi harga barang satuan. Kemudian ia harus dapat menentukan berapa harga jualnya, dan menghitung berapa laba yang diperolehnya, baik dalam bentuk nominal maupun persentase.

Setelah bazar selesai, para siswa harus membuat laporan. Laporan itu terdiri dari berapa barang yang dibeli dan berapa nominalnya, berapa barang yang terjual beserta nominal, dan berapa barang yang tersisa. Lebih lanjut, para siswa juga harus dapat mengembalikan modal kepada anggota kelompok, tentunya setelah itu ditambah berapa laba yang harus diterima masing-masing pemodal.

Berdasarkan uraian di atas, hanya dari sebuah kegiatan bazar kelas, kita dapat mengajarkan banyak hal tentang literasi numerasi. Para guru dapat memodifikasi berbagai kegiatan, agar penguatan kecakapan literasi ini dapat senantiasa ditingkatkan. Mengingat, modal kecakapan literasi numerasi ini sangat penting bagi kehidupan para siswa di masa mendatang.

Mengenalkan Organisasi di Sekolah Dasar



Kompetensi kolaborasi, yang merupakan salah satu kompetensi abad 21 yang harus dikuasai siswa, mensyaratkan seseorang dapat bekerjasama dengan orang lain, baik secara individu, maupun bersama banyak orang lainnya. Oleh karena itu, sejak dini guru sebaiknya mengenalkan siswa dengan organisasi.

Menurut Siagian pengertian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang / lebih yang saling bekerjasama serta terikat secara formal dalam rangka melakukan pencapaian tujuan yang sudah ditentukan dalam ikatan yang ada pada seseorang atau beberap orang yang dikenal sebagai atasan dan seorang atau kelompok orang yang dikenal sebagai bawahan. Intinya, organisasi adalah beberapa orang yang bekerjasama untuk meraih tujuan tertentu.

Pada umumnya, setiap kelas adalah organisasi. Di sekolah dasar, kelas adalah para siswa yang belajar bersama, dengan wali kelas, jadwal pelajaran, materi pelajaran, dan dalam ruang yang sama. Tujuan dari semua anggota kelas juga sama, yaitu untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan dengan melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Namun, tidak semua anak mengetahui bahwa mereka merupakan anggota organisasi yang bernama kelas.

Oleh karena itu, pada setiap awal tahun pelajaran, guru menjadwalkan adanya pemilihan ketua kelas, penetapan sekretaris dan bendahara, serta kelompok-kelompok piket. Pada intinya, hal ini adalah upaya untuk memperkenalkan organisasi pada anak. Dengan penataan struktrur kelas itu, anak mengetahui siapa pemipin di kelasnya, apa hak dan kewajibannnya, dan apayang menjadi tugasnya sehari-hari.

Di kelas, sebaiknya guru tidak hanya menata struktur kelas. Tetapi juga menunjukkan pada masing-masing posisi, akan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya. Dengan demikian, anak akan mengenal apa tugas seorang ketua, apa kewajiban sekretaris, dan apa kewajiban bagi semua anggota organisasi kelas.

Dalam situasi dan kondisi tertentu, dimana sumber daya dan hal-hal yang dibutuhkan, bahkan guru dapat memperkenalkan lebih dulu cara pemilihan ketua kelas yang demokratis. Dalam artian, jika jumlah siswanya cukup banyak, fasilitasnya ada, guru dapat membuat simulasi pemilihan umum dengan tujuan pemilihan ketua kelas. Di sekolah-sekolah unggulan hal ini sudah dapat dilaksanakan sehingga pemilihan ketua kelas layaknya “pilkada”.

Guru dapat menyiapkan keperluan yang dibutuhkan seperti surat suara, bilik suara, bahkan tahapan-tahapan pemilihan ketua kelas. Calon ketua kelas diminta membuat naskah pidato kampanye, sehingga sebagai kandidat ketua kelas, sang “calon” dapat menyampaikan pidato visi dan misinya.

Paling tidak, ada pembelajaran lain di luar pengenalan organisasi dalam kaitannya dengan pemilihan ketua kelas ini, yaitu antara lain: (1) siswa dapat mengikuti simulasi tahapan pemilihan, (2) calon dapat belajar berpidato untuk menyampaikan pesan di depan umu, (3) siswa mengetahui tata cara berdemokrasi, sebagai suatu sistem pemilihan yang sudah disepakati bangsa Indonesia, dan (4) melatih mental siswa untuk tidak merasa malu jika tidak terpilih, tidak sombong jika terpilih, dan menganggap pemilihan ketua kelas sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Namun, guru tetap harus hati-hati dalam menerapkan pengenalan ini. Guru harus benar-benar menyiapkan mental anak terutama mereka yang ikut dalam kompetisi. Anak harus benar-benar siap menang dan siap kalah. Selain, jangan sampai setelah itu muncul “kubu-kubuan” diantara anak-anak, karena hal itu tentu akan kontra produktif dengan tujuan kegiatan itu sendiri.

Literasi Lingkungan dalam Pendidikan

illustrasi : kompasiana.com
Salah satu tema perbincangan yang mengemuka di abad 21 adalah tema literasi lingkungan. Hal ini mengemuka seiring perkembangan buruk kerusakan lingkungan dan kekhawatiran banyak orang akan kondisi bumi di masa mendatang. Kerusakan lingkungan telah dianggap sangat parah sehingga global warming sangat dekat mengancam. Jika hal itu dibiarkan, bisa jadi dalam waktu yang tidak lama es di kutub akan mencair, dan bumi akan tenggelam.

Literasi lingkungan, mencakup beberapa pembahasan tentang beberapa unsur lingkungan. Menurut LPMP Yogjakarta, "literasi lingkungan yaitu mencakup kesadaran terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan secara bertanggungjawab dan bermakna bagi kehidupan. Peka terhadap dampak pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggungjawab terhadap kehidupan secara global. Perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan. Perubahan perilaku alam yang menyebabkan terjadinya anomali iklim, dan dampak-dampak terhadap lingkungan sebagai akibat ekploitasi alam. https://lpmpjogja.kemdikbud.go.id/strategi-pembelajaran-abad-)

Berdasarkan pengertian di atas, paling tidak kita harus menggaribawahi beberapa hal penting yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu: (1) kesadaran terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan, (2) dampak terhadap pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggung jawab, dan (3) dan perubahan iklim, serta dampaknya bagi anomali iklim.

Oleh karena itu, sejak dini, lembaga-lembaga sekolah baik di strata pra sekolah dan sekolah dasar, sekolah menengah, dan seterusnya, harus membicarakan hal-hal pokok tentang pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan. Lingkungan merupakan fasilitas yang telah disiapkan Allah untuk manusia, artinya itu hak manusia untuk memanfaatkannya. Namun demikian, pada saat yang sama manusia memiliki kewajiban untuk memelihara dan melestarikannya.

Di sekolah dasar, guru bisa mengawali pembelajaran tentang lingkungan, dengan mengajak siswa untuk mananam bunga di taman atau kebun sekolah, menjaga dan memeliharanya. Guru dapat membuat jadwal "perawatan" taman atau kebun sekolah, sehingga para siswa memiliki jadwal menyiram, memupuk, atau menyiram tanaman serta menyiangi rumput. Anak-anak juga diwajibkan menjaga kelestariannya dengan tidak bermain bola di sekitar taman. Di kelas, guru dapat mendiskusikan, memutar video, atau menunjukkan gambar-gambar yang mendeskripsikan kerusakan lingkungan akibat tidak terpeliharanya alam.

Selanjutnya, diskusi dapat dilanjutkan tentang terjadinya anomali iklim. Anomali iklim tersebut dapat menyebabkan curah hujan di bawah normal yang mengakibatkan kekeringan panjang ataupun curah hujan di atas normal yang mengakibatkan bencana banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya.  Di Indonesia, fenomena anomali iklim  yang umum dikenal dan paling dominan antara lain El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Sebagai tindak lanjut, diskusi dilanjutkan dengan langkah-langkah yang perlu disiapkan dalam menghadapi anomali iklim tersebut. Menghemat air dengan berbagai macam cara dan pendekatannya, merupakan salah satu cara mempersiapkan diri menghadapi kekeringan yang panjang. Lebih lanjut, dapat dijelaskan bagaimana menjaga kelestarian hutan dan reboisasi untuk mencegah timbulnya kekeringan. Sementara untuk menghadapi banjir, kita dapat mendiskusikan tentang menajga kebersihan lingkungan, membuang sampah di tempat yang tepat, normalisasi saluran air, dan seterusnya.

Mengkomunikasikan Kemampuan

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh anak didik kita di abad 21 adalah kompetensi komunikasi. Kompetensi ini tidak hanya menyangkut kemampuan dalam menguasai penggunaan teknologi informasi, tetapi juga penggunaan bahasa Internasional sebagai media utama dalam berkomunikasi. Tanpa itu, mustahil anak didik kita dapat berkomunikasi dengan orang lain di luar negeri. Padahal di abad 21 ini pergaulan dunia sudah tidak lagi terbatas ruang dan waktu, sehingga siapa saja dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan mudah, meskipun terpisah jarak ribuan kilometer jaraknya.

Suatu seorang, seorang anak muda kesulitan menjawab pesan yang disampaikan sebuah perusahaan besar yang ada di luar negeri. Anak ini memiliki kemampuan desain grafis yang sangat baik dengan mengunggah portofolionya di akun media sosial yang dimiliki. Ia seringkali menerima pesanan pembuatan karya grafis dari orang-orang disekitarnya, lalu meluas ke orang lain melalui jejerang media sosialnya, dan saat ini mulai ada perusahan besar skala internasional yang menawari kesempatan menunjukkan karyanya. Perusahaan itu mengirimkan surat elektronik dan mengatakan jika ia tertarik dengan karakteristik desainnya.

Sungguh, secara finansial, hal itu merupakan kesempatan yang besar sekali. Pendapatan tidak lagi diukur oleh rupiah, tetapi oleh US Dolar dengan standar pembayaran Amerika Serikat. Artinya, dengan sekali kerja pemuda ini akan mendapatkan berkali-kali lipat dari pendapatannya. Bayangkan, dengan kerja sekali dengan pendapatkan lebih dari sepuluh kali lipat. Siapapun akan tertarik untuk mendapatkannya. Tapi apa yang terjadi? Pemuda ini kesulitan menerjemahkan surel yang di dapatnya, dan tentu saja akan menghambat komunikasi berikutnya.

Kasus di atas menunjukkan, betapa kemampuan berkomunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Dunia ini sudah menjadi sangat sempit dengan adanya perkembangan sain dan teknologi. Kompetensi komunikasi, khususnya penggunaan bahasa Internasional, merupakan hal penting yang harus disiapkan, disamping menyiapkan kompentsi utama mereka. Banyak kesempatan yang terbuang karena kelemahan kita dalam berkomunikasi, banyak kerugian diderita perusahaan, gara-gara mis-komunikasi.

Di desa-desa, kita juga banyak menemui orang-orang kreatif dengan karya orisinil dan khas. Produk mereka bisa jadi tidak kalah bagus dengan produk-produk yang dihasilkan oleh orang lain di luar negeri. Petani-petani kita, dapat bercocok tanam dengan baik dan menghasilkan produk-produk yang luar biasa. Tanah Indonesia yang subur makmur merupakan tempat yang tepat untuk menanam hampir semua tanaman yang ada di dunia. Produk buah-buahan dan sayur di berbagai tempat di Jawa dan Sumatera, merupakan produk-produk yang unggul berkelas dunia.

Namun kenapa di pasar internasional seperti Singapura dan Arab Saudi produk buah kita tidak menguasai pasar? Salah satunya adalah karena petani-petani kita tidak menguasai teknologi informasi serta belum memiliki kompetensi komunikasi internasional yang mumpuni. Kita bukannya tidak mampu menghasilkan produk terbaik, tetapi kita masih belum berhasil mengkomunikasi produk terbaik kita itu. Kita bukannya tidak mampu, tetapi belum bisa mengkomunikasikan kemampuan kita.

Oleh karena itu, sejak dini seharusnya sekolah-sekolah sudah merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi internasional. Pembelajaran bahasa Inggris misalnya, bukan dalam rangka mempelajari bahasa orang lain, tetapi dalam rangka menyiapkan anak-anak kita agar dapat mengambil peran penting dalam percaturan dunia.

Bahaya Literasi Digital di Sekolah Dasar


Salah satu kemampuan penting yang harus dikuasai siswa di abab 21 ini adalah literasi digital. Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.

Literasi digital merupakan enam dari literasi yang disepakati oleh World Economic Forum pada tahun 2015 menjadi sangat penting tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat. Enam literasi dasar tersebut mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan.

Mendikbud RI (2017) menyatakan bahwa, Bangsa yang maju tidak dibangun hanya dengan mengandalkan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak. Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang literat, yang memiliki peradaban tinggi, dan aktif memajukan masyarakat dunia.

Penguasaan literasi digital, merupakan prasarat “hidup layak” dalam dunia modern di abad 21 ini. Hampir semua sektor kehidupan, baik ekonomi, sosial, hankam, keagamaan, bahkan keluarga, memerlukan penguasaan akan literasi digital ini. Jangkauan jarak yang semakin luas sebagai akibat adanya globalisasi, memaksa kita menguasai literasi digital ini. Sehingga, tanpa penguasaan itu, kita akan tertatih-tatih di belakang dari barisan panjang bangsa-bangsa lain di dunia.

Penerapan literasi digital di sekolah dasar, mengharuskan sekolah dan para guru meningkatkan kearifannya. Dengan dilaksanakannya pembelajaran dari rumah, khususnya dengan penggunaan media informasi, akan sangat membantu anak menguasai literasi digital yang dibutuhkan. Namun pada saat yang sama, guru dan orang tua perlu melakukan pendampingan untuk menyiapkan mental anak-anak menghadapi luasnya dunia digital yang tanpa batas ruang dan waktu.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak jauh lebih cepat dapat menggunakan media teknologi informasi dibanding orang tua. Para guru yang senior seringkali ketinggalan menguasai teknologi informasi dibanding anak-anak. Demikian juga orang tua yang memiliki jarak usia yang jauh dari anak-anaknya. Sehingga orang tua akan kesulitan mengontrol perjalanan digital anak karena keterbatasan kemampuannya di bidang teknologi informasi. Al hasil, anak-anak akan tahu lebih dulu dibanding orang tuanya tentang banyak hal, seperti istilah-istilah tentang email, akun, website, podcast, dan lain-lain.

Guru dapat “menjernihkan” situasi ini, dengan memberikan penugasan yang terukur pada pembelajaran daring. Misalnya guru hanya memberikan instruksi untuk mengamati video, menjelaskan maksud dari video itu, dan meminta anak untuk menjawab pertanyaan yang sudah disediakan di google form. Dengan demikian, anak tidak perlu lagi surfing ke google sendiri, karena jawaban pertanyaan tugas yang diberikan sudah ada didalam deskripsi dan penjelasan yang diberikan guru.

Contoh di atas, memberikan batasan pada anak, untuk tidak mencari sendiri jawaban persoalannya di rimba raya dunia maya. Kita tahu, bahwa di tempat tersebut tidak hanya terdapat materi-materi yang produktif untuk mengembangkan karakter dan intelektual anak, tetapi juga terdapat “binatang buas” yang berbahaya bagi anak. Jika secara mental anak-anak belum disiapkan, curiousity anak-anak akan menjadi bahaya besar baginya.

Intinya, penguatan literasi digital di sekolah dasar tetap harus dilakukan, namun tetap dalam kendali guru dan orang tua. Dalam hal ini, guru harus serius dan kreatif, dengan memberikan penugasan yang betul-betul terukur, dengan materi tepat sasaran, dan tentunya dengan materi yang sudah disiapkan. Jangan sampai membiarkan anak-anak berjuang sendiri, mencari jawaban dan menyelesaikan persoalannya, hanya lewat aktivitas surfing dan browsing, yang dikhawatirkan membahayakan anak. Dalam hal ini, konten-konten dewasa, perjudian, kekerasan, kengerian, dan sebagainya, yang dengan mudah dapat ditemukan dalam surfing-nya di dunia maya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes