Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sembilan Nilai Utama Gus Dur (Part 2)

Nilai utama kelima adalah pembebasan. Pembebasan bermakna bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab membebaskan dirinya dari belenggu. Dalam artian, manusia harus merdeka. Merdeka dari rasa takut, rasa khawatir, rasa rendah diri, rasa sedih, dan sebagainya. Jiwa yang merdeka adalah jiwa yang optimis. Yang meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah Swt akan menolong siapun yang dikehendakinya. Asalkan manusia senantiasa mendekat pada Allah Swt, maka Allah Swt pasti juga akan bersamanya. Gus Dur sangat mendukung lahirnya jiwa-jiwa merdeka, yang mampu memerdekan dirinya, dan memerdekan manusia lain.


Sembilan Nilai Utama Gus Dur (Part 1)

Gus Dur manusia pilihan. Baik pada saat beliau masih hidup, atau sekarang ketika beliau sudah meninggal, tetap saja menjadi bahan pembicaraan yang sangat pantas untuk didiskusikan. Pada masa hidupnya, Gus Dur adalah manusia dengan trah kiai besar dan luar biasa. Kakeknya, adalah sang Hadratusy Syech KH Hasyim Asy'ari, pendiri Jamiyah Nadlatul Ulama, sebuah organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia. Ayahnya, adalah KH Wachid Hasyim, salah seorang anggota PPKI yang ikut merumuskan Pancasila, Dasar Negara Republik Indonesia. Gus Dur sendiri adalah Presiden Ke-4 RI yang meskipun hanya menjabat selama 2 tahun, telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi perkembangan demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, pluralisme, persatuan, dan persaudaraan. 

Para Gusdurian (pencinta Gus Dur), mencatatat ada sembilan nilai utama yang diamalkan dan diajarkan Gus Dur. Sembilan nilai itu adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Sembilan nilai itu merupakan nilai-nilai utama yang diperjuangkan Gus Dur, tidak hanya untuk Indonesia, tetapi untuk Perdamaian Dunia.

Antara Sukses dan Bahagia

Mohamad Ansori

Hidup sukses harapan setiap insan. Di dunia orang ingin mendapatkan kebahagian dengan berupaya meraih cita-cita yang diinginkan. Ketika cita-cita itu dicapai, keinginannya terpenuhi, do'a-do'anya terkabul, seseorang akan menikmati "kepuasan". Kepuasaan itulah yang diharapkan dapat menghadirkan kebahagiaan pada diri dan keluarganya.

Namun demikian, tidak semua orang merasakan kebahagiaan pada saat ia sudah mencapai keinginannya itu. Banyak orang yang hidupnya menjadi kacau ketika ia sudah mencapai puncak karir yang diinginkannya. Banyak keluarga yang berantakan justru ketika kehidupan sosial ekonominya pada posisi yang sempurna. Keberhasilan mencapai keinginan, harapan, dan cita-cita ternyata tidak selalu linier dengan tercapainya kebahagiaan.


Keteladanan dalam Pendidikan

Mohamad Ansori

Salah satu persoalan dalam pendidikan adalah keteladanan. Mengapa, karena nilai-nilai pendidikan yang akan ditransfer pada seorang siswa, akan lebih mudah dimengerti, dipahami, dan ditiru setelah siswa melihat contoh nyata dalam kehidupannya. Sementara itu, "teladan yang baik" itu, hampir sulit ditemukan di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah kita.


Sebagai contoh adalah, ketika guru menasehati siswa untuk tidak terlalu banyak bermain HP, pada saat yang sama para siswa melihat gurunya memegang HP dan menggunakannya pada pembelajaran. Siswa tentu akan berpikir, "kita kok nggak boleh main HP, padahal Pak/Bu Guru main HP sejak pagi ya?" Tentu, nasehat itu menjadi tidak pas ketika masuk pada "pemahaman kritis" siswa.

Contoh lainnya adalah, ketika guru mendisiplinkan siswa untuk sholat berjamaah misalnya, adalah "aneh bagi siswa" ketika para guru justru tetap berada di kantor atau dikantin sambil merokok, setelah "nguyak-uyak" siswanya untuk sholat berjamaah. Hal ini, juga akan menghadirkan "kebingugan etik" dalam diri siswa.

Mencontoh keberhasilan Rasulullah Saw, kita dapat melihat bahwa keberhasilan dakwah dan tarbiyah Rasulullah Saw adalah karena keteladanan. Rasul merupakan teladan semua sahabatnya. Para sahabat merupakan teladan bagi para tabi'in, dan seterusnya.Rasullullah merupakan model pelaksanaan syariat Islam. Pad diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik, yang mana umat Islam tinggal mencontohnya.

Dalam Surah Al Ahzab ayat 21 Allah Swt berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, dijelaskan bahwa makna ayat ini adalah "telah ada bagi kalian (wahai orang-orang yang beriman) pada perkataan rosululloh sholallohu alaihi wasallam, perbuatannya dan keadaannya suri tauladan yang baik bagi kalian yang baik untuk kalian teladani. Maka peganglah Sunnahnya, karena Sunnahnya dipegang dan dijalani oleh orang-orang yang berharap kepada Allah dan kehidupan akhirat, memperbanyak mengingat Allah dan beristigfar kepadaNya, serta bersyukur kepadaNya dalam setiap keadaan.

Berdasarkan penjelasan di atas, persoalan-persoaln keteladanan di dunia pendidikan, harusnya dapat diminimalisir. Seorang guru bukan "tukang perintah", tetapi ia adalah teladan untuk melaksanakan perintah. Seorang guru perkataannya pantas diikuti, karena guru akan melaksanakan yang ia katakan, dan menjauhi apa yang dilarang olehnya. Seorang guru adalah orang yang senantias bersama-sama siswa, mendampingi siswa, membimbing siswa, dan mengarahkan siswa, baik pada jam-jam pembelajaran maupun di kesempatan lainnya.

Pertanyaannya, apa yang diteladankan dalam pendidikan? Tentu adalah nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Kalau guru ingin siswanya jujur, maka setiap perkataan dan perbuatan guru harus menunjukkan kejujuran. Jika guru ingin menanamkan kedisiplinan, maka setiap saat guru harus menunjukkan kedisiplinan, baik disiplin dalam bekerja, beribdah, maupun kegiatan lainnya.
Menjadi guru bukan hanya profesi. Menjadi guru tidak hanya berorientasi pada materi. Menjadi guru adalah menanamkan nilai. Semoga para guru, benar-benar bisa menjadi sosok yang bisa "digugu dan ditiru". Aamiin.

Wallahu'alam.

Menjaga Nilai Ramadan di Bulan Syawal

Mohamad Ansori

Ramadan 1441 H telah berlalu. Kini, kita sudah menapaki Syawal 1441 H dengan aura kemenangan dan kesenangan. Kita merasa menang, karena kita telah berhasil melalui perjuangan berat baik fisik maupun mental selama Ramadan. Betapa tidak, puasa kali ini, kita harus menahan diri dari berbagai hal, baik yang standar maupun yang "ekstra".


Standarnya, kita berpuasa menahan diri dari makan, minum, dan "berkumpul" dengan istri atau suami kita. Untuk kesempurnaannya, kita juga harus menahan diri dari berbohong, menggunjing, ghibah, dan hal-hal lain yang merusak puasa kita. Nabi Muhammad Saw bersabda:

خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة

Artinya : "Ada lima perbuatan yang menghapus pahala puasa, yaitu berbohong, menggunjing, mengadu domba, bersumpah palsu, dan memandang dengan syahwat".(H.R. Al-azdi dan Addailami dari Anas r.a.)

Perjuangan ekstranya adalah bahwa pada Ramadan tahun ini, kita juga harus menahan diri dari kumpul-kumpul dengan teman, mengaji bersama, berdzikir bersama, berbuka bersama, sahur bersama, dan lain-lain. Pokoknya, melibatkan kata bersama atau orang banyak, hal itu dilarang. Bahkan, sebagian dari kita terpaksa harus ter-lockdown, baik dalam skala kota, desa, atau bahkan rumah. Hal ini tentu, membuat puasa kita semakin berat dan berat. Apalagi, bagi kelompok-kelompok terdampak C19, tentu puasa tahun ini sungguh merupakan puasa yang sangat berat.

Tapi sebagai seorang yang beriman, kita harus yakin bahwa puasa dengan segala keterbatasannya seperti itu, pasti akan membawa nilai lebih dihadapan Allah Swt. Bagi orang yang beriman, baik bersyukur maupun bersabar, semuanya akan mendapatkan pahala dan kebaikan.


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)


Ramadan melejitkan motivasi ibadah kita. Puasa, tarawih, tadarus, semuanya dilakukan seperti tiada pernah lelah. Bahkan ketika sebentar tidur, sebentar lagi bangun semuanya hampir tidak ada persolan. Misalnya, tidur sudah cukup larut, malam harus bangun sahur, dilanjutkan dengan sholat tahajjut, disambung dengan sholat sunnah fajar, lalu sholat Subuh. Setelah Subuhpun sangat dianjurkan untuk tidak tidur lagi. Demikian seterusnya.

Di luar Ramadan, banyak kemungkinan tidak banyak orang yang kuat menjalankan ibadah secara marathon seperti itu. Kalkulasi fisik tidak akan dapat dicapai dalam kondisi seperti itu. Namun dalam Ramadan, ketika motivasi ruhaniah menguat dan menguasai, fisik pun mengikut. Berlimpahnya rahmat dan karunia Allah Swt selama Ramadan, merupakan penjamin utama kekuatan ibadah marathon kita. Oleh karena itu, sungguh rugi orang yang telah menyia-nyiakan kesempatan ibadah selama Ramadan.

Yang perlu dipertanyakan adalah, bagaimana cara kita mempertahankan ghiroh ibadah kita pasca Ramadan? Bagaimana penguatan dan peningkatan ibadah itu tetap terjaga? Haruskah kita kembali ke semula, seperti sebelum Ramadan tiba?

Bulan Syawal adalah bulan peningkatan, bukan bulan penurunan. Dalam konteks dosa dan maghfirah, Allah Swt telah mengampuni dosa-dosa kita. Sehingga, saatnya kita memupuk pahala dan kebaikan. Bertahan pada level ibadah dalam Ramadan memang tidak mudah. Tetapi sesulit apapun, dengan perjuangan keras dan upaya yang istikomah, sedapat mungkin kita harus bisa mempertahankan motivasi ibadah kita selama Ramadan. Paling tidak, tadarus dan sholat sunnah yang selama Ramadan kita jaga, sepatutnya dilanggengkan.

Tentu, karena berbagai halangan dan gangguan, kita tidak bisa beribadah sehebat pada saat Ramadan. Karena, didalamnya ada rahmat dan karunia Allah, yang mengirimkan "angin surga" kepada kita, sehingga begitu nyamannya kita beribadah di dalam Ramadan. So, mari kita juga minta kepada Allah Swt, agar "kenyamanan" ibadah selama Ramadan tetap Allah Swt berikan pada kita, sehingga kalau pun toh tidak dapat meningkatkan, paling tidak kita bisa mempertahankan nilai-nilai Ramadan dibulan-bulan setelahnya. Semoga.

Wallahu'alam.

Halal bi Halal : Antara Fitrah Kesucian & Kemanusiaan

Mohamad Ansori

Halal bi halal merupakan salah satu tradisi di Indonesia, yang diinisiasi oleh KH Wahab Hasbullah, sebagai solusi dari kegaduhan nasional pasca kemerdekaan. Dimana pada saat itu, diantara para pemimpin mulai timbul perselisihan yang sangat dikhawatirkan akan memunculkan kegaduhan di tingkat akar rumput. Sehingga, diperlukan wahana silaturrahim antar pemimpin untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Dan, terciptalah istilah hala bi halal, yang dikonotasikan sebagai kegiatan silaturrahim dan saling memaafkan yang diadakan pada hari raya Idul Fitri.

Inti halal bi halal adalah saling memaafkan. Hal ini sangat penting karena pada saat Idul Fitri boleh jadi kesalahan manusia pada Allah Swt telah diampuni, tetapi haqqul adami dan kesalahan pada sesama manusia, belum terselesaikan. Oleh karena itu, momentum halal bi halal dapat dimanfaatkan untuk menghapus dosa sesama manusia, sehingga pada Idul Fitri, umat Islam telah dapat mensucikan dirinya dari kesalahan hablum minallahnya, sekaligus kesalahan hablum minannasnya. Alhasil, kita dapat kembali ke kesucian atau ke fitrah kita sebagai manusia.

Menurut KH Muhson Hamdany, M.Sy, makna Idul Fitri adalah kembali pada kesucian dan kembali kepada fitrah. Kembali pada kesucian dimaknai diampuni dosanya oleh Allah Swt dan dimaafkan kesalahannya kepada manusia, sedangkan kembali pada fitrah memiliki tiga makna, yaitu: (1) fitrah pengakuan adanya Tuhan, (2) fitrah manusia sebagai makhluk sosial, dan (3) fitrah bahwa manusia memiliki kebaikan, namun juga memiliki kesalahan.

Fitrah kepercayaan kepada Tuhan, dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan, orang-orang komunispun, juga percaya adanya Tuhan, meskipun mungkin karena pemikiran, pergaulan, dan kesalahan pengambilan kesimpulan, membuat mereka tidak mengakuinya.

Adanya animisme, dinamisme, dan penyembahan pada berhala, juga menunjukkan bahwa setiap manusia, memiliki naluri untuk mempercayai adanya kekuatan besar yang mempengaruhi kehidupannya. Hanya saja, mereka tidak mendapatkan petunjuk, tentang siapa pemilik kekuatan besar itu. Sehingga, mereka mencari-carinya sendiri, dan mereka menganggap pohon-pohon besar, gunung, dan berhala, sebagai Tuhan mereka.

Fitrah manusia sebagai makhluk sosial, menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia adalah zoon politicon yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan makanan yang tidak bisa diproduksinya sendiri. Ia butuh binatang dan tumbuhan sebagai sumber makanannya, dan membutuhkan orang lain untuk mengelolanya.

Ketika seorang manusia berhasil dalam hidupnya, tentu ia tidak dapat sukses sendiri. Ada orang lain yang membantu kesuksesannya. Sehingga, ia tidak boleh menyombongkan diri, dan mengakui keberhasilannya itu sebagai usahanya sendiri saja. Oleh karena itu, fitrah manusia harus bisa memanusiakan orang lain, menghormatinya, dan mempedulikan keberadaan orang lain di sekitarnya.

Fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan namun pada saat yang sama juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Selain Rasullullah Saw, tidak ada manusia yang sempurna. Meskipun kita adalah ahsani takwim, namun kita juga mahalul khataq wannisyan, tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu, sebagai manusia kita tidak boleh "jumawa" terhadap kelebihan yang kita miliki, sebab pada saat yang sama kita juga memiliki kesalahan dan kekurangan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, mohon maaf lahir dan bathin.
Wallahu 'alam.

*Disarikan dari "Sekapur Sirih Halal bi Halal Online PAI Kab. Tulungagung, oleh KH Muhson Hamdani, dengan berbagai pengembangan dan penambahan.

Silaturrahmi Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Mohamad Ansori

Idul Fitri telah tiba. Konsentrasi muslim di Indonesia adalah silaturrahim. Mengunjungi orang tua, mertua, kakek nenek, paman bibi, teman sekolah, teman kantor, dan banyak lagi yang lainnya. Semua demi memanfaatkan momentum yang bernama lebaran, dimana silaturahmi tidak hanya bernuansa syar'i, tetapi juga tradisi.

Secara umum, silaturrahim berarti menyambung tali kekerabatan atau menyambung sanak saudara. Ulama berbeda pendapat, tentang obyek silaturrahim ini. Ada yang mengkhususkan pada orang-orang yang memilki kaitannya dengan nasab, adapula yang berpandangan lebih umum yaitu bahwa silaturrahim dapat juga berarti menyambungkan kasih sayang kepada sesama muslim.

Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama dalam memaknai silaturrahim dalam konteks objeknya, mereka sepakat bahwa silaturrahim memiliki makna yang mendalam menurut syariat Islam.

Berkaitan dengan silaturrahim ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa beriman (dengan sempurna) kepada Allah dan hari akhir maka sambunglah kerabatnya.”(HR. Bukhori Muslim). Dalam kesempatan lain beliau ditanya, “Siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa kepada Allah dan paling menyambung tali kekerabatan.” (HR. Ahmad dan at-Thabrani). Sementara bagi orang-orang yang memutus silaturrahim, ancaman besar akan didapatkannya. Rasulullah Saw bersabda, Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali kerabat) (HR. Bukhori Muslim dan lainnya)

Silaturrahim sering dimaknai dengan anjangsana. Itulah mengapa tradisi di Indonesia, khususnya di masyarakat Jawa, silaturrahim diwujudkan dengan saling mengunjungi antara satu kerabat dengan kerabat yang lain, antara teman yang satu dengan teman yang lain. Bahkan kemudian dikreasikan suatu wahana yang bernama halal bi halal yang tidak lain merupakan perwujudan dari silaturrahim dan ekspresi permintaan maaf seseorang kepada orang lain.

Oleh karena itu, Idul Fitri di Indonesia menjadi sesuatu yang heboh. Orang-orang yang tinggal ratusan kilometer jauhnya, akan berdatangan ke kampung halaman, "sekedar" untuk bersilaturrahim dengan kerabatnya. Lalu, muncullah budaya "mudik" dengan segala plus minusnya. Banyak kritikus yang mengatakan budaya mudik sebagai budaya yang tidak pas, pemborosan, bahkan tidak ada "dalil naqlinya". Sehingga, mudik dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan perbuatan yang bid'ah.

Sementara kelompok lainnya menunjukkan fakta-fakta bahwa secara sosial dan ekonomi, budaya mudik justru sangat bermanfaat bagi "pemerataan kesejahteraan" dari kota ke desa. Dalam mudik juga terjadi perpindahan barang dan uang yang sangat bermanfaat untuk menguatkan ekonomi desa. Selain itu, moment satu tahun sekali bertemua dengan keluarga besar dan kerabat jauh juga menjadi perekat persaudaraan yang secara sosial sangat besar manfaatnya. Apalagi, jika dikaitkan dengan bakti anak kepada orang tua yang tinggal di kampung, tentu nuansa ruhaihnya akan semakin menguat.

Persolannya adalah, ketika mudik di larang, dan silaturrahim dalam makna anjangsana juga sangat dibatasi, dalam rangka memutus rantai penyebaran C19. Apakah silaturrahim masih memiliki makna?

Dalam suatu kesempatan, KH Muhson Hamdani M.Sy., menjelaskan, "bahwa anjangsana bisa saja dibatasi, tetapi silaturrahim tetap harus dijalankan". Artinya, silaturrahim tidak harus dimaknai sebagai "anjangsana" atau "tatap muka". Meskipun tanpa anjangsana, silaturrahim masih tetap harus dijalankan.

Penggunaan media sosial, aplikasi video conference, pengiriman pesan singkat, pengiriman kartu lebaran, dan produk-produk media lainnya merupakan salah satu wasilah untuk menerapkan syariat silaturrahim. Pesan utama silaturrahim adalah pengiriman pesan kasih sayang dan persaudaraan, sehingga tidak harus secara fisik ada pertemuan. Ketika pesan kasih sayang dan persaudaraan itu dapat tersampaikan, apapun medianya, semua tetap dapat dilakukan. Dengan tidak perlu merasa kurang karenanya. Anjangsana memang terbatas ruang dan waktu, tetapi silaturrahim tidak lagi terbatas oleh sekat ruang dan waktu itu.

Wallahu a'lam. (ans)



SISI LAIN KEFITRAHAN MANUSIA

Hari istimewa itu bernama Idul Fitri. Kata itu berasal dari bahasa Arab yang mana id berarti kembali, dan fitri berarti suci atau fitrah. Ketika sampai pada tahapan Idul Fitri, diharapkan semua mukmin kembali pada fitrahnya, kembali pada kesecuiannya.

Hal ini bukannya tanpa alasan, karena semua mukmin yang berpuasa Ramadan dengan niat hanya karena iman dan mengharap ridlo Allah Swt, maka Allah Swt akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sehingga ketika sampai pada Idul Fitri, maka orang beriman akan bersih dari dosanya, seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya.

Sabda Nabi Muhammad Saw:
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘alayh).

Pertanyaannya, apakah puasa kita benar-benar hanya karena iman dan mengharap ridlo Allah semata? Atau, adakah puasa kita juga tercampuri oleh tekanan-tekanan selain Allah, seperti malu pada anaknya, atau sungkan sama atasannya, atau takut pada orang tuanya? Tentu hanya Allah saja yang tahu.

Terlepas dari itu semua, semua orang berhak bahagia dengan datangnya Idul Fitri. Meskipun predikat muttaqien belum tentu didapatkan oleh semuanya, tapi Idul Fitri adalah hari kebahagiaan. Kebahagiaan bagi semua? Apa hanya bagi orang-orang yang puasa? Atau bagi semuanya?

Seharusnya, memang hanya bagi orang-orang yang berpuasa saja. Karena, mereka telah berhasil menjalankan ibadah yang panjang dan melelahkan, ibadah yang tidak hanya membutuhkan kekuatan mental, pun juga membutuhkan kekuatan fisik. Sehingga, mereka berhak bahagia, berhak bergembira, karena keberhasilan itu.

Tapi realitasnya, semua orang bahagia. Puasa atau tidak, mukmin atau tidak, bahkan muslim atau tidak, kita bisa melihat semuanya bahagia. Dan, itulah Islam. Agama rahmatan lil alamin. 

Betapa tidak, ketika Idul Fitri tiba, orang kaya, orang setengah kaya, bahkan orang yang agak kaya saja, dengan senang hati, ikut bersedekah dengan mengharap keberkahan Ramadan. Sehingga, menjelang Idul Fitri, orang-orang miskin tidak lagi susah. Beras, minyak goreng, kopi, teh, sirup, kue lebaran, bertebaran ke rumah-rumah orang miskin, demi menyambut hari kemenangan.

Dan, hebatnya, sedekah yang diberikan itu, tidak pernah mensyaratkan apakah penerima itu shalat apa tidak, puasa apa tidak, Islam betulan atau hanya KTPnya saja yang Islam, bahkan tidak juga ditanya apakah ia Islam atau tidak. Memberi ya memberi, sedekah ya sedekah, titik.

Tidak hanya perorangan, kelompok-kelompok masyarakat, perusahaan kecil atau besar, organisasi-organisas, partai politik, semua berlomba-lomba memberikan bingkisan lebaran. Dengan atau tanpa label, semuanya hanya ingin membuat orang-orang miskin bahagia ketika Idul Fitri tiba.

Mungkin, sebenarnya itulah salah satu fitrah kita. Fitrah kita adalah orang yang peduli. Peduli terhadap sesama, khususnya orang-orang yang kurang mampu ekonominya. Fitrah inilah yang wajib selalu dijaga. Fitrah kemanusiaan, yang memanusiakan manusia lainnya. Fitrah yang tidak ingin bahagia sendiri di hari raya, tapi bahagia ketika melihat orang lain juga ikut bahagia.

Wallahu'alam.

Keistimewaan Ramadan


Mohamad Ansori

R
amadan adalah bulan yang istimewa. Ia adalah sayyidussuhr, yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Seandainya keutamaan Ramadan dapat terlihat dengan mata, maka semua umat Islam pasti menginginkan satu tahun itu Ramadan semua. Sayangnya, hanya iman yang teguh saja yang meyakini istimewanya Ramadan. Sehingga, masih banyak orang yang mengabaikannya, menyia-nyiakannya, bahkan meremehkannya. Naudzubillahi min dzalik.
Mengapa Ramadan istimewa? Pertama, karena ramadan adalah bulan maghfirah. Setiap mukmin yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap ridlo Allah Swt, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap keridlaan Allah Swt, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Ahmad). Dalam hadist lain, Allah Swt mengampuni dosa-dosa manusia asal tidak mengerjakan dosa besar. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Shalat lima Jum’at ke Jum’at, Ramadan-ke Ramadan, menutupi dosa-dosa yang dilakukan diantaranya asal dijauhi segala dosa besar”. (HR Muslim)
Kedua, Ramadan adalah bulan al Qur’an. Mengapa, karena di dalam Ramadanlah pertama kali al Qur’an diturunkan. Peringatan nuzulul ‘qur’an, dilaksanakan di dalam bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 17 Ramadan. Kita semua tahu, al Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Al Qur’an juga merupakan mu’jizat Nabi Muhammad Saw yang menjadi pedoman hidup umat manusia. Secara global, didalamnya terdapat syariat Islam meliputi akidah, ibadah dan muamalah, akhlak, hukum, kisah umat terdahulu, serta isyarat pengembangan pengetahuan dan teknologi. Kalau saja hidup kita berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw, maka dijamin hidup kita akan terarah.
Ketiga, pada bulan Ramadan pintu syurga dibuka dan terkuncinya pintu neraka serta syetan dibelenggu. Oleh karenanya seringkali kita merasa lebih “enteng” beribadah di bulan Ramadan. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Sungguh telah datang bulan Ramadan yang penuh barokah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, disaat dibuka pintu-pintu syurga ditutup pintu neraka, dan dibelenggu syetan-syetan, dan dimana dijumpai satu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya sungguh tiadalah akan mendapatkan itu buat selama-selamanya”. (HR Ahmad dan Baihaqi)
Keempat, di dalam bulan Ramadan terdapat satu malam yang istimewa yang disebut lailat al qodr. Pada malam itu Allah melipatgandakan amal pahala ibadah dengan kelipatan yang luar biasa, yaitu lebih baik dari 1000 bulan. Artinya, kalau saja kita shalat sunnah pada malam itu, maka kita mendapatkan pahala seperti shalat sunnah selama 1000 bulan (83 tahun).
Kelima, orang yang berpuasa dalam bulan ini tempatnya di dalam syurga yang pintunya bernama Rayyan. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya dalam syurga itu ada sebuah pintu, yang dinamakan Rayyan. Pada hari Qiyamat diserukan dari pintu itu : “Dimana orang-orang yang berpuasa?” Apabila mereka semua telah masuk, pintu itu pun ditutup kembali”. (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu ‘alam.

MENJAGA PUASA


Mohamad Ansori

P
uasa memiliki manfaat yang luar biasa bagi setiap orang. Meskipun puasa Ramadhan hanya diperintahkan untuk orang-orang yang beriman, namun banyak orang yang tidak beriman juga melakukan puasa. Orang-orang non muslim pun banyak yang melakukan puasa. Di dalam agama Hindu, Budha, Kristen, dan Katholik, juga dikenal puasa. Hanya saja seringkali cara dan tujuan puasanya berbeda-beda.

Puasa tidak hanya diwajibkan pada orang-orang zaman sekarang. Orang-orang dahulu pun juga mengenal dan melakukan puasa. Bahkan orang-orang Jawa suka bertapa, yang juga merupakan bentuk lain dari puasa. Hampir semua agama mengakui bahwa puasa sangat bermanfaat bagi manusia.


Dalam Surah Al Baqarah Allah Swt berfirman, yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah : 183)

Namun sebagai seorang muslim, puasa hendaknya dilakukan dengan alasan yang paling mendasar. Yaitu, alasan karena taat menjalankan perintah Allah Swt. Seorang mukmin harus bisa secara pasti mengatkan, bahwa puasaku atas perintah Allah Swt, dan memang untuk Allah Swt. Urusan manfaat puasa baik secara dhohir maupun bathin, biarlah anggap itu bonus yang mengirinya. Karena, yang menjadi dasar penilaian Allah Swt terhadap manusia, adalah ketaatannya.

Dalam sejarah, puasa banyak dilakukan orang untuk tujuan dan keinginan tertentu. Seorang petapa, ia rela tidak makan dan tidak minum sampai berhari-hari, dan menyepi di dalam gua menjauhi segala keramaian dunia, dengan tujuan menyempurnakan ilmunya. Seorang pencuri pun, berpuasa dengan berbagai macam bentuk puasanya, agar ia menjadi orang yang sakti, yang bisa menjalankan aksinya dengan leluasa.

Bahkan, binatangpun banyak yang menjalankan puasa. Lihatlah, betapa seekor ulat harus berpuasa dalam sebuah kepompong untuk dapat menjadi binatang yang dapat terbang dan indah dipandang mata. Padahal, ketika ulat masih menjadi dirinya, banyak orang yang senantiasa menyingkirkannya, banyak orang yang tidak rela dekat-dekat dengan dirinya. Tetapi, ketika sudah menjadi kupu-kupu dan terbang diantara bunga-bunga, begitu banyak gadis cantik yang ingin menyentuhnya.

Binatang lain yang juga berpuasa adalah  adalah beruang. Beruang mampu berpuasa selama musim dingin, yang biasa disebut dengan hibernasi. Kondisi alam yang ekstrimlah yang kemudian memaksa beruang untuk berpuasa. Beruang akan melakukan puasa dalam jangka waktu yang lama (6-8 bulan) untuk menghadapi musim dingin dan baru terbangun ketika musim dingin usai dan mencari makanan karena lapar.

Sementara itu, ular melakukan puasa secara berkala. Hewan melata ini dalam waktu tertentu akan melakukan puasa setelah terlebih dahulu mempersiapkan cadangan makanan di perutnya, misalnya makan anak kambing satu ekor. Puasa yang dilakukan ular bertujuan untuk meningkatkan suhu badan hingga beberapa derajat di atas normal guna melakukan pergantian kulit baru. Jadi tujuan puasa yang dilakukan ular adalah untuk melakukan pergantian kulit.

Seorang muslim sepantasnya menjaga puasanya dengan baik. Puasa secara fisik memang hanya menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan dengan suami/istri di siang hari. Tetapi, lebih penting dari itu, puasa juga harus dapat menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak pahala puasa. Ghibah, berbohong, adu domba, memandang lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu, adalah hal-hal yang dapat merusak puasa.

Jangan sampai, kita masuk golongan orang-orang sebagaimana pesan Nabi Muhammad Saw, “Betapa banyak orang yang berpuasa, yang tidak mendapatkan dari puasanya itu, kecuali lapar dan dahaga”. Naudzublillahi mindzalik.

Wallahu’alam.

Mencari Bahagia

Mohamad Ansori

Kebahagiaan adalah sesuatu yang paling dicari di muka bumi. Meskipun, tidak semua orang tahu, apakah bahagia itu. Paling tidak, tidak banyak orang yang dapat mendefinisikan dengan baik, apa makna bahagia. Sehingga cara, jalan, arah, dan upaya yang dilakukan untuk mencari bahagia pun menjadi sangat berbeda-beda.

Imam Qurtubi menjelaskan bahwa untuk mencari kebahagiaan di dunia dan diakhirat, paling tidak ada lima perkara. Yaitu, (1) rezeki yang halal, (2) qona'ah, (3) taufiq, (4) sa'adah, dan (5) jannah.

Rezeki yang halal adalah rezeki yang diperoleh dari jalan yang dibenarkan menurut syari'at Islam. Rezeki yang halal menjamin keberkahan. Sebaliknya rezeki yang diperoleh dari cara yang haram, tidak akan menghasilkan keberkahan.

Namun demikian, banyak orang yang mengabaikan halal dan haram dalam mencari rezeki. Mencari yang haram aja sulit, apalagi mencari yang halal, mungkin begitu kata sebagian dari mereka. Seharusnya, pola pikirnya bisa dibalik. Kalau sama-sama sulitnya, kenapa tidak mencari yang halal saja bro?

Sebagian orang juga mengabaikan berkah. Padahal berkah itulah yang menjadi komponen utama penghasil bahagia. Bagaimana tidak, rezeki yang berkah selalu menghasilkan bertambahnya kebaikan. Rezeki berkah membuat keluarga menjadi tambah baik, tambah rukun, anak-anaknya menjadi anak yang sholeh, rumahnya menjadi selaknya surga. Sementara rezeki yang tidak berkah, malah memproduksi kemaksiatan. Semakin banyak rezeki, tidak semakin mendekat pada Allah Swt, tapi sebaliknya justru semakin menjauhkan kita dariNya.

Qonaah adalah sikap menerima dan ridlo akan apa yang diberikan Allah Swt. Ketika mendapatkan rezeki yang banyak, orang-orang qona'ah akan bersyukur dan segera membagikan sebagian rezekinya kepada orang lain yang kekurangan. Sementara ketika sedikit, mereka tidak ngresula, tetap diterima dengan lapang dada, dinikmati apa adanya, tidak berusaha mencari-cari yang tambahan dengan cara yang memberatkan.

Misalnya, ketika seorang qona'ah mendapat penghasilan Rp 50.000,- sehari, maka cukuplah itu yang ia gunakan untuk menyambung hidupnya. Ia merasa cukup dengan makan dengan tahu, tempe, ikan asin, sayur-sayuran, dengan pepaya dan pisang sebagai buahnya. Ia tidak perlu mencari pinjaman hanya untuk membeli daging, lobster, pizza, atau makanan mahal lainnya. Cukuplah apa yang diberikan oleh Allah pada hari itu, ia nikmati seadanya.

Taufiq Allah Swt adalah kesesuaian antara keinginan kita dengan kehendak Allah Swt. Kalau saja kita ingin membeli mobil baru, kita sudah berusaha mengumpulkan uang bertahun-tahun, tapi pada saat uang sudah terkumpul, tiba-tiba ada kebutuhan lainnya, yang lebih mendesak. Ini berarti, bahwa keinginan kita dengan kehendak Allah Swt, tidak sama.

Oleh karena itu, untuk meraih kebahagiaan itu, kita perlu senantiasa berdoa, semoga taufiq Allah Swt hadir dalam kehidupan kita. Sehingga, apa yang kita inginkan, apa yang kita rencanakan, pada akhirnya dapat tercapai, karena sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Saadah adalah ketenangan jiwa. Dalam bahasa sederhana, kita sering menyebutnya dengan istilah ayem tentrem. Saadah juga merupakan salah satu syarat meraih bahagia. Orang-orang yang selalu terlibat konflik, tidak memiliki kecocokan dalam kelompoknya, selalu berselisih dengan anggota keluarganya, tentu akan sulit mendapatkan kebagiaan. Meskipun pada saat itu, ia memiliki banyak harta.

Jannah adalah syurga. Syurga adalah tempat yang disediaakan Allah Swt untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta bertakwa. Syurga merupakan tempat dimana kita mendapatkan kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Luasnya seluas langit dan bumi, didalamnya terdapat kenikmatan yang lengkap tiada tara.

Firman Allah dalam Al Quran al Karim, yang artinya:
Di dalam Surga kamu memperoleh apa (segala kenikmatan) yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa (segala kenikmatan) yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Fushshilat: 31-32).

Wallahu'alam.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes