Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Tentang Trilogi Menulis

Menulis adalah kegiatan untuk menyampaikan pesan, pikiran, dan perasaan yang ingin disampaikan oleh penulis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Menurut Doyin (2009: 12) menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dipergunakan dalam komunikasi secara tidak langsung.

Dengan menulis orang seperti melepaskan beban pikiran yang tersimpan di dalam dada, sehingga ia akan merasakan "lego" setelah menulis. Namun demikian, baik buruk, menarik atau tidaknya tulisan, tergantung latar belakang, skill, dan pengetahuan penulis. Menulis merupakan salah kegiatan yang membuat kaya. Dalam konteks ini, kaya tidak harus berupa uang, tetapi kaya teman, pengalaman, pengetahuan, dan lain-lain.


Membandingkan Peran dan Kemanfaatan

Mohamad Ansori


Dalam sebuah diskusi tentang literasi, muncul sebuah pertanyaan dari seorang peserta. "Bapak nara sumber, mana yang lebih bermanfaat, membaca al Qur'an atau membaca buku-buku, menulis artikel atau menjadi penceramah yang berdakwah ke berbagai tempat?"

Pertanyaan ini sebenarnya sederhana. Pertanyaan yang sudah memberikan pilihan jawaban a atau b. Sehingga, untuk menjawabnya kita hanya perlu memilih jawaban pertama atau kedua, dengan sedikit mendeskripsikan alasannya. Tapi sesederhana itu kah? Bagaimana kalau kemudian juga muncul pertanyaa, misalnya : Mana yang lebih bermanfaat, petani atau nelayan, guru atau karyawan, kiai atau tukang batu, teknisi listrik atau tukang sapu?

Sebenarnya pertanyaan itu ada sedikit misoriented. Penanya kayaknya terbiasa melihat dunia ini dengan dua warna pilihan yang monton, yaitu hitam dan putih. Padahal kita tahu, Allah Swt menyediakan ribuan bahkan jutaan warna. Dengan warna-warna itu, dunia ini menjadi begitu indah. Tidak seperti TV di zaman tahun 1990-an, hitam dan putih saja. Saat ini TV tidak hanya hitam putih, atau color, bahkan sudah full color, dengan high definition (HD) dengan 720p resolusi 1280×720 piksel, bahkan sudah ada yang full high definition (FHD) dengan resolusi yang jauh lebih tinggi. Eh, kok jadi ngomongin TV ya? Hehehe...

Saya hanya ingin mengatakan, bahwa segala sesuatu tidak selalu harus diperbandingkan. Semua komponen kehidupan ini punya fungsi dan manfaatnya masing. Yang mana, semuanya saling melengkapi agar kehidupan berjalan dengan jauh lebih baik. Memperbandingkan bermakna mengunggulkan yang satu, dan pada saat yang sama merendahkan yang lain. Tentu, hal ini secara sosial akan membuat friksi di masyarakakat.

Seorang pejabat negara bisa jadi ia sangat bermanfaat bagi negaranya. Ia bisa menjadi pemimpin yang adil, yang kebijakannya memproteksi rakyat baik dari kedzaliman, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, dan keterpinggiran. Tapi, di lain tempat kita bisa melihat, betapa ada pejabat yang justru menyengsarakan rakyat. Kebijakannya kacau, ekonomi negara morat marit, rakyat hidup sengsara, bahkan begitu banyak pejabat yang justru memanfaatkan kekayaan negera untuk kehidupan pribadinya. Kalau begitu, mana yang lebih bermanfaat?

Dalam sebuah diskusi imaginasi, roda sepeda motor berkata, aku yang paling penting. Karena tanpa roda bagaimana sepeda motor dapat berjalan. Sang mesin juga berkata, aku yang lebih penting, karena tanpa aku motor juga tidak dapat berjalan. Bahan bakar juga berkata, aku yang lebih penting, karena tanpa aku mesin tidak bisa menyala. Kalau begitu, mana yang paling penting dan paling bermanfaat?

Demikian juga dengan posisi kita. Sekali lagi, tidak semua hal bisa diperbandingkan. Biarlah para ustadz berkwah, mengajak kebaikan, dengan cara dan metodenya. Karena kebaikan dapat muncul dari mendengarkan ceramah-ceramah mereka yang mencerahkan dan menyejukkan. Biarlah para penulis tetap menulis, karena sebagian orang justru lebih tertarik dari membaca tulisan daripada hanya mendengarkan. Membaca al Qur'an adalah hal yang paling utama bagi setiap muslim, tetapi tidak semua orang dapat memahami maknanya, sehingga ia butuh ulama untuk menjelaskannya. Pada saat yang sama, seseorang juga perlu membaca buku-buku teknik, agar listrik tetap dapat menyala, sehingga para kiai dapat mengaji, dan para santri dapat belajar darinya.

Intinya, membandingkan manfaat sudah tidak lagi diperlukan. Saling melengkapi adalah yang kita butuhkan. Berkolaborasi dengan berbagai keahlian dan peran, akan membuat hidup kita menjadi lebih baik dan sejahtera.

Sabda Nabi Muhammad Saw :

Artinya : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No:3289).

Semua orang bisa bermanfaat pada posisinya masing-masing. Baik sebagai pejabat atau rakyat, pemimpin atau yang dipimpin, hartawan atau karyawan, guru atau murid. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi khoirunnas, dengan tanpa membandingkan posisi yang dimilikinya.

Wallah'alam.

Lima Kunci Utama Menulis


Mohamad Ansori

Menulis merupakan salah satu ketrampilan literasi. Sebagai sebuah ketrampilan, menulis bukanlah suatu teori, tapi kemampuan yang harus dilatih. Latihan yang rutin, tidak takut salah atau jelek, yang penting menulis dan menulis.

Ketrampilan atau skill, adalah kemampuan yang tidak bisa diperoleh dari hanya berteori. Ia harus dipraktekkan, digunakan, dan dibiasakan. Seperti naik sepeda, tidak lagi kita perlu belajar teori naik sepeda. Atau mempelajari bagaimana cara kerja sepeda, bagaimana teori keseimbangan dalam bersepeda, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah ketika seorang anak setiap hari naik sepeda, meskipun jatuh atau menabrak, maka ia akan mahir naik sepeda dengan sendirinya. Tinggal ia meningkatkan ketrampilannya dengan jumping, atau free style cycling

Dr. Ngainun Naim dalam  Diskon (Diskusi Online) yang diselenggarakan oleh LPPM IAIN Ponorogo dengan tema “Literasi di Masa Pandemi: Dari Usia Dini hingga Akademisi” ada beberapa kunci menulis, yaitu: 
  1. Motivasi : (1) karir, seseorang yang menulis untuk kepentingan karirnya, para akademisi umumnya menulis karena kepentingan ini, (2) ekonomi, yaitu orang yang menulis karena kepentingan ekonomis, yaitu untuk mendapatkan uang dari kegiatan menulis, (3) politik, yaitu orang yang menulis untuk kepentingan politik, pencitraan diri, sedangkan mengajuukan diri sebagai calon legislative atau calon kepala desa, dan (4) cinta, orang-orang yang menulis untuk kepentingan menyatakan mengeksplorasi perasaan dan cinta.
  2. Meyakini menulis itu adalah anugerah. Anugerah adalah sesuatu yang dikaruniakan Allah Swt kepada kita. Oleh karena itu kita harus memanfaatkannya untuk kebaikan. Seseorang yang mampu menulis harus yakin bahwa menulis merupakan salah cara mensyukuri nikmati atau karunia Allah Swt berupa kemampuan menulis
  3.  Meyakini manfaat menulis. Apapun tulisan anda, yakinlah bahwa menulis itu bermanfaat. Meskipun sebagian tidak yakin apa manfaat dari tulisannya, berapa banyak yang membaca tulisannya, berapa banyak yang memahami tulisannya, atau apakah tulisannya benar atau tidak. Paling tidak, ktia harus yakin bahwa menulis akan sangat bermanfaat bagi diri sendiri, memberikan kesempatan pada kita untuk menunjukkan eksistensi diri, atau menghilangkan “kepikunan” karena menulis juga merupakan wasilah untuk mengingat.
  4. Jangan mudah menyerah. Orang menyerah menulis biasanya karena penulis berorientasi pendapat pembaca. Sehingga, ia “takut” tulisannnya tidak ada yang membaca. Padahal tugas menulis adalah menulis, bukan mengikuti penghendak pembaca, bukan mengikuti apa yang dimaui pembaca. Sehingga, tetap menulis, bagus atau tidak, panjang atau pendek, menarik atau tidak, tidak ada urusan. Kalau kita takut jatuh pada saat belajar naik sepeda, maka bisa jadi kita tidak akan bisa naik sepeda.
  5. Berjejaring. Maknanya, berjejaring adalah menggunakan berbagai media, khususnya media elektronik dan media sosial untuk  bertanya pada teman yang lebih luas. Melalui jejaring itu kita dapat berbagi pengetahuan, motivasi, teknik, dan banyak hal berkaitan dengan “kepentingan” menulis.
Alhasil, seberapa banyak teori yang dipelajari tentang menulis tidak akan banyak membantu sesorang untuk menghasilkan karya tulisan, sampai ia benar-benar menulis. Menulis dapat dimulai dari hal yang paling sederhana dan paling dekat dengan kita.

Istirahatlah dengan Menulis

Mohamad Ansori

Tak bisa dipungkiri, istirahat merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Secara klinis, tubuh memerlukan istirahat untuk relaksasi. Mesin saja juga butuh fase pendinginan, agar dapat bekerja dengan baik dan maksimal. Manusia tidak bisa menghindar dari kebutuhan istirahat. Bahkan manusia bisa mati jika tidak bisa istirahat.

Para ahli psikologi mengatakan, ada banyak cara orang beristirahat. Paling tidak, kita mengenal macam-macam istirahat seperti tidur, rekreasi, dan berolah raga. Sementara itu, Dr Matius Edlund, seorang pakar psikologi AS, menyatakan bahwa ada empat jenis istirahat aktif: sosial, mental, fisik dan rohani (menggunakan meditasi dan doa untuk bersantai).

Secara umum, istirahat bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada tubuh untuk recovery. Tidur merupakan istirahat terbaik dalam kaitannya dengan hal ini. Tidur tidak harus lama, tetapi yang penting adalah berkualitas. Menurut pakar Psikologi Ahmad Faiz Zaenuddin, tidur yang baik dan bahagia itu bukan tergantung banyaknya waktu, melainkan tidur yang berkualitas.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pada intinya, istirahat bertujuan memberikan kesempatan tubuh untuk berganti fokus, baik secara jasmani maupun rohani. Ada orang yang dapat beristirahat dengan baik pada saat ia berkesempatan untuk tidur. Orang lainnya bisa jadi, ia lebih suka beristirahat dengan berjalan-jalan, nonton TV, mendengarkan musik, atau bahkan berolahraga ringan. Sementara orang lainnya cukup dengan membaca buku untuk sekedar mengalihkan konsentrasi dari pekerjaan semula.

Nah, bagaimana dengan menulis? Jika membaca buku dapat menjadi sarana untuk beristirahat, apakah menulis juga dapat digunakan hal yang serupa?

Menulis merupakan salah satu kegiatan untuk menuangkan ide dan gagasan. Setiap orang menulis dengan tujuannya masing-masing. Ada orang yang menulis untuk tujuan ideologis (mempengaruhi orang lain), akademis (kegiatan pembelajaran, perkuliahan, dll), ekonomis (untuk mendapatkan manfaat ekonomis), chatarsis (menyalurkan emosi diri penulis), politis (kepentingan mempengaruhi orang untuk kepentingan politik), pedagogis (untuk memberikan edukasi pada pembaca), medis (kepentingan menjelaskan hal-hal medis tertentu), dan pragmatis (penulis ingin terkenal atau tuntutan tugas tertentu)

Namun, ada orang yang menulis hanya untuk kepentingan hobi atau kesenangan. Orang-orang ini tidak mempedulikan kepentingan atau tujuan-tujuan lainnya, ia hanya menulis sebagai salah satu hobinya saja. Sehingga ia bisa menulis apapun yang ia mau. Satu saat ia menulis puisi, menulis cerita, menulis cerita humor atau anekdot, dan seterusnya. Ia hanya ingin berbagai, menyampaikan pesan yang ingin disampaikan pada orang lain, atau bercerita tentang suasana hatinya. Orang-orang ini menulis "tanpa beban" dan tekanan baik dari dalam dirinya maupun dari orang lain. Ia menulis dan ia bahagia. Baginya, menulis adalah hiburan, menulis adalah rekreasi, dan menulis adalah relaksasi.

Justru dalam kondisi ini seorang penulis dapat menjadikan dirinya produktif. Ia akan menulis kapan saja ia mau. Ia akan menulis apa saja yang ia mau. Tanpa mempertimbangkan apakah orang like atau dislike terhadap tulisannya. Yang terpenting baginya, menulis dan menulis. Dan, ia bisa "beristirahat" dari aktivitas "wajib"nya yang lain ketika ia menulis.

Wallahu'alam.

FULAN DAN KEGALAUANNYA


Mohamad Ansori

Fulan adalah orang yang sangat kaya. Bisnisnya sukses luar biasa sepuluh tahun terakhir. Keluarganya bahagia. Ia memiliki seorang anak yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Saat ini, anaknya tersebut sedang mempersiapkan bisnisnya sendiri. Tentunya, bagi Fulan ini juga merupakan tantangan. Ia berhasil meraih kejayaan, lalu apakah kejayaan itu juga akan diraih anaknya?

Beberapa hari ini Fulan merasa galau. Pandemi Covid 19 membuatnya ketakutan. Betapa tidak, secara makro pandemi ini sangat berbahaya bagi orang seusianya. Saat ini ia sehat-sehat saja. Tapi ia tahu, tidak hanya masyarakat biasa, bahkan tenaga medis pun banyak yang berguguran dihantam Corona. Ia tahu, bahwa sekali ia terkena, maka sungguh sangat berbahaya bagi dirinya yang sudah berusia kepala enam.

Fulan memutuskan untuk tinggal di rumah. Ia tak melakukan apa-apa. Karena ia sudah tidak membutuhkan apa-apa. Ia tidak perlu bekerja, karena hartanya sangat banyak kalau hanya sekedar hidup enak saja. Hari-harinya hanya bercengkerama dengan istrinya, main bersama hewan piaraannya, menyanyi di ruang home teathernya, dan nonton TV untuk melihat perkembangan kasus Corona. Kalau lelah, ia akan berganti bermain telepon pintarnya. Disitu ia juga dapat melihat lebih luas lagi akan perkembangan kasus Corona di seluruh dunia.

Hatinya benar-benar miris. Ia melihat Negara sehebat Italy, porak poranda dan sempoyongan menghadapi kasus kematian akibat Corona. Negera dengan kualitas kesehatan, jaminan social, dan kebersihan yang sangat baik dan berkelas dunia, harus juga babak belur dihajar Corona. Ia juga melihat Jerman, negara maju dengan kemajuan teknologinya yang luar biasa, memiliki nasib yang sama. Terakhir, ia melihat betapa Amerika, negara adidaya yang menggelari dirinya polisi dunia, juga tidak berdaya menghadapi serangan makhluk kecil yang bernama virus Corona.

Fulan sejenak terkesiap. Dihatinya muncul pertanyaan besar dan menggelisihkan. Uang, mobil, rumah, saham, dan semuanya yang dimilikinya, akankah dapat membantunya? Apakah Italy kurang canggih alat kesehatannya, apakah Jerman kurang hebat dokter-dokternya, atau apakah Amerika kurang hebat pakar-pakar medisnya? Toh begitu banyak rakyatnya yang tumbang dan harus menyerah kalah dalam perangnya melawan Corona.
Lalu, kalau sampai aku terkena, sampai aku harus menemui ajalku, apa yang akan aku bawa?

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggelayut di hati si Fulan. Hatinya resah dan gelisah, tak tentu arah. Betapa tidak. Puluhan tahun ia membangun bisnisnya, mengumpulkan uang triliunan rupiah. Puluhan mobil dimilikinya. Dari yang berharga 1 miliar an rupiah sampai yang berharga puluhan miliar rupiah. Ia beli rumah-rumah mewah. Hari ini di rumah ke satu, hari lain di rumah lainnya. Apapun yang ia mau, selalu ada. Apapun yang ia inginkan, selalu ia dapatkan.

Tapi apa? Naik mobil mewah ya begitu-begitu aja, tidur di ranjang yang berharga puluhan juta rupiah juga begitu-begitu saja. Apalagi makan, makanan yang paling mahal di restoran termahal, baik restoran Jepang, Amerika, Perancis, atau restoran apa saja, semuanya sudah ia coba semua. Alhasil, dia masih senang dengan sambel terasi dan bandeng goring buatan istrinya.

Selama ini waktunya ia habiskan untuk kekayaan dan kejayaanya. Ia berperang dan menang di dunia bisnisnya. Ia tak peduli bagaimanapun caranya. Yang penting menang dan menang. Ia ditakuti oleh setiap musuhnya, ia disegani oleh semua kawannya.

Tapi kini, ketika Corona mengancam semua orang termasuk dirinya? Apa kiranya yang bisa ia handalkan? Obat Corona belum ditemukan, apalagi vaksinnya. Cara mencegahnya hanya dengan physical distancing dan menjaga kebersihan tangan, itu pun sudah dilakukannya. Kalau saja, ia terkena lalu mati, apa yang akan ia bawa sebagai bekal perjalanan akhiratnya?

Fulan mengambil nafas panjang. Ia sadar sesadar-sadarnya. Selama ini ia tertipu. Tertipu oleh kemegahan dunia. Tertipu oleh kekayaan dan kejayaan di dunia. Selama enam puluh tahun sudah, ia mengabaikan akhiratnya. Selama ini, uang dan uang saja yang ada dalam agendanya.

Hari-hari dalam lockdown ia mulai menyadari, betapa semua yang ia miliki hanya begitu-begitu saja. Hanya penampilan yang wah, kehidupan yang mewah, hanya puji-pujian dari koleganya yang membuat ia melambung. Selebihnya, kehidupannya kosong.

Ia hanya bergeser dari kesenangan yang satu dengan kesenangan lainnya. Setelahnya, ia merasakan hampa. Seperti ada sesuatu yang kosong dan tidak bisa diisi apapun juga yang ada di salah satu bagian hatinya. Sayangnya, ia tidak tahu itu apa dan mengapa.

Hari ini seorang temannya menasehatinya. Ia merasakan kosong karena ia jauh dengan Tuhannya. Ia merasa tidak tenang karena ia lupa akan jati dirinya. Ia merasa tidak bahagia karena semua yang ia punya hanya ia nikmati sendiri. Ia tidak tahu betapa bahagianya ketika ia dapat menolong orang lain. Ia tidak pernah merasakan betapa bahagianya kita ketika kita dapat membuat orang bahagia. Sejauh ini, yang ia temui hanya "senang", bukan bahagia. Karena itulah, seperti ada satu "gigi" yang lepas, dari gear penggerak roda hidupnya.

Wallahu’alam.  

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes