Pembelajaran Kewirausahaan di Sekolah

 


Pandemi Covid 19 hampir melumpuhkan semua ranah kehidupan kita. Pendidikan, sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan, benar-benar menghadapi masalah serius. Berbagai program untuk mengatasi keadaan telah dilakukan pemerintah. Tujuannya, agar negeri kita tidak runtuh ke dalam resesi. 

Dalam bidang ekonomi, tidak hanya rakyat kecil, bahkan para pengusaha menengah ke atas pun merasakan beratnya menghadapi persoalan ekonomi. Produksi dengan melibatkan banyak karyawan tidak lagi bisa dilaksanakan. Permintaan pun melemah. Banyak produk yang terpaksa dikembalikan oleh pusat-pusat perbelanjaan. UMKM khususnya di bidang makanan kecil harus menanggung banyaknya barang expired karena tidak terjual habis di pusat oleh-oleh. Semakin sulitnya lapangan kerja telah mengurangi pendapatan masyarakat yang semakin melemah dan melemah.

Namun, ternyata ada beberapa kelompok orang yang justru mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Beberapa pengusaha UMKM mendapatkan permintaan yang luar biasa sehingga mereka harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan pembeli. Lagi-lagi, disini sense of enterpreunership berperan besar. Peluang sebesar lubang jarum pun bisa menjadi harapan besar bagi para pengusaha cerdas dan dapat berpikir cepat. Siapa saja mereka?

Memang tidak semua, tetapai banyak teman yang memiliki basis usaha di bidang konveksi, dapat memanfaatkan momentum, setidaknya untuk tidak gulung tikar. Pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) Medis cukup menjanjikan. Dengan kemampuan desain dan langkah cepat untuk "mengambil contoh" APD standar, beberapa pengusaha konveksi berhasil melampui titik kritis dari usaha ini. Demikian juga dengan pembuatan masker. Permintaan masker yang meningkat tajam terutama setelah pemerintah pusat, daerah, dan desa gemar mensosialisasikan dan membagi masker kepada warga masyarakat, UMKM konveksi yang tentu saja tidak akan merasa kesulitan untuk membuat masker, berhasil mempertahankan diri dari gulung tikar.

Para pengusaha di bidang IT, khususnya di bidang penjualan handphone, pulsa, paket internet, bahkan jasa sharing wifi merupakan pihak-pihak yang juga mendapatkan berkah dari Pandemi ini. Pembelajaran daring yang mengharuskan siswa memiliki handphone sekaligus paket internetnya, meningkatkan demand, sementara ketersediaan paket internet dan pulsa tentu unlimited. Oleh karena itu, dengan sedikit sosialisasi dan "memurahkan" paketan internet, banyak counter yang juga mendapatkan untung dari kondisi ini.

Cerdas Mengambil Peluang

Salah satu hal yang dapat dipelajari dari keberhasilan beberapa wirausahawan dibidang konveksi dan teknologi informasi adalah kemampuan melihat dan mengambil peluang dengan cepat. Kesempatan tidak akan datang dua kali, oleh karena itu ketika ada kesempatan yang datang, seorang pengusaha harus dapat mengambil peluag sebaik-baiknya. Tentu saja tetap dengan mempertimbangkan segala resiko dan analisis pasar yang matang.

Melatih siswa untuk wirausaha yang tangguh, dimulai dari mengajari anak-anak kita dengan kemampuan membaca peluang. Sekolah, tentu memiliki moment-moment khusus di luar kegiatan pembelajaran yang bisa menjadi peluang berwirausaha. Kegiatan seperti akhirussanah, PHBI dan PHBN, dan lain-lain, bagi seorang wirausahawan merupakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan menjual produk dan jasa yang sesuai dengan moment itu. Maka mengajarkan anak untuk berjualan, memproduksi makanan kecil dan minuman kemasan, merupakan cara sederhana mengajarkan anak-anak membaca peluang. 

Kebun, kolam, kantin, dan koperasi sekolah merupakan tempat-tempat yang dapat digunakan untuk mengajarkan kewirausahaan. Di kebun sekolah kita tidak harus menanam bunga, tetapi juga bisa menanam sayur mayur segala rupa. Kolam ikan sekolah juga dapat digunakan untuk menghasilkan ikan yang dapat dijual. Sementara kantin dan koperasi sekolah merupakan pasar yang dapat digunakan untuk mengajarkan anak transaksi keuangan.

Sejak dini, para guru seharusnya mengajarkan anak-anak tentang kewirausahaan. Apalagi pada saat ini, kepala sekolah dan madrasah dituntut untuk memiliki kompetensi wirausaha sehingga sangat pas jika sekolah/madrasah membuat program pengenalan kewirausahaan. Bahkan di Sekolah Dasar pengenalan kewirausahaan sudah dapat dilakukan dengan memilih cara yang sederhana dan mudah dilakukan oleh peserta didik di sekolah dasar.


Harlah Ke 91 LP Ma'arif, What's Next?



Tiga hari lagi, tepatnya tanggal 19 September 2020, LP Ma'arif NU berulang tahun ke 91. Bagi seorang manusia, usia 91tahun adalah usia lanjut. Namun bagi sebuah organisasi kelas nasional, tentu masih merupakan masa-masa penuh dengan upaya untuk meningkatkan kualitas dari berbagai sisinya; profesionalisme, visi ke depan, dan orientasi manfaat yang harus mengemuka. Medan perjuangan LP Ma'arif sangatlah luas, dibarengi dengan tantangan, hambatan, rintangan, gangguan, dan berbagai macam persoalan internal dan eksternal lainnya yang tentu akan bertambah. Tapi itulah perjuangan, selama jajaran pengurus dan anggatonya bisa bersinergi, maka akan memberikan manfaat untuk meraih barokah dari Allah Swt.

Tagline bersinergi, manfaat, dan mbarokahi yang dipilih oleh LP Ma'arif Tulungagung, merupakan salah satu tagline unik yang berkesinambungan. Tagline ini sebenarnya bernuansa sederhana, namun penuh makna. Mungkin, itulah cerminan LP Ma'arif saat ini. Dalam berbagai keterbatasan dan kesederhanaan, LP Ma'arif berusaha memberikan manfaat yang sebesar-besarnya baik untuk warga NU atau masyarakata secara umum. Niat dan tujuannya hanyalah satu, yaitu mencari ridlo Allah Swt untuk meraih barokah dalam kehidupan.

Di Tulungagung, peran sekolah-sekolah dibawah naungan LP Ma'arif sudah tidak bisa diremehkan lagi. Sekolah dan madrasah unggul muncul diberbagai tempat, dengan corak utama ke-NU-annya. Langkah ini disambut baik oleh masyarakat, khsusunya masyarakat muslim yang menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh tetapi tidak ketinggalan dalam sain dan teknologi. Sekolah dan madrasah Ma'arif telah membuktikan bahwa harapan itu dapat diraih dengan belajar di sekolah LP Ma'arif. Realitasnya, sekolah dan madrasah LP Ma'arif di tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtida'iyah mendapatkan masukkan siswa yang melebihi sekolah-sekolah dasar negeri di wilayahnya masing-masing.

LP Ma'arif dan Teknologi Informasi

Menghadapi pembelajaran daring, LP Ma'arif telah bersiap diri. Pembelajaran daring baik melalui e-learning maupuan platform lainnya, sudah dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah-sekolah LP Ma'arif. Berbagai kegiatan yang melibatkan guru dan kepala sekolah/madrasah, sudah tidak lagi berbasis tatap muka. Pertemuan-pertemuan dengan virtual meeting baik melalui zoom, google teams, dan lain-lain, semua dapat dilaksanakan di lingkungan LP Ma'arif dengan baik. Bahkan, sampai saat ini, pelatihan virtual untuk kepala sekolah/madrasah tingkat nasional juga dilaksanakan oleh LP Ma'arif PBNU lebih dari 5 angkatan.

LP Ma'arif sama sekali tidak boleh jauh-jauh dari teknologi informasi. Era revolusi industri 4.0 yang sedang kita lakoni sekarang ini akan semakin canggih dan menuntut kita untuk mengikutinya. LP Ma'arif tidak boleh mundur walau sejengkal, tetap meningkatkan kompetensi baik secara organisasi maupun individu anggota, dalam bidang teknologi informasi. Berhenti saja satu langkah, maka kita akan ketinggalan perkembangan langkah teknologi informasi sekian puluh langkah di belakang. Digitalisasi sistem pembelajaran, keorganisasian, manajemen lembaga, dan lain-lain sangat diperlukan agar LP Ma'arif secara organisatoris tidak ditinggalkan oleh lembaga-lembaga dibawahnya yang juga berkembang dengan pesat.

Menjaga Tradisi

Meskipun harus berlari mengikuti perkembangan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi, LP Ma'arif tetap tidak boleh lepat dari tradisi ke-NU-annya. Islam yang ramah, santun dan bersahaja, tetap harus dikuatkan, baik ke dalam maupun ke luar. Islam ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah yang mengedepankan kemanusian tetap harus menjadi koridor yang diikuti. Ajaran pera wali dan ulama untuk menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan mauidzoh hasanah tanpa mencela dan menyakiti tetap harus menjadi cara yang dipilih agar tidak terjadi pergesekan di masyarakat.

Sekolah dan madrasah LP Ma'arif merupakan wahana yang sangat tepat untuk melaksanakan misi ke-Islam-an wasathiyah yang suka mengambil jalan tengah dengan tidak meninggalkan akidah dan mengabaikan syariah. Islam wasathiyah merupakan materi pokok yang harus disampaikan kepada para santri agar tidak menjadi radikal dalam menghadapi perbedaan. Kita memahami bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan lakum dinukum waliyadin terhadap agama lain, dan lana a'maluna walakum a'amalakum kepada sesama muslim. Dengan begitu, santri-santri LP Ma'arif tidak asing dengan perbedaan di sekitarnya dan tidak mudah mengkafirkan orang lain karena cara ibadahnya yang agak berbeda.

Tradisi ulama'-ulama' NU tetap harus menjadi materi yang "diuri-uri" oleh sekolah dan madrasah LP Ma'arif, karena hal itu merupakan peninggalan yang sangat berarti. Tahlilah, istighotsah, mauludan, sholawatan, dan lain-lain adalah amaliyah ulama yang harus dilestarikan di sekolah dan madrasah LP Ma'arif. 

Meningkatkan Profesionalisme Pelayanan

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang "menjual" jasa kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelayanan yang terbaik akan menjadi daya tarik terhebat bagi masyarakat. Untuk meningkatkan pelayanan itu, profesionalisme lembaga dan organisasi harus menjadi perhatian penting bagi para pengurus dan pimpinan lembaga. 

Profesionalisme mengaju pada kemudahan, kepraktisan, waktu yang cepat, dan tepat. Orang-orang yang profesional menjalankan pekerjaannya secara disiplin dan konsekuen. Tepat waktu dan tepat guna merupakan salah satu unsur yang penting dalam menjalankan pelayanan yang profesionalisme. Lembaga yang profesional dengan biaya yang sedikit lebih mahal akan jauh lebih menarik daripada lembaga-lembaga berbudget murah tapi amburadul.

Untuk itu, pengurus LP Ma'arif secara konsisten harus mengadakan observasi terhadap profesionalisme lembaga-lembaga dibawahnya. Paling tidak, ada pemantauan-pemantauan khusus yang berfokus pada profesionalisme lembaga, dan ditindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan. Sudah waktunya lembaga-lembaga pendidikan dibawah LP Ma'arif mengikuti pelatihan manajemen secara berkala, setelah lebih duluh para pengurus LP Ma'arif mengadakan supervisi terhadap manajemen lembaga. Dengan begitu, lembaga-lembaga di bawah LP Ma'arif dapat meningkatkan kualitas manajemen dengan sebaik-baiknya.

Selamat Harlah LP Ma'arif ke 91, Bersinergi, Manfaati, dan Mbarokahi! 


Belajar Apa pada Ayah?



Tentang orang tua, seringkali kita lebih banyak terfokus pada ibu. Kasih sayang yang besar, berlaku unlimited dan unconditionally, selalu ada untuk kita, dan do'anya yang dikabulkan Allah Swt. Ibu mengasihi, menyayangi, mendidik, dan membimbing anak-anaknya sejak ia masih di dalam kandungan. Sebelum ibu meninggalkan dunia, beliau tidak akan melepaskan semuanya dari anak terkasihnya.

Tapi, kita tidak boleh lupa, ibu bukan satu-satunya orang tua kita. Ayah kita adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan kehidupan kita. Beliaulah yang menjadi garda terdepan dan benteng terakhir untuk mengatasi persoalan-pesoalan yang muncul dari ulah kita. Ayahlah yang bertanggung jawab akan nafkah seluruh keluarga, termasuk terhadap ibu kita. Meskipun, karena tugas dan pekerjaan, kita jarang berada dalam satu waktu dan tempat yang sama dengan ayah kita. Tetap saja, apa yang beliau lakukan di luar sana adalah langkah-langkah perjuangan untuk keluarga.

Melihat Sifat Ayah

Seringkali ayah tidak memiliki sifat yang lembut. Ayah adalah sosok yang kasar, tegas, disiplin, dan bisa saja berbuat agar "tega" kepada anak-anaknya. Beberapa ayah bahkan tega menghukum anaknya secara fisik karena kenakalannya. Namun, tetap saja apa yang dilakukan ayah adalah karena kasih sayangnya kepada anak.

Ayah bersifat keras, karena itulah kehidupan yang dialaminya. Ia juga ingin mengajari kepada anak-anaknya bahwa di luar sana, tida selalu kita menemukan kelembutan dan kasih sayang. Kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki sifat yang jauh dari itu. Orang-orang yang hidup dalam dunia keras dan kasar, yang mana kita juga harus bisa menghadapinya.

Ayah bersifat tegas dan disiplin, karena ayah tidak ingin anaknya menjadi pemalas dan tidak menghargai aturan. Ayah ingin kita taat pada aturan Allah Swt dan rasulullah, aturan pemerintah, norma-norma di masyarakat, dan seterusnya. Aturan itu untuk dijalankan, bukan dilanggar. Tanpa ketegasan dan kedisiplinan kita akan menjadi manusia yang "sak enak e dhewe". Ayah tidak ingin kita menjadi orang-orang yang tak karuan apalagi tak beraturan (irregular). Ayah mau kita menjadi sosok yang tertib pada aturan sehingga kehidupan dapat berjalan dengan baik dan benar.

Ayah adalah orang yang bertanggung jawab. Ayah harus bertanggung jawab pada semua kenakalan kita. Sehingga, ketika ada orang yang merasa dirugikan oleh ulah kita, tetap saja ayah yang harus bertanggung jawab, meskipun beliau tidak melakukannya. Ayah bertanggung jawab akan terpenuhinya nafkah keluarga, sehingga apapun dilakukan untuk memenuhi kewajibannya itu. Ayah bisa menjelma menjadi kuli, menjadi buruh, dan semua pekerjaan berat lainnya, hanya untuk melakukan tanggung jawabnya itu.

Belajar Apa dari Ayah?

Dari caranya memperlakukan kita, seringkali ayah dan ibu melakukan hal yang berbeda. Ibu mendekap kita di dadanya, ayah mamanggul kita di pundaknya. Ibu ingin menunjukkan kasih sayangnya, ayah ingin mengajari anak-anaknya untuk melihat dunia. 

Ketika jatuh, ibu akan berlari, mendekap anak kecilnya, mengobati luka, dan menentramkan hatinya agar ia tidak risau akan rasa sakit yang dialaminya. Ayah lain lain. Beliau tidak serta merta merengkuh kita, tetapi justru menyuruh kita bangkit sendiri, dan belari lagi. Ayah ingin menunjukkan pada kita, bahwa dunia tidak bisa diratapi. Jatuh bangun adalah hal yang biasa. Kalau jatuh, ya bangkit lagi. Tetap semangat untuk melihat masa depan.

Ayah mengajari kita kuat, semangat, bertanggung jawab, disiplin, dan tegas dalam menghadapi persoalan hidup. Hal itu adalah hal-hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena kehidupan kita memerlukannya. Bagi ayah yang masih bersama kita, semoga ayah kita tetap diberikan kesehatan dan panjang umur. Namun, bagi ayah yang sudah menghadap Allah Swt, semoga Allah memberikan maghfirah dan ampunannya. Aaamin.

#kangenbapak


Mengembangkan Kurikulum untuk Santri Masa Depan





Kurikulum adalah seperangkat perencanaan pembelajaran yang sistematis yang meliputi semua hal tentang pelaksanaan pembelajaran di sebuah satuan pendidikan. Kurikulum merupakan pedoman utama bagi satuan pendidikan untuk melaksanakan peran dan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Di dalamnya terdapat banyak hal mulai dari rasionalisasi pendidikan, landasan hukum, visi dan misi serta tujuan sekolah, kompetensi dasar dan evaluasi pembelajaran, dan lain-lain. Bahkan di dalamnya juga terdapat uraian mengenai pengembangan potensi, layanan khusus yang diberikan, dan penguatan literasi.

Kurikulum seharusnya berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Kurikulum yang cocok pada awal tahun 2000 an tentu sudah tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi zaman sekarang. Apalagi, kurikulum yang dipakai di awal tahun 90 an, tentu tidak pas lagi dengan perkembangan dunia pendidikan dan tuntutan zaman saat ini. Oleh karena itu, setiap tahun satuan pendidikan harus menyiapkan kurikulum, yang telah mendapatkan penyesuaian-penyesuaian.

Apa yang perlu dikembangkan?
Pada umumnya, satuan pendidikan mengikuti kurikulum nasional. Kurikulum nasional ini berlaku secara nasional dan harus diikuti oleh semua satuan pendidikan. Namun demikian, ibarat makanan, kurikulum nasional adalah makanan pokok. Sebagai makanan pokok, seperti beras dan jagung, kurikulum nasional hanya menghasilkan "energi dan rasa kenyang". Oleh karena itu, peserta didik tidak cukup dengan makanan pokok itu saja. Ia perlu nutrisi untuk tumbuh dan berkembang, perlu vitamin agar tetap bugar dan imun, dan lain sebagainya.

Satuan pendidikan dapat menambahkan "nutrisi tambahan" pada peserta didik dengan mengembangkan muatan lain di luar kurikulum nasional. Muatan yang berkaitan dengan kecakapan hidup, pendidikan karakter, perkembangan sain dan teknologi, kehidupan global, budaya, dan lain-lain dapat ditambahkan sebagai makanan pelengkap yang dapat mengakselerasi kompetensi peserta didik dalam menghadapi fase kehidupan pada saat mereka dewasa. 

Tim pengembang kurikulum perlu memahami bahwa peserta didik yang pada saat ini sedang belajar di satuan pendidikan, akan hidup dan mengambil peran di masa mendatang. Oleh karena itu, mereka harus memili visi jauh ke depan, dan dapat memprediksi kebutuhan para peserta didik untuk dapat mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupannya di masyarakat kelak.

Sebagai contoh, mungkin saat ini, kemampuan di bidang teknologi informasi dan bahasa internasional belum sangat diperlukan oleh peserta didik di sekolah dasar. Namun demikian, lima atau sepuluh tahun lagi, mereka akan sangat memerlukan keduanya. Apalagi kelak ketika mereka dewasa, dimana sekat negara hampir "tidak ada" karena globalisasi, mereka akan sangat memerlukannya. Oleh karena itu, tim pengembang kurikulum harus dapat memprediksi kebutuhan masa depan dan menyiapkannya di masa sekarang.

Tidak Meninggalkan Karakter Utama
Pengembangan adalah tambahan, jangan sampai tambahan itu menghilangkan sesuatu yang inti. Sebagai tambahan ia memperkuat, bukan menghilangkan. Sebuah satuan pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, harus dapat mempertahankan ciri khas keIslamannya. Sehebat apapun pengembangan yang dilakukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tetap tidak boleh mengabaikan ciri khas sebuah satuan pendidikan.

Sekolah-sekolah Islam tetap harus mencirikan diri dengan keIslamannya. Meskipun ada banyak pengembangan kurikulum untuk menunjang performa sekolah, tetap saja akhlak mulia seperti ketawadu'an pada guru, sholat jama'ah, kebiasaan mengaji, menutup aurot, dan sebagainya, tetap harus dipegang dan dikuatkan untuk membuat ciri khas sekolah Islam. Sehebat apapun peserta didik kita dalam ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, tetapi mereka tetap harus menjadi santri-santri yang ta'dzim pada para asatidz-nya dan tetap memegangi akhlak dan kebiasaan sebagai santri. (ans)

Hobi Sekolah

 



Belajar tidak mengenal batas usia. Sejak kecil sampai dewasa bahkan hingga kita berusia lanjut, tetap saja diperintahkan untuk belajar. Belajar adalah "laku" mulia yang memang harus kita lakukan. Dengan belajar dan belajar, diharapkan kita menjadi lebih baik dalam menjalankan tugas kita sebagai manusia. 

Belajar tidak harus melalui bangku sekolah. Masjid, mushola, majelis taklim, bahkan disemua tempat dimana disitu ada kebaikan yang diajarkan, kita dapat mengikuti proses pembelajaran. Namun demikian, sebagaian orang, tetap memilih lembaga formal untuk belajar. Sehingga banyak orang yang memiliki gelar S1 lebih dari satu, gelar S2 lebih dari dua, dan seterusnya.

Dilansir pada tempo.co pada tanggal 17 Agustus 2019, beberapa orang Indonesia memiliki gelar yang luar biasa. Dosen tetap di Universitas Tarumanegara Jakarta, Yenita, tengah menjadi perbincangan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya gelar akademik yang dimiliki, dengan satu sarjana, 10 master, dan dua doctor. Namanya pun menjadi Dr. Dr. Yenita SE, MM, MBA, M.Si, MT, MH, MPD, MAK, ME, MIKOM, MMSI. 

Selain Yenita, masih ada beberapa lagi seperti Welin Kusuma dengan 13 gelar akademik dan 14 gelar profesi, sehingga namanya menjadi Welin Kusuma ST, SE, S.Sos, SH, S.Kom, SS, SAP, S.Stat, S.Akt, S.Ikom, MT, MSM, M.Kn, RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, Aff.WM, BKP, QWP, CPHR, ICPM, AEPP, CBA, CMA, CPMA, CIBA. Kemudian M. Achsin (Dosen Unibraw Malang) yang namanya menjadi Dr. Dr. Mochammad Achsin SE, SH, MM, M.Kn, M. Ec. Dev, M.Si, Ak, CA, CPA. Sementara Frans Astani, seorang notaris dan pejabat pembuat akta tanah di DKI Jakarta namanya menjadi Dr. Dr. Ir Franz Astani, SH, SpN, M.Kn, SE, MBA, MM, M.Si, CPM.

Sebegitu pentingkah gelar akademik bagi seseorang? Jawaban dari pertanyaan itu tentu sangat relatif.


Seseorang bisa saja menjawab iya, sangat penting. Gelar adalah bukti otentik dari keberhasilan seseorang menempuh jenjang pendidikan formal dan profesi tertentu. Memiliki gelar berarti ia telah berhasil mengikuti pembelajaran dengan beban, waktu, tantangan, ujian, dan tugas-tugas lain yang harus ia selesaikan selama mengikuti pendidikan. Apalagi, jika gelar itu diperoleh dari sebuah perguruan tinggi yang bonafit dimana kualitas pembelajaran disitu memang terakreditasi dengan baik, tentu merupakan kebanggan tersendiri. 

Perguruan-perguruan tinggi dengan nilai akreditasi A tentu memiliki keunggulan-keunggulan dibanding yang masih memiliki akrediatasi B atau bahkan C. Artinya, dari sisi kualitas pembelajaran, tugas, dan tantangan yang diberikan di perguruan tinggi tersebut memiliki standar yang lebih tinggi. Secara umum, kualitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut seharusnya juga lebih baik.

Sementara sebagian orang lainnya tidak menganggap gelar akademik sebagai sesuatu yang penting. Apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan dalam kehidupan nyata. Soft skill dan hard skill yang dimiliki seseorang jauh lebih penting daripada gelar akademiknya. Enterpreneur handal tanpa gelar akademiki seringkali lebih mampu menjadi manajer bagi perusahaannya daripada lulusan fakultas ekonomi jurusan manajemen bisnis. Beberapa pemimpin perusahaan besar, seperti pendiri perusahaan rokok PT Gudang Garam misalnya, bukanlah orang-orang yang dilahirkan dari bangku kuliah jurusan ekonomi, tetapi dari tempaan pengalaman kehidupan berwirausaha yang ulet dan handal. Berdasarkan realitas-realitas itu, kita tetap saja tidak dapat menjustifikasi mana yang lebih penting antara gelar atau keahlian. Semuanya penting dalam konteksnya masing-masing. 

Tetapi paling tidak, kita harus mengakui, minat belajar orang-orang dengan sederet gelar akademis merupakan contoh baik yang harus menunjukkan betapa belajar tidak mengenal batas usia. Siapa saja dan kapan saja, belajar tetap merupakan hal baik yang harus dirawat. Salah satu sabda Nabi Muhamamad Saw yaitu  : أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ, yang artinya: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”

Setiap orang memiliki kegemaran. Mungkin, orang-orang dengan gelar yang "seabrek" itu adalah orang-orang yang memang kegemarannya belajar. Jika orang lain memiliki hobi bermain sepak bola, menyanyi, bersepeda, memancing, dan lain-lain, maka bisa jadi kalau kita bertanya pada beliau-beliau itu, mereka akan menjawab, "Hobi saya sekolah"! (ans)


Belajar dari Pembolos

gambar : anoerkomputer.online




Setiap orang memilik karakteristik yang berbeda. Gaya bicara, belajar, bekerja, bergaul, berkomunikasi, bahkan gaya berjalan pada setiap orang tentu berbeda. Penyeragaman akan sesuatu seringkali juga bertabrakan dari sifat alamiah yang memang dibawa seorang manusia sejak ia lahir. Termasuk di dalamnya gaya dan cara belajar siswa, yang tentu juga berbeda-beda.

Anak yang memiliki gaya belajar visual akan mengalami kesulitan ketika harus belajar dengan cara auditif dan sebaliknya. Anak yang suka belajar dalam ketenangan akan mengalami kesulitan pada saat belajar kelompok. Anak mandiri akan merasa jengah pada saat guru les privatnya mengajar dengan cara yang detil karena hal itu akan berbenturan dengan karakternya yang mandiri. Sehingga, seorang anak mandiri tidak memerlukan guru privat yang harus mendampingi dirinya belajar secara pribadi.

Seorang anak belajar dengan tekun, dalam waktu yang panjang dan teratur. Pantaslah anak itu pintar dalam bidang studi yang dipelajarinya. Ia menghabiskan waktu untuk membaca, menghafal, mengulang, dan mengerjakan latihan-latihan. Apalagi jika ditunjuang dengan fasilitas belajar yang memadai. Buku-buku yang lengkap, ruang belajar yang nyaman, tidak mempunyai tugas lain selain belajar, bahkan mendapatkan bantuan bimbingan dari guru privat. Hasilnya, tentu ia akan mendapatkan nilai-nilai bagus dalam setiap ulangannya.

Namun tidak semua anak berada pada kondisi ideal seperti itu. Tidak semua orang tua bisa menyediakan fasilitas yang penuh untuk anak-anaknya. Kadang-kadang seorang anak harus membantu orang tuanya, mengasuh adiknya, bahkan bekerja paruh waktu di luar jam belajarnya. Namun, anak-anak seperti ini belum tentu mendapatkan nilai buruk dalam ulangannya. Padahal, dari sisi kuantitas waktu belajar yang tersedia, mereka jauh lebih sedikit mendapatkannya.

Faktanya, setiap orang memiliki daya serap yang berbeda. Seseorang bisa hanya dengan sekali membaca, ia kemudian paham, bahkan hafal apa yang dia baca. Seorang anak lain dapat belajar meskipun sambil bekerja, sambil nonton TV, mendengarkan musik, bahkan sambil bermain pun mereka bisa belajar. Anak-anak seperti ini tidak membutuhkan waktu khusus untuk belajar. Sedikit waktu yang dimiliki, cukuplah untuk memahami materi pelajarannya.

Salah seorang teman saya bukan anak penurut. Sering membolos, dan tampak malas belajar. PR dan tugas-tugas pun tidak dikerjakan dengan baik. Asal-asalan saja. Paling tidak, asal tidak dimarahi guru. Namun, di setiap ujian, baik itu ujian tengah semester atau ujian akhir semester, nilai-nilainya selalu berada dideretan sepuluh besar di kelasnya. Padahal, hampir semua orang melihatnya hanya bermain dan bermain, bahkan sering kali tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan.

Anak pembolos ini ternyata memiliki cara belajar sendiri. Ia suka membuat rangkuman, skema materi (mind map), dan mempelajarinya di kala orang tidur. Pendeknya, disaat teman-temannya belajar, ia bermain. Tetapi, pada saat teman-temannya tidur, ia belajar. Itu pun dengan cara yang tidak lazim. Yaitu skematik atau sistem bagan. Sehingga materi yang begitu banyak dapat ia sederhanakan dan dengan mudah dipelajarinya. Anak pembolos itu ternyata memiliki caranya sendiri dalam belajar. Sehingga, tidak patutlah kita meremehkan orang lain, karena pada hakikatnya kita tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnya ia!

Mengkreasikan Pembelajaran Daring


gambar : kompasiana

Mohamad Ansori

Setelah lebih dari lima bulan pembelajaran daring dilaksanakan di sekolah, persoalan-persoalan mulai muncul, salah satunya adalah kebosanan. Siswa sudah merindukan pembelajaran tatap muka dimana mereka dapat berinteraksi, bersenda gurau, bermain, dan belajar bersama teman-teman. Bagaimanapun situasi dan kondisi pembelajaran tatap muka tetap saja tidak bisa digantikan seutuhnya oleh pembelajaran daring. Oleh karena itu, para guru harus memiliki kreativitas dan dapat membuat inovasi-inovasi pembelajaran daring.

Faktor utama penyebab kebosanan adalah banyaknya tugas yang dibebankan guru kepada siswa. Sejak awal siswa sudah belajar menggunakan lembar kerja siswa tercetak, sehingga guru tinggal memberikan instruksi untuk membaca halaman sekian dan mengerjakan tugas di halaman sekian. Demikian seterusnya, sehingga siswa harus mengerjakan sesuatu yang sebenarnya belum diajarkan oleh para guru. Sumber pengetahuan siswa adalah dari membaca buku siswa atau rangkuman materi dalam lember kerja siswa, dan setelahnya adalah mengerjakan soal-soal yang telah tersedia.

Sementara dalam pembelajaran tatap muka, mereka dapat mengklarifikasi hal-hal yang belum mereka pahami, berdiskusi dan bekerjasama dengan teman-temanya, serta bekerja kelompok sambil sesekali bersenda gurau. Di rumah, jika mereka tidak belajar sendiri, mereka harus belajar dengan para orang tua yang belum tentu semuanya guru, dan memahami ilmu mendidik. Para orang tua kebanyakan berorientasi pada hasil, yaitu anaknya bisa mengerjakan soal ini dan itu, sementara mereka juga tidak dapat menjelaskan secara detil seperti gurunya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dan manajemen sekolah diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan perbaikan kurikulum tingkat satuan pelajaran, dengan cara memilah dan memilih kompetensi dasar yang bisa diajarkan secara daring, dengan pendekatan urgensi, relevansi, kontinuitas, dan keterpakaian. Dengan kata lain, target capaian harus dikurangi, sebagai konsekuensi dari adanya masa darurat.
  2. Menggunakan mendia pembelajaran online sebagai alat pembelajaran, bukan semata-mata media penugasan. Guru harus bisa membuat video pembelajaran yang juga menampilkan "wajah guru" sehingga seolah-olah siswa sedang benar-benar berhadapan dengan gurunya.
  3. Mengubah penugasan berbasis soal dengan penugasan kreatif seperti membuat hasta karya, melakukan kegiatan, atau membuat mind map, kemudian siswa mengirimkan video kegiatannya kepada guru. Untuk memberikan penghargaan pada karya siswa itu, para guru dapat mengunggah videonya di website atau akun media sosial sekolah. Dengan demikian siswa akan merasa dihargai hasil karyanya. Ini merupakan salah satu reward yang diberikan pada siswa akan karya-karyanya.
  4. Jika memungkinkan secara teknis, seperti tersedianya jaringan internet yang bagus dan ketersediaan laptop atau smarphone yang mendukung, guru juga dapat memanfaatkan aplikasi video conference yang marak digunakan dimasa pandemi ini, seperti zoom cloud meeting, google teams, cisco webex, skype, dan lain-lain. Selain itu penggunaan google form untuk kuis dan diperkuat dengan penggunaan google classroom tentu akan membuat pembelajaran daring lebih menarik.
Namun demikian, persoalan baru akan muncul. Salah satunya adalah kompetensi guru di bidang teknologi informasi. Untuk menyajikan media pembelajaran yang menarik, seorang guru tidak hanya harus kreatif dalam merancang media pembelajaran, tetapi juga harus mahir dalam mewujudkan dalam bentuk video pembelajaran yang menarik. Jika tidak, media pembelajaran dalam bentuk video yang dibuat guru, kembali akan menjadi tampilan yang tidak menarik atau bahkan monoton.

Oleh karena itu, kepala sekolah juga harus terlibat dala upaya guru berkreasi dalam pembelajaran daring ini. Kepala sekolah dapat menginisiasi kerjasama dengan pihak lain seperti tenaga ahli, lembaga kursus, atau komunitas-komunitas desain grafis dan animasi, untuk membimbing guru dalam pembuatan video pembelajaran. Kelompok kerja guru (KKG) juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan kompetensi guru dibidang teknologi informasi.








Nasionalisme itu Sederhana!



Bagi bangsa Indonesia, bulan Agustus adalah bulan istimewa. Bulan ini merupakan bulan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Tepat pada hari Jum'at tanggal 17 Agustus 1945 founding fathers kita memprokamirkan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukalah hadiah dari Jepang, tapi benar-benar merupakan hasil perjuangan seluruh komponen bangsa Indonesia. Momentum ini tentu harus selalu diperingati, sebagai bagian mengingat sejarah dan meneladani perjuangan para pahlawan bangsa. Mereka tidak hanya telah bekerja, berusaha, dan berjuang dengan keras, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa untuk kebahagiaan anak cucunya.

Memperingati kemerdekaan pada hakikatnya adalah mensyukuri kemerdekaan itu sendiri. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, mengakui benar bahwa kemerdekaan ini merupakan berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Sebab, secara teknis hampir tidak mungkin para pejuang di masa lalu dapat memenangkan berbagai pertempuran dengan hanya bermodalkan senjata seadanya. Sementara para penjajah memiliki senjata yang lengkap dan otomatis. Sehingga keberhasilan meraih kemerdekaan ini benar-benar anugerah dari Allah Swt.

Mengingat dan mengenang jasa para pahlawan saja tentu tidak cukup. Sebagai generasi penerus kita memiliki tugas yang tidak kalah beratnya. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan merupakan tugas utama kita sebagai penerus perjuangan para pahlawan. Mempertahankan bermakna kita harus menjaga kemerdekaan ini tetap harus terjaga. Tidak saja dari invasi militer bangsa lain, tetapi juga penguasaan sektor ekonomi dan penjajahan budaya bangsa lain. Generasi sekarang harus memastikan bahwa bangsa Indonesia benar-benar dapat berdikari dan mandiri, tidak dalam kooptasi negara dan bangsa lain dalam semua lini kehidupannya.

Generasi sekarang juga harus memastikan bahwa kita telah merdeka dari semuanya, baik dalam konteks ekonomi, sosial, budaya, bahkan hukum. Sebab penetrasi budaya dan semakin bebasnya pergaulan antar bangsa merupakan pintu masuknya pengaruh asing pada bangsa kita. Ketergantungan kita pada produk luar dan semakin habisnya sumber daya alam akan sangat mempengaruhi kemerdekaan ekonomi. Kekuatan pemodal besar yang menggerakkan ekonomi dunia sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi negara kita.

Mau tidak mau, gerakan mencintai produk bangsa sendiri merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan kita dengan bangsa lain. Apalagi, 270 juta bangsa Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi produk-produk kita sendiri. Sebagai bangsa kita harus bertekad memajukan bangsa sendiri dan menomorduakan produk bangsa lain. Dalam hal bangsa Indonesia bisa memproduksi sendiri kebutuhannya, maka kita harus tetap mengutamakan untuk menggunakan produk kita sendiri, bukan sebaliknya.

Nasionalisme itu sederhana. Mencintai negeri dengan menggunakan produk kita sendiri, bangga sebagai bangsa dengan tetap mempertahankan budaya yang mulia, bersatu melawan ketergantungan dengan bangsa asing dengan berupaya untuk berdikari. Hal ini memang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilaksankan. Tapi dengan tekat yang kuat, kita yakin bahwa kita akan bisa melakukannya, demi kejayaan bangsa Indonesia.

Selamat HUT RI ke 75, Dirgahayu Indonesiaku!

Menjaga Nasionalisme



Mencintai tanah air merupakan salah satu upaya menjaga harmonisasi kehidupan suatu bangsa. Komponen-komponen bangsa yang berbeda-beda tetapi memiliki kesamaan sudut pandang atas negerinya dapat menjamin persatuan dan kesatuan di negara itu. Sebaliknya jika masing-masing kelompok berpikir berdasarkan sudut pandang kepentingan kelompok, suku, atau golongannya maka bangsa sebesar apapun akan tercerai berai. Kondisi itu akan mempersulit diri menjadi bangsa yang besar, karena perpecahan tidak akan menghasilkan kebesaran dan kedamaian.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Sebagai negara kepalauan, bangsa Indonesia tinggal di ribuan pulau yang terpisah oleh laut dan selat yang dalam. Bersumber dari kondisi ini maka adat istiadat, budaya, cara hidup, bahasa, dan  bahkan agama dan kepercayaan bangsa-bangsa di Indonesia berbeda-beda. Berdasarkan hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa, 652 bahasa daerah, dan 17.504 pulau besar kecil, yang bahkan tidak semuanya berpenghuni.

Menurut Hans Kohn sebagaimana dimuat dalam https://www.mypurohith.com/ mengatakan bahwa nasionalisme adalah sebuah bentuk rasionalisasi dan formalisasi yang terbentuk karena kesadaran nasional untuk bernegara dan berbangsa. Kesadaran sebagai bangsa sangat diperlukan untuk memperkuat suatu bangsa. Dengan kesadaran itu warga bangsa membangun kekuatan yang besar untuk berdirinya suatu negara.

Peringatan hari besar nasional, seperti peringatan HUT RI merupakan salah satu upaya untuk menguatkan rasa nasionalisme itu. Dengan peringatan itu kita seperti diputarkan kembali kisah-kisah perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan di masa lalu. Melaui peringatan itu kita kembali diingatkan untuk menghargai perjuangan para pendahulu yang rela mengorbankan harta benda bahkan nyawa mereka untuk kemerdekaan negeri ini. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Tugas generasi penerus adalah melanggengkan kemerdekaan yang telah diraih, mempertahankan yang telah dicapai, dan mengisinya dengan hal-hal positif yang dapat mendukung bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Proklamasi kemerdekaan bukanlah tujuan, tetapi wasilah untuk meraih tujuan kita sebagai bangsa, yaitu mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Generasi pasca kemerdekaan memiliki tugas menjalankan roda pembangunan dan menjaga agar tujuan bersama yang telah ditetapkan segera dapat diraih.

Membangun Pendidikan Profetik

gambar : okezone muslim


Pengaruh negatif kehidupan modern dan kemajuan teknologi melanda semua tingkatan terutama peserta didik dan generasi muda pada umumnya. Era digital yang melingkupi semua lini kehidupan memberikan efek negatif berupa mundurnya nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak mulia. Kesibukkan orang tua yang menyita hampir seluruh waktunya untuk kepentingan pekerjaan, kegiatan sosial politik, dan lain-lain, merupakan salah satu pendorong munculnya kasus-kasus yang melibatkan peserta didik seperti perkelahian, minum minuman keras, narkoba, seks bebas, dan sebagainya. Dunia membutuhkan model pendidikan yang dapat mengendalikan persoalan-persoalan pendidikan karakter yang semakin menjauh dari kondisi ideal yang diharapkan.

Pendidikan profetik merupakan salah satu jawaban dari persoalan-persoalan yang dihadapi para orang tua dan guru untuk menghalau pengaruh buruk modernisasi. Pada intinya, pendidikan profetik adalah pendidikan yang meniru nabi Muhammad SAW. Istilah profetik ini berawal dari kata prophetic (kenabian atau berkenaan dengan nabi). Pendidikan profetik mengajarkan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw dalam konteks pendidikan. Dengan demikian pendidikan diarahkan pada duplikasi uswah hasanah yang telah diajarkan Nabi Muhamamd Saw.

Menurut Moh. Roqib dalam bukunya Filsafat Pendidikan Profetik; Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhmmad pendidikan profetik secara faktual berusaha menghadirkan nilai kenabian dalam konteks kekinian. Secara skematis bagaimana epistemologi, model integrasi dan koneksitas, serta pola bangunan pendidikan profetik. Zakiyah Daradjat, dkk, dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam, menjelaskan bahwa dengan paradigma profetik, pendidikan Islam diharapkan mampu mencapai puncak tujuannya yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman kokoh dan berilmu luas (ūlūl albāb) menjadi insan kamil.

Pada abad 21 ini, pendidikan seperti kehilangan ruh-nya. Pendidikan terkesan hanya berwujud transfer ilmu pengetahuan dengan tidak dibarengi transfer nilai-nilai kehidupan dan kebaikan. Dengan kata lain transfer of knowledge yang melaju lebih cepat melalui teknologi informasi, ternyata tidak bisa dibarengi transfer of value yang semestinya diajarkan dalam bentuk keteladanan dan interaksi antara guru dan murid.

Berbagai nilai yang tidak selaras, bahkan kontradiktif dengan ajaran dan nilai-nilai akhlakul karimah, masuk dengan mudah ke ruang belajar peserta didik tanpa adanya filter yang jelas. Peserta didik yang secara mental belum siap menerima nilai-nilai baru itu, lebih cepat menerima budaya-budaya yang "tak berbudaya" itu karena memang tampak lebih "asyik" dibanding dengan kebiasaan-kebiasaan  yang diajarkan para gurunya di sekolah atau madrasah. Sehingga gaya hidup baru yang lebih bebas akan dengan mudah diterima oleh para peserta didik.

Pendidikan profetik merupakan pilihan untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw. Tujuan pendidikan profetik adalah membangun peradaban yang berlandaskan akhlak yang mulia, yang berusaha "membumikan" ajaran Nabi Muhammad Saw dalam bentik perilaku nyata. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan, syariat, dan akhlakul karimah (perilaku yang mulia). Ketiga hal itu seringkali disebut dengan iman, Islam, dan ihsan.

Secara sederhana, menerapkan pendidikan profetik dilaksanakan dengan mengandalkan pembiasaan dan keteladanan. Para pendidik adalah contoh nyata para peserta didik untuk mencontohkan penerapan iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Para pendidik adalah contoh nyata pembiasaan mengerjakan syariat Islam, seperti shalat berjamaah, mengaji, menghormati orang tua dan menyayangi teman, bersikap sopan santun dalam pergaulan, dan sebagainya. Oleh karena itu pembiasaan-pembiasaan yang diajarkan di sekolah tidak saja diajarkan nilai-nilai itu, tetapi juga contoh nyata penerapannya. Oleh karena itu, terutama di sekolah dasar dan pra sekolah, para guru harus benar-benar dapat "menjaga diri" dihadapan para peserta didik.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes