Belajar dari Pembolos

gambar : anoerkomputer.online




Setiap orang memilik karakteristik yang berbeda. Gaya bicara, belajar, bekerja, bergaul, berkomunikasi, bahkan gaya berjalan pada setiap orang tentu berbeda. Penyeragaman akan sesuatu seringkali juga bertabrakan dari sifat alamiah yang memang dibawa seorang manusia sejak ia lahir. Termasuk di dalamnya gaya dan cara belajar siswa, yang tentu juga berbeda-beda.

Anak yang memiliki gaya belajar visual akan mengalami kesulitan ketika harus belajar dengan cara auditif dan sebaliknya. Anak yang suka belajar dalam ketenangan akan mengalami kesulitan pada saat belajar kelompok. Anak mandiri akan merasa jengah pada saat guru les privatnya mengajar dengan cara yang detil karena hal itu akan berbenturan dengan karakternya yang mandiri. Sehingga, seorang anak mandiri tidak memerlukan guru privat yang harus mendampingi dirinya belajar secara pribadi.

Seorang anak belajar dengan tekun, dalam waktu yang panjang dan teratur. Pantaslah anak itu pintar dalam bidang studi yang dipelajarinya. Ia menghabiskan waktu untuk membaca, menghafal, mengulang, dan mengerjakan latihan-latihan. Apalagi jika ditunjuang dengan fasilitas belajar yang memadai. Buku-buku yang lengkap, ruang belajar yang nyaman, tidak mempunyai tugas lain selain belajar, bahkan mendapatkan bantuan bimbingan dari guru privat. Hasilnya, tentu ia akan mendapatkan nilai-nilai bagus dalam setiap ulangannya.

Namun tidak semua anak berada pada kondisi ideal seperti itu. Tidak semua orang tua bisa menyediakan fasilitas yang penuh untuk anak-anaknya. Kadang-kadang seorang anak harus membantu orang tuanya, mengasuh adiknya, bahkan bekerja paruh waktu di luar jam belajarnya. Namun, anak-anak seperti ini belum tentu mendapatkan nilai buruk dalam ulangannya. Padahal, dari sisi kuantitas waktu belajar yang tersedia, mereka jauh lebih sedikit mendapatkannya.

Faktanya, setiap orang memiliki daya serap yang berbeda. Seseorang bisa hanya dengan sekali membaca, ia kemudian paham, bahkan hafal apa yang dia baca. Seorang anak lain dapat belajar meskipun sambil bekerja, sambil nonton TV, mendengarkan musik, bahkan sambil bermain pun mereka bisa belajar. Anak-anak seperti ini tidak membutuhkan waktu khusus untuk belajar. Sedikit waktu yang dimiliki, cukuplah untuk memahami materi pelajarannya.

Salah seorang teman saya bukan anak penurut. Sering membolos, dan tampak malas belajar. PR dan tugas-tugas pun tidak dikerjakan dengan baik. Asal-asalan saja. Paling tidak, asal tidak dimarahi guru. Namun, di setiap ujian, baik itu ujian tengah semester atau ujian akhir semester, nilai-nilainya selalu berada dideretan sepuluh besar di kelasnya. Padahal, hampir semua orang melihatnya hanya bermain dan bermain, bahkan sering kali tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan.

Anak pembolos ini ternyata memiliki cara belajar sendiri. Ia suka membuat rangkuman, skema materi (mind map), dan mempelajarinya di kala orang tidur. Pendeknya, disaat teman-temannya belajar, ia bermain. Tetapi, pada saat teman-temannya tidur, ia belajar. Itu pun dengan cara yang tidak lazim. Yaitu skematik atau sistem bagan. Sehingga materi yang begitu banyak dapat ia sederhanakan dan dengan mudah dipelajarinya. Anak pembolos itu ternyata memiliki caranya sendiri dalam belajar. Sehingga, tidak patutlah kita meremehkan orang lain, karena pada hakikatnya kita tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnya ia!

Mengkreasikan Pembelajaran Daring


gambar : kompasiana

Mohamad Ansori

Setelah lebih dari lima bulan pembelajaran daring dilaksanakan di sekolah, persoalan-persoalan mulai muncul, salah satunya adalah kebosanan. Siswa sudah merindukan pembelajaran tatap muka dimana mereka dapat berinteraksi, bersenda gurau, bermain, dan belajar bersama teman-teman. Bagaimanapun situasi dan kondisi pembelajaran tatap muka tetap saja tidak bisa digantikan seutuhnya oleh pembelajaran daring. Oleh karena itu, para guru harus memiliki kreativitas dan dapat membuat inovasi-inovasi pembelajaran daring.

Faktor utama penyebab kebosanan adalah banyaknya tugas yang dibebankan guru kepada siswa. Sejak awal siswa sudah belajar menggunakan lembar kerja siswa tercetak, sehingga guru tinggal memberikan instruksi untuk membaca halaman sekian dan mengerjakan tugas di halaman sekian. Demikian seterusnya, sehingga siswa harus mengerjakan sesuatu yang sebenarnya belum diajarkan oleh para guru. Sumber pengetahuan siswa adalah dari membaca buku siswa atau rangkuman materi dalam lember kerja siswa, dan setelahnya adalah mengerjakan soal-soal yang telah tersedia.

Sementara dalam pembelajaran tatap muka, mereka dapat mengklarifikasi hal-hal yang belum mereka pahami, berdiskusi dan bekerjasama dengan teman-temanya, serta bekerja kelompok sambil sesekali bersenda gurau. Di rumah, jika mereka tidak belajar sendiri, mereka harus belajar dengan para orang tua yang belum tentu semuanya guru, dan memahami ilmu mendidik. Para orang tua kebanyakan berorientasi pada hasil, yaitu anaknya bisa mengerjakan soal ini dan itu, sementara mereka juga tidak dapat menjelaskan secara detil seperti gurunya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dan manajemen sekolah diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan perbaikan kurikulum tingkat satuan pelajaran, dengan cara memilah dan memilih kompetensi dasar yang bisa diajarkan secara daring, dengan pendekatan urgensi, relevansi, kontinuitas, dan keterpakaian. Dengan kata lain, target capaian harus dikurangi, sebagai konsekuensi dari adanya masa darurat.
  2. Menggunakan mendia pembelajaran online sebagai alat pembelajaran, bukan semata-mata media penugasan. Guru harus bisa membuat video pembelajaran yang juga menampilkan "wajah guru" sehingga seolah-olah siswa sedang benar-benar berhadapan dengan gurunya.
  3. Mengubah penugasan berbasis soal dengan penugasan kreatif seperti membuat hasta karya, melakukan kegiatan, atau membuat mind map, kemudian siswa mengirimkan video kegiatannya kepada guru. Untuk memberikan penghargaan pada karya siswa itu, para guru dapat mengunggah videonya di website atau akun media sosial sekolah. Dengan demikian siswa akan merasa dihargai hasil karyanya. Ini merupakan salah satu reward yang diberikan pada siswa akan karya-karyanya.
  4. Jika memungkinkan secara teknis, seperti tersedianya jaringan internet yang bagus dan ketersediaan laptop atau smarphone yang mendukung, guru juga dapat memanfaatkan aplikasi video conference yang marak digunakan dimasa pandemi ini, seperti zoom cloud meeting, google teams, cisco webex, skype, dan lain-lain. Selain itu penggunaan google form untuk kuis dan diperkuat dengan penggunaan google classroom tentu akan membuat pembelajaran daring lebih menarik.
Namun demikian, persoalan baru akan muncul. Salah satunya adalah kompetensi guru di bidang teknologi informasi. Untuk menyajikan media pembelajaran yang menarik, seorang guru tidak hanya harus kreatif dalam merancang media pembelajaran, tetapi juga harus mahir dalam mewujudkan dalam bentuk video pembelajaran yang menarik. Jika tidak, media pembelajaran dalam bentuk video yang dibuat guru, kembali akan menjadi tampilan yang tidak menarik atau bahkan monoton.

Oleh karena itu, kepala sekolah juga harus terlibat dala upaya guru berkreasi dalam pembelajaran daring ini. Kepala sekolah dapat menginisiasi kerjasama dengan pihak lain seperti tenaga ahli, lembaga kursus, atau komunitas-komunitas desain grafis dan animasi, untuk membimbing guru dalam pembuatan video pembelajaran. Kelompok kerja guru (KKG) juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan kompetensi guru dibidang teknologi informasi.








Nasionalisme itu Sederhana!



Bagi bangsa Indonesia, bulan Agustus adalah bulan istimewa. Bulan ini merupakan bulan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Tepat pada hari Jum'at tanggal 17 Agustus 1945 founding fathers kita memprokamirkan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukalah hadiah dari Jepang, tapi benar-benar merupakan hasil perjuangan seluruh komponen bangsa Indonesia. Momentum ini tentu harus selalu diperingati, sebagai bagian mengingat sejarah dan meneladani perjuangan para pahlawan bangsa. Mereka tidak hanya telah bekerja, berusaha, dan berjuang dengan keras, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa untuk kebahagiaan anak cucunya.

Memperingati kemerdekaan pada hakikatnya adalah mensyukuri kemerdekaan itu sendiri. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, mengakui benar bahwa kemerdekaan ini merupakan berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Sebab, secara teknis hampir tidak mungkin para pejuang di masa lalu dapat memenangkan berbagai pertempuran dengan hanya bermodalkan senjata seadanya. Sementara para penjajah memiliki senjata yang lengkap dan otomatis. Sehingga keberhasilan meraih kemerdekaan ini benar-benar anugerah dari Allah Swt.

Mengingat dan mengenang jasa para pahlawan saja tentu tidak cukup. Sebagai generasi penerus kita memiliki tugas yang tidak kalah beratnya. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan merupakan tugas utama kita sebagai penerus perjuangan para pahlawan. Mempertahankan bermakna kita harus menjaga kemerdekaan ini tetap harus terjaga. Tidak saja dari invasi militer bangsa lain, tetapi juga penguasaan sektor ekonomi dan penjajahan budaya bangsa lain. Generasi sekarang harus memastikan bahwa bangsa Indonesia benar-benar dapat berdikari dan mandiri, tidak dalam kooptasi negara dan bangsa lain dalam semua lini kehidupannya.

Generasi sekarang juga harus memastikan bahwa kita telah merdeka dari semuanya, baik dalam konteks ekonomi, sosial, budaya, bahkan hukum. Sebab penetrasi budaya dan semakin bebasnya pergaulan antar bangsa merupakan pintu masuknya pengaruh asing pada bangsa kita. Ketergantungan kita pada produk luar dan semakin habisnya sumber daya alam akan sangat mempengaruhi kemerdekaan ekonomi. Kekuatan pemodal besar yang menggerakkan ekonomi dunia sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi negara kita.

Mau tidak mau, gerakan mencintai produk bangsa sendiri merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan kita dengan bangsa lain. Apalagi, 270 juta bangsa Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi produk-produk kita sendiri. Sebagai bangsa kita harus bertekad memajukan bangsa sendiri dan menomorduakan produk bangsa lain. Dalam hal bangsa Indonesia bisa memproduksi sendiri kebutuhannya, maka kita harus tetap mengutamakan untuk menggunakan produk kita sendiri, bukan sebaliknya.

Nasionalisme itu sederhana. Mencintai negeri dengan menggunakan produk kita sendiri, bangga sebagai bangsa dengan tetap mempertahankan budaya yang mulia, bersatu melawan ketergantungan dengan bangsa asing dengan berupaya untuk berdikari. Hal ini memang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilaksankan. Tapi dengan tekat yang kuat, kita yakin bahwa kita akan bisa melakukannya, demi kejayaan bangsa Indonesia.

Selamat HUT RI ke 75, Dirgahayu Indonesiaku!

Menjaga Nasionalisme



Mencintai tanah air merupakan salah satu upaya menjaga harmonisasi kehidupan suatu bangsa. Komponen-komponen bangsa yang berbeda-beda tetapi memiliki kesamaan sudut pandang atas negerinya dapat menjamin persatuan dan kesatuan di negara itu. Sebaliknya jika masing-masing kelompok berpikir berdasarkan sudut pandang kepentingan kelompok, suku, atau golongannya maka bangsa sebesar apapun akan tercerai berai. Kondisi itu akan mempersulit diri menjadi bangsa yang besar, karena perpecahan tidak akan menghasilkan kebesaran dan kedamaian.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Sebagai negara kepalauan, bangsa Indonesia tinggal di ribuan pulau yang terpisah oleh laut dan selat yang dalam. Bersumber dari kondisi ini maka adat istiadat, budaya, cara hidup, bahasa, dan  bahkan agama dan kepercayaan bangsa-bangsa di Indonesia berbeda-beda. Berdasarkan hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa, 652 bahasa daerah, dan 17.504 pulau besar kecil, yang bahkan tidak semuanya berpenghuni.

Menurut Hans Kohn sebagaimana dimuat dalam https://www.mypurohith.com/ mengatakan bahwa nasionalisme adalah sebuah bentuk rasionalisasi dan formalisasi yang terbentuk karena kesadaran nasional untuk bernegara dan berbangsa. Kesadaran sebagai bangsa sangat diperlukan untuk memperkuat suatu bangsa. Dengan kesadaran itu warga bangsa membangun kekuatan yang besar untuk berdirinya suatu negara.

Peringatan hari besar nasional, seperti peringatan HUT RI merupakan salah satu upaya untuk menguatkan rasa nasionalisme itu. Dengan peringatan itu kita seperti diputarkan kembali kisah-kisah perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan di masa lalu. Melaui peringatan itu kita kembali diingatkan untuk menghargai perjuangan para pendahulu yang rela mengorbankan harta benda bahkan nyawa mereka untuk kemerdekaan negeri ini. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Tugas generasi penerus adalah melanggengkan kemerdekaan yang telah diraih, mempertahankan yang telah dicapai, dan mengisinya dengan hal-hal positif yang dapat mendukung bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Proklamasi kemerdekaan bukanlah tujuan, tetapi wasilah untuk meraih tujuan kita sebagai bangsa, yaitu mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Generasi pasca kemerdekaan memiliki tugas menjalankan roda pembangunan dan menjaga agar tujuan bersama yang telah ditetapkan segera dapat diraih.

Membangun Pendidikan Profetik

gambar : okezone muslim


Pengaruh negatif kehidupan modern dan kemajuan teknologi melanda semua tingkatan terutama peserta didik dan generasi muda pada umumnya. Era digital yang melingkupi semua lini kehidupan memberikan efek negatif berupa mundurnya nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak mulia. Kesibukkan orang tua yang menyita hampir seluruh waktunya untuk kepentingan pekerjaan, kegiatan sosial politik, dan lain-lain, merupakan salah satu pendorong munculnya kasus-kasus yang melibatkan peserta didik seperti perkelahian, minum minuman keras, narkoba, seks bebas, dan sebagainya. Dunia membutuhkan model pendidikan yang dapat mengendalikan persoalan-persoalan pendidikan karakter yang semakin menjauh dari kondisi ideal yang diharapkan.

Pendidikan profetik merupakan salah satu jawaban dari persoalan-persoalan yang dihadapi para orang tua dan guru untuk menghalau pengaruh buruk modernisasi. Pada intinya, pendidikan profetik adalah pendidikan yang meniru nabi Muhammad SAW. Istilah profetik ini berawal dari kata prophetic (kenabian atau berkenaan dengan nabi). Pendidikan profetik mengajarkan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw dalam konteks pendidikan. Dengan demikian pendidikan diarahkan pada duplikasi uswah hasanah yang telah diajarkan Nabi Muhamamd Saw.

Menurut Moh. Roqib dalam bukunya Filsafat Pendidikan Profetik; Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhmmad pendidikan profetik secara faktual berusaha menghadirkan nilai kenabian dalam konteks kekinian. Secara skematis bagaimana epistemologi, model integrasi dan koneksitas, serta pola bangunan pendidikan profetik. Zakiyah Daradjat, dkk, dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam, menjelaskan bahwa dengan paradigma profetik, pendidikan Islam diharapkan mampu mencapai puncak tujuannya yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman kokoh dan berilmu luas (ūlūl albāb) menjadi insan kamil.

Pada abad 21 ini, pendidikan seperti kehilangan ruh-nya. Pendidikan terkesan hanya berwujud transfer ilmu pengetahuan dengan tidak dibarengi transfer nilai-nilai kehidupan dan kebaikan. Dengan kata lain transfer of knowledge yang melaju lebih cepat melalui teknologi informasi, ternyata tidak bisa dibarengi transfer of value yang semestinya diajarkan dalam bentuk keteladanan dan interaksi antara guru dan murid.

Berbagai nilai yang tidak selaras, bahkan kontradiktif dengan ajaran dan nilai-nilai akhlakul karimah, masuk dengan mudah ke ruang belajar peserta didik tanpa adanya filter yang jelas. Peserta didik yang secara mental belum siap menerima nilai-nilai baru itu, lebih cepat menerima budaya-budaya yang "tak berbudaya" itu karena memang tampak lebih "asyik" dibanding dengan kebiasaan-kebiasaan  yang diajarkan para gurunya di sekolah atau madrasah. Sehingga gaya hidup baru yang lebih bebas akan dengan mudah diterima oleh para peserta didik.

Pendidikan profetik merupakan pilihan untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw. Tujuan pendidikan profetik adalah membangun peradaban yang berlandaskan akhlak yang mulia, yang berusaha "membumikan" ajaran Nabi Muhammad Saw dalam bentik perilaku nyata. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan, syariat, dan akhlakul karimah (perilaku yang mulia). Ketiga hal itu seringkali disebut dengan iman, Islam, dan ihsan.

Secara sederhana, menerapkan pendidikan profetik dilaksanakan dengan mengandalkan pembiasaan dan keteladanan. Para pendidik adalah contoh nyata para peserta didik untuk mencontohkan penerapan iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Para pendidik adalah contoh nyata pembiasaan mengerjakan syariat Islam, seperti shalat berjamaah, mengaji, menghormati orang tua dan menyayangi teman, bersikap sopan santun dalam pergaulan, dan sebagainya. Oleh karena itu pembiasaan-pembiasaan yang diajarkan di sekolah tidak saja diajarkan nilai-nilai itu, tetapi juga contoh nyata penerapannya. Oleh karena itu, terutama di sekolah dasar dan pra sekolah, para guru harus benar-benar dapat "menjaga diri" dihadapan para peserta didik.


Belajar Mandiri dengan Modul Digital

gambar : youtube.com

Kemandirian merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal 3 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa : "pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".

Sebagai bangsa, kemandirian memiliki makna tidak ada ketergantungan suatu bangsa kepada bangsa lain. Sebagai peserta didik, kemandirian berarti bahwa peserta didik tidak tergantung pada orang lain dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tugas utama peserta didik adalah belajar, sehingga peserta didik yang mandiri ia akan merencanakan dan melaksanakan sendiri kegiatan belajarnya. Mereka tidak perlu menunggu perintah belajar dari orang tua atau guru untuk mengerjakan tugas belajarnya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian peserta didik adalah dengan pembelajran sistem modul. Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis yang di dalamnya memuat seperangkat alat belajar yang terencana dan didesain untuk membantusiswa menguasai tujuan belajar yang spesifik.Modul adalah program pembelajaran terkecil yang bisa dipelajari secara mandiri (self instructional) (Winkel,2009)
Menurut Suryaningsih (2010) sebagaimana dimuat dalam https://www.silabus.web.id/, kelebihan pembelajaran dengan menggunakan modul adalah sebagai berikut.
  1. Meningkatkan motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
  2. Setelah dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui benar, pada modul yang mana siswa telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
  3. Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester.
  4. Pendidikan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun menurut jenjang akademik.
Pembelajaran menggunakan modul diyakini dapat meningkatkan kemandirian pada siswa. Apalagi jika dikaitkan dengan akselerasi pembelajaran, dimana siswa dapat melanjutkan pembelajarannya jika telah menyelesaikan modul tertentu. Anak-anak "pintar" akan termotivasi dengan situasi kompetitif ini. Namun demikian, guru harus lebih perhatian terhadap anak-anak yang "tertinggal" dalam pembelajaran, karena justru itu akan membuatnya semakin tertinggal.

Namun demikian, pembelajaran dengan menggunakan modul juga memiliki beberapa kekurangan. Menurut Vembrianto (1981),  kelemahan pembelajaran menggunakan modul adalah:
  1. Kesukaran pada siswa tidak segera dibatasi.
  2. Tidak semua siswa dapat belajar sendiri, melainkan membutuhkan bantuan guru.
  3. Tidak semua bahan dapat dimodulkan dan tidak semua guru mengetahui cara pelaksanaan pembelajaran menggunakan modul.
  4. Kesukaran penyiapan bahan dan memerlukan banyak biaya dalam pembuatan modul.
  5. Adanya kecenderungan siswa untuk tidak mempelajari modul secara baik.
Beberapa kelemahan di atas, tentunya dapat dikurangi di era digital ini. Kelemahan-kelemahan di atas dapat kita atasi dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.

  1. Membangun jaringan komunikasi digital dengan para siswa, seperti menggunakan media whatsapp group, kaizala, telegram, dan lain-lain.
  2. Melakukan pengecekan perkembangan pembelajaran capaian siswa secara rutin.
  3. Memberikan petunjuk-petunjuk yang praktis pada setiap tugas modul yang diberikan.
  4. Pembuatan modul seharusnya tidak lagi ada kendala, ketika laptop dan jaringan internet sudah tersedia. Tinggal kemauan yang kuat dan kompetensi guru di bidang IT saja yang harus diperkuat. Penggunaan e-modul diharapkan dapat mengatasi kendala penyiapan modul tersebut.
  5. Melakukan monitoring yang disiplin terhadap pembelajaran mandiri yang dilakukan siswa.
Modul tidak harus dibuat dalam bentuk teks cetak. Para pendidik bisa membuatnya sebagai modul berbasis digital (e-modul), seperti dalam bentuk file pdf. Para siswa dapat menggunakan e-modul sebagai bahan belajar dan teks tugas, sedangkan pengertjaannya dapat menggunakan buku tugas biasa. Dalam kondisi tertentu, para guru dapat mem-break down e-modul dalam bentuk-bentuk terpisah dan menyajikannya menggunakan aplikasi google form, dimana para siswa dapat mengerjakan tugasnya secara langsung melalui google form ini dalam pembelajaran daringnya.




Disiplin Protokol Kesehatan dalam Pembelajaran Tatap Muka

foto : radartulungagung

Pemerintah telah memperluas izin pembelajaran tatap muka menjadi zona kuning dan zona hijau. Namun demikian, beberapa syarat harus dipenuhi oleh sekolah. Salah satunya adalah izin dari orang tua siswa. "Jika orang tua atau wali siswa tidak setuju, maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa," Kata Mendikbud Nadiem Makarim dalam rilis yang disampaikan Tim Komunikasi Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional, sebagaimana dimuat dalam https://kumparan.com/kumparannews, Sabtu (8/8) .

Selain itu, protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan. Penggunaan masker atau face shield, ketersediaan wastafel dan sabun, ketersediaan ruang yang cukup untuk phisical distancing, dan sistem belajar gantian (shift) juga harus diterapkan. Setiap kali masuk sekolah hanya boleh melaksanakan pembelajaran dengan 50% dari jumlah kapasitas kelas yang tersedia. Selain itu, juga tidak boleh ada kegiatan kerumuman seperti kerumunan di kantin atau kegiatan ekstrakurikuler.

Pro kontra pun mulai menyeruak. Para orang tua menyambut gembira karena durasi waktu pembelajaran daring menjadi berkurang. Mereka tidak terbebani lagi menjadi "guru" bagi anak-anak mereka yang ternyata sangat sulit dan membebani mereka secara mental. Para guru pun menyambut demikian. Kebolehan mengadakan tatap muka di sekolah memberikan kesempatan pada mereka untuk berinteraksi kembali dengan anak didik yang telah mereka rindukan.

Namun demikian, beberapa pihak menyayangkan keputusan ini. Hal ini disebabkan Pandemi yang belum reda dan siswa belum berada pada kondisi aman. Buktinya jumlah pertambahan kasus terkonfirmasi positif corona masih cukup tinggi. Dikhawatirkan masuknya kembali para siswa ke sekolah justru menimbulkan cluster baru penyebaran virus Corona.

Oleh karenanya, jika pada akhirnya pemerintah daerah dan wali murid melalui komite sekolah menyetujui pembelajaran dengan tatap muka, semua pihak harus bisa memberikan jaminan adanya penerapan protokol kesehatan yang disiplin. 

Seringkali komitmen itu luntur ketika pelaksanaan di lapangan. Dalam arti pada saat momen formal penerapan protokol kesehatan tampak baik, tapi realitanya banyak terjadi pelanggaran. Sebagai contoh orang banyak memakai masker ketika berfoto, tetapi justru melepasnya pada saat bercakap-cakap dengan orang lain.

Dengan pertimbangan besarnya bahaya paparan virus ini, pihak sekolah dan para siswa harus bertekad menjadikan protokol kesehatan sebagai hal penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan. Bukan hanya sebagai bagian agar tampak mengikuti aturan saja. Disiplin adalah vaksin, karenanya disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan adalah ikhtiar maksimal pencegahan penyebaran virus Corona.

Mendalami Kelas Maya

gambar : yuksinau.com


Sebagaimana kita ketahui, pendidikan diarahkan untuk pencapaian kecakapan abad 21 sebagai upaya untuk menyiapkan peserta didik untuk dapat mengambil peran aktif dalam kehidupan di masa mendatang. Kecakapan yang hendak dicapai dalam pendidikan saat ini adalah: (1) Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skill); (2) Kecakapan Berkomunikasi (Communication Skills); (3) Kecakapan Kreatifitas dan Inovasi (Creativity and Innovation); dan (4) Kecakapan Kolaborasi (Collaboration).

Oleh karena itu, kemendikbud merilis sebuah fitur yang disebut dengan kelas maya. Sebagaimana dimuat dalam http://pena.belajar.kemdikbud.go.id, fitur kelas maya merupakan fitur pembelajaran online yang pada hakikatnya adalah sebuah pembelajaran tradisonal/konvensional yang hanya saja disajikan dalam bentuk format digital melalui sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dalam kelas maya, peserta didik dapat megakses materi pelajaran (tulisan, gambar, audio, dan video), tugas, kuis, serta ujian yang telah dibuat oleh gurunya. Selain dari itu peserta didik juga dapat berdiskusi secara online bersama peserta didik lain dan guru pengampunya.

Pembelajaran Kurikulum 2013, mengarahkan siswa untuk mencapai kompetensi secara paripurna. Melalui K13 kompetensi siswa dalam bidang religiu (KI1), sosial (KI2), pengetahuan (K3), dan ketrampilan (K1) dikembangkan sedemikian rupa melalui pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Para siswa tidak hanya mengembangkan kognitifnya, tetapi juga mengembangkan afektif dan psikomotoriknya. Meskipun secara online, kelas maya tetap mengajak siswa untuk belajar secara menyeluruh.

Lebih lanjut, sebagaimana dijelaskan dalam http://pena.belajar.kemdikbud.go.id, melalui fitur kelas maya dapat membimbing siswa untuk: (1) Belajar untuk mencari tahu (learning to know) ; (2) Belajar untuk mengerjakan (learning to do) (3) Belajar untuk menjadi (learning to be); (4) Belajar untuk berhidupan bersama dalam kedamaian (learning to live together in peace). Belajar di kelas maya, tidak saja belajar menggunakan teknogi infomasi, tetapi tetap saja mempelajari materi secara menyeluruh dan mengembangkan semua kecakapan yang ditargetkan.

Belajar dengan kelas maya tidak berarti menghilangkan peran pendidik. Para guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping siswa dalam pembelajaran menggunakan fitur kelas maya. Pembelajaran dengan kelas maya tetap menempatkan pendidik sebagai tokoh sentral dalam pembelajaran. Sebab, tulisan, video, audio, kuis, bahkan ujian, tetap dibuat oleh para pendidik sendiri. Sehingga para pendidik tetap dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disiapkan.

Beberapa kelebihan belajar secara dengan kelas maya adalah: (1) peserta didik dapat belajar kapan saja dan dimana saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, (2) peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan kreativitasnya dengan lebih cepat, (3) peserta didik juga dapat mengembangkan skill-nya dibidang teknologi informasi, (4) peserta didik tidak akan ketinggalan pelajaran meskipuan suatu saat terpaksa ia tidak bisa masuk sekolah, dan (5) kelas maya merupakan kesempatan bagi pendidik untuk mengembangkan kemampuannya dalam bidang teknologi informasi.

Namun, pembelajaran dengan kelas maya juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu (1) pembelajaran ini memerlukan bantuan dan dukungan teknis berupa laptop, komputer, smartphone, dan jaringan internet yang stabil, (2) kurangnya transfer of value, karena para guru dan siswa tidak bertemu dan berinteraksi dalam satu tempat, sementara pembangunan karakter hanya dapat dilaksanakan dengan adanya transfer of value itu sendiri.

Oleh karena itu, pembelajaran kelas maya sebaiknya bukan merupakan pembelajaran yang bersifat konstan. Pendidik harus tetap melakukan interaksi dengan para siswa, sehingga dapat mengamati setiap detik perkembangan siswa, khususnya karakternya. Pembelajaran dengan kelas maya dilakukan sebagai "variasi pembelajaran" sehingga siswa tidak jenuh dengan pembelajaran yang monoton. Keragaman cara belajar ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Menguatkan Karakter dengan Short Film



Meskipun dalam masa pandemi, guru tetap harus berupaya melaksanakan tugas pendidikannya dengan maksimal. Pendidikan dan pengajaran must go on, tidak boleh stuck apalagi stop. Dalam artian, guru harus memutar otak, melakukan inovasi dan kreasi, agar penguatan karakter tetap bisa dijalankan. Jika tidak, dalam masa penantian dimana kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir, pendidikan karakter akan discontinue. Hasilnya tentu akan menakutkan, atau bahkan mengerikan, tatkala pendidikan karakter berhenti dijalankan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk menguatkan karakter anak adalah dengan membuat film pendek. Tentu kualitas film pendek yang dibuat guru tidak boleh disejajarkan dengan film pendek buatan sinematografer profesional. Guru cukup menggunakan smarphone yang dimiliki, membuat cerita berkarakter, menuangkan dalam skenario, memilih pemeran, shooting video, mengeditnya, dan menguploadnya di youtube atau medsos yang dimiliki.

Membuat cerita berkarakter dengan durasai 5 sampai 10 menit, bagi para guru tentu tidaklah sangat sulit. Apalagi sumber cerita banyak tersedia di internet, maka dengan ATM (amati, tirukan, modifikasi) saja, kita dapat membuat cerita berkarakter. Demikian juga dengan skenarionya. Tidaklah harus tercatat dengan rapih cukup membagi peran dan mengatakan pada para guru nanti berkata begini dan begitu dan seterusnya. Yang penting, dapat mudah dipahami oleh para siswa apa konfliknya, dan bagiamana penyelesaiannya, atau apa karakter buruknya, dan bagaimana seharusnya karakter baiknya. Lebih baik lagi, jika juga dimunculkan akibat karakter buruk yang dimiliki oleh siswa, dan buah dari karakter baik yang diperoleh jika siswa melakukan kebaikan.

Smarphone juga cukup memberikan fasilitas pembuatan video. Jika kita ketik video maker di playstore, maka akan muncul banyak aplikasi pembuatan video yang bisa diunduh dan kemudian digunakan. Tinggal mengotak-atik sambil membaca tutorial atau melihat video tutorialnya di youtube. Maka para guru juga akan memiliki ketrampilan sebagai "kameramen" dadakan. Terakhir, para guru tinggal mengedit, menggabungkan video dan foto yang ada, menyisipkan teks, dan mengekspor nya menjadi file video yang siap diungguh di youtube atau medsosnya.

Yang terpenting dari semuanya, bahwa guru tetap harus bergerak. Hati terdalam dari seorang guru tentunya tidak akan rela melihat anak didik dalam jangka waktu yang panjang "terbebas" dari pembiasaan-pembiasaan baik danmengenal nilai-nilai kebajikan. Oleh karena itu, berbagai cara harus ditempuh agar anak-anak kita tidak jauh-jauh dari bimbingan guru, meskipun secara fisik kita belum bisa berinteraksi tatap muka. Selamat berkreasi guruku! (ans)


Arti Penting Seat Rolling di Kelas



Salah satu yang perlu diperhatikan guru dalam meningkatkan efektifivitas pembelajaran adalah seat rolling. Dalam kelas dengan jumlah siswa lebih dari 20 anak per kelas, seat rolling sangat diperlukan supaya terjadi pemerataan. Seat rolling pada prinsipnya adalah perpindahan tempat duduk siswa pada setiap jangka waktu tertentu, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali. Untuk menentukan siapa dan duduk dimana, para guru bisa mengkreasikan caranya menggunakan kuis, tebak-tebakkan, atau berurutan berdasarkan nomor absen, supaya terjadi pemerataan. Faktor pemerataan merupakan salah satu faktor penting dalam seat rolling ini karena hal itu adalah tujuan utama dari aktivitas ini.

Seat rolling memiliki banyak keuntungan, khususnya bagi para siswa. Beberapa arti penting seat rolling adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan kesempatan pada siswa untuk duduk pada posisi yang berbeda terhadap guru atau papan tulis. Dengan demikian penghlihatan siswa tidak hanya mengarah pada sudut yang sama sehingga tidak mengganggu penglihatan mereka. Duduk pada posisi yang sama dalam jangka waktu yang panjang, terutama bagi tempat duduk yang berada di pinggir, tentu akan mempengaruhi penghlihatan siswa. Lama kelamaan siswa akan memiliki kebiasaan melihat dengan sudut mata kiri atau kanan sesuai kebiasaan duduknya.
  2. Memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dengan siswa yang berbeda. Dengan demikian siswa akan lebih banyak belajar karakter temannya. Hal ini penting untuk menambah wawasan siswa agar mereka semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter, sifat, dan perilaku yang berbeda. Kesadaran ini sangat penting agar siswa menjadi orang-orang yang berlapang dada akan kelebihan dan kekurangan orang lain, serta dapat bersikap bijak dalam pergaulan mereka.
  3. Memberikan kesempatan pada siswa untuk merasakan suasana yang berbeda. Duduk tepat dihadapan meja guru dan duduk di jajaran kursi paling belakang tentu memiliki sense yang berbeda. Adanya seat rolling memberikan kesempatan pada siswa untuk menempati posisi dan tempat duduk yang berbeda, sehingga mereka dapat merasakan kelebihan dan kekurangannya.
  4. Meningkatkan motivasi belajar siswa. Seat rolling ini menghasilkan suasana baru, terutama jika guru juga menyertainya dengan layout tempat duduk yang baru. Tatanan tempat duduk dan meja siswa dapat diubah-ubah sedemikian rupa, sehingga kelas menjadi variatif, segar, dan menyenangkan. Kelas-kelas reguler yang selalu menghadap ke papan tulis tidak harus ditinggalkan tetapi perlu diselingi layout lainnya agar suasana kelas mengalami perubahan.
Agar memberikan efek yang terasa, seat rolling harus dilakukan dengan terus menerus tetapi dalam jangka waktu tertentu yang telah direncanakan sebelumnya. Aktivitas ini tidak akan berpengaruh besar jika hanya dilakukan sesekali saja. Paling tidak, harus melewati satu periode dimana seorang siswa sudah dapat kembali pada posisi semula. (ans)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes